
The bad twins season 2
___
Pintu kamar Devan terbuka. Menampilkan sosok gadis yang masuk dengan satu kotak ditangannya.
.
Nayya berjalan mendekat kearah Devan. Duduk disampingnya—ditepi ranjang.
.
Nayya menanangkup wajah Devan dengan satu tangannya, menariknya agar menoleh kearahnya.
.
Nayya menghela nafas. Ia membuka kotak P3K itu dan mulai mengobati Devan. Terjadi keheningan diantara mereka.
.
Meskipun Devan terdiam, lelaki itu terus memandangi Nayya.
.
"Lain kali jangan berantem."ucap Nayya setelah selesai mengobati Devan.
.
"Bukannya gue bela Rafi. Gue gak bela siapa pun. Kalian berdua itu sama-sama Abang gue."ucap Nayya.
.
"Maaf."ucap Devan.
.
Nayya mengangguk.
.
"Mau cerita gak?"tanya Nayya.
.
"Cerita apa?"tanya Devan.
.
"Tadi."ucap Nayya.
.
"Gapapa."ucap Devan.
.
"Gue gak **** ya Bang. Pasti ada apa-apa."ucap Nayya.
.
Devan terkekeh. "Tumben."
.
Nayya mengerutkan keningnya.
.
"Tumben lo bawel."kekeh Devan.
.
"Gausah ngalihin pembicaraan."ucap Nayya.
.
"Tapi jangan marah."pinta Devan.
.
"I can't promise."ucap Nayya.
.
Devan menghela nafas, cowok itu kemudian mengambil ponselnya diatas nakas. Membukanya lalu memperlihatkan sebuah foto pada Nayya.
.
"What do you think about this?"tanya Devan.
.
Nayya menatap layar ponsel Devan lekat. Menatapnya baik-baik.
.
"Pacaran."ucap Nayya.
.
Devan mengangguk. "Bener, dia cewek gue."
.
Devan kemudian menggeser layar ponselnya. Memperlihatkan dua orang perempuan disana.
.
"Ini yang bikin Rafi marah. Pacar gue anak Tante sialan itu."ucap Devan.
.
Nayya terdiam. Ia cukup kaget. Wajar saja Rafi marah, cowok itu memiliki dendam kesumat oleh Lexa. Dan, sekarang? Anak wanita itu berpacaran dengan Abangnya.
.
Nayya menggelengkan kepalanya. Pikiran negatif mulai muncul diotaknya.
.
"Maaf. Gue tau lo pasti gak setuju. Apalagi ini berhubungan dengan masa lalu."ucap Devan.
.
"Tapi, sumpah Nay. Gue gak bisa lepasin dia. She is my first love. Gue harap lo ngerti, karena lo tau sendiri gue paling gak bisa ngebantah ucapan lo."ucap Devan.
.
Nayya menggelengkan kepalanya tak percaya.
.
"Bang—"
.
"Lo gila."
***
Gadis itu memasuki kamarnya yang bernuansa putih. Dia baru saja pulang dari kampusnya.
.
Dia tersenyum miring saat menatap layar ponselnya.
.
"Yash. You dad it, Nei!"
.
Neila berseru senang, karena baru saja Devan menceritakan apa yang terjadi pada diri lelaki itu.
.
Yang membuat dirinya sangat senang saat ini adalah Devan bercerita bahwa Dia bertengkar dengan adik lelakinya dan bahkan Dia memohon agar adik perempuannya tidak meminta Devan melepaskannya.
.
"Satu rencana sudah berhasil. Gue udah bener-bener bisa bikin Devan percaya dan nyaman sama gue."ucap Neila.
.
"Sekarang gue harus ngebuat Devan menjauh dari mereka begitu saja. Bahkan kalau bisa gue bakalan ngerubah sifat Devan."
.
"Apa pun caranya."
.
Neila kemudian berjalan ke mading. Dimana Ia memasang foto keluarga Davidson.
.
Neila memandang foto-foto itu dengan mata yang berkilat marah.
.
"Dasar keluarga sialan!"
.
"Kasian nyokap gue yang selalu terus-menerus sedih karena kelakuan kalian."
.
"Nyokap gue udah berusaha untuk merubah sikapnya, tapi apa yang lo semua lakuin? Ngehina nyokap gue."
.
Tangan Neila terkepal erat.
.
.
—
.
Nayya menuruni anak tangga rumahnya. Ia hendak menuju dapur. Gadis itu turun dengan hawa yang berbeda.
.
"Nayya!"suara itu membuat Nayya terhenti dan berbalik.
.
"Dia bukan Nayya..."gumam Rafi.
.
Rafi kemudian tersenyum. Ia mengusap puncak kepala Nayya.
.
"Setelah sekian lama, akhirnya lo muncul lagi. Apa kabar?"ucap Rafi.
.
"Baik."jawab Nayya.
.
"Gue mau tanya. Boleh?"
.
Nayya mengangguk.
.
"Alen, apa penyebab lo keluar kembali? Apa ada masalah?"
.
"Bukan urusan lo."dingin Nayya.
.
Rafi menghela nafas. "Sekarang Nayya dimana? Lagi apa?"
.
"Istirahat."
.
"Alen. Bisa kasih tau kenapa lo keluar? Gak ngasih tau masalahnya gak apa. Gue cuman minta tujuan lo."ucap Rafi.
.
"Menyingkirkan sesuatu."
.
Rafi terdiam. Jika sisi lain Nayya sudah muncul. Itu artinya sisi lain Nayya ingin melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
.
Kalian masih ingat bukan? Bagaimana sisi lain Nayya memukuli habis-habisan Ketua Regal?
.
Itu yang Rafi takutkan. Sisi lain Nayya bisa semakin menjadi. Apalagi ini bukan atas kendali Nayya.
***
"Heh! Lo mau kemana?!"
.
Rafi berlari menyusul Nayya sebelum gadis itu benar-benar keluar dari dalam rumah.
.
Ini sudah pukul sebelas malam dan gadis itu ingin keluar. Gila.
.
Rafi meraih tangan Nayya membuat sang empu tangan berbalik sempurna menghadap dirinya.
.
Nayya menepis tangan Rafi kasar dan menatap lelaki itu tajam.
.
"Apa?!"sentak Nayya.
.
"Ngapain keluar jam segini? Mau kemana?"
.
"Ini udah malam, jangan macem-macem, Len."lanjut Rafi.
.
Nayya mendesis. "Bukan urusan lo."
.
"Lo pikir gue bakal diem aja ngeliat lo keluar jam segini? Dengan keadaan kayak gini? Gila aja gue."
.
"Lo itu lagi dikuasai amarah Len. Gue gak mau lo kenapa-kenapa. Apalagi sampe ngelakuin hal gila."
.
"Gak usah ngatur."
.
Rafi memegang kedua bahu Nayya dan menatap gadis itu dalam. "Itu hak gue Len! Gue berhak ngatur lo, lo adik gue!"
.
"Lagian lo mau kemana? Ngapain pakai baju kayak gini? Mau ngapain?!"
.
"Jawab Len, jangan diem aja!"
.
"Gue udah bilang lo gak berhak ngatur gue. Gue bukan Nayya yang bisa lo atur."ucap Nayya dengan penuh penekanan.
.
"Gue juga udah bilang gue berhak ngatur lo! Lo adik gue!"
.
"Berisik."Nayya mendorong tubuh Rafi hingga lelaki itu mundur beberapa langkah.
.
Dengan gerakan cepat gadis itu keluar dari rumahnya. Menuju mobilnya yang terparkir dihalaman, kemudian segera melajukannya.
.
"****!"Rafi mengacak rambutnya saat melihat mobil Nayya telah melesat pergi.
.
"Sial. Gue kelepasan."decak Rafi.
.
Lelaki itu dengan segera kembali masuk kedalam rumahnya. Mengambil jaket serta kunci motornya yang berada dikamar.
.
"Loh Rafi, mau kemana?"
.
Suara gadis itu membuat Rafi yang sedang menuruni anak tangga berhenti dan menoleh.
.
"Nyusul Nayya. Tolong bangunin Bang Andra sama Bang Devan ya Je. Bilang suruh nyusul aku. Nanti aku share lokasinya."ucap Rafi.
.
"Loh emang Nayya kemana?"tanya Ajeng.
.
"Nanti aku jelasin. Aku buru-buru. Pesan aku yang tadi jangan lupa."Rafi segera menuruni anak tangga dan cepat-cepat menyusul Nayya sebelum Ia kehilangan jejak.
.
Bisa-bisa sisi lain Nayya melakukan hal yang melewati batas wajar jika Ia telat sedikit saja.
—
Kira-kira kalian bisa nebak gak hayo?