The Bad Twins

The Bad Twins
The bad twins 2-36



The bad twins season 2


___


Siang ini kampus terlihat lebih ramai. Mungkin karena jadwal kelasan mereka rata-rata siang.


.


Nayya berada di lift dari lantai tiga menuju lantai satu. Ia sendirian. Kala pintu lift terbuka, Nayya melangkahkan kakinya menuju lobby Universitas.


.


"Oit Nay!"


.


Suara itu membuat langkah Nayya terhenti. Ia menoleh menatap Ajeng yang berjalan beriringan dengan Neila untuk menghampirinya.


.


Ketika kedua gadis itu sudah berada di kedua sisinya. Mereka sama-sama melangkah beriringan.


.


"Pulang dijemput siapa?"tanya Ajeng pada Nayya.


.


Nayya hanya mengangkat kedua bahunya.


.


"Pulang bareng gue yuk! Gue kepengen nginep dirumah lo."ajak Ajeng.


.


"Kepengen nginep apa kepengen ngeliat Rafi?"goda Neila.


.


"Dua-duanya."kekeh Ajeng.


.


"The real bucin. Baru juga tadi ketemu."ucap Neila.


.


"Raf gimana nanti?"tanya Nayya.


.


"Rafi gampang. Biar gue urus, tapi nanti mampir kerumah gue dulu. Gue pengen ambil baju."ucap Ajeng.


.


"Oke."jawab Nayya.


.


"Gue gak diajak nih ceritanya? Aih, jahatnya."Neila cemberut, namun malah membuat Ajeng terkekeh.


.


"Kalo mau ikut mah hayu. Iya kan Nay?"ucap Ajeng.


.


Nayya mengangguk.


.


"Ck, ngangguk mulu lo kayak burung pelatuk. Ngomong kek."ucap Ajeng.


.


"Iya. Kalau mau nginep, nginep aja Nei."ucap Nayya akhirnya.


.


"Hahaha, gue bercanda. Lagian mana dibolehin sama Mommy?"ucap Neila.


.


"Gue yang bilang ke Mommy lo deh Nei. Gue gini-gini jagu ngerayu ortu lho."ucap Ajeng.


.


Neila menggeleng. "Gak usah. Lain kali aja Je."


.


"Tapi serius nih lo gapapa?"tanya Ajeng.


.


"Yaiyalah, gapapa kali. Nanti tinggal vidcall kan bisa."ucap Neila.


.


"Eh, Mommy gue udah jemput. Duluan ya!"ucap Neila.


.


Nayya dan Ajeng kompak mengangguk.


.


"Hati-hati Nei."ucap Ajeng.


.


"Sip."setelahnya Neila pergi menuju mobil yang terparkir didepan lobby.


.


Nayya dan Ajeng lagi-lagi kompak menyipitkan matanya saat melihat seseorang yang duduk di bagian kemudi. Mereka mengenalinya. Bahkan sangat.


.


.


"This is seriously? Mereka saling kenal?"ucap Ajeng.


***


Mobil bewarna pink itu masuk kedalam halaman rumah keluarga Davidson saat gerbang besar itu telah terbuka.


.


Setelah memarkirkan mobil tepat disamping mobil lainnya. Nayya dan Ajeng sama-sama keluar dari mobil, lalu berjalan masuk kedalamnya.


.


Bukannya disambut hangat keduanya malah mendapati suara keributan.


.


"Ini apa-apaan sih?"sentak Nayya.


.


Di hadapannya kini terdapat Devan dan Rafi yang sama-sama babak belur. Mungkin kalau dirinya tidak datang mereka berdua akan lebih parah kondisinya.


.


"Ngapain lo berdua berantem?"tanya Nayya.


.


Keduanya diam.


.


"Ck. Gak punya mulut?"decak Nayya.


.


Nayya menghela nafas. Ia menggeleng tak percaya.


.


"Gue udah sering ngelarang kalian ya buat gak ngehajar sesama saudara selagi masalahnya kecil. Gue gak mau tau, ini terakhir kalinya kalian berantem. Kalo kalian ngelanggar gue yang hajar lo berdua."ucap Nayya.


.


Setelahnya Nayya langsung menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya. Meninggalkan Ajeng yang masih terdiam disana sambil memandang Devan dan Rafi.


.


"Eum, gue obatin luka kalian yuk."ucap Ajeng.


.


"Caper."celetuk Devan. Lelaki itu lalu pergi ke kamarnya.


.


"Eh?"Ajeng tersentak karena perkataan Devan.


.


Rafi mendekat kearah Ajeng. "Maafin Bang Devan. Dia lagi emosi."


.


"Eh iya. Gapapa. Lagian aku ngerti, pernah juga kan waktu itu kamu kayak gitu."ucap Ajeng.


.


"Aku obatin yuk. Bibir kamu robek. Darahnya juga lumayan banyak."ucap Ajeng.


.


Rafi menggeleng.


.


"Loh kenapa?"tanya Ajeng.


.


"Aku pengen kayak gini. Sebentar aja."Rafi mengucapkan itu saat Ia tiba-tiba mendekap Ajeng erat.


.


Ajeng mengelus punggung Rafi. "Aku emang gak tau Fi, apa penyebab yang buat kalian berantem kayak gini. Tapi, sebisa mungkin nanti kamu sama Bang Devan maafan ya."


.


"Gak bisa Je."ucap Rafi.


.


"Seenggaknya buat Nayya Fi. Dia kecewa banget keliatannya sama kalian."


.


"Ngeliat saudara kandung saling bertengkar itu gak enak Fi. Di hati kita ada rasa sesaknya."lanjut Ajeng.


.


Rafi melepaskan pelukan itu. "Iya, nanti aku bakalan coba minta maaf sama Bang Devan."


.


Ajeng tersenyum. "Gitu dong! Itu baru pacar Jeje."kekehnya.


.


Rafi ikut tersenyum. Ia mengusap puncak kepala Ajeng. "Gak salah emang aku macarin kamu"


***