
Jantung Sean berdetak gugup. Tak mungkin ia ketahuan secepat ini, bahkan usia hubungan mereka masih tiga hari.
Kerlingan nakal muncul pada mata Scorpius. “Wow, Brother. Siapa gadis itu tadi?” Sean bernapas lega, kakaknya tidak mengetahuinya. “Aku tak menyangka jika kau akan menyudutkannya seperti tadi.”
Sean menyeringai. “Malfoy as always, right?”
Nampaknya sifat playboy dari Draco menurun kepada kedua putranya.
Scorpius menyeringai dan memberikan high five yang dibalas oleh Sean. “Right!” pria itu mulai berjalan mensejajarkan langkahnya. “Ia kekasihmu?”
Sean mengangguk.
“Great! Cissy dan Mom akan senang mendengarnya.”
“Jangan berani-beraninya kau melakukan itu.” Sean menyeringai menatap kakaknya yang tertawa.
“Kenapa?”
Sean tersenyum. “Karena aku memberitahu mereka sendiri jika aku siap.”
Scorpius menggeleng. “adikku benar-benar menjadi pria besar sekarang.”
“Ugh, Shut up Scorp!” katanya kesal. “Aku sudah dewasa. “Bahkan umurku sudah tujuh belas tahun.”
Scorpius tertawa. “ Ya, ya.. i know, kau sudah bisa membuat anak dengan umur segitu.” Sean yang mendengar itu hanya bisa memerah. “Haha, sudahlah. Di mana ruangan Tiara?”
***
Terdengar suara ketukan yang membuat Tiara menggumamkan kata masuk. Scorpius dan Sean masuk ke dalam ruangannya. Gadis itu tersenyum melihat kedua kemenakannya.
“Hi, Tiara.” Sapa Scorpius yang membuat Sean menaikan alisnya.
“Kau tak memanggilnya bibi?”
Tiara terkekeh. “Sebenarnya aku tak cukup tua untuk kau panggil dengan sebutan bibi, Sean.”
Scorpius menyeringai. “See, dia menyenangkan bukan?”
Sean berdecih.
“Sebenarnya Tiara telah membantuku dari kejaran para wanita.” Jelas Scorpius yang membuat Tiara tertawa.
“Ya, mereka begitu percaya saat aku mengatakan bahwa aku adalah kekasih kakakmu. Kurasa mereka kurang membaca daily prophet.” Sahut Tiara menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk.
Scorpius menyeringai. “Tapi itu menyenangkan.”
Sean menggeleng heran, sepertinya Scorpius menemukan penyihir yang sama gilanya dengan dirinya.
“Tentu saja, apa gunanya keluarga.” Tiara menyeringai.
‘Cih, keluarga.’ Batin Tiara.
Sean keluar dari ruangan Tiara begitu urusan selesai. Melihat wajah suntuk Sean membuat Tiara menatap Scorpius heran. “Ada apa dengannya?”
Scorpius tertawa. “Ia hanya kesal, aku memergokinya berciuman dengan kekasihnya.” Tiara tersenyum, tak begitu
terkejut. “Apa kau tahu siapa kekasihnya, sepertinya ia menggunakan jubah seragam merah.”
“Tentu saja.”
“Jadi, siapa namanya?” Scorpius menatap Tiara berharap. “Sean benar-benar menjalin hubungan dengan gadis Gryffindor?”
Tiara menyeringai. “Ya, ia gadis Gryffindor.”
“Jangan membuatku penasaran.”
Tiara tertawa. “Kenapa tak kau cari saja sendiri?”
Scorpius menggeleng. “Sean pasti akan menyembunyikannya.”
Tiara menyeringai. “Sayang sekali, aku juga tak bisa memberitahumu jika begitu.”
***
Evelyn kembali ke ruang rekreasinya dengan wajah memerah. Ia tak menyangka jika Sean akan memojokannya dan menciumnya, secara tak langsung ia menyadari jika Sean mengklaim dirinya secara terang-terangan.
Hati Evelyn berdebar membuatnya tak menyadari kehadiran Bianca di ruang rekreasi yang menatapnya heran.
Evelyn mendongak dan tersenyum.
“Wajahmu memerah, apa kau sakit?”
Evelyn menggeleng. “Aku- aku hanya lelah.”
Bianca mengangguk dan meninggalkannya sendiri dengan hati yang masih berbunga-bunga.
Secepat mungkin ia masuk ke dalam kamarnya. Evelyn merebahkan tubuhnya dan memandang langit-langit kamarnya. “Aku benar-benar tak menyangka ini akan terjadi.”
Setelah kembali dari ruangan Tiara, Sean kembali ke dalam ruangannya. Di sana ada beberapa anak tahun pertama yang menyapanya dengan sopan. Sean hanya mengangguk, tentu saja ia tak mungkin menakuti anak-anak pertama.
Pernah suatu ketika ia mengutuk Christian dan Kai untuk meluapkan kekesalannya, ia mengutuk keduanya dengan menggunakan kutukan cruciatus tanpa sepengetahuan anak-anak pertama. Bagi Sean, murid tahun pertama adalah bibit-bibit yang akan siap di panen suatu saat untuk mempelajari ilmu hitam.
“Sean.” Krystal berseru saat melihat kehadirannya. “Ini ada titipan untukmu.”
Sean menerima sebuah buku dari Krystal. “Professor Lestrange yang memberikannya kepadaku, ia berkata kau harus mempelajarinya dan melarangku untuk membukannya.” katanya sebal.
Sean menyeringai saat melihat Krystal bersiap meninggalkan ruang rekreasi Slytherin. “Mau kemana kau?”
“Menemui Jessica, kakakku itu memiliki rencana kecil untuk menyakiti Yocelyn.” Jelasnya menyeringai. Benar, sudah menjadi rahasia umum antara Jessica murid Slytherin tahun ketujuh dan Yocelyn, murid Hufflepuff yang tak pernah akur.
Sean mengangguk. “Ah, sebentar. Lusa adakan pertemuan kecil dan kalian pasti suka ini.”
Krystal menatapnya berbinar. “Oh, aku mengharapkan kau memperbolehkanku mengutuk Avalee.”
Sean benar-benar menggeleng melihat tingkah pengikutnya yang satu ini, Krystal benar-benar seorang Slytherin sejati sama seperti dirinya.
Setelah kepergian Krystal, Sean kembali menuju kamarnya dan melihat buku apa yang membuat ia harus membacanya.
RITUAL PEMANGGILAN MAKHLUK KUNO
Sean mengulas senyuman, bibi mudanya itu selalu menunjukan hal-hal di luar dugaan. Scorpius benar jika Tiara adalah orang yang sangat menyenangkan. Menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Apapun yang ia lakukan akan menjadi rahasianya dan Tiara, karena ia tahu jika gadis itu akan membantunya.
Tak akan ada lagi Voldemort selain Sean yang akan berkuasa.
Sean menatap buku-buku itu dengan minat, ia membalikan halaman-halaman itu dengan tatapan kagum. Seorang raja akan membutuhkan peliharaan untuk selalu menghiburnya.
***
Tiara hanya bisa menghela napas menghadapi Scorpius, pria satu itu benar-benar duplikat dari Draco.
Bagaimana ia bisa tahu?
Tentu saja, selama ini ia terus memata-matai keluarga Malfoy. Bukankah ia lebih cocok menjadi seorang aktris daripada guru?
Seharusnya seperti itu. Dendam dalam hati Tiara tak akan surut, ia harus segera menyelesaikannya dan kembali ke Albania untuk hidup tenang setelah-
Setelah membuat keluarga Malfoy dan Potter hancur, karena mereka berdua yang membuat ibunya mati.
Ia tak peduli siapa yang bersalah, ia tak peduli dengan siapa yang membunuh ibunya. Tiara hanya tahu jika saat itu
keluarga Malfoy kabur meninggalkan Bellatrix sendiri dan yang ia tahu Harry yang memenangkan peperangan itu.
Gadis itu bangkit dari peraduannya dan membuka sebuah box kecil. Ia memegang sebuah botol berisi cairan tak berwarna dan berbau. Setelah ini, ia akan menghancurkan mereka perlahan-lahan.
“Tunggu aku, bu.”
Sebuah ketukan pintu terdengar membuat Tiara segera meletakan botol itu ke dalam kotaknya. Ia menggumamkan kata masuk dan melihat siapa yang masuk.
Seulas senyum ia tunjukan kepada salah satu ksatrianya. “Misstress.” Sapanya yang membuat Tiara mengangguk.
Tiara mengayunkan tongkatnya. “Muffliato.” Ia merapalkan sebuah mantra peredam suara. “Aku tak ingin mengambil risiko jika ada yang mendengar pembicaraan kita.”
Siswa Slytherin itu mengangguk.
“Baik, apa yang kau dapatkan hari ini?”
Siswa itu menyeringai. “Sean telah menerima bukunya.”
Tiara tersenyum. “Bagus, pastikan semuanya berjalan lancar.”
Ia mengangguk. “Siap misstress.”