The Bad Twins

The Bad Twins
The bad twins 2-34



The bad twins season 2


__


"Woy, Nay! Plis lah dia kesini. Aduh kok gue jadi deg-degan?"Neila heboh sendiri ketika lelaki jangkung nan tampan itu berjalan mendekat kearahnya dan Nayya.


.


Saat lelaki itu tiba tepat dihadapan, Dia tersenyum manis.


.


"Halo, sayang."sapa Putra.


.


Nayya hanya menatap Putra. Bibirnya tertutup rapat-rapat.


.


"Lo, pacarnya Nayya?"tanya Neila.


.


Putra tersenyum dan mengangguk.


.


"Ewoah, Nayya yang kayak es berjalan ini punya pacar tampan kayak lo? Gila sih ini."ucap Neila.


.


"Gue yakin seratus persen, kalo kalian masih dijaman SMA kalian bakalan jadi hot news."ucap Neila.


.


Putra terkekeh kecil, mendengar bagaimana hebohnya teman baru Nayya. Sebelumnya Ia memang tidak pernah menampakkan dirinya di Universitas Nayya. Jadi, Ia bisa memaklumi.


.


Apa lagi pacar Nayya sangat tampan. Benar tidak?


.


"Gue tinggal deh ya. Pasti mau kangen-kangenan kan?"kekeh Neila.


.


Putra mengangguk.


.


"Gue duluan, Nay. Babay!"Neila menepuk bahu Nayya, lalu setelah ya gadis itu pergi.


.


"Hati-hati, Nei."ucap Nayya.


.


Lengan Putra terulur menjepit leher Nayya sampai-sampai kepala gadis itu ketarik ke dada cowok itu.


.


Putra mengancak-ngacak rambut Nayya gemas.


.


"PUTRA!"Nayya mencak-mencak, sedangkan pacarnya itu terbahak.


.


Putra akhirnya melepaskan lengannya. Ia kenbali terbahak saat melihat wajah sebal gadisnya itu.


.


"Apa ketawa-ketawa?!"kesal Nayya.


.


"Pftt."Putra berhenti tertawa, tangannya kini terulur merapihkan rambut Nayya.


.


"Aduh, udah lama gak ketemu. Makin gemesin aja pacarku ini."Putra berucap sambil mencubit kedua pipi Nayya.


.


"Putra!"Nayya menepis tangan Putra.


.


Putra terkekeh, Ia merangkul gadisnya itu dan membawanya menuju parkiran Universitas. Tadi Ia memarkirkan motornya disana.


.


Sesampainya diparkiran, Putra memberikan sebuah helm pada Nayya.


.


"Ambil."ucap Putra.


.


Nayya menurut. "Tumben jemput?"


.


"Emangnya ada pasal gak boleh jemput pacar karena beda kampus?"


.


"Bukan gitu."


.


"Aku mau ajak kamu jalan. Mau kan?"


.


"Kemana?"


.


"Kamu maunya kemana?"


.


Nayya memelototi Putra, bermaksud agar lelaki itu berucap serius.


.


Putra terkekeh. "Keliling Jakarta gimana? Mau?"


***


Setelah berkeliling cukup lama. Dengan adanya mampir kebeberapa tempat hingga malam menjemput.


.


Kini motor Putra berhenti disebuah tempat untuk kesekian kalinya. Entah, Putra sudah gila atau memang ingin benar-benar menghabiskan waktu dengannya hari ini.


.


Memang kangennya Putra, berbeda dari yang lain.


.


Nayya turun dari motor Putra. Ia membuka helmnya.


.


"Yakin ke Dufan? Udah malam."ucap Nayya.


.


"Udah sampe, kenapa engga?"


.


Putra melepas tas hitamnya, Ia mengambil sebuah jaket disana.


.


"Pakai, biar kamu gak kedinginan."ucap Putra.


.


"Udah pakai kan."


.


"Itu tipis, jaket aku lebih tebel. Walaupun kebesaran."


.


"Ambil."Putra menyodorkan kembali jaketnya.


.


Nayya menghela nafas. Ia melepas jaketnya lalu menggantinya dengan jaket Putra. Itu jaket kebanggaan milik Putra, karena hanya Ketua Razet yang memilikinya.


.


"Terus kamu?"tanya Nayya.


.


Putra tersenyum. "Aku kan cowok."


.


"Ayok, nanti keburu antri. Aku males nunggu lama."ajak Putra.


.


.


"Gimana? Seruan malam kan?"tanya Putra saat sudah masuk.


.


Nayya tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku suka."


.


Tangan Putra terulur mengelus puncak kepala Nayya. Perasaan hangat menjalar begitu saja dalam dirinya saat melihat Nayya kembali tersenyum. Sudah lama sekali Ia tidak melihat gadisnya tersenyum.


.


"Mau naik apa dulu?"tanya Putra.


.


"Turangga-rangga, boleh?"tanya Nayya. Putra mengangguk.


.


Nayya dan Putra akhirnya mencoba wahana Turangga-rangga. Keduanya duduk bersebelahan. Naik diatas kuda dan duduk bersebelahan.


.


"Seneng?"tanya Putra.


.


Nayya mengangguk. "Banget."


.


"Bagus lah, berarti aku berhasil bahagia-in kamu."ucap Putra sambil mengelus puncak kepala Nayya.


.


"Tau gak?"ucap Putra yang membuat Nayya menoleh kembali.


.


"Aku pengen waktu berhenti aja sekarang, Nay. Biar aku bisa terus sama kamu."ucap Putra.


.


"Lebay."ucap Nayya.


.


"Aku serius kok malah dibilang lebay?"


.


"Yaudah iya."


.


Putra terkekeh. Tangannya kembali terulur mengusap puncak kepala Nayya juga mengelus pipi gadisnya.


.


"I love you, bubi."


***


"Coba kamu telfon pacar adik kamu itu. Kenapa sampe sekarang belum diantar pulang."


.


Untuk kesekian kalinya Rafi menghela nafas. Ayahnya itu memang paling khawatir tentang Nayya.


.


Kalau tau, Ayahnya juga kedua Abangnya akan pulang cepat. Ia tidak akan mengizinkan Putra untuk membawa adiknya sampai malam.


.


"Udah Yah, tapi gak ada respon."ucap Rafi.


.


"Hp Nayya gimana, Van? Udah aktif?"Arka kini beralih pada Devan.


.


"Belum. Devan juga udah telfon biasa, tapi gak diangkat. Di sms juga gak dibales."ucap Devan.


.


"Gak punya pulsa kali lo."ucap Rafi.


.


"Emangnya gue elo?"


.


"Dari pada lo berdua ribut. Mending cari Nayya."Andra akhirnya membuka suara.


.


Keduanya sama-sama menghela nafas, namun tetap menurut.


.


Suara pintu utama yang baru saja ditutup membuat langkah Rafi dan Devan terhenti.


.


"Tumben."Nayya dengan suara juga ekspresi khasnya memasuki rumah.


.


"Gunanya kamu punya handphone apa Alendra Nayyara?"tegur Arka.


.


"Maaf, Ayah."


.


Arka menghela nafas. "Kenapa handphone kamu sama sekali gak aktif?"


.


Nayya mengerutkan keningnya. Ia merogoh kantung celananya dan mengecek ponselnya.


.


"Mati."ucap Nayya.


.


"Mana pacar kamu? Udah anak gadis Ayah dipulangkan jam segini, gak izin pula sama Ayah atau Abang kamu."ucap Arka.


.


"Putra bilang dia udah izin sama Rafi kok. Kalo gak percaya, Ayah tanya aja orangnya."ucap Nayya.


.


Arka melirik Rafi. Anak lelakinya itu hanya diam sambil menggaruk tengkuk kepalanya.


.


"Maaf, Yah."ucap Rafi.


.


"Yasudah. Jangan diulang lagi."ucap Arka.


.


"Buat kamu Nay, suruh pacarmu izin ke Ayah kalau mau bawa kamu pergi. Ayah hanya khawatir."ucap Arka.


.


"Iya."Gadis itu lalu berjalan mendekati sofa, duduk disebelah Abangnya—Andra sambil menyenderkan tubuhnya.


.


"Tumben gak di apart, Bang?"tanya Nayya.


.


"Lagi kangen rumah dia, Ay."jawab Devan. Lelaki itu sudah kembali duduk bersama Rafi.


.


Nayya hanya manggut-manggut.


.


"Mandi sana, biar seger."suruh Andra.


.


"Nanti."


.


Percakapan mereka harus terhenti saat seseorang dengan tidak sopannya main masuk kedalam rumah mereka.


.


Mereka semua menoleh. Bersamaan dengan itu, keempat saudara kandung itu mengumpat dengan berbagai umpatan.


***


Banyak in like dan komentarnya dong??Wkwkwk Baca The Assassin ya kalau pengen double eps hari ini.


Thank you