
The bad twins season 2
__
Universitas Andayana.
.
Lima orang laki-laki tengah duduk disebuah taman yang ada di Universitas sambil bersenda gurau.
.
Tak jarang banyak para mahasiswi yang sengaja lewat untuk mendapatkan perhatian dari mereka.
.
Merekalah bagian inti Razet. Lima orang laki-laki yang sudah menjalin persahabatan sejak masa putih abu-abu hingga sekarang.
.
Ketidak sengajaan diterima dikampus yang sama membuat hubungan persahabatan mereka semakin erat.
.
Ngomong-ngomong soal Razet. Geng itu masih ada loh sampai sekarang. Tentunya mereka wariskan bagi adik kelas mereka yang masih bersekolah di SMA Garuda. Membuat geng itu makin berkembang.
.
"Geser terus sampe mentok."ucap Rafi membuat Putra terkekeh.
.
Cowok jangkung itu kini tengah mengambil posisi menyender dibawah pohon sambil menggeser layar ponselnya.
.
"Kalo kangen itu samperin."ide Diat.
.
Clap.
Putra mematikan ponselnya lalu menyimpannya dikantung celana.
.
"Sibuk dia Yat."ucap Putra.
.
"Hadeh, kuliah memang memperlambat pertemuan."ucap Diat.
.
"Kalo lo pinter ngatur waktu juga ketemu terus. Kayak gue."ucap Zaki.
.
"Ketemu beda-beda cewek aja bangga. Tobat lo."ucap Diat.
.
"Heh, daripada lo semua ribut mending sini sama gue. Kita dengerin lagu blackpink."ucap Kennath.
.
"*****. Sejak kapan lo jadi fanboy, Nath?"ucap Rafi.
.
"Lo lupa? Dari jaman SMA tuh bocah udah jadi fanboy. Biangnya dia tuh."ucap Diat.
.
"Gausah bacot. Lo belum menghayati aja lagunya. Kalo udah menghayati gue jamin Lo ketagihan. Enak *****!"ucap Kennath.
.
"Ah, ini lagu kesukaan gue yang kedua."ucap Kennath sambil menatap ponselnya.
.
"Ayo Jak!"ajak Kennath sambil menepuk-nepuk paha Zaki.
.
"BOOMBAYAH!"
.
"YAH YAH YAH BOOMBAYAH!"
.
"YAH YAH YAH BOOMBAYAH!"
.
"YAH YAH YAH!"
.
Putra dan Rafi dengan cepat berdiri. Mengambil tas mereka serta satu buku, kemudian berjalan menjauh sambil berpura-pura membaca.
.
Sedangkan Diat menutup wajahnya rapat-rapat. Bahkan cowok itu berharap Ia bisa menghilang seketika.
.
Ketiganya sangat malu, karena suara Kennath dan Zaki yang membuat orang-orang sekitar taman menatap mereka.
.
Jika dulu menurut ketiganya wajar, namun sekarang memalukan.
.
📍Rumah Keluarga Davidson.
.
Malam itu, sambil duduk santai di kasur Nayya setia menatap layar laptop yang kini berada di pangkuannya. .
Nayya menggeleng kecil saat tiba-tiba ucapan Ajeng kembali teringat diotaknya.
.
'Kalo dia berulah lagi gimana?'
.
Jujur saja, Nayya pusing setiap kata itu teringat. Disisi lain Nayya berusaha menghiraukannya, namun ada rasa takut dan khawatir yang terselip dalam dirinya.
.
Nayya sebenarnya masih bisa melawan wanita itu atau bahkan mencegahnya kembali masuk kedalam keluarganya, namun kesibukannya di dunia perkuliahan tidak memungkinkan Ia selalu mengawasi kegiatan Lexa.
.
Suara ribut dari lantai bawah membuat perhatian Nayya teralih.
.
Karena suara ribut itu semakin menjadi, Nayya akhirnya beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar kamar.
.
Dari anak tangga, Ia bisa melihat kedua Abangnya sedang bertengkar. Siapa lagi kalau bukan Devan dan Rafi. Kedua lelaki itu tengah saling berusaha menindih.
.
"Heh! Beri—"
.
Belum sempat Nayya menyelesaikan omongannya. Sebuah bantal tiba-tiba melayang tepat diwajahnya.
.
"ABANG!"kesal Nayya.
.
"Sakit tau gak?"Nayya mengusap hidungnya yang terasa sakit.
.
Rafi terkekeh. "Siapa suruh lo disitu?"
.
"Siapa suruh, siapa suruh. Lo berdua berisik tau gak?"ucap Nayya.
.
"Engga."jawab Devan.
.
.
Devan terkekeh. Ia mendekat kearah Nayya lalu merangkul adiknya itu. Diusapnya hidung Nayya.
.
"Kenapa belum tidur?"tanya Devan.
.
"Tugas."ucap Nayya.
.
"Udah selesai?"tanya Devan. Nayya mengangguk.
.
"Yaudah, gih sana tidur."ucap Devan.
.
"Laper."ucap Nayya.
.
Nayya kemudian melepaskan rangkulan Devan dan berjalan menuju dapur.
.
"Temenin sana."perintah Devan pada Rafi.
.
"Dih, siapa lo?"ucap Rafi.
.
"Heh, songong!"Devan melemparkan bantal yang berada di dekat kakinya kearah Rafi. Namun, Rafi sudah berali kearah dapur lebih dulu.
.
"******! Gak kena!"
.
"HEH BULE SINI GAK LO!"
***
Rafi yang sudah berada di dapur itu tertawa geli saat mendengar Abangnya yang berteriak emosi.
.
Nayya melirik Rafi sekilas, setelahnya Ia melanjutkan kegiatan membuat cemilan. Cukup simple, hanya oreo dan susu yang dicampurkan kedalam satu gelas.
.
Saat Nayya ingin menuangkan susu kedalam gelas, seseorang memeluknya dari belakang.
.
"Lepas, Fi!"ucap Nayya.
.
"Gak mau."
.
"Gue mau nuang susu."
.
Tanpa menjawab ucapan Nayya, satu tangan Rafi terulur mengambil susu yang ada ditangan Nayya dan menuangkannya kedalam gelas.
.
"Selesai."ucap Rafi. Satu tangan kembali memeluk Nayya.
.
"Fi, lepas!"ucap Nayya sambil berusaha melepaskan pelukan Rafi.
.
"Sebentar doang."
.
Suara cowok itu terdengar manja. Membuat Nayya menghela nafas.
.
"Rafi lepas. Gue mau makan."ucap Nayya.
.
"Gak."
.
"Rafi, astaga!"
.
Rafi terkekeh. Lelaki itu lalu menciumi puncak kepala Nayya. Bahkan lingkaran tangannya dipinggang Nayya semakin erat.
.
Sungguh Ia sedang sangat ingin memeluk Nayya. Jarang-jarang sekali Ia bisa manja dengan Nayya seperti ini.
.
Perlu kalian ketahui bahwa Rafi sangat menyukai wangi khas tubuh Nayya, karena setiap menghirupnya Ia merasa lebih tenang.
.
"Diluar sana ada gak yang kembaran kayak kita?"tanya Rafi.
.
"Ada."jawab Nayya.
.
"Kalo yang kayak gue?"
.
"Gak ada. Cuman lo kembaran yang sinting."
.
Rafi terkekeh, Ia mencium puncak kepala Nayya lagi. "Gue sayang banget sama lo Nay. Lebih dari siapa pun."bisiknya lembut.
.
Mendengar bisikan itu, Nayya tersenyum. Tangannya bergerak mengusap punggung tangan Rafi yang masih setia melingkar di pinggangnya.
.
"Gue gak tau firasat ini bener atau engga, tapi yang pasti perasaan gue kali ini gak enak Nay."ucap Rafi.
.
"Gue tiba-tiba punya firasat ada sesuatu yang bakal terjadi, Nay. But I don't know what that is."ucap Rafi.
.
"Gue minta banget ini sama lo, Nay. Please, apa pun yang terjadi nanti. Gue minta lo harus tetep jadi Nayya yang gue kenal. Nayya yang kuat."ucap Rafi.
.
Nayya menghela nafas. "I can't promes."
.
Rafi mengangguk kecil.
.
"I'll always be here for you, my twins."
***
Dimohonkan like dan komentarnya ya~
Sebagai bentuk dukungan dan kesukaan kalian pada novel ini.
Terima kasih