
The bad twins season 2
__
Sudah tengah malam. Namun, terlihat bahwa Rafi tengah bersiap.
.
Mengambil kunci motor lalu mengendap-ngendap masuk kedalam kamar Nayya.
.
Saat pintuk kamar terbuka. Nayya menoleh, menatap Rafi yang tengah mengkunci pintu lalu mendekat kearahnya.
.
"Jadi pergi?"tanya Nayya.
.
Rafi mengangguk. "Tugas negara gak boleh dilewatkan."
.
"Lagian lo ngapain sih masih berurusan sama Razet? Lo udah lulus Fi."ucap Nayya.
.
"Razet itu bagian dari hidup gue Nay. Tanpa mereka gue gak bakalan bisa ngatasin semua masalah gue. Contohnya, seperti tahun lalu."ucap Rafi.
.
"Lagian gue jarang-jarang ngumpul kayak gini."ucap Rafi lagi.
.
Nayya menghela nafas. Ucapan Rafi ada benarnya. Bahkan anak-anak Razet juga pernah membantunya.
.
Nayya berjalan menuju balkon kamar, diikuti Rafi dari belakang. Di pilar itu sudah terikat sebuah kain panjang.
.
"Subuh, gue balik."ucap Rafi.
.
Nayya mengangguk. "Telfon gue, biar lo bisa masuk nanti."
.
"Siap bosqu!"ucap Rafi.
.
Tangan Rafi terulur mengacak-acak rambut Nayya. .
"Abis ini tidur. Jangan ngerjain apa pun atau main handphone."ucap Rafi.
.
"Iya."
.
"Jangan lupa, sebelum tidur cuci kaki, cuci tangan, cuci muka."ucap Rafi.
.
"Iya."
.
"Jangan lupa juga berdoa sebelum tidur."ucap Rafi.
.
"Iya Rafi."
.
Rafi terkekeh melihat wajah kesal Nayya.
.
Rafi mendekatkan wajahnya mengecup kening Nayya singkat.
.
"Good night and sweet dream, my twins."ucap Rafi.
.
Nayya tersenyum tipis menanggapi ucapan Rafi.
.
"Gih, sana. Keburu telat, udah ditungguin kan?"ucap Nayya.
.
"Gue pergi."Rafi mulai menaiki pilar. Diraihnya kain itu, lalu Ia melompat dan turun kebawah menggunakan kain.
.
Melihat Rafi sudah dibawah, Nayya menarik kain itu, lalu Ia gantung di pilar.
.
"Hati-hati."ucap Nayya.
.
Rafi tersenyum dan mengacungkan kedua jempol nya. Setelahnya, lelaki itu berjalan menjauh.
***
📍Warkop belakang SMA Garuda.
.
Saat ini warkop sangat ramai. Dari angkatan pertama hingga keempat hadir disana. Hanya sebagian, namun terlihat sangat ramai.
.
Mereka sedang makan dan duduk-duduk sambil bersenda gurau.
.
"Mantap. Jarang-jarang gue ngeliat Razet ngumpul gini."ucap Zaki.
.
"Elo sih Bang, udah lulus duluan. Padahal setiap harinya nih warkop rame anak-anak."Alfi angkatan kedua Razet itu berucap.
.
Zaki terkekeh. "Maklum lah, Al. Sibuk kuliah."
.
"Makanya lo sama temen-temen lo sering-seringin ngumpul. Bahas apa aja. Yang penting ngumpul."ucap Putra.
.
"Apalagi lo udah mau lulus, Al. Bakalan kangen ngumpul rame-rame kayak gini."ucap Putra lagi.
.
"Yang paling dikangenin sih ngehajar orang, Al. Kalo udah lulus mana bisa ngelawan musuh Razet? Kecuali, musuh nantangin seniornya."timpal Diat.
.
"Bener banget sih Bang."ucap Alfi.
.
"Bang Fi."sapa Alfi pada Rafi yang baru saja datang.
.
"Oit, Al! Apa kabar lo?"tanya Rafi.
.
"Baik gue."ucap Alfi. "Lo gimana? Masih posesif sama Kak Nayya?"
.
Rafi terkekeh. "Masih. Adek gue yang satu itu emang harus digituin."
.
.
"Gabung elah, Len. Pake izin segala."ucap Diat.
.
"Bang Kennath mana? Kangen gue sama dia."kekeh Galen.
.
"Cowok fanboy gitu lo kangenin. Belom tau aja lo Len, Len. Kalo udah nyanyi di tempat umum rasanya gue pengen hilang ditempat aja."ucap Diat.
.
"Lo mau ketemu Kennath? Noh di pos sana, lagi ngumpul sama temen-temen segesreknya sambil konser dadakan."ucap Putra.
.
"Lah? Kok lo gak ikut Bang Jak?"tanya Galen.
.
"Sialan. Lo ngatain gue gesrek juga?"ucap Zaki.
.
Galen terkekeh. "Bercanda gue Bang."
.
"Ada yang kurang kayaknya. Kembaran lo mana Bang? Buset, kangen banget gue sama dia."ucap Galen pada Rafi.
.
Putra menabok belakang kepala Galen. "Ngapain lo nyari-nyari cewek gue?"
.
"Nah loh, Len. Pawangnya marah."kekeh Alfi.
.
"Gue kangen doang, Bang. Kak Nayya itu udah kayak apa gitu buat Razet."ucap Galen.
.
"Emaknya Razet dia tuh, Len. Dewasa bener otaknya."ucap Zaki.
.
"Udah jangan ngomongin Nayya mulu. Gue jadi makin kangen sama dia."ucap Putra.
***
Hari ini kelasan Nayya mendapat bagian pulang cepat, karena hanya ada dua mata kuliah.
.
Begitu jelas selesai, tidak semua penghuninya yang langsung pergi. Beberapa memilih tinggal dikelas. Termasuk Nayya.
.
Sambil menunggu kabar dari kembarannya itu, cewek cantik pemilik rambut sebahu duduk dikursinya sambil membaca novel yang sengaja Ia bawa.
.
"Kenapa belum pulang?"Gadis cantik dan manis, bernama Neila Anindya itu bertanya pada Nayya. Gadis itu merupakan satu-satunya teman dekatnya di jurusan.
.
Nayya mendongak. "Nunggu Rafi."
.
Neila manggut-manggut. "Mau pulang sama gue? Gue bawa mobil."
.
"Makasih, Nei."ucap Nayya.
.
Neila mengerucutkan bibirnya. Sejak awal bertemu sifat Nayya selalu dingin, namun untungnya lama kelamaan, Nayya menjadi sedikit hangat. Meskipun sifat irit ngomongnya dan ekspresi datarnya masih menempel.
.
"Keluar yuk Nay? Bosen."ajak Neila.
.
"Pulang."ucap Nayya.
.
"Aih. Temenin gue ke kantin aja deh yuk? Gue haus."ucap Neila.
.
"Ayolah, Nay. Jarang-jarang gue main sama lo."ucap Neila.
.
Nayya menghela nafas. Ia menutup novelnya lalu memasukkannya kedalam tote bag-nya.
.
Nayya berdiri. "Ayok."
.
Neila tersenyum senang. Entahlah, ada rasa nyaman tersendiri jika Ia berdekatan dengan Nayya dibanding dengan yang lainnya.
.
"Ayok!"Neila berdiri lalu merangkul lengan Nayya.
.
Keduanya berjalan beriringan menuju kantin. Banyak orang-orang yang tengah berlalu lalang menatap kearah keduanya, karena jika dilihat-lihat. Nayya dan Neila mirip. Seperti kembar.
.
Setelah menebeli sebotol minuman. Nayya dan Neila keluar dari kantin. Mereka berniat menuju lobby Universitas.
.
"Rafi udah ngabarin?"tanya Neila.
.
Nayya yang tengah menatap ponselnya itu menggeleng.
.
"Gue naik ojol aja kali ya?"tanya Nayya.
.
"Mending ikut gue. Gak bayar."ucap Neila.
.
"Gak usah."ucap Nayya.
.
"Kenapa? Takut ngerepotin? Yaelah, gue sama lo temenan dari Ospek kali, Nay. Masih aja."tanya Neila.
.
Nayya hanya tersenyum tipis.
.
"Eh—eh. Ada apaan tuh?"tanya Neila.
.
"***** Nay, cogan! Anak Universitas Andayana kayaknya tuh. Kok bisa kesini ya?"ucap Neila.
.
Namun Nayya hanya diam, Ia menatap cowok itu dengan perasaan yang tidak bisa di deskripsikan lagi
***
Mana like dan komentarnya???