
The Bad Twins
—
Nayya duduk di kursi dekat kelas XI-5. Ia menunggu Rafi. Karena cuman kelasnya yang belum keluar sejak bel pulang berbunyi.
-
Mata Nayya memincing saat ada anak kecil yang tersungkur. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah anak kecil itu.
-
"Adek kenapa?"tanya Nayya lembut
-
"Jatuh Kak"
-
"Ayok sini ikut kakak, kakak obatin"ucap Nayya
-
Anak kecil itu mengangguk. Lalu Nayya menggendong anak kecil yang kemungkinan berumur lima tahun itu.
-
Nayya membawa anak itu ke UKS. Sesampainya disana ia langsung menduduki anak itu di salah satu kursi.
-
"Sebentar ya, kakak ambil obatnya dulu"ucap Nayya sambil tersenyum, lalu ia mengambil kotak P3K
-
Setelah mengambilnya. Nayya duduk disamping anak kecil itu dan ia segera mengobati luka anak itu.
-
"Namanya siapa?"tanya Nayya
-
"Ayla Kak"
-
Nayya manggut manggut
-
"Nah udah"ucap Nayya setelah selesai mengobati luka Ayla
-
"Makasih Kakak cantik"ucap Ayla sambil tersenyum
-
"Sama sama"ucap Nayya sambil mengusap kepala Ayla
-
"Kamu disini sama siapa?"tanya Nayya
-
"Mamah"
-
"Ohh. Yaudah yuk Kakak anter ke mamah kamu. Nanti kamunya dicariin"ucap Nayya, lalu ia menggendong Ayla keluar UKS
.
.
"ASTAGAA AYLAA!! KAMU GAK PAPA KAN?"
-
Suara seorang wanita paruh baya yang menghampiri Nayya, membuat ia menghentikan langkahnya.
-
"Ayla, kamu kemana aja sih? Mamah nyariin juga"ucap wanita itu dengan nada yang sedikit marah
-
"Maaf Mah"ucap Ayla
-
"Jangan dimarahin Tan. Kasian Ayla nya. Ayla tadi jatuh. Makannya saya bawa ke UKS dulu tadi"ucap Nayya sopan
-
"Oh gitu. Makasih ya nak"ucap wanita itu
-
Nayya mengangguk. Lalu memberikan Ayla pada wanita itu.
-
"Lain kali hati² ya kalau jalan. Jangan sampe jatuh lagi"ucap Nayya lembut
-
"Iya Kak"
-
"Sekali lagi makasih ya nak"
-
"Sama sama Tan. Kalau gitu saya permisi"ucap Nayya, lalu pergi
-
Tanpa sepengetahuan Nayya. Seorang pria memperhatikannya dari jarak jauh.
-
"Apa gue harus jadi anak kecil dulu. Baru sikap lo bisa selembut itu?"
-
Seperti biasa. Para anggota inti Razet berkunjung kerumah Putra. Kecuali Rafi yang harus menyempatkan pulang dulu kerumahnya.
-
Saat ini Zaki dan Diat bermain PS. Bukan mereka berdua saja yang saat ini berada dikamar Putra. Tapi ada Kennath yang sedang menonton TV sambil memakan kacang. Dan Putra sang pemilik kamar yang berada di balkon.
-
"MAMPUS GUE MENANG!"ucap Diat
-
"****** emang"umpat Zaki
-
"Nyadar kalo ******"sahut Kennath sembari melempar kacang
-
"Temen bangsat😤"ucap Zaki
-
Ponsel Zaki tiba tiba berdering
-
Call from Arra❤️
Zaki pun mengangkatnya
-
Zaki: Hal-
Arra: HEH! LO TUH YA KEMANAIN AJA? GUE UDAH NUNGGU HAMPIR SETENGAH JAM DI GERBANG SEKOLAH!
Zaki: Baru hampir Ra
Arra: JAKII!!!! Zaki pun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya
Zaki: Astaga Ra kuping gue budeg entar
Arra: Bodoamat. Gak peduli
Zaki: Emang mau punya pacar bolot?
Arra: Ya enggak sih. Udah ah buruan. GAK KESINI GUE PECAT LO JADI PACAR!
Sambungan pun terputus
-
Diat yang mendengar itu pun tertawa terbahak bahak.
-
"Mampus lo Jak"ucap Diat
-
"Gue doain pacar lo ikutan ngambek. Aminn"ucap Zaki
-
"Kali ini gue aminin doa lo Jak"sahut Kennath
-
"***** doanya gak ada yang bener😑"ucap Diat
-
"Udah ah gue cabut dulu. Ntar gue balik lagi"ucap Zaki, lalu ia keluar dari kamar Putra
-
"PUAS PUASIN NGAPELNYA JAK!"teriak Kennath
-
Tak lama Putra datang dari arah balkon dan ia langsung merebahkan tubuhnya dikasur.
-
"Mukanya kusut amat tong"ucap Kennath
-
"Ngapa lo Put?"tanya Diat
-
"Gue lagi bingung Yat"ucap Putra
-
"Bingung kenapa? Lo banyak utang?"tanya Kennath asal
-
"Bukan. Gue lagi bingung mau milih siapa. Gue cinta sama Nayya. Tapi disisi lain gue masih sayang dan masih mau nunggu Alen"ucap Putra
-
"Udah ketebak sih lo milih Nayya"ucap Diat
-
"Tau dari mana lo nyet? Putra aja masih bingung"ucap Kennath
-
"Nih ya. Cinta itu udah pasti sayang. Nah kalau sayang belum tentu cinta. Bisa aja Putra sayang sama Alen karena alasan tertentu"ucap Diat
-
Nayya turun dari motor Rafi.
-
"Gue mau main kerumah Putra. Kalau mau pergi atau ada sesuatu yang terjadi dirumah kabarin gue. Gue siap meluncur buat nemuin lo saat itu juga"ucap Rafi
-
"Iya bawel"ucap Nayya
-
"Jawab yang panjangan dikit apa Nay"
-
"Panjangggggggggggggggg. Udah kan?"
-
"Bodoamat Nay😑. Udah ah gue cabut. Nanti jangan lupa makan. Jangan lupa mandi. Jangan lupa solat. Jangan lupa kabarin gue. Dan satu lagi, jangan lupa bernapas"ucap Rafi sambil terkekeh
-
"Kalo gue gak napas gue mati dodol😑"
-
"Dodol enak tuh Nay"
-
"Ah jadi pengen martabak gue. Kalo mau pulang jangan lupa beliin gue martabak ya"
-
"Gak nyambung ****. Udah ah ngomong sama lo gak bakal kelar"
-
-
"Bodo *****. Udah ah gue cabut dulu. Udah ditungguin"
-
"Elah dari tadi ngomong cobat cabut cobat cabut. Tapi gak jalan jalan😑"
-
"Yaudah iya ini beneran gue jalan. Babay Nayyul yang mukanya mirip Tuyul🤣"ucap Rafi, lalu setelah itu ia menjalankan motornya
-
"HATI HATI FI!! AWAS KETEMU TUYUL YANG NAIK MOTOR!!"teriak Nayya
.
.
Sementara Zaki. Sekarang ia sudah berada di depan sekolah SMA Arwana. Sekolah Arra.
-
"Lama amat sih😤 Lumutan nih gue"ucap Arra
-
"Gue lupa Ra. Tadi langsung ke rumah Putra soalnya"ucap Zaki
-
"Alesannya rumah Putra mulu ih😑"
-
"Rumah Putra kan emang markas ke dua anak Razet. Kalo gak percaya lo boleh tanyain Putra"
-
"Iya iya Arra percaya"
-
"Jangan ngambek. Janji deh gak bakal lupa lagi"ucap Zaki sambil mengusap kepala Arra
-
"Iya"
-
"Abis ini mau kemana?"
-
"Pulang aja deh. Lagi males Arra"
-
"Oke. Naik gih"
-
Arra mengangguk dan langsung naik keatas motor. Zaki pun langsung menjalankan motornya.
-
Ditatapnya langit kelabu. Langit malam kini menjadi saksi kesedihannya.
-
Seorang gadis kini sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menangis. Seolah ia sedang mengadu pada semesta tentang ketidak adilan Tuhan padanya.
-
Lelah.
Gadis itu lelah. Lelah untuk berpura pura tegar. Lelah untuk berpura pura menjadi gadis kuat. Padahal nyatanya. Ia rapuh.
-
"Ayya, buka pintunya. Ayah bisa jelasin semuanya Ay"ucap Arka sambil mengetuk pintu kamar Nayya
-
Kejadian tadi siang memang membuat hati Nayya semakin sakit. Bagaimana tidak? Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat pria pertama yang ia cintai memilih orang lain dari pada keempat anaknya.
-
Iya, Arka tadi siang sempat berdebat dengan Andra dan Devan. Karena Ayahnya lebih memilih melanjutkan pernikahannya dari pada mementingkan perasaan keempat anaknya.
-
"Ay, buka dong. Jangan bikin Abang khawatir"
-
"Pintunya mau dibuka atau Abang dobrak?"
-
Tidak ada sahutan sama sekali dari Nayya
-
"Kalian kebawah aja. Biar Rafi yang urus Nayya"
-
"Nay, buka pintunya ya. Ayah, Bang Andra sama Bang Devan udah kebawah"
-
Perlahan tapi pasti, Nayya berjalan mendekat kearah pintu. Lalu membukanya. Terlihat Rafi yang sedang berdiri di didepannya dengan tatapan sendu dan nafas yang terengah engah. Bisa dipastikan Rafi baru saja pulang.
-
Rafi langsung memeluk erat kembarannya itu. Berusaha memberikannya kekuatan. Rafi sebisa mungkin menahan air matanya. Bohong jika ia kuat.
-
"Lo harus kuat. Masih ada gue disini"ucap Rafi
-
Nayya menggeleng pelan
"Gak bisa. Ini terlalu berat bagi gue"lirihnya
-
Rafi mengelus puncak kepala Nayya
"Lo harus kuat Nay. Harus. Tuhan ngasih kita cobaan kayak gini karena Dia tau bahwa kita adalah ciptaan-Nya yang kuat"
-
"Gue janji sama lo. Gue bakal berusaha gagalin rencana pernikahan Ayah. Bagaimanapun caranya nanti"
-
"Jangan kayak gini lagi ya. Gue gak kuat ngeliat kembaran gue nangis kayak gini"
-
Nayya melangkahkan kakinya dengan malas. Sepanjang berjalan dikoridor sekolah, ia tidak ada niatan sekalipun untuk sekolah.
-
"Semangat dong. Masa loyo"ucap Rafi
-
"Kan tadi gue udah bilang. Gue males sekolah"ucap Nayya
-
"Lo udah **** jadi harus sekolah biar pinter"ucap Rafi
-
"Ngomong lagi gue sumpel pake duit mulutnya"
-
"Kalo gitu gue ngomong aja lagi. Biar dapet duit"
-
Nayya seketika mencubit perut Rafi. Dan itu membuat sang empu meringis.
-
"Heh sakit ****"
-
"Sukurin"
-
"Kantin yuk?"tawar Rafi
-
"Bayarin gak nih?"
-
"Khusus hari ini gue bayarin"
-
Nayya pun langsung menarik Rafi untuk menuju kantin
.
Keadaan kantin mendadak jadi lautan para siswi. Semua karena adanya anggota Razet yang duduk dipojokkan kantin.
-
"Wehh kecebong kesayangan gue udah dateng"ucap Zaki yang melihat Rafi mendekat kemeja anak Razet, dengan Nayya di sampingnya
-
"Eh ada Nayya"ucap Kennath
-
"Lama amat lo dateng. Ngepet dulu?"sahut Diat
-
"Kagak. Babinya udah kesekolah duluan"ucap Rafi
-
Rafi dan Nayya duduk di space kursi yang masih muat.
-
"**** emang sekolah? Kok gue baru tau"ucap Kennath
-
"Gak percaya? Tuh samping kiri lo"ucap Rafi
-
"******* gue dikata babi😑"ucap Zaki
-
"Mirip sih Jak"ucap Kennath
-
"Sekali lagi ngomong gue lempar ke gerobak sampah"ucap Zaki
-
"Duh jadi takut adek mas"ucap Kennath dengan nada seperti banci
-
"Ya Allah salah apa gue sampe bisa temenan sama lo"ucap Zaki
-
"Lo ngapa diem bae Put? Lagi ritual jadi pawang ujan?"celetuk Diat
-
Putra hanya menoleh sekilas, tanpa berniat menjawab
-
"Ohh gue tau kenapa Putra diem aja. Kan ada Nayya didepannya. Jadi biar dikira kalem"celetuk Kennath
-
"Kok gue?"tanya Nayya
-
"Kan dia su- ***** sakit"ucap Kennath sambil meringis karena kakinya diinjak Putra
-
"Gak diem pulang tinggal nama"ucap Putra tajam
-
"Ya Allah Put. Gue bercanda doang sumpah. Gak lagi deh gue bocorin"ucap Kennath panik
-
Dikomen kawan². Komen kalian berharga buat miss🙃 serius deh.
-