
The Bad Twins
—
Kaki jenjang menuruni anak tangga dengan cepat. Suara ketukan pintu yang lumayan keras itu membuat Nayya terbangun dari tidurnya. Padahal ia sudah berada dialam mimpi.
-
Ceklekk
-
Pintu rumah Nayya terbuka. Menampilkan seorang cewek yang masih memakai seragam khas SMA Garuda.
-
"Nay lo kemana aja sih? Gue nyariin tau! Gue cariin ke kelas lo nya gak ada. Kata anak kelasan lo, lo gak masuk ke kelas lagi pas izin ke toilet"
-
Nayya hanya diam sambil menautkan alisnya.
-
"IH GUE NANYA NAYYA! DIJAWAB KEK! Serasa ngomong sama tembok gue"omel Ajeng
-
"Sejak kapan lo bawel?"tanya Nayya
-
"KOK NYEBELIN?!"
-
Nayya hanya memutar kedua bola matanya malas
"Masuk. Langsung ke kamar gue aja"
-
Kini keduanya berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Ini pertama kalinya Ajeng dateng kerumah Nayya. Pasalnya sejak ia berpacaran dengan Rafi, ia tak pernah diajak kesana.
-
"Eh iya, nih tas lo"ucap Ajeng sambil menyodorkan tas milik Nayya
-
"Thanks" ucap Nayya lalu mengambil tasnya
-
"Rafi ada di rumah Nay?"tanya Ajeng
-
"Dia jarang dirumah"
-
"Serius? Kapan pulangnya?"tanya Ajeng kaget
-
"Sore atau enggak malem"
-
"Kok dia gak pernah cerita ya sama gue?"
-
Nayya hanya menaikkan kedua bahunya.
-
Sesampainya dikamar keduanya langsung duduk di sofa yang berada di kamar Nayya.
-
"Rumah lo sepi amat. Pada kemana?"tanya Ajeng
-
"Ayah sibuk sama istri barunya. Kalo Bang Andra kerja, Bang Devan kuliah"ucap Nayya
-
Ajeng melotot, jelas ia kaget dengan kata pertama yang Nayya lontarkan. Ayah mereka nikah lagi?
-
"Ayah lo nikah lagi? Kapan?"tanya Ajeng
-
"Beberapa bulan yang lalu. Gue gak tau tepatnya bulan apa. Lagian males juga nginget bulan pernikahan mereka"
-
"Ayah lo jarang dirumah?"
-
"Lebih dari kata jarang Je. Palingan si nenek lampir yang sering dirumah. Makanya akhir akhir ini gue jarang dirumah. Gue lebih sering ke panti sekarang. Disana gue berasa hidup lagi Je. Bisa ngerasain kehangatan keluarga yang sebenarnya"
-
Ajeng terdiam. Ia tak menyangka bahwa keadaan keluarga sahabat serta kekasihnya bisa seperti ini.
-
"Bentar lagi nenek lampir pulang. Lo mau ikut gue?"tanya Nayya yang memecahkan keheningan
-
"Kemana?"tanya Ajeng balik
-
"Kalo gak ke panti ya paling nyusul Rafi ke warkop"ucap Nayya
-
"Gak bawa baju"ucap Ajeng
-
"Baju gue ada. Pake aja"
-
.
.
Nayya dan Ajeng menuruni anak tangga, namun saat berada diambang pintu langkah mereka terhenti saat mendengar suara seseorang dari arah belakang.
-
"Mau kemana kamu? Main lagi? Gak bosen keluar mulu?"
-
"Kenapa gak pulang aja sekalian? Jadinya kan saya gak perlu repot repot ngasih kabar ke Ayah kamu"
-
Namun Nayya menghiraukan ucapan wanita itu. Ia tetap menarik tangan Ajeng untuk menuju pintu.
-
"Kamu tuli? Atau bisu? Dasar anak gak punya sopan santun!"
-
"Lo duluan ke mobil"ucap Nayya, lalu memberikan kunci mobilnya pada Ajeng
-
Ajeng mengangguk dan menerima kunci mobil itu. Kemudian ia segera keluar dari rumah, berjalan kearah mobil Nayya.
-
"Jadi pengen ngerobek tuh mulut yang pura pura bisu kalau diajak ngomong sama saya"
-
Nayya membalikkan tubuhnya. Sungguh ia merasa kesal dan geram pada kelakuan Ibu tirinya.
-
"Mulut lo bisa diem gak sih? Panas kuping gue"ucap Nayya dingin
-
"Kamu punya sopan santun gak sih sama saya? Saya ini sudah menjadi Ibu kamu dan seharusnya kamu lebih sopan pada saya"ucap Lexa
-
"Saya gak pernah setuju tuh anda menikah dengan Ayah saya. Begitupun dengan ketiga Abang saya. Dari awal kami sudah memberitahu bukan? Bahwa saya dan ketiga Abang saya tidak akan pernah menganggap anda sebagai bagian keluarga Davidson. Tapi anda nekat ingin menikah dengan Ayah saya. Jadi jangan salahkan kami jika kami tidak sopan dengan anda"ucap Nayya dingin
-
"Saya juga gak perlu tuh restu dari kalian. Yang saya perlu hanya lah harta Ayah kamu. Arka"
-
"Sekarang anda boleh bersenang senang. Tapi jangan harap dihari selanjutnya anda akan terus seperti ini. Karena keempat anak Arka gak akan tinggal diam"ucap Nayya tajam
-
"Jangan macam macam kamu!"ucap Lexa
-
"Saya gak akan macam macam. Saya cuma ingin memberi hadiah untuk permainan anda"ucap Nayya sambil tersenyum miring, karena diam diam ia merekam pembicaraannya dengan Lexa
-
Nayya emang pinter deh......
-
"Jangan macam macam kamu Alendra!"ucap Lexa, ia pun segera menjambak rambut Nayya kuat.
-
"Aduhhh"ringis Nayya
-
Sial! Kenapa ia tidak bisa membangkitkan Alen?
-
Nayya semakin meringis kesakitan. Kepalanya mendadak pusing bahkan nyeri. Bahkan beberapa helai rambutnya tercabut dari akar akibat jambakan Lexa. Bisa dibayangkan bukan seberapa kuat jambakan itu?
-
"Lepasin.... Sakit...."
-
"Ini akibatnya kalau kamu ingin main main dengan saya"ucap Lexa sambil tertawa jahat
-
Ditempat lain, Ajeng menggigit ibu jarinya. Bingung harus bagaimana. Ia sudah menelfon Rafi, tapi cowok itu sampai sekarang belum pulang bersama kedua Abangnya.
-
Ah rasanya ia ingin masuk kedalam rumah dan mencakar wajah Ibu tiri Nayya sekarang juga. Tapi itu tidak mungkin, karena jika ia juga masuk kedalam pasti akan menambah masalah.
-
"Ayok dong Je mikir. Kok lo jadi tambah **** gini sih"ucap Ajeng kesal sambil mengetuk ngetuk jari telunjuknya pada bagian jidatnya
-
Sedetik kemudian, nama seseorang muncul dipikirannya. Ajeng tersenyum penuh arti. Dengan cepat ia membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.
-
Ajeng : Hallo om?
..... : Hallo? Kenapa Jeng?
Ajeng : Om bisa pulang kerumah sekarang gak? Ini gawat om
..... : Gawat? Gawat gimana?
Ajeng : Aduh Ajeng bingung mulai dari mana ngomongnya. Pokoknya ini menyangkut Nayya. Kalau om pengen tau mendingan om pulang aja
..... : Saya sebentar lagi sampai
Ajeng : Iya Om. Ajeng tunggu
-
Panggilan terputus. Ajeng bernafas lega karena sebentar lagi akan ada yang menolong Nayya dari nenek lampir itu.
~nanggung ya?tunggu eps selanjutnya minggu depan ya