Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
17



Narcissa dan Lucius mengantar Tiara di peron 9¾. Kemenakan perempuannya akan pergi ke hogwarts untuk mengajar. Ini tiga hari sejak pemberitahuan bahwa Tiara lulus seleksi menjadi salah guru di hogwarts.


“Jangan lupa kirim surat kepada kami, pulanglah saat natal nanti.” Tiara mengangguk mendengar ucapan Narcissa.


Lucius di sana terkekeh menyadari kekhawatiran Narcissa. “kau terlihat seperti saat mengantar Draco pertama kalinya ke hogwarts.”


Narcissa tersenyum membuat Tiara terkekeh.


“Sampai jumpa paman, bibi. Aku akan mengirimkan surat setelahnya tiba di sana.”


Suara kereta terdengar nyaring, menandakan hogwarts express akan berangkat. Setelah berpelukan, Tiara melangkahkan kakinya memasuki kereta dan memilih kursi. Ia menatap keluar jendela dan tersenyum.


Seringaian itu keluar. “Its time to begin.”


Tiara melihat dark mark yang seharusnya menghilang itu pada tangan kirinya. Ia tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia tertawa. Tak sulit untuk mengelabui keluarga Malfoy.


***


Makan malam telah tiba, para murid hogwarts tengah berkumpul di aula. Pesta penyambutan membuat para murid bertanya-tanya, siapa yang akan di sambut. Di meja para Gryffindor, seperti biasa Mark selalu saja bisa menjual informasi baru kepada teman-temannya.


“kau yakin?” Xanders bertanya penasaran.


“Aku yakin sekali, hari ini hogwarts kedatangan guru baru yang akan menggantikan professor Alba.”


Kepala sekolah berdiri memegang sebuah gelas dan mendentingkan sendoknya. “Attention please, malam ini aku sangat senang menjamu para muridku tercinta dan juga orang baru yang akan tinggal dengan kita di hogwarts.”


Suara bisik-bisik para murid membuat kepala sekolah tersenyum. “Mari kita sambut guru pertahanan terhadap ilmu hitam yang baru.” Serunya. “Silahkan masuk, Miss Lestrange.”


Semua murid terkejut, bahkan seluruh murid Slytherin menatap Sean tak percaya. “Apakah ini adalah salah satu dari kerabatmu?” salah satu murid asramanya membuka suara.


Sean hanya mengangkat bahunya.


Kedua pintu aula itu terbuka. Seorang gadis melangkah dengan anggun, gaun hitamnya menunjukan siapa ia sebenarnya. Ia adalah Tiara Lestrange, putri dari Bellatrix Druella Lestrange.


Theo menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya. “Aku benar-benar tak percaya, ia adalah kerabat dari Malfoy.”


Bianca berdecih. “Sudah terlihat dari tampangnya, ia adalah putri dari Bellatrix, harusnya kalian membaca daily prophet.”


Kai dan Christian hanya bersiul melihat Tiara melangkah mendekati kepala sekolah Mcgonagall.


Gadis itu tersenyum. “Terima kasih kepala sekolah atas sambutannya.”


Kepala sekolah tersenyum dan mengangguk. Prof. Mcgonagall mempersilahkan Tiara untuk mengambil alih. Tiara menghadap kepada seluruh murid yang menatapnya. “Perkenalkan, nama ku Tiara Lestrange. Kalian bisa memanggil ku professor Lestrange mulai besok.” Ujarnya mengedipkan mata membuat para siswa bersorak.


Krystal tersenyum menatapnya. “Wow, Sean. Keluargamu memang sensasional.”


Christian mengangguk. “Jika ia adalah putri dari Bellatrix seharusnya ia seumuran dengan ayahmu, bukan?”


Sean menggeleng. “Entahlah, tapi ia masih muda.”


Jason di sana duduk menyeringai menatapnya. “Dia terlihat sungguh Slytherin.”


Setelahnya, kepala sekolah mempersilahkan Tiara duduk dijajaran para guru. Tiara tersenyum manis kepada semuanya. Mereka tak menyangka jika Tiara terlihat masih sangat muda.


***


Hari perdana Tiara mengajar, ia begitu menikmatinya. Di kelasnya ia duduk memandangi murid-murid barunya. Tiara bangkit dari kursinya dan tersenyum manis.


“Baiklah, karena ini hari pertama aku mengajar. Aku akan memberi kalian kebebasan. Mengapa tidak kita gunakan hari pertama kita untuk perkenalan?”


Terdengar suara sorak dari seluruh murid. Bahkan beberapa murid Gryffindor mulai menyukai Tiara. Jangan tanyakan bagaimana reaksi murid Sytherin, tentu saja mereka menyukainya.


Tiara terkenal dengan julukan professor muda, professor yang paling cantik dan seksi, terutama pakaiannya. Pakaian yang ia gunakan benar-benar eksentrik, mirip gaun-gaun milik ibunya.


Tiara mengambil sebuah perkamen yang berisikan daftar nama-nama murid barunya. Ia menyeringai karena menemukan targetnya.


Tiara kembali tersenyum. “Baiklah, saat aku menyebutkan nama kalian, tolong berdiri.”


Tiara mulai mengabsen satu persatu hingga ia menemukan keponakannya. Sean tak kunjung berdiri membuat Tiara tersenyum. “Yang mana Sean Draco malfoy?”


Sean menyeringai. “Ku rasa kau telah mengenalku, Professor Lestrange.”


Tiara menyeringai. “Benarkah?” Tanyanya. “Tapi setidaknya anggota Malfoy mengerti tata cara mengenai sopan santun.” Jawabnya yang membuat beberapa murid Gryffindor terkikik.


Krystal, Kai, Christian dan yang lainnya terkejut ketika putri dari Bellatrix berlaku adil. Tiara berjalan menuju ke


arah Sean. “Dengar, Mr. Malfoy. Aku tak peduli bahwa kau adalah kemenakan laki-lakiku, tapi setidaknya kau cukup mengerti bagaimana tata krama sebelum aku mengatakan-“


Tiara menghentikan ucapannya dan menyeringai. “Lima poin dari Slytherin.”


Seluruh murid berdecak kagum melihat bagaimana adilnya Tiara memperlakukan murid-muridnya. Tatapan Tiara yang awalnya lembut berubah menjadi tajam. “Ini juga berlaku untuk kalian semua, selama kalian mengerti tata krama, nilai asrama kalian tak akan ku potong.”


Tiara kini kembali ke tempat duduknya.


Krystal terlihat kesal. “Maaf, Professor tapi ini kan hanya-“


Murid Gryffindor dibuat speechless oleh Tiara. Mereka mengira jika guru baru mereka akan memihak Slytherin seperti yang Professor Alba lakukan dulu. Tapi, kenyataan sungguh diluar ekspetasi.


Tak lama setelah kejadian itu, berita mengenai Tiara menyebar luas di seluruh hogwarts. Termasuk beberapa murid yang sering menggosipkan bahkan mengidolakan dirinya. Bianca yang awalnya tak menyukai Tiara berubah menjadi mengidolakannya.


“Ini benar-benar diluar dugaan.” Bianca membuka suara. “Aku tak menyangka jika ia- maksudku jika Professor Lestrange akan berlaku adil.”


Evelyn mengangguk mengiyakan. Mark dan Theo hanya mendengarkan. “Kami tak sabar ingin diajarkan olehnya.”


Bianca mengedipkan matanya. “Bersabarlah dan kau akan menyukainya.”


***


Tapi di sisi lain, Tiara menyeringai. Semua itu hanyalah akting. Ia menemui salah satu siswa Slytherin yang ia kenal jauh sebelum masuk ke dalam hogwarts. Ayolah, sebuah rencana tak akan berjalan sempurna tanpa adanya mata-mata bukan?


Jika mereka mengira itu adalah Sean, mereka salah.


Bahkan Sean tak begitu mengenal bibinya. “Lakukan tugasmu dengan benar.”


Siswa itu mengangguk dan pergi dari hadapan Tiara. Tak selang berapa lama, Sean masuk ke dalam ruangan Tiara tanpa mengucapkan salam.


“Hi, Sean.”


Sean berdecak. “Apa yang kau lakukan, bibi?” Sean menekankan kata bibi pada Tiara.


Tiara menggeleng. “Jangan menyalahkanku, Sean.” Katanya sembari tersenyum. “Kau tak memberiku pilihan, aku tidak bisa tidak berlaku adil.”


“Ini sedikit kasar mengingat kita belum berkenalan.” Tiara tersenyum membuat Sean menatapnya kesal.


“Aku sudah mengenalmu, Scorp sudah menjelaskan bagaimana menyenangkannya dirimu.” Jelasnya dengan nada sarkas. “Tapi, sepertinya aku salah.”


Tiara menyeringai. “Oh tentu, Sean. Tentu.” Jelasnya yang membuat Sean menaikan alisnya. “Karena ini masih awalnya.”


“Apa maksudmu?”


Tiara menatap kemenakan laki-lakinya mantap. “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan kepadamu. Mungkin saja kau tertarik.”


Sean ikut menyeringai. “Baiklah.”


***


Sean keluar dari ruangan Tiara dengan pikiran kacau, bagaimana tidak. Baru sehari bertemu dengan sepupu ayahnya, gadis itu telah menunjukan bagaimana gilanya dirinya. Ia menggeleng pelan, setidaknya rencana Tiara begitu fantastis untuknya.


Dan itu yang diinginkan oleh Sean selama ini, kekuasaan. Persetan dengan keluarganya yang akan mengetahuinya nanti. Sekarang, yang terpenting adalah bagaimana membawa semua pengikutnya tunduk dan Evelyn untuk berada disampingnya. Bukankah semua raja membutuhkan ratunya?


Menyusuri koridor membuatnya tak sengaja bertemu dengan Evelyn yang berjalan sendirian. Gadis itu benar-benar menarik perhatiannya, selama ini tak ada seorang gadis yang bisa menarik perhatiannya.


Gadis itu terlihat sedikit terhuyung, ia tak tahu apa yang dipikirkan oleh Evelyn. Si bungsu Potter benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Sean, ia sedikit merasa ditolak ketika ia mengajak Sean berbicara. Apakah Sean berencana balas dendam dengannya atau-


“Miss Potter.” Sapanya ramah. Evelyn yang awalnya terkejut mulai mengangguk.


“Ada apa, Malfoy?”


Pria itu tersenyum sedih. “Masih tawaran yang sama.”


Evelyn menunduk, meremas jubahnya. “I-itu tak akan berhasil, Sean. Kau tahu-“


“Kita saling menginginkan, Lyn. Jangan bodohi dirimu sendiri.” Potong Sean tanpa


mau mendengarkan ucapan Evelyn.


Evelyn menghela napasnya. “Aku bisa mengingat bagaimana tubuhmu meresponku.”


Sean mengedarkan pandangannya, melihat area sekelilingnya dan bersyukur mereka berada di koridor yang sepi. Ia menarik Evelyn ke tepi koridor.


“Sean-“


Sean menggeleng. “Apa yang salah dariku?” tanyanya menuntut. “Katakan padaku!”


Evelyn terdiam. Jika ia boleh jujur, banyak yang salah dari keduanya. Gadis itu menunjukkan tatapan sedihnya.


“Ayo, kita mulai semuanya dari awal.”


Evelyn mendongak mencari kebohongan dari mata pria itu. “Apakah ini bagian dari rencanamu?”


Sean mengacak rambutnya frustasi. “Demi merlin, aku serius.”


Evelyn mengigigt bibirnya gugup. “Bagaimana keluarga kita, Sean?” detak jantungnya berdegup kencang ketika ia menanyakannya.


Sean melebarkan matanya dan tersenyum setelahnya, ia mengusap pipi gadisnya pelan. “Percayalah! Aku akan mengurus itu nanti.”


Evelyn mencoba tersenyum dan mengangguk. Senyuman Sean merekah menatap Evelyn yang menerima ajakannya. “Kau kekasihku mulai sekarang.”