The Bad Twins

The Bad Twins
The bad twins 2-40



The bad twins season 2


__


Pagi itu, Nayya baru saja tiba di kampusnya. Kali ini Ia berangkat bersama Ajeng.


.


Keduanya memasuki koridor kampus.


.


"Beneran udah gak pusing?"tanya Ajeng.



Nayya mengangguk.


.


"Udah gak lemes?"tanya Ajeng.


.


Nayya mengangguk.


.


"Tapi, kok gue gak inget apa-apa ya Je? Bahkan lo dirumah aja gue gak inget."ucap Nayya.


.


"Sama sekali?"tanya Ajeng. Nayya mengangguk.


.


"Lo tau gak kemarin ada kejadian apa? Badan gue kerasa sakit semua soalnya. Lengan gue juga agak bengkak. Kayak abis disuntik."ucap Nayya.


.


"Eum—"Ajeng bingung harus menjawab apa, karena semalam Andra bilang jangan ada yang mengingatkan Nayya soal kejadian yang Nayya alami semalam.


.


"Kok bengong?"Nayya menepuk bahu Ajeng.


.


"Gapapa. Tadi apa? Kejadian kemarin ya?"ucap Ajeng.


.


"Hm."


.


"Kemarin kalau gak salah lo itu banyak tugas Nay. Dari sore sampe tengah malem lo ngerjain tugasnya."ucap Ajeng.


.


"Tapi kok semalem, gue pake mantel yang biasa dipakai Alen ya Je? Disakunya gue juga nemu pistol."


.


Nayya memincingkan matanya. "Lo gak bohong kan?"


.


"Ya engga lah. Kalo soal itu gue gak tau deh, kemarin kan gue jalan sama Rafi hehe."cengir Ajeng.


.


"Oh iya, tadi lo bilang Alen? Alen sisi lain lo yang waktu itu lo ceritain maksudnya?"tanya Ajeng.


.


Nayya mengangguk. "Soalnya gak mungkin gue pakai mantel itu kalau Alen gak muncul. Pasti Alen sempet muncul."


.


"Apa gue tanya Alen aja ya Je?"tanya Nayya.


.


"E—eung. Gak usah."ucap Ajeng.


.


"Kenapa?"


.


"Ya—ya jangan aja. Nanti takutnya sisi lain lo muncul gimana? Gue rada ngeri sama sisi lain lo itu. Hawanya cuy, kayak siap bunuh orang."ucap Ajeng bergidik ngeri.


.


"Lebay."ucap Nayya.


.


"Ini tuh bukan lebay, Nayya. Ini tuh waspada. Kalo sisi lain lo berbuat macem-macem ke gue gimana?"ucap Ajeng.


.


"Gak bakal selagi gue yang kontrol."ucap Nayya.


.


"Bodoamat. Intinya jangan. Gue ogah nanggung kalau sampe lo kenapa-kenapa."ucap Ajeng.


.


Nayya memutar kedua bola matanya malas.


.


"Oke. Kantin ga?"tanya Nayya.


.


"Boleh deh, yuk. Masih laper gue."ucap Ajeng, Ia merangkul lengan Nayya dan membawanya menuju kantin.


.


Nayya menggeleng heran. "Cacingan dasar."


***


Siang itu, Rafi baru saja keluar dari kelasannya.


.


.


Rafi mendekat kearah teman-temannya. Begitu sudah kumpul, mereka turun ke lantai bawah.


.


"Muka lo kusut amat, bre."ucap Zaki.


.


"Kenapa lo?"Putra merangkul Rafi.


.


"Pusing gue."ucap Rafi.


.


"Ngapa? Lo sama Jeje berantem?"tanya Diat.


.


"Bukan. Ini soal Bang Devan."ucap Rafi.


.


"Tumben. Biasanya lo berdua sepaket."ucap Kennath.


.


"Lo berantem sama Bang Devan? Masalah apa?"tanya Putra.


.


Baru saja Rafi ingin menjawab. Namun, pandangannya tiba-tiba terhenti pada kedua pasangan yang tengah berjalan menuju lobby kampusnya.


.


Tanpa menjawab ucapan Putra. Rafi berjalan terlebih dahulu. Menghampiri kedua orang itu.


.


Membuat Putra, Diat, Zaki, dan Kennath saling pandang. Heran.


.


Rafi menarik baju lelaki itu hingga membuatnya tertarik mundur.


.


"Apa-apaan sih lo?"sentak Devan.


.


"Lo yang apa-apaan sialan!"sentak Rafi.


.


"Harus berapa kali gue sama Bang Andra bilang? Jangan deket-deket lagi sama nih cewek?"Rafi menunjuk seorang gadis yang Devan bawa ke kampusnya.


.


"Masuk ke mobil, Nei."ucap Devan. Neila langsung menurutinya.


.


Devan menarik Rafi menjauh dari mobilnya. "Lo bisa gak sih Fi, ngertiin gue?"


.


"Lo sendiri bisa gak ngertiin keluarga lo?"


.


"Gak usah bahas keluarga dulu bisa? Ini tempat umum."


.


Rafi mendengus. Tangannya bahkan sudah terkepal, karena menahan emosinya.


.


"Ngapain lo bawa tuh cewek kesini?"tanya Rafi.


.


"Masalah? Ini kampus gue juga."


.


"Jelas. Ngerusak pemandangan gue."ucap Rafi.


.


"Fi. Bisa gak sih gak usah nyari ribut?"ucap Devan yang sudah kesal.


.


"Lo duluan. Kalo bukan karena lo dan cewek itu hubungan kita sebagai keluarga gak bakal kayak gini Bang."ucap Rafi.


.


"Gak usah bawa-bawa cewek gue."


.


"Cih. Cewek lo? Bahkan gue gak sudi nerima dia. Terlalu najis."ucap Rafi.


.


Bugh.


Pukulan itu melayang tepat diwajah Rafi.


.


"Jaga omongan lo! Gue gak pernah ngajarin lo untuk gak sopan kayak gitu."ucap Devan.


.


"Sial."Rafi memukul balik Devan. Pukulannya brutal.


.


"WOY! *****! RAFI ITU RAFI!"Kennath berseru karena baru tersadar. Lelaki itu lalu berlari menghampiri Rafi. Disusul oleh teman-temannya.


***


Halo semua apa kabar?