
The bad twins season 2
__
"Woy, Nay! Plis lah dia kesini. Aduh kok gue jadi deg-degan?"Neila heboh sendiri ketika lelaki jangkung nan tampan itu berjalan mendekat kearahnya dan Nayya.
.
Saat lelaki itu tiba tepat dihadapan, Dia tersenyum manis.
.
"Halo, sayang."sapa Putra.
.
Nayya hanya menatap Putra. Bibirnya tertutup rapat-rapat.
.
"Lo, pacarnya Nayya?"tanya Neila.
.
Putra tersenyum dan mengangguk.
.
"Ewoah, Nayya yang kayak es berjalan ini punya pacar tampan kayak lo? Gila sih ini."ucap Neila.
.
"Gue yakin seratus persen, kalo kalian masih dijaman SMA kalian bakalan jadi hot news."ucap Neila.
.
Putra terkekeh kecil, mendengar bagaimana hebohnya teman baru Nayya. Sebelumnya Ia memang tidak pernah menampakkan dirinya di Universitas Nayya. Jadi, Ia bisa memaklumi.
.
Apa lagi pacar Nayya sangat tampan. Benar tidak?
.
"Gue tinggal deh ya. Pasti mau kangen-kangenan kan?"kekeh Neila.
.
Putra mengangguk.
.
"Gue duluan, Nay. Babay!"Neila menepuk bahu Nayya, lalu setelah ya gadis itu pergi.
.
"Hati-hati, Nei."ucap Nayya.
.
Lengan Putra terulur menjepit leher Nayya sampai-sampai kepala gadis itu ketarik ke dada cowok itu.
.
Putra mengancak-ngacak rambut Nayya gemas.
.
"PUTRA!"Nayya mencak-mencak, sedangkan pacarnya itu terbahak.
.
Putra akhirnya melepaskan lengannya. Ia kenbali terbahak saat melihat wajah sebal gadisnya itu.
.
"Apa ketawa-ketawa?!"kesal Nayya.
.
"Pftt."Putra berhenti tertawa, tangannya kini terulur merapihkan rambut Nayya.
.
"Aduh, udah lama gak ketemu. Makin gemesin aja pacarku ini."Putra berucap sambil mencubit kedua pipi Nayya.
.
"Putra!"Nayya menepis tangan Putra.
.
Putra terkekeh, Ia merangkul gadisnya itu dan membawanya menuju parkiran Universitas. Tadi Ia memarkirkan motornya disana.
.
Sesampainya diparkiran, Putra memberikan sebuah helm pada Nayya.
.
"Ambil."ucap Putra.
.
Nayya menurut. "Tumben jemput?"
.
"Emangnya ada pasal gak boleh jemput pacar karena beda kampus?"
.
"Bukan gitu."
.
"Aku mau ajak kamu jalan. Mau kan?"
.
"Kemana?"
.
"Kamu maunya kemana?"
.
Nayya memelototi Putra, bermaksud agar lelaki itu berucap serius.
.
Putra terkekeh. "Keliling Jakarta gimana? Mau?"
***
Setelah berkeliling cukup lama. Dengan adanya mampir kebeberapa tempat hingga malam menjemput.
.
Kini motor Putra berhenti disebuah tempat untuk kesekian kalinya. Entah, Putra sudah gila atau memang ingin benar-benar menghabiskan waktu dengannya hari ini.
.
Memang kangennya Putra, berbeda dari yang lain.
.
Nayya turun dari motor Putra. Ia membuka helmnya.
.
"Yakin ke Dufan? Udah malam."ucap Nayya.
.
"Udah sampe, kenapa engga?"
.
Putra melepas tas hitamnya, Ia mengambil sebuah jaket disana.
.
"Pakai, biar kamu gak kedinginan."ucap Putra.
.
"Udah pakai kan."
.
"Itu tipis, jaket aku lebih tebel. Walaupun kebesaran."
.
"Ambil."Putra menyodorkan kembali jaketnya.
.
Nayya menghela nafas. Ia melepas jaketnya lalu menggantinya dengan jaket Putra. Itu jaket kebanggaan milik Putra, karena hanya Ketua Razet yang memilikinya.
.
"Terus kamu?"tanya Nayya.
.
Putra tersenyum. "Aku kan cowok."
.
"Ayok, nanti keburu antri. Aku males nunggu lama."ajak Putra.
.
.
"Gimana? Seruan malam kan?"tanya Putra saat sudah masuk.
.
Nayya tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku suka."
.
Tangan Putra terulur mengelus puncak kepala Nayya. Perasaan hangat menjalar begitu saja dalam dirinya saat melihat Nayya kembali tersenyum. Sudah lama sekali Ia tidak melihat gadisnya tersenyum.
.
"Mau naik apa dulu?"tanya Putra.
.
"Turangga-rangga, boleh?"tanya Nayya. Putra mengangguk.
.
Nayya dan Putra akhirnya mencoba wahana Turangga-rangga. Keduanya duduk bersebelahan. Naik diatas kuda dan duduk bersebelahan.
.
"Seneng?"tanya Putra.
.
Nayya mengangguk. "Banget."
.
"Bagus lah, berarti aku berhasil bahagia-in kamu."ucap Putra sambil mengelus puncak kepala Nayya.
.
"Tau gak?"ucap Putra yang membuat Nayya menoleh kembali.
.
"Aku pengen waktu berhenti aja sekarang, Nay. Biar aku bisa terus sama kamu."ucap Putra.
.
"Lebay."ucap Nayya.
.
"Aku serius kok malah dibilang lebay?"
.
"Yaudah iya."
.
Putra terkekeh. Tangannya kembali terulur mengusap puncak kepala Nayya juga mengelus pipi gadisnya.
.
"I love you, bubi."
***
"Coba kamu telfon pacar adik kamu itu. Kenapa sampe sekarang belum diantar pulang."
.
Untuk kesekian kalinya Rafi menghela nafas. Ayahnya itu memang paling khawatir tentang Nayya.
.
Kalau tau, Ayahnya juga kedua Abangnya akan pulang cepat. Ia tidak akan mengizinkan Putra untuk membawa adiknya sampai malam.
.
"Udah Yah, tapi gak ada respon."ucap Rafi.
.
"Hp Nayya gimana, Van? Udah aktif?"Arka kini beralih pada Devan.
.
"Belum. Devan juga udah telfon biasa, tapi gak diangkat. Di sms juga gak dibales."ucap Devan.
.
"Gak punya pulsa kali lo."ucap Rafi.
.
"Emangnya gue elo?"
.
"Dari pada lo berdua ribut. Mending cari Nayya."Andra akhirnya membuka suara.
.
Keduanya sama-sama menghela nafas, namun tetap menurut.
.
Suara pintu utama yang baru saja ditutup membuat langkah Rafi dan Devan terhenti.
.
"Tumben."Nayya dengan suara juga ekspresi khasnya memasuki rumah.
.
"Gunanya kamu punya handphone apa Alendra Nayyara?"tegur Arka.
.
"Maaf, Ayah."
.
Arka menghela nafas. "Kenapa handphone kamu sama sekali gak aktif?"
.
Nayya mengerutkan keningnya. Ia merogoh kantung celananya dan mengecek ponselnya.
.
"Mati."ucap Nayya.
.
"Mana pacar kamu? Udah anak gadis Ayah dipulangkan jam segini, gak izin pula sama Ayah atau Abang kamu."ucap Arka.
.
"Putra bilang dia udah izin sama Rafi kok. Kalo gak percaya, Ayah tanya aja orangnya."ucap Nayya.
.
Arka melirik Rafi. Anak lelakinya itu hanya diam sambil menggaruk tengkuk kepalanya.
.
"Maaf, Yah."ucap Rafi.
.
"Yasudah. Jangan diulang lagi."ucap Arka.
.
"Buat kamu Nay, suruh pacarmu izin ke Ayah kalau mau bawa kamu pergi. Ayah hanya khawatir."ucap Arka.
.
"Iya."Gadis itu lalu berjalan mendekati sofa, duduk disebelah Abangnya—Andra sambil menyenderkan tubuhnya.
.
"Tumben gak di apart, Bang?"tanya Nayya.
.
"Lagi kangen rumah dia, Ay."jawab Devan. Lelaki itu sudah kembali duduk bersama Rafi.
.
Nayya hanya manggut-manggut.
.
"Mandi sana, biar seger."suruh Andra.
.
"Nanti."
.
Percakapan mereka harus terhenti saat seseorang dengan tidak sopannya main masuk kedalam rumah mereka.
.
Mereka semua menoleh. Bersamaan dengan itu, keempat saudara kandung itu mengumpat dengan berbagai umpatan.
***
Banyak in like dan komentarnya dong??Wkwkwk Baca The Assassin ya kalau pengen double eps hari ini.
Thank you