
The bad twins season 2
__
Pagi itu, Nayya baru saja tiba di kampusnya. Kali ini Ia berangkat bersama Ajeng.
.
Keduanya memasuki koridor kampus.
.
"Beneran udah gak pusing?"tanya Ajeng.
.
Nayya mengangguk.
.
"Udah gak lemes?"tanya Ajeng.
.
Nayya mengangguk.
.
"Tapi, kok gue gak inget apa-apa ya Je? Bahkan lo dirumah aja gue gak inget."ucap Nayya.
.
"Sama sekali?"tanya Ajeng. Nayya mengangguk.
.
"Lo tau gak kemarin ada kejadian apa? Badan gue kerasa sakit semua soalnya. Lengan gue juga agak bengkak. Kayak abis disuntik."ucap Nayya.
.
"Eum—"Ajeng bingung harus menjawab apa, karena semalam Andra bilang jangan ada yang mengingatkan Nayya soal kejadian yang Nayya alami semalam.
.
"Kok bengong?"Nayya menepuk bahu Ajeng.
.
"Gapapa. Tadi apa? Kejadian kemarin ya?"ucap Ajeng.
.
"Hm."
.
"Kemarin kalau gak salah lo itu banyak tugas Nay. Dari sore sampe tengah malem lo ngerjain tugasnya."ucap Ajeng.
.
"Tapi kok semalem, gue pake mantel yang biasa dipakai Alen ya Je? Disakunya gue juga nemu pistol."
.
Nayya memincingkan matanya. "Lo gak bohong kan?"
.
"Ya engga lah. Kalo soal itu gue gak tau deh, kemarin kan gue jalan sama Rafi hehe."cengir Ajeng.
.
"Oh iya, tadi lo bilang Alen? Alen sisi lain lo yang waktu itu lo ceritain maksudnya?"tanya Ajeng.
.
Nayya mengangguk. "Soalnya gak mungkin gue pakai mantel itu kalau Alen gak muncul. Pasti Alen sempet muncul."
.
"Apa gue tanya Alen aja ya Je?"tanya Nayya.
.
"E—eung. Gak usah."ucap Ajeng.
.
"Kenapa?"
.
"Ya—ya jangan aja. Nanti takutnya sisi lain lo muncul gimana? Gue rada ngeri sama sisi lain lo itu. Hawanya cuy, kayak siap bunuh orang."ucap Ajeng bergidik ngeri.
.
"Lebay."ucap Nayya.
.
"Ini tuh bukan lebay, Nayya. Ini tuh waspada. Kalo sisi lain lo berbuat macem-macem ke gue gimana?"ucap Ajeng.
.
"Gak bakal selagi gue yang kontrol."ucap Nayya.
.
"Bodoamat. Intinya jangan. Gue ogah nanggung kalau sampe lo kenapa-kenapa."ucap Ajeng.
.
Nayya memutar kedua bola matanya malas.
.
"Oke. Kantin ga?"tanya Nayya.
.
"Boleh deh, yuk. Masih laper gue."ucap Ajeng, Ia merangkul lengan Nayya dan membawanya menuju kantin.
.
Nayya menggeleng heran. "Cacingan dasar."
***
Siang itu, Rafi baru saja keluar dari kelasannya.
.
.
Rafi mendekat kearah teman-temannya. Begitu sudah kumpul, mereka turun ke lantai bawah.
.
"Muka lo kusut amat, bre."ucap Zaki.
.
"Kenapa lo?"Putra merangkul Rafi.
.
"Pusing gue."ucap Rafi.
.
"Ngapa? Lo sama Jeje berantem?"tanya Diat.
.
"Bukan. Ini soal Bang Devan."ucap Rafi.
.
"Tumben. Biasanya lo berdua sepaket."ucap Kennath.
.
"Lo berantem sama Bang Devan? Masalah apa?"tanya Putra.
.
Baru saja Rafi ingin menjawab. Namun, pandangannya tiba-tiba terhenti pada kedua pasangan yang tengah berjalan menuju lobby kampusnya.
.
Tanpa menjawab ucapan Putra. Rafi berjalan terlebih dahulu. Menghampiri kedua orang itu.
.
Membuat Putra, Diat, Zaki, dan Kennath saling pandang. Heran.
.
Rafi menarik baju lelaki itu hingga membuatnya tertarik mundur.
.
"Apa-apaan sih lo?"sentak Devan.
.
"Lo yang apa-apaan sialan!"sentak Rafi.
.
"Harus berapa kali gue sama Bang Andra bilang? Jangan deket-deket lagi sama nih cewek?"Rafi menunjuk seorang gadis yang Devan bawa ke kampusnya.
.
"Masuk ke mobil, Nei."ucap Devan. Neila langsung menurutinya.
.
Devan menarik Rafi menjauh dari mobilnya. "Lo bisa gak sih Fi, ngertiin gue?"
.
"Lo sendiri bisa gak ngertiin keluarga lo?"
.
"Gak usah bahas keluarga dulu bisa? Ini tempat umum."
.
Rafi mendengus. Tangannya bahkan sudah terkepal, karena menahan emosinya.
.
"Ngapain lo bawa tuh cewek kesini?"tanya Rafi.
.
"Masalah? Ini kampus gue juga."
.
"Jelas. Ngerusak pemandangan gue."ucap Rafi.
.
"Fi. Bisa gak sih gak usah nyari ribut?"ucap Devan yang sudah kesal.
.
"Lo duluan. Kalo bukan karena lo dan cewek itu hubungan kita sebagai keluarga gak bakal kayak gini Bang."ucap Rafi.
.
"Gak usah bawa-bawa cewek gue."
.
"Cih. Cewek lo? Bahkan gue gak sudi nerima dia. Terlalu najis."ucap Rafi.
.
Bugh.
Pukulan itu melayang tepat diwajah Rafi.
.
"Jaga omongan lo! Gue gak pernah ngajarin lo untuk gak sopan kayak gitu."ucap Devan.
.
"Sial."Rafi memukul balik Devan. Pukulannya brutal.
.
"WOY! *****! RAFI ITU RAFI!"Kennath berseru karena baru tersadar. Lelaki itu lalu berlari menghampiri Rafi. Disusul oleh teman-temannya.
***
Halo semua apa kabar?