The Bad Twins

The Bad Twins
the bad twins-10




Baru saja mereka ingin memulai permainan. Tiba tiba ponsel Nayya berdering. Nayya pun melihat siapa yang menelfonnya.


-


Call from Babi🐷


Nayya: Halo Fi?


Rafi: Gue otw jemput


Nayya: Loh? Kok?


Rafi: Lo gausah nginep


Nayya: Kenapa?


Arka: Pulang sekarang! Jangan membantah. Ayah mau bicara


Sambungan pun dimatikan secara sepihak. Nayya malah kebingungan sendiri oleh ucapan Ayahnya yang terbilang cukup serius


-


"Siapa Nay?"tanya Ajeng


-


"Ayah"ucap Nayya


-


"Ngapain?"tanya Salma


-


"Gue disuruh pulang"jawab Nayya


-


"Lo naik ojol atau dijemput?"tanya Ajeng


-


"Dijemput,gue duluan ya. Sorry gak bisa nemenin lo Je"ucap Nayya


-


"Iya gapapa. Lo hati hati"ucap Ajeng


-


Nayya pun mengangguk dan langsung keluar dari kamar Ajeng .


.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Nayya kini sudah berada dirumahnya. Tepatnya sedang berada di ruang keluarga.


-


Nayya sedang menyender dibahu kembarannya yang sedang asik dengan game diponselnya.


-


Bukan hanya mereka berdua yang ada disana. Tapi juga ada Andra dan Devan yang sedang menonton film di televisi. Serta Arka dan Lexa yang sedang duduk bersebelahan di sofa.


-


"Ayah ingin bicara serius dengan kalian"


-


Tidak ada yang berubah posisinya


. "Bisa kalian serius dengan pembicaraan ini?"tanya Arka serius


-


Mendengar perkataan itu keempatnya langsung menoleh kearah Arka dan membenarkan posisi mereka masing masing.


-


"Ayah minta maaf sama kalian"ucap Arka


-


"Bunda juga minta maaf sama kalian"ucap Lexa


-


"Kalian gak ada salah sama kita. Jadi untuk apa minta maaf?"ucap Rafi


-


"Ayah sudah menyembunyikan rahasia penting pada kalian"ucap Arka


-


"Rahasia?"tanya Devan


-


Arka mengangguk


-


"Apa?"tanya Rafi


-


"Rahasia kematian Bunda kalian"


-


Deg


Keempatnya diam membisu


-


Hingga akhirnya,


-


"Ayah minta maaf karena sudah merahasiakan ini semua. Ayah gak sanggup jika melihat kalian sedih. Kalian masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya saat itu"jelas Arka


-


"Ayah bohong! Jika Bunda sudah meninggal. Namun siapa yang disamping Ayah saat ini?"ucap Nayya yang mulai membuka suara


-


"Lexa bisa kamu keluar?"pinta Arka


-


Lexa mengangguk dan segera keluar dari ruangan. Setelah Lexa sudah diluar,Arka kembali melanjutkan ucapannya.


-


"Lexa,yang selama ini kalian anggap sebagai Bunda kalian. Sebenarnya adalah calon Ibu baru untuk kalian. Ayah dulu memang sengaja meminta bantuannya untuk—"


-


"Untuk merahasiakan semuanya dan untuk mempermudah kita untuk menerima dia sebagai Ibu baru kita? Iya? Asal Ayah tau Devan sama Bang Andra udah tau semuanya sejak Devan menduduki bangku SMA. Tapi kita diam Yah. Kita pikir dengan cara kita diam Ayah bisa berubah pikiran untuk menikah lagi. Ternyata enggak"ucap Devan sambil terkekeh miris


-


"Ayah tau ini berat untuk kalian semua. Tapi Ayah mohon terima keputusan Ayah kali ini. Keputusan Ayah sudah bulat. Kalian juga sudah cukup dewasa untuk berfikir lebih jernih, jadi jangan pernah menyakiti dia dengan kata kata pedas dari mulut kalian itu"


-


"Perkataan pedas kita pun gak sebanding dengan rasa sakit yang kita alami Yah. Ayah gak tau rasanya jadi kita selama ini. Yang hidup dengan kekurangan kasih sayang dari Ibu. Ya walaupun selama ini Tante Lexa berusaha untuk menyayangi kita. Tapi tetep aja Andra gak merasa disayangi oleh Ibu yang sesungguhnya"ucap Andra dengan nada datar


-


"Jika Ayah meminta restu dari kita. Maaf Ayya gak bisa. Ayya masih belum bisa menerima semuanya. Baru aja Ayya tau yang sebenarnya. Dan dengan seenaknya Ayah langsung memberitahu dua kabar buruk untuk kita"ucap Nayya yang kini matanya mulai memanas


-


"Dan kamu pikir mudah untuk Ayah menerima kepergian Ibu kalian hanya untuk melahirkan kamu?"ucap Arka dengan nada tinggi,ia mengucapkan itu sambil menatap Nayya


-


-


Rafi mengelus bahu Nayya guna untuk memberinya ketenangan. Jika kalian bilang Rafi kuat. Kalian salah,apa yang Nayya rasakan kini dirasakan juga oleh Rafi.


-


Andra memejamkan matanya,sedangkan Devan mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Keduanya sama sama tak kuat jika melihat adik perempuannya menangis. Apa lagi itu karena Ayah mereka sendiri.


-


"Maaf Ay... Ayah gak bermaksud ngomong kayak gitu"ucap Arka


. "Gak papa Yah,Ayya tau diri kok. Kalau aja Ayya bisa memutar waktu. Mungkin Ayya bakal tuker posisi Ayya sama Bunda. Biarin aja Rafi yang lahir dan Ayya yang mati supaya Bunda bisa selamat dan kumpul disini bareng kalian. Daripada Ayya harus lahir dan ngebuat Ayah terpaksa nerima kehadiran Ayya disini"ucap Nayya,lalu tersenyum paksa


-


"Enggak Ay,bukan begitu maksud Ayah"


-


"Anggep aja ucapan Ayya soal gak ngerestuin hubungan Ayah sama perempuan itu gak pernah Ayya ucapin. Toh Ayah juga gak bakal butuh restu dari anak yang gak Ayah inginkan keberadaannya kan?"ucap Nayya


-


Nayya menepis tangan Rafi yang berada di bahunya. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar dari ruang keluarga.


-


"Ayya!!"panggil Arka


-


"Lain kali,tolong kontrol emosi Ayah. Andra gak mau adik perempuan Andra satu satunya nangis kayak gitu karena Ayah"ucap Andra dingin,lalu pergi menyusul Nayya dan diikuti oleh Rafi dibelakangnya


-


Devan beranjak dari tempat duduknya hendak menyusul Andra. Namun sebelum ia pergi ia mengatakan sesuatu pada Arka.


-


"Jangan karena perempuan itu Ayah jadi kasar sama anak perempuan Ayah"ucap Devan dingin,lalu keluar dari ruangan


-


Hari ini jam pertama anak kelas XI-3 adalah pelajaran olahraga. Lapangan pun sudah ramai dengan anak anak kelas XI-3. Mereka sedang melaksanakan praktik bola basket.


-


Nayya duduk dipinggir lapangan bersama dengan Ajeng, Salma dan Diva tentunya. Mereka sedang menyaksikan pertandingan teman teman lelakinya bertanding basket.


-


"Nay,ke UKS aja yuk. Muka lo nambah pucet"ucap Ajeng


-


"Gue masih kuat kok Je"


-


"Aduh Nayya. Pliss sekali aja gak usah pala batu"geram Salma


-


Nayya terkekeh kecil


"Muka lo nambah jelek Sal kalo kayak gitu"


-


"Ih Nayya mah!"ucap Salma sambil mengerucutkan bibirnya


-


"Kode amat mau dicipok sama Kenneth"ucap Diva asal


-


"*******!😤"umpat Salma, sedangkan Diva saat ini malah terkekeh geli


-


"Eh nay,kok semalem Rafi gak ngasih kabar ke gue ya?"tanya Ajeng


-


Nayya menoleh kearah Ajeng. Bukannya menjawab justru Nayya malah diam. Perkataan Ayahnya kembali terngiang di otaknya.


-


'Dan kamu pikir mudah untuk Ayah menerima kepergian Ibu kalian hanya untuk melahirkan kamu?'


-


Nayya mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Ia memejamkan matanya sejenak.


-


"Nay?"panggil Ajeng


-


Nayya menoleh kearah Ajeng


"Kenapa?"


-


"Lo sama Rafi lagi ada masalah?"


-


"Enggak kok"


-


Ajeng hanya manggut manggut. Ia tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. Karena sudah terlihat dari raut wajah Nayya jika ia sedang mempunyai masalah.


.


.


Nayya merasakan kini kepalanya bertambah pusing


-


"Je anterin gue ke—"ucap Nayya terpotong karena sebuah bola basket tiba tiba mengenai kepala Nayya


-


BUGHHH


-


"EHH KALO MAEN TUH YANG BENER!!"ucap Diva


-


"Nay,lo gak papa?"tanya Ajeng


-


Nayya menggeleng. Namun detik berikutnya ia pingsan. Untung saja Ajeng menahannya.


-


"EHH WOYY TOLONGINN!!!"teriak Ajeng


-


Sedangkan para siswa yang sedang berada di lapangan malah melihati Nayya tanpa berniat membawa Nayya ke UKS.


-


"***** MALAH NGELIATIN!! BANTUIN GOBLOKK!!"teriak Diva


-


Komen ya?!