
“Itu tidak adil.” Evelyn mengeluh menahan kesal. “Kau bahkan mengutuk ku terlebih dahulu.”
“Ku ingatkan, Lyn. Jika semua yang diajarkan kepada ku memang tidak ada yang adil.” Sean menyeringai. “Walau hasil kita sama, tapi kau tetap kalah. Ingat janji kita.”
Harry dan Draco keluar dari ruangan kepala sekolah dan mendapati putra dan putrinya saling menatap dengan kesal.
Harry melangkah mendekati putrinya. “Evelyn, bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” gadis itu menoleh dan mengangguk sebelum menatap Sean dengan tajam. Evelyn berjalan mengikuti langkah ayahnya untuk menjauh dari Malfoy dan Malfoy junior.
Draco juga melakukan hal yang sama dengan Harry, bedanya pria itu nampak angkuh seakan tak peduli jika putranya juga bersalah. “Kau baik-baik saja, Son?” Sean mengangguk. “Dad bangga kepadamu.”
Sean menaikan alisnya. “Dad tak marah kepada ku?” Draco menggeleng.
“Kau hanya membela diri bukan?”
Sean memiringkan kepalanya dan setelahnya mengangguk. “Apa kau tahu hukumanmu?” Sean menghela napas membuat ayahnya merasa bersalah. “Maaf, Son. Tapi, kepala sekolah Mcgonagall mengatakan kau harus tinggal di Hogwarts selama liburan natal.”
Sean melebarkan matanya. “Apa?” Ia benar-benar kesal dengan situasi ini, Sean telah menyusun banyak rencana dengan Scorpius selama liburan natal. “Tapi, ini tidak adil. Kami hanya berduel seperti yang-“
Draco mengangguk. “Dad tahu, hanya saja kepala sekolah tetap bersikeras.”
Di sisi lain, Harry tak menegur putrinya. Ia bersyukur putri bungsunya terlihat sehat tanpa luka sedikit pun. Keduanya sedang duduk pada taman hogwarts. Nampak sepi dan tenang.
“Jadi, benar yang di katakan kepala sekolah mengenai kau mengeluarkan mantra kutukan?” Harry menatap anaknya yang mengangguk. Ia bisa melihat tatapan bersalah di mata putrinya.
Harry menghela napasnya. “Bukan kah dad sudah mengatakannya kepada mu, bahwa itu tak boleh.” Evelyn mengangguk.
“Aku tahu, aku minta maaf.” Katanya. “itu terjadi begitu saja.”
Harry mengangguk sembari memeluk putrinya. “Apa kau tahu hukumanmu?” Evelyn terdiam. “Kau harus tinggal di hogwarts selama liburan natal, sayang.”
Evelyn buru-buru mengurai pelukannya dan menatap ayahnya dengan pandangan terkejut. “Dad pasti bercanda.”
Harry menggeleng. “Sayangnya tidak.” Ia bisa melihat mata Evelyn mulai berkaca-kaca. “Kepala sekolah mengatakan bahwa itu hukuman kalian berdua.”
Evelyn mendengus. “Bagus, aku akan terjebak terus bersama si Malfoy itu.”
Harry tersenyum. “Setidaknya kau perlu merenungkan pikiranmu tentang apa yang kau lakukan.”
Evelyn mengangguk. “Aku pasti akan merindukan kalian.” Evelyn terdiam sesaat dan menatap ayahnya. “Dad, jangan sampai uncle Ron tahu tentang hal ini.” katanya mengecilkan suara.
Harry tersenyum. “Tenang saja.”
Sayangnya keesokan harinya, permohonan Evelyn tidak terkabul ketika Ginny mendapat kiriman sebuah daily
prophet yang baru. Wanita yang tengah memasak itu rela menghentikan aktifitasnya saat membaca beberapa tajuk yang menampilkan foto Evelyn dan putra Malfoy.
“Harry!” Ginny berteriak.
Albus dan James sempat terkejut ketika mendengar ibunya berteriak memanggil nama ayahnya. Kedua pria itu segera turun ke lantai bawah dan menatap ibunya yang mematung sembari memegangi daily prophet.
“Ada apa, Mum?” James membuka suara. Wanita itu tak menjawab dan menunjuk daily prophetnya kepada si sulung.
James menerimanya dengan menaikan alis. Sesaat ekspresi bingung berubah menjadi tatapan terkejut. “Putri Potter dan putra Malfoy saling menyerang saat berada di kelas. Kedua remaja itu tak segan-segan melayangkan kutukan tak termaafkan.” Bacanya yang membuat Albus segera merebut kertas itu dari tangan James.
Albus menggelengkan kepalanya. “Kenapa Mum tak memberitahuku.” Serunya yang membuat Ginny menghela napasnya.
“Karena Mum tahu kau akan mengutuk si bungsu Malfoy jika kau yang pergi ke sana.” Ginny kembali ke dapur dan melanjutkan aktifitas memasaknya. “Berikan itu kepada ayahmu.”
Albus masih mengikuti ibunya dari belakang. “Jadi, apa yang terjadi?”
Ginny memutar tubuhnya dan menatap anak keduanya dengan heran. “Kami kemarin mendapatkan surat dari hogwarts jika Evelyn dan si bungsu Malfoy mendapatkan hukuman karena mereka melakukan sesuatu yang berbahaya.”
Harry yang baru saja menyelesaikan mandinya berjalan ke arah Ginny dengan tatapan heran. “Ada apa?”
Ginny hanya menggeleng dan melanjutkan masakannya sementara Albus memandang ayahnya dengan datar sebelum memberikan daily prophet itu kepada Harry.
Harry terdiam beberapa saat sebelum melebarkan matanya. “Ku rasa permintaan Evelyn tak akan terwujud, bahkan tak ada gunanya aku menutup mulut jika Ron mengetahui ini dari daily prophet.”
***
“Selamat siang, Hagrid.”
Hagrid mendongak dan tersenyum. “Selamat siang, Mr. Grissham.” Lalu kembali menatap daily prophet itu dengan serius.
Sandy tersenyum melihat guru pemeliharaan satwa gaibnya. “Tak seperti biasanya kau nampak serius.” Hagrid mengangguk.
“Ini benar-benar kacau, kau tahu.”
Sandy menaikan alisnya memandang Hagrid dengan heran. “Ada apa?”
Hagrid tak menjawab dan menunjukan bagian khusus di mana Malfoy dan Potter di bicarakan. “Ku pikir beberapa anak sengaja mempotret mereka dan menjual berita ini.”
Sandy mengangguk prihatin. “Aku benar-benar tak menyangka jika berita mengenai mereka sungguhan.”
Hagrid tersenyum penuh arti. “Sepertinya para prefek akan sibuk sebentar lagi, Grissham.”
Sandy mengangguk mengiyakan. “Tentu saja, pasti kepala sekolah akan menyuruh seluruh prefek mencari tahu siapa dalang di balik berita ini.”
***
Aula besar di penuhi oleh para siswa yang sedang mengisi perut mereka. Tatapan beberapa anak tertuju kepada Evelyn dan juga Sean. Irene, Bianca, dan Xanders merasa prihatin menatap temannya yang tak berminat menyentuh makanannya.
“Aku tak menyangka berita itu akan cepat sekali menyebar.” Irene membuka suara memandang temannya dengan ragu.
Bianca memutar matanya dan melirik meja Slytherin yang di penuhi oleh anak-anak ular dengan tajam. “Seandainya tak ada hukum, aku ingin mengutuk pelakunya.”
Beberapa pasang mata menatap mereka dengan tatapan penasaran, termasuk dua murid Ravenclaw yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Pria itu tersenyum simpul menatap Irene. “Hai, sayang.”
Irene mengangguk dan menepuk kursi sebelahnya. Sandy duduk disebelahnya sementara seorang gadis yang tak lain adalah Wendy memberikan daily prophet kepada Evelyn.
Wendy menatapnya khawatir, “Apa kau baik-baik saja, Lyn?”
Evelyn mengangguk. “Seperti yang kau lihat.” Gadis itu menerima uluran kertas daily prophet, melihatnya sekilas sebelum melemparnya ke atas meja. “Duduk lah, Wen.”
Wendy mengangguk dan mengambil duduk di sebelah Sandy. Kekasih Irene itu tersenyum prihatin. “Ku pikir berita mu hanya omong kosong, Lyn.” Sandy menatap Evelyn serius, “Tapi, nampaknya setelah ini para prefek akan bekerja keras untuk menemukan pelakunya.”
Bianca menaikan alisnya. “Kau yakin? Tentu saja penulisnya Alma Skeeter.”
Wendy menggeleng. “Bukan, pelaku yang menjual berita ini kepada Alma Skeeter.”
Evelyn mengerang dan menutupi wajahnya. “Aku kalah.” Kelima penyihir itu menatap Evelyn dengan heran. “Apa yang harus aku lakukan?”
“Kalah?” Wendy menatap Evelyn dengan pandangan aneh. “Apa maksudmu, Lyn?”
Evelyn menghela napasnya. “Kemarin sebelum berduel, Sean berkata jika aku kalah. Aku harus mau menemaninya jalan-jalan-“
“Bagus.” Irene berujar penuh semangat. “Ku yakin pasti Malfoy menyukaimu.”
“Irene!”
“Sayang!” Irene mendapat teguran dari ketiga temannya dan juga kekasihnya. Sandy beralih menatap Evelyn. “Lalu, bagaimana hasilnya?”
“Hasilnya seri tapi ia tak mau dan tetap menganggap ku kalah.” Jelasnya yang Bianca menghela napas.
“Slytherin as always.” Ujar Wendy dan Bianca secara bersamaan.
“Aku memahami itu.” Sahut Wendy menenangkan. Bianca melebarkan matanya menatap Wendy garang.
“Tentu saja kau memahami itu, Wen. Kekasihmu juga salah satu dari mereka.”
Wendy meringis mendengar ucapan Bianca. Xanders yang sedari tadi berdiam diri tiba-tiba bertanya Evelyn. “Jadi, kau menyetujuinya?”
“Lakukan saja!”
“Irene!” seru kelimanya.