
The bad twins season 2
—
Mobil Rafi yang baru saja Ia beli satu minggu lalu itu telah sampai di depan Universitas Albertius.
Nayya menoleh. Menatap Rafi yang duduk disampingnya.
"Besok-besok gue naik busway aja, Fi."ucap Nayya.
"Ngomong kayak gitu jangan sama gue dong sayang, tapi dua Abang lo itu."ucap Rafi.
Nayya memutar kedua bola matanya malas. Ia menatap Rafi kesal.
"Sama aja."ucap Nayya.
"Beda. Kalo gue main turutin mau lo gitu aja. Pulang-pulang auto remuk badan gue."ucap Rafi.
"Apalagi kita gak satu kampus."ucap Rafi lagi.
Nayya mendengus. "Lo semua sama aja. Posesif."
Rafi terkekeh geli melihat raut wajah kesal Nayya. "Gak posesif bukan Abang lo."
Tangan Rafi tiba-tiba terulur mengusap puncak kepala Nayya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat kening Nayya.
"Gih turun. Gue udah telat nih"ucap Rafi.
Nayya akhirnya membuka sealbelth-nya dan membuka pintu mobil. Sebelum benar-benar turun dari mobil Rafi, Nayya berucap,
"Jangan ngebut. Hati-hati bawa mobilnya."ucap Nayya.
"Siap, laksanakan sayang!"kekeh Rafi.
Setelah Nayya benar-benar turun. Rafi menurunkan kaca pintu mobilnya. Ia tersenyum pada kembarannya yang masih berdiri menunggunya pergi.
"See you my girl."
Setelahnya Rafi melajukan mobilnya. Melihat mobil Rafi yang sudah mulai menghilang. Nayya berbalik dan masuk kedalam Universitas.
Tidak mau berlama-lama lagi diluar gedung, Nayya mengambil langkah cepat agar segera tiba di dalam kampus.
Tujuannya saat ini adalah mencari seseorang yang sejak subuh tadi mengirimkannya pesan dan telepon, namun tidak dirinya respon sama sekali.
"Heh, kebiasaan lo ya!"Seorang gadis tiba-tiba menabok lengannya. Entah sejak kapan gadis itu sudah berada disampingnya.
"Aduh!"Nayya meringis sambil mengusap lengannya.
"Lumutan gue astaga Nay, nunggu elo!"kesal Ajeng.
"Lagian lo kemana aja sih? Gue telfonin gak diangkat, di chat gak dibales."omel Ajeng.
Nayya dan Ajeng, kedua gadis itu kembali dipertemukan di Universitas. Namun, kali ini mereka terlihat sangat dekat. Diaman ada Nayya pasti ada Ajeng. Begitupun sebaliknya.
"Lo aja gila. Nelfon subuh-subuh."ucap Nayya.
"Ya iyalah! Kalo gak kayak gitu mana mau lo nyari gue."ucap Ajeng.
Nayya memutar kedua bola matanya malas.
Kedua gadis itu lalu sama-sama melangkahkan kakinya menuju kantin kampus. Sudah seperti rutinitas bagi keduanya sebelum kelas dimulai.
Memesan minuman lalu duduk disalah satu bangku kantin.
"Gimana Nay?"tanya Ajeng.
Nayya menaikkan sebelah alisnya.
"Seperti yang biasa gue tanyain."
"Ayah? Baik."
"Nenek lampir? Udah gak muncul-muncul lagi kan?"
"Masih."
"*****! SERIUS?"
Nayya meringis ketika mendengar suara Ajeng yang meninggi.
"Hehe, sorry."Ajeng nyengir.
"Jadi, gimana?"tanya Ajeng.
"Ya, gitu. Masih sering ganggu Ayah."
"Itu orang emang gak ada kapoknya ya. Masih untung dulu kita bebasin dia. Bukannya tobat. Malah menjadi."
"Perlu gue getok pake linggis dulu biar sadar terus tobat?"lanjut Ajeng.
"Udah Bang Andra urus. Tenang aja."
"Gimana gue bisa tenang Nay? Nih otak gue masih inget gimana kelakuan dia sama keluarga lo. Sama bokap gue juga. Kalo dia berulah lagi gimana?"ucap Ajeng.
Kalimat Ajeng yang terakhir membuat raut wajah Nayya menjadi datar. Gadis itu memang pandai mengatur ekpresi. Bahkan disaat rasa takut menjalar. Seperti saat ini.
Iya, itu yang Nayya takutkan. Lexa kembali berulah dan keluarganya kembali tidak harmonis seperti satu tahun lalu.
—
Tak terasa satu tahun telah berlalu.
Dan, ini lah sepercik awal tentang lembaran baru diantara kedua remaja kembar itu. Nayya dan Rafi.
Akankah akhir cerita mereka kali ini kembali berakhir bahagia? Atau sebaliknya? Entahlah, kita lihat saja kelanjutannya dicerita kita nanti.
—
Uhuy. Gimana, gimana? Siapa yang kangen sama dua kembar ini? Yang kangen Bang Andra? Yang kangen Bang Devan? Yang kangen Razet? Juga ciwi-ciwinya? Ada ga?
Kalo ada yang kangen TBT sini absen dulu!
Ini season 2 The Bad Twins. Jadi kalau mau lebih nyambung baca The Bad Twins dulu. Kalo gak mau no problem gais.
Komennya yuk! Ramein, seramai-ramainya!