The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 22



"CATHERINE WIJAYA!"


Mendadak tubuhku kaku. Papa sangat marah sekarang.


"Sampai kapan kamu mau seperti


ini?" Jantungku terasa diremas. Selama beberapa saat tadi wajah Papa terlihat sedih dan frustrasi.


Dan kini aku sadar, pria itu sebenarnya sayang pada Catherine.


“Aku..., aku..., aku minta maaf,”


ucapku akhirnya. Saat aku mendongak, wajah Papa tampak sangat syok. “Aku...


jujur aja aku masih kesal, dan ya... sayang kan uangnya kalau gak jadi kencan.”


Sebenarnya aku bicara apa sih?


“Papa kenapa?” heranku saat melihat rasa syok Papa berubah menjadi tatapan serius.


“Kamu punya utang berapa? Kamu main judi?”


Gimana?


“Papa ngomong apa?” Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa mendadak bahas utang.


“Kamu minta maaf begini pasti ada maunya kan? Kamu butuh berapa sampai uang kamu sendiri gak cukup untuk membayarnya?”


Sialan. Padahal aku sudah merasa bersalah. “Aku gak punya utang judi. Cara main judi juga gak tahu.”


“Terus kenapa kamu sebutuh itu sama uang?”


Siapa sih manusia hidup yang tidak butuh uang? Lagi pula bukan itu alasan utamaku.


“Bukannya pengusaha harus mencaplok semua kesempatan untuk mendapat keuntungan,” jawabku asal-asalan. “Kita kan pengusaha. Pengusaha itu wajar kalau suka uang walau sudah kaya.” Duh, bicaraku semakin tidak jelas. “Kalau tidak suka uang mana bisa pengusaha kaya.” Tuhan, mulutku ini punya cara paling ampuh untuk bikin malu.


Tanpa diduga-duga Papa tertawa. Bukan tawa kencang yang sangat puas, hanya tawa kecil yang tidak bertahan lebih


dari sedetik.


“Kamu ini bicara apa? Sebaiknya kamu pulang sekarang. Bisa-bisa kamu ngajak orang random lagi untuk dijadikan teman kencan.”


Aku tidak tahu itu apa, tapi bolehkah kuanggap sebagai bercanda?


“Semuanya lancar, Bu?” tanya Keegan begitu aku masuk ke mobil.


Aku merebahkan tubuh ke sandaran di kursi belakang. “Lancar apanya. Kacau balau.”


“Apa pria itu menyebalkan?” Keegan mulai melajukan mobilnya.


“Sangat,” kesalku. “Laki-laki sombong yang bahkan gak punya pikiran untuk mengabari teman kencannya kalau ia batal datang.”


Keegan yang kaku itu kaget sedikit. Sedikit sekali. “Ada yang menolak Ibu?”


Keegan ini lempang tapi sekali bicara suka menancap di dada. “Apa maksud kata-kata kamu itu? Kamu mau bilang saya sudah mulai tidak laku makanya pria itu gak datang?”


“Ibu tahu bukan itu maksud saya,” jawabnya santai. “Selama ini hampir gak pernah ada laki-laki yang bisa menolak ibu.”


Kecuali si pecundang banci Tony Lesmana.


“Kamu lagi menjilat saya setelah tadi menjatuhkan saya ke dasar tebing?”


“Kayaknya Ibu agak sensitif hari ini. Ibu mau makan sesuatu?”


Aku mendelik melihat pria itu. Kenapa dia jadi menyebalkan sekali sekarang ini? Tapi sialnya dia benar.


“Kita mampir ke resto dulu sebelum pulang,” jawabku angkuh tanpa melihat padanya.


***


Rencana untuk mengadaptasi beberapa novel yang kupilih sebelumnya tersebar luas. Entahlah. Sekarang segala sesuatu tentangku sangat menarik perhatian orang banyak. Dulu pun sebenarnya begitu tapi sekarang bedanya respons orang-orang lebih positif.


“Sarapan Ibu sudah siap.”


“Oh ya. Sedikit lagi. Sebentar lagi saya selesai,” ucapku sambil melakukan salah satu pose yoga. Meski awalnya aku melakukan hal ini karena depresi dengan masalah yang ditimbulkan Tony, sekarang aku sudah terbiasa melakukan yoga setiap pagi. Ini menjadi rutinitas harian.


Sementara itu, Keegan yang berdiri di ambang pintu hanya melihat tanpa rasa tertarik. Dia benar-benar robot dan cocok sekali jadi sekretaris efesien yang tak akan mengganggu hidup majikan. Omong-omong Keegan jadi rajin begini menjemputku ke rumah, menyopiriku ke mana pun, bahkan sampai menyuruh Shania yang menggantikan saat dia tidak bisa datang, semuanya karena insiden aku menabrak dinding. Sejak kejadian tersebut aku tak pernah lagi membawa mobil. Padahal Cath dikenal sebagai cewek high class yang ke mana-mana membawa mobilnya sendiri. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak terlalu suka berkendara.


“Kalau kamu belum sarapan, sarapan saja dulu Kee.”


“Ibu nyuruh saya sarapan di sini?” Pertanyaan yang penuh kebingungan itu membuatku menoleh padanya. Aku lupa kalau Catherine pasti tak pernah melakukan itu. Tapi, lagi-lagi, peduli setan.


“Memang apa salahnya kamu makan di sini,” balasku sambil menerima handuk darinya.


“Tidak ada yang salah, Bu. Hanya saja tidak wajar.”


“Baiklah kalau kamu gak mau makan di rumah saya. Mungkin rumah saya kurang steril jadi kamu takut mak—“


“Bukan begitu, Bu,” sanggahnya cepat-cepat dan berhasil membuatku tersenyum. Aku hanya bercanda tapi si robot menanggapi dengan serius.


Sejurus kemudian dia sudah duduk berdua bersamaku di meja makan.


“Saya benar-benar gak perlu ditawari mak—“


“Makan aja!” ucapku sembari menyodorkan semangkuk sereal.


“Ta—“


“Kamu mau saya pecat?”


“Baik, Bu,” jawabnya cepat dan membuatku tersenyum. Dia benar-benar lurus.


Selanjutnya kami makan bersama. Meski sudah sering makan bersama sebelumnya, tapi kami tak pernah sarapan seperti ini. Apalagi di rumahku sendiri.


Aku tahu hal ini sebenarnya bukan hal wajar, tapi jujur saja aku butuh teman. Selama ini dia yang menemaniku. Walaupun sepertinya terpaksa hanya karena keadaan. Tapi tetap saja. Aku merasa dia orang yang paling dekat denganku di sini dan yang paling banyak membantu juga.


"Coba lihat ini." Aku menunjukkan ponselku padanya.


"Ibu sedang pamer uang ibu pada saya?"


Aku berdecak. Pikirannya tentangku jelek sekali. "Ini uang yang dikirim Bapak Jonathan padaku."


Aku juga tak menyangka. Kukira karena kencan kali ini gagal aku tak akan mendapat uang yang telah dijanjikan. Tapi Bapak Jonathan yang terhormat ternyata lebih murah hati daripada kelihatannya.


"Bagus," jawab Keegan seadanya. Membuat rasa senangku karena berhasil pamer luntur seketika. Jika kubalikkan meja ini hingga menimpa dia, entah-entah responsnya hanya, "Oh, Ibu sangat kuat." Lalu dia bangkit bangun, merapikan meja, membersihkan pakaian, dan kembali tenang seperti biasa.


"Kamu sudah hubungi penulis itu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dia tak akan menanggapi kalau yang kubahas hanya hal-hal sepele.


"Rencananya hari ini, Bu." Selesai. Titik.


Aku mengembuskan napas. Dia tidak bisa dijadikan teman cerita yang asyik.


***


"Kami mengharapkan kedatangan Anda sesegera mungkin. Benar. Iya, semua sudah kami siapkan. Anda hanya perlu datang saja. Baik kalau begitu."


Aku menyimak dengan baik percakapan yang sedang dilakukan Keegan dengan penulis yang kuincar.


"Dua hari lagi? Bisa. Tentu bisa. Baik. Iya, Selamat siang."


"Jadi sudah selesai?" tanyaku begitu sambungan telepon dari Keegan tertutup. Aku sengaja menyuruhnya menelepon si penulis itu di depanku karena tak sabar ingin mendengar perkembangannya.


"Iya. Dia akan datang dua hari lagi untuk membicarakan mengenai adaptasi novelnya."


"Bagus, bagus." Jujur saja aku sedikit bersemangat. Dulu salah satu mimpiku adalah bisa membuat novelku menjadi film. Tapi sekarang, aku bisa membuat novel orang lain menjadi film.


"Kenapa?" tanyaku begitu melihat Keegan memandangi aneh. "Saya cantik?"


"Bukan--," jawabnya cepat.


"Jadi saya gak cantik?" ucapku dengan nada akan mengamuk.


"Bukan begitu juga, Bu."


"Jadi apa maksudnya kamu bilang begitu?"


"Saya mau jawab bukan 'apa-apa' tapi Ibu sudah langsung memotong kata-kata saya."


"Bukan apa-apa kenapa malah ngeliatin saya kayak gitu?"


"Tidak. Ibu hanya terlihat sangat senang."


Benarkah? Apa sangat terlihat?


***


Sincerely,


Dark Peppermint