The Bad Twins

The Bad Twins
The bad twins 2-32



The bad twins season 2


__


Universitas Andayana.


.


Lima orang laki-laki tengah duduk disebuah taman yang ada di Universitas sambil bersenda gurau.


.


Tak jarang banyak para mahasiswi yang sengaja lewat untuk mendapatkan perhatian dari mereka.


.


Merekalah bagian inti Razet. Lima orang laki-laki yang sudah menjalin persahabatan sejak masa putih abu-abu hingga sekarang.


.


Ketidak sengajaan diterima dikampus yang sama membuat hubungan persahabatan mereka semakin erat.


.


Ngomong-ngomong soal Razet. Geng itu masih ada loh sampai sekarang. Tentunya mereka wariskan bagi adik kelas mereka yang masih bersekolah di SMA Garuda. Membuat geng itu makin berkembang.


.


"Geser terus sampe mentok."ucap Rafi membuat Putra terkekeh.


.


Cowok jangkung itu kini tengah mengambil posisi menyender dibawah pohon sambil menggeser layar ponselnya.


.


"Kalo kangen itu samperin."ide Diat.


.


Clap.


Putra mematikan ponselnya lalu menyimpannya dikantung celana.


.


"Sibuk dia Yat."ucap Putra.


.


"Hadeh, kuliah memang memperlambat pertemuan."ucap Diat.


.


"Kalo lo pinter ngatur waktu juga ketemu terus. Kayak gue."ucap Zaki.


.


"Ketemu beda-beda cewek aja bangga. Tobat lo."ucap Diat.


.


"Heh, daripada lo semua ribut mending sini sama gue. Kita dengerin lagu blackpink."ucap Kennath.


.


"*****. Sejak kapan lo jadi fanboy, Nath?"ucap Rafi.


.


"Lo lupa? Dari jaman SMA tuh bocah udah jadi fanboy. Biangnya dia tuh."ucap Diat.


.


"Gausah bacot. Lo belum menghayati aja lagunya. Kalo udah menghayati gue jamin Lo ketagihan. Enak *****!"ucap Kennath.


.


"Ah, ini lagu kesukaan gue yang kedua."ucap Kennath sambil menatap ponselnya.


.


"Ayo Jak!"ajak Kennath sambil menepuk-nepuk paha Zaki.


.


"BOOMBAYAH!"


.


"YAH YAH YAH BOOMBAYAH!"


.


"YAH YAH YAH BOOMBAYAH!"


.


"YAH YAH YAH!"


.


Putra dan Rafi dengan cepat berdiri. Mengambil tas mereka serta satu buku, kemudian berjalan menjauh sambil berpura-pura membaca.


.


Sedangkan Diat menutup wajahnya rapat-rapat. Bahkan cowok itu berharap Ia bisa menghilang seketika.


.


Ketiganya sangat malu, karena suara Kennath dan Zaki yang membuat orang-orang sekitar taman menatap mereka.


.


Jika dulu menurut ketiganya wajar, namun sekarang memalukan.


.


📍Rumah Keluarga Davidson.


.


Malam itu, sambil duduk santai di kasur Nayya setia menatap layar laptop yang kini berada di pangkuannya. .


Nayya menggeleng kecil saat tiba-tiba ucapan Ajeng kembali teringat diotaknya.


.


'Kalo dia berulah lagi gimana?'


.


Jujur saja, Nayya pusing setiap kata itu teringat. Disisi lain Nayya berusaha menghiraukannya, namun ada rasa takut dan khawatir yang terselip dalam dirinya.


.


Nayya sebenarnya masih bisa melawan wanita itu atau bahkan mencegahnya kembali masuk kedalam keluarganya, namun kesibukannya di dunia perkuliahan tidak memungkinkan Ia selalu mengawasi kegiatan Lexa.


.


Suara ribut dari lantai bawah membuat perhatian Nayya teralih.


.


Karena suara ribut itu semakin menjadi, Nayya akhirnya beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar kamar.


.


Dari anak tangga, Ia bisa melihat kedua Abangnya sedang bertengkar. Siapa lagi kalau bukan Devan dan Rafi. Kedua lelaki itu tengah saling berusaha menindih.


.


"Heh! Beri—"


.


Belum sempat Nayya menyelesaikan omongannya. Sebuah bantal tiba-tiba melayang tepat diwajahnya.


.


"ABANG!"kesal Nayya.


.


"Sakit tau gak?"Nayya mengusap hidungnya yang terasa sakit.


.


Rafi terkekeh. "Siapa suruh lo disitu?"


.


"Siapa suruh, siapa suruh. Lo berdua berisik tau gak?"ucap Nayya.


.


"Engga."jawab Devan.


.


.


Devan terkekeh. Ia mendekat kearah Nayya lalu merangkul adiknya itu. Diusapnya hidung Nayya.


.


"Kenapa belum tidur?"tanya Devan.


.


"Tugas."ucap Nayya.


.


"Udah selesai?"tanya Devan. Nayya mengangguk.


.


"Yaudah, gih sana tidur."ucap Devan.


.


"Laper."ucap Nayya.


.


Nayya kemudian melepaskan rangkulan Devan dan berjalan menuju dapur.


.


"Temenin sana."perintah Devan pada Rafi.


.


"Dih, siapa lo?"ucap Rafi.


.


"Heh, songong!"Devan melemparkan bantal yang berada di dekat kakinya kearah Rafi. Namun, Rafi sudah berali kearah dapur lebih dulu.


.


"******! Gak kena!"


.


"HEH BULE SINI GAK LO!"


***


Rafi yang sudah berada di dapur itu tertawa geli saat mendengar Abangnya yang berteriak emosi.


.


Nayya melirik Rafi sekilas, setelahnya Ia melanjutkan kegiatan membuat cemilan. Cukup simple, hanya oreo dan susu yang dicampurkan kedalam satu gelas.


.


Saat Nayya ingin menuangkan susu kedalam gelas, seseorang memeluknya dari belakang.


.


"Lepas, Fi!"ucap Nayya.


.


"Gak mau."


.


"Gue mau nuang susu."


.


Tanpa menjawab ucapan Nayya, satu tangan Rafi terulur mengambil susu yang ada ditangan Nayya dan menuangkannya kedalam gelas.


.


"Selesai."ucap Rafi. Satu tangan kembali memeluk Nayya.


.


"Fi, lepas!"ucap Nayya sambil berusaha melepaskan pelukan Rafi.


.


"Sebentar doang."


.


Suara cowok itu terdengar manja. Membuat Nayya menghela nafas.


.


"Rafi lepas. Gue mau makan."ucap Nayya.


.


"Gak."


.


"Rafi, astaga!"


.


Rafi terkekeh. Lelaki itu lalu menciumi puncak kepala Nayya. Bahkan lingkaran tangannya dipinggang Nayya semakin erat.


.


Sungguh Ia sedang sangat ingin memeluk Nayya. Jarang-jarang sekali Ia bisa manja dengan Nayya seperti ini.


.


Perlu kalian ketahui bahwa Rafi sangat menyukai wangi khas tubuh Nayya, karena setiap menghirupnya Ia merasa lebih tenang.


.


"Diluar sana ada gak yang kembaran kayak kita?"tanya Rafi.


.


"Ada."jawab Nayya.


.


"Kalo yang kayak gue?"


.


"Gak ada. Cuman lo kembaran yang sinting."


.


Rafi terkekeh, Ia mencium puncak kepala Nayya lagi. "Gue sayang banget sama lo Nay. Lebih dari siapa pun."bisiknya lembut.


.


Mendengar bisikan itu, Nayya tersenyum. Tangannya bergerak mengusap punggung tangan Rafi yang masih setia melingkar di pinggangnya.


.


"Gue gak tau firasat ini bener atau engga, tapi yang pasti perasaan gue kali ini gak enak Nay."ucap Rafi.


.


"Gue tiba-tiba punya firasat ada sesuatu yang bakal terjadi, Nay. But I don't know what that is."ucap Rafi.


.


"Gue minta banget ini sama lo, Nay. Please, apa pun yang terjadi nanti. Gue minta lo harus tetep jadi Nayya yang gue kenal. Nayya yang kuat."ucap Rafi.


.


Nayya menghela nafas. "I can't promes."


.


Rafi mengangguk kecil.


.


"I'll always be here for you, my twins."


***


Dimohonkan like dan komentarnya ya~


Sebagai bentuk dukungan dan kesukaan kalian pada novel ini.


Terima kasih