The Bad Twins

The Bad Twins
The bad twins 2-41



The bad twins season 2


__


Dengan perasaan kesal, Devan memasuki mobilnya.


.


"Loh? Muka kamu kenapa kok lebam begini?"tanya Neila.


.


"Kamu berantem ya sama Rafi?"tanya Neila.


.


Devan masih enggan membuka suara. Lelaki itu memilih menjalankan mobilnya. Meninggalkan lobby kampus.


.


"Maaf. Ini pasti karena aku ya?"Neila berucap dengan nada sedih yang dibuatnya.


.


Devan menghela nafas. Lelaki itu menepikan mobilnya, lalu menoleh kearah Neila.


.


Tangan Devan terulur mengusap puncak kepala Neila. "Hey, this is not your fault."ucapnya.


.


"Jadi, kamu gak usah merasa bersalah okay?"ucap Devan.


.


Neila menggeleng. "Gimana aku gak merasa bersalah? Kamu berantem pasti gara-gara aku."


.


"Keliatan kok adik kamu itu gak suka sama aku. Keliatan banget dia gak mau aku ada disamping kamu."ucap Neila.


.


"Engga kok. Rafi gak kayak gitu. Dia cuman belum terbiasa aja. Nanti pasti dia deket sama kamu. Kayak dia, ke pacar Nayya."ucap Devan.


.


"Aku rasa itu gak mungkin. Mustahil banget rasanya."ucap Neila.


.


"Apa kita putus aja ya? Biar kamu gak berantem terus sama keluarga kamu."Neila berujar lirih dan rendah. Seolah Ia tersakiti karena keadaan.


.


"No. Aku gak mau. Aku yakin mereka pasti bakalan nerima kamu kedepannya. Hanya perlu waktu. Mereka masih belum terima aja sikap Mommy kamu."ucap Devan.


.


"Segitu salahnya ya, Mommy aku dimata keluarga kamu?"tanya Neila.


.


"Engga. Udah ya gak usah dibahas lagi. Aku gak mau kamu sedih."ucap Devan.


.


"Tapi, aku takut. Gimana kalau sampai kapan pun keluarga kamu gak bisa nerima aku dan gak ngerestuin hubungan kita?"


.


"Aku cuman takut pisah sama kamu. Hiks."Neila menangis, gadis itu mulai terisak.


.


"Ssttt. Jangan nangis."Devan menarik Neila kedalam pelukannya.


.


"Keluarga aku perlahan pasti bisa nerima kamu. Kita hadapin bareng-bareng okey?"ucap Devan.


.


Di dalam pelukan Devan, Neila tersenyum sinis dan membatin.


.


'Yash. Lo berhasil lagi Nei.'


.


'Sedikit lagi lo pasti bisa dapetin Devan seutuhnya. Hanya perlu meyakini Devan kalau disini lo benar-benar tersakiti karena keluarganya.'


***


📍Cafe Eatery.


.


Dua orang gadis yang duduk disalah satu meja Cafe itu terlihat saling bercengkrama. Dari berbagai hal saling diceritakan.


.


"Move-on elah Div, masih aja."


.


"Mirror kek Sal, emangnya lo udah move-on sama mantan lo itu? Engga kan?"


.


"Yee enak aja, gue udah move-on. Seribu persen malahan."


.


.


"Sial. Itu mah elo."


.


Raut kesal Salma membuat Diva terkekeh geli.


.


Kalian masih ingat kan dengan si kalem Salma dan di cempreng Diva?


.


Kedua gadis yang sama-sama bernotabe mantan anggota Razet itu ternyata kembali dipertemukan. Satu Universitas dan satu jurusan pula. Seperti halnya dengan Nayya dan Ajeng.


.


Kalau kalian tanya kabar sahabat mereka yang satunya, entahlah. Ara tidak ada kabar semenjak pindah keluar negeri.


.


"Hai, gue boleh gabung?"


.


Salma dan Diva kompak mendongak pada seorang gadis yang menghampiri meja mereka.


.


"Kenapa? Kok ngeliatin gitu? Gue boleh gabung gak?"tanya Neila.


.


"Kalo gak boleh gak papa kok."ucap Neila.


.


"Boleh kok, boleh. Duduk aja. Iya kan Div?"ucap Salma.


.


Diva mengangguk dan tersenyum tipis.


.


Neila kemudian duduk disamping Diva.


.


'Gue kok rada gak srek ya sama nih anak? Padahal baru pertama kali ketemu'batin Diva.


.


Salma mengulurkan tangannya. "Salma. Elo?"


.


"Gue Neila."jawab Neila sambil menjabat tangan Salma.


.


"Oh, salam kenal. Btw, lo dari sekolah mana?"tanya Salma.


.


"Gue udah kuliah."ucap Neila.


.


"Oh, sorry gue kira lo masih SMA. Mukanya masih imut-imut. Ya gak Div?"ucap Salma.


.


"Biasa aja. Masih imutan gue."ucap Diva.


.


"Pede lo selangit ****."ucap Salma.


.


"Eum pacar gue udah selesai dari kamar mandi. Kalau gitu gue duluan ya."Neila beranjak dari kursinya.


.


"Makasih udah dibolehin gabung."ucap Neila.


.


"See you again Nei."ucap Salma saat Neila sudah menjauh.


.


"Sifat cepet akrab lo bisa dikurangin gak Sal? Jatohnya kayak sokap."ucap Diva.


.


Salma nyengir, membuat Diva memutar kedua bola matanya.


.


Diva kemudian kembali memperhatikan Neila yang sudah keluar dari Cafe. Ia menyipitkan matanya. "*****. Bang Devan?"


***


Maaf kalau typo atau bahasanya kasar ya~