
The Bad Twins
—
"GAK USAH SAYANG SAYANGAN DEH! GUE MINTA PENJELASAN LO!"ucap Arra
-
"Penjelasan apa yang?"tanya Zaki
-
"LO KEMANA AJA? SEBULAN GAK ADA KABAR! LO KIRA GUE GAK LUMUTAN NUNGGUIN KABAR LO?!"
-
"Haduh Ra kalo mau nyelesain masalah rumah tangga jangan disini dong. Di luar gih. Ganggu konser gue aja"sahut Kennath
-
"DIEM! GUE GAK NGOMONG SAMA LO!"ucap Arra ngegas
-
"Astagfirullah. Marahnya sama Jaki gue yang kena imbasnya"ucap Kennath sambil mengelus dadanya
-
"Jak, mending lo selesaiin dulu masalah lo baik baik diluar. Gue pusing denger pacar lo ngoceh gak jelas"ucap Rafi
-
"HEH! GAK JELAS DIMANANYA MAKSUD LO?"tanya Arra sambil berkacak pinggang
-
Sabar atuh Ra.....
-
Rafi menatap tajam Zaki. Zaki yang paham pun langsung menarik Arra keluar dari kelas.
-
"Si Arra kayaknya niat banget marahin Jaki"ucap Kennath
-
"Eh tapi ngomong ngomong anak Arwana ngapain kesini?"tanya Kennath pada Rafi
-
Rafi hanya mengangkat kedua bahunya acuh
-
"Udah Neth lanjotttt!!!"teriak Zain
-
"SIAPPP!!! YOK SEMUAAA DIGOYANG!!!"teriak Kennath semangat membuat keadaan kelas yang tadinya hening kini kembali riuh.
.
.
Hari ini pelajaran pertama di kelas Ajeng adalah olahraga. Karena ia sudah menyelesaikan praktek, jadi ia bebas melakukan apa saja. Karena malas ngapa ngapain, Ajeng memilih duduk di pinggir lapangan.
-
Rafi yang baru saja keluar dari kelasnya hendak ke toilet melihat Ajeng yang sedang duduk sendirian dipinggir lapangan.
-
Rafi segera mengambil ponselnya. Cowok itu mengetikkan sesuatu yang membuat ponsel Ajeng bergetar.
-
Dari atas sana Rafi bisa melihat bahwa Ajeng sudah membaca pesannya. Bahkan gadis itu sudah beranjak dari tempat duduknya hendak pergi dari lapangan.
-
Rafi yang melihat itu dengan cepat ia langsung berbalik dan berjalan hendak menaiki anak tangga untuk menuju rooftop. Mungkin bertemu dengan Ajeng bisa membuat perasaannya lebih tenang.
-
"Kenapa nyuruh Jeje kesini?"tanya Ajeng pada Rafi ketika ia sudah berada di rooftop
-
Rafi menoleh ke samping kanannya, tanpa aba aba ia langsung memeluk erat tubuh Ajeng sehingga membuat Ajeng sedikit terhuyung kebelakang.
-
Ajeng membalas pelukan Rafi. Bahkan gadis itu mengusap bahu Rafi. Ia tidak akan bertanya sebelum Rafi sendiri yang bercerita kepadanya.
-
Ajeng merasakan bagian baju belakangnya basah. Ia mengerutkan keningnya dan bertanya dalam hati.
-
'Afi nangis? Kenapa? Apa mungkin masalah Ayahnya lagi?'
-
Rafi melepaskan pelukannya. Sebelum itu ia menyempatkan menghapus air matanya. Cowok juga bisa nangis bukan?
-
"Kenapa?"tanya Ajeng lembut
-
"Gak papa"ucap Rafi, lalu tersenyum sambil mengusap rambut Ajeng
-
"Kangen sama Jeje ya?"tanya Ajeng yang berusaha tidak kepo
-
"Iya"jawab Rafi
-
"Idih alay! Udah kayak pacaran bocah SMP aja. Sedikit ditinggal kangen"cibir Ajeng
-
Rafi hanya terkekeh. Tidak tau harus membalas apa.
-
"Jeje kira Afi ngajak kesini ada yang pengen diomongin. Eh tau taunya cuman mau bilang kangen"ucap Ajeng
-
"Tadinya gue mau cerita. Tapi belum siap. Terlalu sakit buat nyeritain"ucap Rafi
-
'Aku ke gue? Dasar labil!'
-
"Gak papa. Jangan dipaksa kalau belum siap. Kalau Afi mau cerita, Jeje siap 24 jam untuk dengerin cerita Afi"ucap Ajeng
-
Rafi mengusap rambut Ajeng
"Makasih. Tetep kayak gini ya? Jangan pernah pergi ninggalin gue. Kalau itu sampai terjadi gue gak tau nantinya gue kuat atau enggak. Terlalu banyak masalah dalam hidup gue Je"
-
"I promise, but you also had to promise not to leave me. One more thing, never give up on your problem. Here you are not alone cause I'm with you"ucap Ajeng
-
Rafi tersenyum lalu menarik Ajeng kepelukannya. Setidaknya perasaannya kini lebih tenang dari sebelumnya.
-
Putra baru saja sampai dikoridor kelas sepuluh, ia hendak pergi ke toilet. Cowok itu memincingkan matanya saat melihat seorang cewek yang baru saja keluar dari toilet perempuan.
-
Putra tersenyum saat Nayya menatapnya balik. Cowok itu kemudian melambai lambaikan tangannya menyuruh Nayya menghampirinya.
-
-
"Kenapa?"tanya Nayya
-
"Gapapa, mau ngeliatin muka lo aja"ucap Putra
-
"Idih alay!"cibir Nayya
-
Putra terkekeh kecil, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nayya.
-
"Bolos yuk?"ajak Putra
-
Nayya menggeleng cepat
"Udah kelas dua belas"
-
"Hari ini aja. Temenin gue bolos. Pusing nih pala gue gara gara rumus fisika"ucap Putra
-
"Jedotin aja ketembok. Dijamin pusing ilang"
-
"Iya, pusingnya emang ilang tapi abis itu pala gue berdenyut"
-
"Alhamdulillah"
-
"Udah ah ayok. Nolak sekali lagi gue cium lo!"ucap Putra
-
Nayya melotot kearah Putra. Putra yang melihat itu hanya terkekeh dalam hati. Kemudian ia menarik tangan Nayya untuk pergi dari sekolah. Alias bolos.
.
.
Saat ini Nayya dan Putra sudah berada sampai disebuah rumah yang terbilang cukup besar.
-
"Heh! Lo ngapain bawa gue kerumah lo? Mau macem macem ya lo?!"ucap Nayya
-
"Satu macem aja deh Nay, ntar lo gakuat lagi"ucap Putra sambil terkekeh
-
"PUTRAAA!!"
-
"Apa sayang?"
-
"JANGAN MACEM MACEM DEH! GUE HAJAR BARU TAU RASA LO!"
-
Putra hanya terkekeh. Nayya benar benar menyeriusi ucapannya. Padahal itu hanya lah candaannya. Tapi ini yang ia suka. Saat Nayya sedang kesal ia tak lagi irit berbicara.
-
"IH KOK MALAH KETAWA SIH? GILA YA LO? POKOKNYA GUE GAK MAU MASUK KEDALEM! GUE MAU PULANG AJA! TAKUT DIAPA APAIN SAMA LO!"
-
"Gue bercanda. Didalem ada Mamah. Dia katanya mau ketemu sama lo. Makanya lo gue bawa kesini"ucap Putra yang membuat Nayya menghembuskan nafas lega
-
Putra menggenggam tangan Nayya, lalu membawanya masuk kedalam rumah.
-
"Assalamualaikum Mah. Putra yang tampannya sebelas dua belas sama aliando ini pulang"ucap Putra
-
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka berdua.
-
"Waalaikumsalam. Kok tumben udah pulang Ja?"tanya Rani, Mamah Putra
-
"Biasa Mah. Bolos"ucap Putra santai sambil menyalimi tangan Mamahnya
-
"Kamu ini udah kelas dua belas juga. Loh? Ini siapa?"tanya Rani yang baru sadar dengan kehadiran Nayya
-
"Nayya Tante"ucap Nayya ramah, lalu menyalimi tangan Rani
-
"Oh Nayya? Yang sering kamu ceritain itu kan Ja? Yang kata kamu orangnya cantik tapi sifatnya dingin kayak es?"tanya Rani pada Putra. Nayya yang mendengar itu langsung melirik kearah Putra
-
"Emm Tan? Nayya boleh minjem toiletnya sebentar? Kebelet"ucap Nayya
-
"Eh? Boleh kok. Dari sini lurus aja. Nah nanti kalau udah ketemu dapur kamu belok kiri. Keliatan kok nanti toiletnya"ucap Rani
-
Nayya manggut manggut mengerti
"Makasih Tan. Nayya permisi dulu"
-
Setelah melihat Nayya pergi. Rani menatap lekat Putranya itu.
-
"Dia cantik tapi sayangnya dimainin terus hatinya. Sama anak Mamah lagi"ucap Rani sambil geleng geleng kepala
-
"Kalau cinta itu kasih kepastian, jangan digantungin. Itu anak orang bukan jemuran"
-
"Mamah gak pernah ya ngajarin kamu mainin perasaan perempuan! Gak inget Mamah kamu ini juga perempuan juga?"
-
Putra hanya diam saat mendengar ucapan Mamahnya. Bahkan ini pertama kali Mamahnya itu memberikan wejangan soal perempuan dengan tatapan yang sangat serius.
-
"Jangan jadi pemberi harapan palsu sama Nayya. Nayya juga punya batas kesabaran. Jadi jangan salahkan dia jika nantinya dia menjauh. Menjauh karena lelah menunggu kepastian dari kamu"
-
"Pokoknya Mamah gak mau tau. Secepatnya kamu resmiin hubungan kalian. Mamah gak suka anak Mamah jadi orang yang suka mainin hati perempuan!"
-
Perlahan tapi pasti. Putra mengangguk.