
“Ibu benar gak butuh bantuan saya buat klarifikasi?” tanya Sania setelah acara makan-makan selesai.
“Enggak. Kamu beneran mau ikut karena mau bantu saya atau saya cuma mau dijadikan alasan padahal sebenarnya kamu memang mau ikut?”
“Enggak, Bu,” sahut Sania cepat-cepat. “Saya beneran gak mau jadi artis.”
“Kenapa enggak? Kamu bisa sama kayak Tony nantinya.”
Sania melihatku dalam. “Saya dan Tony gak ada hubungan apa-apa kok. Dia memang baik sama saya. Tapi beneran gak ada hubungan khusus.”
“Kamu gak perlu jelasin itu. Bukan urusan saya kamu mau dekat sama siapa, atau dia mau dekat sama siapa,” jelasku. “Dan kalau kamu berubah pikiran tentang jadi artis, bilang saja, saya bisa bantu kamu.”
“Mbak Sania mau jadi artis? Wah, pasti cocok,” ceteluk salah satu kru yang masih ada di dekat kami.
“Iya kan?” sahutku sengaja ingin lebih menggodanya. “Dia cocok banget jadi artis.” Dan yang lain semakin memanas-manasi.
Dua orang tadi pamit dan pergi menjauh. Setelah semua orang pergi dari kami bertiga, kulihat Tony Lesmana sedang berjalan menuju ke arah kami dengan kesal.
Dia berdiri tepat di hadapan Sania sebelum melirikku tidak suka.
Buat Sania Suherman marah pada Tony Lesmana.
Aku agak tersentak saat kotak misi muncul di depan wajahku, menghalangi pertunjukkan drama yang sedang kunantikan. Apa tidak bisa kotak itu jangan tiba-tiba muncul di hadapan wajah orang. Jika aku sedang menyetir bisa saja aku terlibat kecelakaan karena kesemberonoan sistem novel ini. Aku segera melangkah ke samping agar mendapat pemandangan yang lebih baik saat Tony berkata, “Kamu ngapain di sini?”
“Aku kan udah bilang,” sahut Sania. “Akhir-akhir ini aku bantu Bu Catherine. Dia sibuk banget karena harus tampil di acara TV.”
Si tukang drama menyugar rambutnya lelah. Yang amat sangat terlihat memuakkan di mataku. “Aku udah bilang berapa kali sama kamu. Dia cuma manfaatin kamu Sania.”
“Bu Catherine gak manfaatin aku. Dia itu baik. Kamu lihat sekarang kan aku gak apa-apa. Kalau gak percaya tanya aja Mas Keegan.” Perempuan itu tersenyum pada Keegan yang langsung membuang muka.
“Saya gak punya niat menjelaskan sesuatu ke orang yang gak mau mendengarkan. Saya sudah muak melihat perlakuan bodohnya selama ini ke Bu Catherine. Gak akan ada gunanya.”
Aku mendelik mendengar jawaban Keegan. Bonusmu akan semakin kutambah Keegan.
“Kamu sama gak sopannya sama atasanmu ya,” cibir Tony.
“Tindakan kamu sangat cerdas, Kee.” Aku mengacungkan jempol padanya.
Kini Tony berdiri menghadapku. “Apa lagi rencana kamu sekarang?”
“Sudah diberitahu berulang kali pun masih gak ngerti cara bicara yang sopan ke orang lain.” Aku mendesah lelah. Bisa tidak sih aku menyalahgunakan kekuasaanku di sini untuk menghancurkan Tony Lesmana. Membuatnya jadi artis tak laku setelah kontraknya dibatalkan, lalu membuatnya jauh dari wanita yang dia cintai untuk selamanya.
Jika bisa seperti itu satu masalah hidupku pasti bisa selesai.
“Rencana saya sekarang adalah pulang dan tidur nyenyak.”
“Ibu mau pulang sekarang?” tanya Keegan.
“Mana bisa kamu langsung pulang sekarang,” potong Tony dengan tidak sopan. “Harus berapa kali sih dibilangin, jangan pernah ganggu Sania lagi. Sampai sekarang kamu masih gak juga ngerti. Jadi, apa saja yang kamu lakukan ke dia selama ini? Sania gak mau cerita yang sebenarnya.”
Aku benar-benar muak sekali bicara dengannya. Manusia purba pun tidak separah dia.
“Apa maksud kamu?” tanya Tony yang tidak mengerti. Lalu wajahnya berubah tidak suka. “Kamu pasti mau bela—“
“Iya. Aku mau bela Bu Catherine lagi! Kamu yang harus dikasi tahu sampai berapa kali lagi supaya percaya. Bu Catherine gak ganggu aku.”
“Kamu yang gak paham sama situasi ini Sania. Kamu yang gak sadar sama semua rencana liciknya ke kamu. Kamu bukan sekretaris atau asisten pribadinya, tapi dia seenaknya nyuruh-nyuruh kamu ikut dia ke mana-mana, nyuruh-nyuruh kamu seenaknya kayak gini. Jadi plis Sania, berhenti bersikap baik sama penjahat ini, dia gak pantas kamu perlakukan baik. Dia memperlakukan kamu kayak pembantu. Dia mau kamu ada di dekatnya supaya lebih gampang buat nindas kamu seenaknya.”
“Tony kamu udah keterlaluan.”
Jujur saja aku kesal sekali dengan teori mengada-ada Tony, tapi menonton pertunjukkan ini sangat menyenangkan. Melihat bagaimana frustrasinya Tony saat melihat wanita pujaannya malah mati-matian membela perempuan yang ia benci setengah mati.
Aku menahan senyum saat Sania berkata, “Kamu terus nuduh Bu Catherine yang enggak-enggak tanpa bukti yang jelas. Gimana bisa kamu yang lebih tahu perlakuan Bu Catherine ke aku padahal aku sendiri yang ngalamin. Aku gak sebodoh itu sampai gak tahu seseorang benar-benar baik ke aku atau aku cuma ditindas.”
Tony tercengang. Tapi aku yakin si bebal ini belum menyerah. Hati dan pikirannya kan buta sekali jika menyangkut aku. “Sudah separah apa dia meracuni kepala kamu?”
Sudah kuduga. Pasti sewaktu kecil laki-laki ini kekurangan omega tiga.
“Tony kalau kamu terus menuduh Bu Catherine dengan tuduhan-tuduhan jahat begini, kamulah yang jadi orang jahatnya. Kamu udah menghakimi orang yang gak salah apa-apa dan gak ngelakuin apa-apa.”
Aku tersenyum puas. Selama ini kukira Sania hanya anak polos yang sangat penurut, tapi dia juga bisa menjadi wanita dengan pikiran yang bijaksana.
“Jadi Tony, maaf, apa kamu bisa pergi sekarang? Kamu sudah bikin aku malu di depan Bu Catherine dengan marah-marah gak jelas seperti ini.”
Hampir saja tawaku tersembur melihat bagaimana syoknya pria itu. Hal ini pasti lebih sakit dibanding seseorang menonjok wajahnya.
“Kamu ngusir aku?”
“Aku minta maaf,” ucap Sania tanpa mau melihat pada pria itu. “Tapi kamu benar-benar mengganggu pekerjaanku sekarang. Jadi kuharap kamu pergi.”
“Kalau masih punya harga diri seharusnya kamu pergi,” sambung Keegan. “Kalau di sini terus kamu hanya lebih mempermalukan dirimu sendiri.”
Untunglah dia sadar dirinya sudah tersudut. Tony pergi setelah berkata akan menghubungi Sania nanti dan memelototiku dengan penuh kekesalan.
Entah cinta itu terlalu buta sampai dia menjadi bodoh atau dari lahir pria itu memang sudah bodoh.
“Saya benar-benar minta maaf, Bu.” Selepas Tony pergi, Sania langsung menundukkan tubuhnya beberapa kali. “Saya gak nyangka dia bakal bicara seperti ini ke Ibu. Dan saya harap Ibu gak salah paham, saya gak pernah cerita yang tidak-tidak ke Tony tentang Ibu.”
Aku tahu pasti hal itu. Jika Sania menceritakan yang tidak-tidak, Tony tak akan bereaksi seperti itu.
“Itu bukan salahmu. Tony yang melakukan semuanya. Kamu gak punya keharusan untuk meminta maaf. Kita pulang sekarang.”
Lalu kotak misi pun muncul. Perasaanku bertambah bagus saja saat melihat kata sukses di sana. Padahal aku tak melakukan apa pun.
Terima kasih untuk Tony dan pikirannya yang sempit.
***
Sincerely,
Dark Peppermint