
Mohon maaf sebelumnya. Tapi saya gak berminat untuk ambil bagian dalam drama tersebut. Jadi mohon pihak WJ jangan membawa-bawa nama saya.
Aku bangkit dari kasurku. “Ha? Apa maksudnya coba?”
Aku membaca ulang sekali lagi. Namun kata-katanya tetap sama.
“Mohon pihak WJ jangan membawa-bawa nama saya”
Sejak kapan jadi kami yang membawa-bawa namanya dalam film ini. Kuakui memang Pak Tino merasa Tony adalah aktor yang cocok untuk memerankan peran tersebut. Namun kami tak berencana untuk benar-benar menjadikannya pemeran utama dalam film. Bahkan pihak kami pun belum ada menawari si aktor sombong itu untuk menjadi bagian dalam film kami. Wong naskahnya saja belum selesai, masa iya sudah mencari aktor. Atau... Tidak mungkin kan?
Aku langsung mencari sebuah nomor telepon. Namun saat ini sudah sekitar jam 3 pagi. Jadi aku mengurungkan niatku untuk menghubunginya. Aku sering dengar tentang bos yang suka semena-mena menghubungi bawahan, tapi aku tidak berniat begitu. Kecuali terpepet sekali. Ini kan bukan masalah besar, hanya kebodohan biasa yang disebabkan Tony Lesmana.
Keesokan paginya saat Keegan menjemputku ke rumah, pria itu langsung berjengkit kaget.
“Tumben ibu sudah sarapan jam segini,” ucapnya padaku yang sedang menyantap sarapan di meja makan. Wajar dia bertanya begitu. Sebab biasanya jam segini aku masih yoga. Namun sejak malam tadi aku tidak bisa tidur lagi. Jadi aku pun yoga dan mandi lebih cepat. Dan dengan begitu aku pun bisa ke kantor lebih cepat dan segera menemui pria itu.
“Kamu sudah menyuruh Pak Tino datang ke kantor saya nanti kan?”
“Sudah Bu,” jawab Keegan. “Ibu gak jawab pertanyaan saya.” Dia agak cemberut.
“Emang kamu tadi nanya apa?” Aku tidak ingat dia ada bertanya padaku.
“Saya tadi bilang kok tumben ibu sudah sarapan jam segini.”
“Saya mau jadi orang pagi hari,” jawabku asal. “Saya udah selesai makan. Ayo kita berangkat!” Aku lekas mengambil tas dan segera menyeret Keegan keluar.
***
Saat masuk ke dalam ruanganku Pak Tino langsung menunduk.
“Silakan duduk Pak.”
Dia hanya tersenyum singkat dan kegelisahan tampak jelas di raut wajahnya. “Ada apa ibu panggil saya tiba-tiba kemari?”
“Gak ada hal penting sih Pak,” jawabku dengan senyuman santai. “Cuma mau nanya-nanya naskah kita sudah sampai mana?”
“Oh, hari Senin depan kami pastikan sudah selesai Bu. Ibu bisa tenang.” Dia mulai tersenyum lega dan aku pun langsung melempar bom.
“Padahal naskahnya belum selesai, tapi kok bisa-bisanya ada aktor yang kepedean kita mau pake dia ya.”
Wajah Pak Tino kembali keruh. “Apa maksud Ibu?”
Aku menatap pria itu lama. “Seharusnya Anda yang paling tahu maksud saya.”
Dia menunduk sejenak sebelum menghela napas, “Saya gak sangka dia bakal buat masalah kayak gini.”
Ternyata kecurigaanku benar.
Pak Tino langsung menggeleng. “Saya gak menawarkan dia untuk jadi pemeran utama, Bu. Dua hari lalu saya gak sengaja ketemu dia dan makan siang bareng. Seperti yang Ibu tahu kami pernah bekerja sama dalam beberapa film. Hubungan kami sudah cukup akrab. Jadi saya iseng saja bertanya apa dia berminat untuk bergabung dalam film yang akan saya garap selanjutnya.” Pak Tino menghela napas kembali. “Dia cuma tertawa dan bilang gak yakin.”
“Saya gak tahu sebaik apa hubungan kalian berdua sampai kamu langsung menawarinya begitu saja padahal tahu saya gak suka kalau pria itu harus diikutkan dalam film ini. Apa kamu memang sengaja ingin mencari masalah?” tanyaku kesal. Aku memang tidak tahu banyak tentang membuat film, tapi menurutku selain kualitas akting pemerannya, kurasa kepribadian aktor atau aktrisnya juga merupakan hal yang penting. Meski kita harus profesional dalam bekerja dan tak mencampurkan urusan pekerjaan dan pribadi, tapi bukan berarti masalah-masalah tersebut bisa diabaikan begitu saja. Bukan berarti dua orang musuh bisa langsung disatukan.
Pria itu jelas tahu bagaimana buruknya hubungan perusahaan kami dengan Tony Lesmana, atau bagaimana buruknya hubunganku dengan Tony Lesmana, tapi bisa-bisanya dia melakukan hal ini tanpa berpikir panjang.
“Saya gak punya niat buruk apa pun Bu.”
“Kalau begitu seharusnya kamu gak asal bicara. Terserah kamu mau berteman seakrab apa dengan Tony Lesmana di luar sana, tapi jangan buat saya atau perusahaan saya berhubungan dengan dia.”
Pria itu meminta maaf. Lalu setelahnya aku menyuruhnya pergi. Terserah dia mau menganggapku kekanakan karena membahas hal sepele seperti ini. Tapi, hei, harga diriku rasanya diinjak oleh kesombongan Tony Lesmana itu. Dan aku pun tidak yakin dia melakukan hal tersebut tanpa maksud apa pun. Jika aku bersikap lembek dengan tindakannya yang sekarang ke depannya bisa saja dia lagi-lagi berbuat semaunya. Padahal di pertemuan kami sebelumnya pun sudah jelas kukatakan kalau aku tidak mau ada Tony Lesmana di film ini.
***
Ternyata pernyataan Tony semalam mengenai keengganannya untuk ikut ambil bagian dalam Losing You membuat banyak pihak kecewa. Terutama penggemar Losing You garis keras.
Gila sombong banget jadi artis. Apa katanya? Gak berminat untuk ambil bagian dalam drama tersebut? Astaga, kami juga gak butuh Anda jadi pemerannya. Masih ada banyak aktor yang jauh lebih berkualitas daripada Anda di luaran sana. Dan pastinya dengan etika yang lebih baik pula.
Jujur kecewa banget sama sikap Tony yang kayak gini. Terserah deh ya kalo dia punya masalah sama WJ tapi caranya yang kayak gini jadi kayak ngejelekin Losing You juga tau gak. Padahal kita-kita udah dukung dia, tapi responnya malah annoying banget.
Ya elah... nyesel banget gue dukung dia. Kalau gak mau ya udah, gak usah bikin-bikin story alay kayak gitu. Nyebelin banget.
Gak berminat katanya? Ini merendahkan Losing You banget gak sih?
Gue juga sebenarnya gak berminat elu jadi pameran utamanya.
Gue juga sama. Sejak dia drama banget mau keluar dari WJ tapi gak mau bayar dendan itu gue udah benci banget sama dia. Drama banget gak sih dia jadi orang. Emang dia aktor tapi bukan berarti lo harus ikut ngedrama di luar juga. Job akting lo masih kurang banyak.
Oke, seru memang membaca hujatan untuk Tony Lesmana. Tapi aku tidak boleh begini. Aku harus memikirkan apa yang harus kami lakukan ke depannya.
“Jadi gimana Kee?” tanyaku pada Keegan. seperti biasa dia berdiri di depan mejaku.
“Kayaknya kita gak perlu berbuat apa-apa, Bu. Kita sama sekali gak dirugikan sama masalah ini. Penggemar setia Losing You jelas gak akan berkurang. Malah dengan masalah ini Losing You jadi bertambah populer. Orang-orang yang awalnya gak tertarik jadi mencari tahu tentang Losing You karena masalah dengan Tony Lesmana.
Keegan benar. Aku pun tersenyum. “Kayaknya kita harus berterima kasih pada Tony Lesmana atas tingkah konyolnya ini.”
Namun beberapa saat kemudian si kampret itu malah berulah kembali.
Maaf kalau perkataan saya sebelumnya membuat banyak pihak marah. Saya gak ada maksud untuk menjelekkan Losing You. Saya cuma gak mau berurusan dengan WJ lagi. Takutnya kalau ada apa-apa di film ini nantinya saya akan didenda lagi oleh pihak mereka.
***
Sincerely,
Dark Peppermint