The Bad Twins

The Bad Twins
The bad twins 2-33



The bad twins season 2


__


Sudah tengah malam. Namun, terlihat bahwa Rafi tengah bersiap.


.


Mengambil kunci motor lalu mengendap-ngendap masuk kedalam kamar Nayya.


.


Saat pintuk kamar terbuka. Nayya menoleh, menatap Rafi yang tengah mengkunci pintu lalu mendekat kearahnya.


.


"Jadi pergi?"tanya Nayya.


.


Rafi mengangguk. "Tugas negara gak boleh dilewatkan."


.


"Lagian lo ngapain sih masih berurusan sama Razet? Lo udah lulus Fi."ucap Nayya.


.


"Razet itu bagian dari hidup gue Nay. Tanpa mereka gue gak bakalan bisa ngatasin semua masalah gue. Contohnya, seperti tahun lalu."ucap Rafi.


.


"Lagian gue jarang-jarang ngumpul kayak gini."ucap Rafi lagi.


.


Nayya menghela nafas. Ucapan Rafi ada benarnya. Bahkan anak-anak Razet juga pernah membantunya.


.


Nayya berjalan menuju balkon kamar, diikuti Rafi dari belakang. Di pilar itu sudah terikat sebuah kain panjang.


.


"Subuh, gue balik."ucap Rafi.


.


Nayya mengangguk. "Telfon gue, biar lo bisa masuk nanti."


.


"Siap bosqu!"ucap Rafi.


.


Tangan Rafi terulur mengacak-acak rambut Nayya. .


"Abis ini tidur. Jangan ngerjain apa pun atau main handphone."ucap Rafi.


.


"Iya."


.


"Jangan lupa, sebelum tidur cuci kaki, cuci tangan, cuci muka."ucap Rafi.


.


"Iya."


.


"Jangan lupa juga berdoa sebelum tidur."ucap Rafi.


.


"Iya Rafi."


.


Rafi terkekeh melihat wajah kesal Nayya.


.


Rafi mendekatkan wajahnya mengecup kening Nayya singkat.


.


"Good night and sweet dream, my twins."ucap Rafi.


.


Nayya tersenyum tipis menanggapi ucapan Rafi.


.


"Gih, sana. Keburu telat, udah ditungguin kan?"ucap Nayya.


.


"Gue pergi."Rafi mulai menaiki pilar. Diraihnya kain itu, lalu Ia melompat dan turun kebawah menggunakan kain.


.


Melihat Rafi sudah dibawah, Nayya menarik kain itu, lalu Ia gantung di pilar.


.


"Hati-hati."ucap Nayya.


.


Rafi tersenyum dan mengacungkan kedua jempol nya. Setelahnya, lelaki itu berjalan menjauh.


***


📍Warkop belakang SMA Garuda.


.


Saat ini warkop sangat ramai. Dari angkatan pertama hingga keempat hadir disana. Hanya sebagian, namun terlihat sangat ramai.


.


Mereka sedang makan dan duduk-duduk sambil bersenda gurau.


.


"Mantap. Jarang-jarang gue ngeliat Razet ngumpul gini."ucap Zaki.


.


"Elo sih Bang, udah lulus duluan. Padahal setiap harinya nih warkop rame anak-anak."Alfi angkatan kedua Razet itu berucap.


.


Zaki terkekeh. "Maklum lah, Al. Sibuk kuliah."


.


"Makanya lo sama temen-temen lo sering-seringin ngumpul. Bahas apa aja. Yang penting ngumpul."ucap Putra.


.


"Apalagi lo udah mau lulus, Al. Bakalan kangen ngumpul rame-rame kayak gini."ucap Putra lagi.


.


"Yang paling dikangenin sih ngehajar orang, Al. Kalo udah lulus mana bisa ngelawan musuh Razet? Kecuali, musuh nantangin seniornya."timpal Diat.


.


"Bener banget sih Bang."ucap Alfi.


.


"Bang Fi."sapa Alfi pada Rafi yang baru saja datang.


.


"Oit, Al! Apa kabar lo?"tanya Rafi.


.


"Baik gue."ucap Alfi. "Lo gimana? Masih posesif sama Kak Nayya?"


.


Rafi terkekeh. "Masih. Adek gue yang satu itu emang harus digituin."


.


.


"Gabung elah, Len. Pake izin segala."ucap Diat.


.


"Bang Kennath mana? Kangen gue sama dia."kekeh Galen.


.


"Cowok fanboy gitu lo kangenin. Belom tau aja lo Len, Len. Kalo udah nyanyi di tempat umum rasanya gue pengen hilang ditempat aja."ucap Diat.


.


"Lo mau ketemu Kennath? Noh di pos sana, lagi ngumpul sama temen-temen segesreknya sambil konser dadakan."ucap Putra.


.


"Lah? Kok lo gak ikut Bang Jak?"tanya Galen.


.


"Sialan. Lo ngatain gue gesrek juga?"ucap Zaki.


.


Galen terkekeh. "Bercanda gue Bang."


.


"Ada yang kurang kayaknya. Kembaran lo mana Bang? Buset, kangen banget gue sama dia."ucap Galen pada Rafi.


.


Putra menabok belakang kepala Galen. "Ngapain lo nyari-nyari cewek gue?"


.


"Nah loh, Len. Pawangnya marah."kekeh Alfi.


.


"Gue kangen doang, Bang. Kak Nayya itu udah kayak apa gitu buat Razet."ucap Galen.


.


"Emaknya Razet dia tuh, Len. Dewasa bener otaknya."ucap Zaki.


.


"Udah jangan ngomongin Nayya mulu. Gue jadi makin kangen sama dia."ucap Putra.


***


Hari ini kelasan Nayya mendapat bagian pulang cepat, karena hanya ada dua mata kuliah.


.


Begitu jelas selesai, tidak semua penghuninya yang langsung pergi. Beberapa memilih tinggal dikelas. Termasuk Nayya.


.


Sambil menunggu kabar dari kembarannya itu, cewek cantik pemilik rambut sebahu duduk dikursinya sambil membaca novel yang sengaja Ia bawa.


.


"Kenapa belum pulang?"Gadis cantik dan manis, bernama Neila Anindya itu bertanya pada Nayya. Gadis itu merupakan satu-satunya teman dekatnya di jurusan.


.


Nayya mendongak. "Nunggu Rafi."


.


Neila manggut-manggut. "Mau pulang sama gue? Gue bawa mobil."


.


"Makasih, Nei."ucap Nayya.


.


Neila mengerucutkan bibirnya. Sejak awal bertemu sifat Nayya selalu dingin, namun untungnya lama kelamaan, Nayya menjadi sedikit hangat. Meskipun sifat irit ngomongnya dan ekspresi datarnya masih menempel.


.


"Keluar yuk Nay? Bosen."ajak Neila.


.


"Pulang."ucap Nayya.


.


"Aih. Temenin gue ke kantin aja deh yuk? Gue haus."ucap Neila.


.


"Ayolah, Nay. Jarang-jarang gue main sama lo."ucap Neila.


.


Nayya menghela nafas. Ia menutup novelnya lalu memasukkannya kedalam tote bag-nya.


.


Nayya berdiri. "Ayok."


.


Neila tersenyum senang. Entahlah, ada rasa nyaman tersendiri jika Ia berdekatan dengan Nayya dibanding dengan yang lainnya.


.


"Ayok!"Neila berdiri lalu merangkul lengan Nayya.


.


Keduanya berjalan beriringan menuju kantin. Banyak orang-orang yang tengah berlalu lalang menatap kearah keduanya, karena jika dilihat-lihat. Nayya dan Neila mirip. Seperti kembar.


.


Setelah menebeli sebotol minuman. Nayya dan Neila keluar dari kantin. Mereka berniat menuju lobby Universitas.


.


"Rafi udah ngabarin?"tanya Neila.


.


Nayya yang tengah menatap ponselnya itu menggeleng.


.


"Gue naik ojol aja kali ya?"tanya Nayya.


.


"Mending ikut gue. Gak bayar."ucap Neila.


.


"Gak usah."ucap Nayya.


.


"Kenapa? Takut ngerepotin? Yaelah, gue sama lo temenan dari Ospek kali, Nay. Masih aja."tanya Neila.


.


Nayya hanya tersenyum tipis.


.


"Eh—eh. Ada apaan tuh?"tanya Neila.


.


"***** Nay, cogan! Anak Universitas Andayana kayaknya tuh. Kok bisa kesini ya?"ucap Neila.


.


Namun Nayya hanya diam, Ia menatap cowok itu dengan perasaan yang tidak bisa di deskripsikan lagi


***


Mana like dan komentarnya???