
The Bad Twins
—
Ditempat yang sama. Putra sedang menunggu agar Nayya mau berhenti. Bahkan ia sampai berjalan mundur agar Nayya berhenti. Namun nihil, Nayya sama sekali tak berhenti.
-
"Nay, please berhenti"ucap Putra lembut
-
"Nay...."
-
"Pergi. Gue mau pulang"ucap Nayya dingin
-
"Nay, tolong berhenti dulu gue mau ngomong serius. Please"ucap Putra memohon
-
Nayya pun berhenti. Begitu juga dengan Putra.
-
"Maaf...."ucap Putra
-
"Buat apa?"tanya Nayya
-
"Buat kejadian tadi. Gue bisa jelasin Nay"ucap Putra
-
"Gak perlu. Gue gak peduli lagian"
-
"Gue nerima dia karena kasihan Nay. Kalau gue nolak dia, dia bakal dibully. Dan gue gak mau di wilayah Garuda terjadi aksi pembullyan. Lo tau itu kan? Sumpah deh Nay gue gak pacaran sama dia. Gue cuman nyelametin dia dari pembullyan doang. Dan soal tadi dilapangan. Gue meluk dia karena gue pengen nenangin dia. Dia abis di bully tadi. Lo tau kan gue paling gak bisa liat cewek nangis"ucap Putra to the point
-
"Terus apa kabar dengan gue?"tanya Nayya yang membuat Putra bungkam seketika
-
"Kok diem? Gak bisa jawab? Lo bilang gak bisa liat cewek nangis. Tapi lo udah bikin gue nangis dalam diam Put"
-
"Seharusnya waktu itu gue gak kemakan dengan janji lo. Seharusnya gue gak buka hati gue buat lo"ucap Nayya
-
"Sorry Nay"
-
"Gak usah minta maaf. Gak sepenuhnya ini salah lo. Gue juga salah. Seharusnya gue sadar diri. Gue sama lo gak ada hubungan apa apa, hanya sebatas sahabat. Dan gue seharusnya gak berhak buat cemburu apalagi sakit hati"
-
Putra menggeleng cepat
"Gak. Lo berhak. Kita udah tau perasaan kita masing masing. Kita cuman butuh waktu untuk membuat status hubungan yang terikat"
-
"Bahkan gue udah janji sama lo. Gue bakal jadi cinta terakhir lo. Meskipun cinta kita bukan yang pertama"lanjut Putra
-
Putra mendekat kearah Nayya. Mengikis jarak diantara mereka.
-
"Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Gue gak suka. Kalau gue salah. Tolong ingetin gue tentang janji janji yang gue ucapin ke lo"ucap Putra
-
Nayya baru saja selesai mandi dan memakai pakaiannya. Kini jam menujukkan pukul 4 sore.
-
Nayya merebahkan tubuhnya dikasur. Matanya terpejam, hampir saja ia terlelap jika tidak ada suara bantingan pintu dari arah luar.
-
BRAKKK!!!
-
Suara bantingan pintu dari arah sebrang kamarnya membuat Nayya seketika membuka matanya. Bisa ia pastikan Rafi sedang marah, alias mau ngamuk dikamar.
-
"Astagfirullah. Untung gue gak jantungan"ucap Nayya sambil memegang dadanya yang terasa berdegup kencang
-
Nayya beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya. Kemudian ia berjalan ke arah kamar Rafi dan membuka pintunya.
-
Nayya mendengus saat melihat kamar Rafi yang sudah berantakan. Ia berjalan menghampiri Rafi yang sedang duduk di sofa balkon kamarnya, lalu duduk disampingnya.
-
"Kenapa?"tanya Nayya
-
Rafi hanya menengok tanpa berniat menjawab pertanyaan Nayya.
-
"Ada masalah? Coba cerita"
-
"Ayah"
-
"Kenapa?"
-
"Ayah ngusir gue dari kantornya. Tadi gue emang sengaja nganter makanan buat Ayah. Eh gue malah nemuin si nenek lampir yang lagi telfonan sama cowok lain. Gue denger dia cuman mau harta Ayah. Pas dia udah selesai telfonannya gue labrak dia. Gak lama Ayah dateng, terus ngebelain si nenek lampir. Dan ujung ujungnya gue dimarahin terus diusir"
-
"Dulu aja Ayah anti banget ngemarahin kita. Tapi semenjak Ayah kenal sama tuh nenek lampir, Ayah jadi sering marah marahin kita, sering ngebentak. Apalagi main fisik sama gue, Bang Andra dan Bang devan. Seperti nampar misalnya. Anak nana yang gak kesel digituin sih Nay?"ucap Rafi
-
Nenek lampir, tau kan maksudnya Rafi siapa?
-
"Kita sabar aja. Gue yakin Ayah pasti balik lagi ke tempat yang seharusnya"ucap Nayya sambil tersenyum paksa
-
Rafi menarik Nayya ke pelukannya.
"Gak usah sok kuat, kalo mau nangis nangis aja"
-
Perlahan isakan tangis mulai terdengar. Benar, Nayya menangis saat ini.
-
-
Petikan gitar mengudara di langit malam yang gelap. Semilir angin menerpa wajah cowok yang sedang duduk sambil memangku gitar.
-
Saat ini Rafi sedang berada di pinggir kolam renang. Kakinya ia biarkan menyentuh air yang dingin itu.
-
Seketika ingatannya melayang ke masa lalu. Dimana seorang Ayah yang selalu memprioritaskan keempat anaknya. Dimana Rafi mendapatkan kebahagian tanpa kehadiran seorang Ibu.
-
"Tadi niatnya gue pengen gue dorong. Biar kecebur. Tapi gue masih kasian sama gitar lo"
-
Rafi menghentikan petikan gitarnya yang asal itu, lalu menoleh ke sumber suara. Nayya. Kini gadis itu sudah duduk disamping kanannya sambil menaruh secangkir teh hangat bikinannya di tengah tengah mereka.
-
"Buat gue?"tanya Rafi sambil melirik secangkir teh hangat yang berada disampingnya
-
"Hm"
-
Rafi meletakan gitarnya. Kemudian cowok itu mengambil secangkir teh hangat dan meminumnya tanpa berkata apa apa lagi.
-
"Tumben dirumah"ucap Nayya
-
"Males keluar. Lagian gue pagi pengen ngeluangin waktu lebih banyak sama kembaran gue. Jarang jarang kan"balas Rafi sambil menaruh cangkir yang sudah kosong itu disamping kirinya
-
"Kayak gak pernah ketemu gue aja"
-
"Gue takutnya lo bunuh diri gara gara putus asa"
-
Nayya menoyor kepala Rafi
"Pikiran gue gak secetek lo"
-
"Hah ketek? Lo mau gue ketekin? Sini sini"ucap Rafi, lalu memeluk Nayya dengan ketiaknya membuat Nayya seketika mendorong Rafi
-
Rafi terkekeh geli. Raut wajah Nayya sudah tidak bisa di deskripsikan lagi. Gemas. Hanya itu yang terlintas di benak Rafi saat melihat raut wajah Nayya.
-
"Uluulu cayang. Mukanya jangan ditekuk gitu dong"ucap Rafi sambil mengunyel ngunyel pipi Nayya
-
Nayya seketika memelototi Rafi
-
"Gue ke kamar dulu. Pengen boker"ucap Rafi sambil teterkekeh. Kemudian ia beranjak dari dudukya, lalu ngibrit ke kamarnya sebelum kena omel oleh Nayya
-
"RAFII!! AWAS LO YA!! BERANI BERANINYA NGETEKIN GUE!! GUE JADIIN PECEL LO BESOK!"
-
"Pecel enak tuh Nay"teriak Rafi dari dalam rumah
-
"RAFI!!"
-
Paginya,
Seperti biasa halaman sekolah selalu ramai karena murid murid banyak yang baru saja datang.
-
Nayya turun dari motor milik Rafi. Begitupun dengan sang pemilik motor. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam koridor sekolah.
-
"Gue ke kelas dulu. Belajar yang rajin"ucap Rafi saat sampai di depan kelas Nayya
-
"Lo tuh. Belajar yang bener. Jangan bolos sama beratem terus kerjaannya"ucap Nayya
-
Rafi terkekeh
"Biasa lah. Anak cowok"
-
"Ndasmu biasa"
-
"Udah ah gue ke kelas dulu"
-
"Gue juga mau masuk"ucap Nayya, lalu diangguki oleh Rafi. Setelah mendapat persetujuan Nayya masuk ke dalam kelasnya. Cowok itu memandang Nayya dengan perasaan takjub. Menurutnya, Nayya adalah perempuan terkuat yang kedua setelah Bundanya.
-
Rafi langsung berjalan kearah kelasnya. Kelas XII-4.
-
Rafi masuk kedalam kelas. Suasana kelas yang ramai menyambutnya. Apalagi ia harus sekelas lagi dengan Kennath dan Zaki. Dua cowok paling absurd, yang ia kenal.
-
Liat saja sekarang, keduanya sedang asik nyanyi dangdut sambil joget di depan papan tulis. Sementara anak anak Razet yang juga sekelas dengannya ikut meramaikan dengan gebrak gebrak meja, menganggap meja itu sebagai gendang. Membuat suasana kelas makin riuh.
-
"ZAKII!!! SINI LO!"
-
Teriakan dari arah luar membuat semuanya diam. Mereka langsung menoleh ke sumber suara. Seorang cewek yang bukan murid dari SMA Garuda. Dari seragam pun bisa di lihat, bahwa cewek itu bukan murid dari SMA Garuda, melainkan dari SMA Arwana.
-
"Eh Arra, ngapain kesini? Kangen sama aa?"ucap Zaki sambil berjalan menghampiri Arra yang berada diambang pintu itu
-
"KANGEN KANGEN! KEMANAIN AJA LO HAH? GAK ADA KABAR SEBULANAN INI. GUE TELFON GAK DIANGKAT. DI CHAT GAK DI BALES. GUE DATENGIN RUMAH LO, LO NYA SELALU GAK ADA DIRUMAH. KEMANA AJA? ABIS NYARI *****?"ucap Arra ngegas
-
"Apasih sayang? Ngapain nyari ***** kalau masih ada kamu?"tanya Zaki
^hallo^