
The bad twins season 2
__
Dengan perasaan kesal, Devan memasuki mobilnya.
.
"Loh? Muka kamu kenapa kok lebam begini?"tanya Neila.
.
"Kamu berantem ya sama Rafi?"tanya Neila.
.
Devan masih enggan membuka suara. Lelaki itu memilih menjalankan mobilnya. Meninggalkan lobby kampus.
.
"Maaf. Ini pasti karena aku ya?"Neila berucap dengan nada sedih yang dibuatnya.
.
Devan menghela nafas. Lelaki itu menepikan mobilnya, lalu menoleh kearah Neila.
.
Tangan Devan terulur mengusap puncak kepala Neila. "Hey, this is not your fault."ucapnya.
.
"Jadi, kamu gak usah merasa bersalah okay?"ucap Devan.
.
Neila menggeleng. "Gimana aku gak merasa bersalah? Kamu berantem pasti gara-gara aku."
.
"Keliatan kok adik kamu itu gak suka sama aku. Keliatan banget dia gak mau aku ada disamping kamu."ucap Neila.
.
"Engga kok. Rafi gak kayak gitu. Dia cuman belum terbiasa aja. Nanti pasti dia deket sama kamu. Kayak dia, ke pacar Nayya."ucap Devan.
.
"Aku rasa itu gak mungkin. Mustahil banget rasanya."ucap Neila.
.
"Apa kita putus aja ya? Biar kamu gak berantem terus sama keluarga kamu."Neila berujar lirih dan rendah. Seolah Ia tersakiti karena keadaan.
.
"No. Aku gak mau. Aku yakin mereka pasti bakalan nerima kamu kedepannya. Hanya perlu waktu. Mereka masih belum terima aja sikap Mommy kamu."ucap Devan.
.
"Segitu salahnya ya, Mommy aku dimata keluarga kamu?"tanya Neila.
.
"Engga. Udah ya gak usah dibahas lagi. Aku gak mau kamu sedih."ucap Devan.
.
"Tapi, aku takut. Gimana kalau sampai kapan pun keluarga kamu gak bisa nerima aku dan gak ngerestuin hubungan kita?"
.
"Aku cuman takut pisah sama kamu. Hiks."Neila menangis, gadis itu mulai terisak.
.
"Ssttt. Jangan nangis."Devan menarik Neila kedalam pelukannya.
.
"Keluarga aku perlahan pasti bisa nerima kamu. Kita hadapin bareng-bareng okey?"ucap Devan.
.
Di dalam pelukan Devan, Neila tersenyum sinis dan membatin.
.
'Yash. Lo berhasil lagi Nei.'
.
'Sedikit lagi lo pasti bisa dapetin Devan seutuhnya. Hanya perlu meyakini Devan kalau disini lo benar-benar tersakiti karena keluarganya.'
***
📍Cafe Eatery.
.
Dua orang gadis yang duduk disalah satu meja Cafe itu terlihat saling bercengkrama. Dari berbagai hal saling diceritakan.
.
"Move-on elah Div, masih aja."
.
"Mirror kek Sal, emangnya lo udah move-on sama mantan lo itu? Engga kan?"
.
"Yee enak aja, gue udah move-on. Seribu persen malahan."
.
.
"Sial. Itu mah elo."
.
Raut kesal Salma membuat Diva terkekeh geli.
.
Kalian masih ingat kan dengan si kalem Salma dan di cempreng Diva?
.
Kedua gadis yang sama-sama bernotabe mantan anggota Razet itu ternyata kembali dipertemukan. Satu Universitas dan satu jurusan pula. Seperti halnya dengan Nayya dan Ajeng.
.
Kalau kalian tanya kabar sahabat mereka yang satunya, entahlah. Ara tidak ada kabar semenjak pindah keluar negeri.
.
"Hai, gue boleh gabung?"
.
Salma dan Diva kompak mendongak pada seorang gadis yang menghampiri meja mereka.
.
"Kenapa? Kok ngeliatin gitu? Gue boleh gabung gak?"tanya Neila.
.
"Kalo gak boleh gak papa kok."ucap Neila.
.
"Boleh kok, boleh. Duduk aja. Iya kan Div?"ucap Salma.
.
Diva mengangguk dan tersenyum tipis.
.
Neila kemudian duduk disamping Diva.
.
'Gue kok rada gak srek ya sama nih anak? Padahal baru pertama kali ketemu'batin Diva.
.
Salma mengulurkan tangannya. "Salma. Elo?"
.
"Gue Neila."jawab Neila sambil menjabat tangan Salma.
.
"Oh, salam kenal. Btw, lo dari sekolah mana?"tanya Salma.
.
"Gue udah kuliah."ucap Neila.
.
"Oh, sorry gue kira lo masih SMA. Mukanya masih imut-imut. Ya gak Div?"ucap Salma.
.
"Biasa aja. Masih imutan gue."ucap Diva.
.
"Pede lo selangit ****."ucap Salma.
.
"Eum pacar gue udah selesai dari kamar mandi. Kalau gitu gue duluan ya."Neila beranjak dari kursinya.
.
"Makasih udah dibolehin gabung."ucap Neila.
.
"See you again Nei."ucap Salma saat Neila sudah menjauh.
.
"Sifat cepet akrab lo bisa dikurangin gak Sal? Jatohnya kayak sokap."ucap Diva.
.
Salma nyengir, membuat Diva memutar kedua bola matanya.
.
Diva kemudian kembali memperhatikan Neila yang sudah keluar dari Cafe. Ia menyipitkan matanya. "*****. Bang Devan?"
***
Maaf kalau typo atau bahasanya kasar ya~