Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
25



Keluarga Harry baru saja tiba di Burrow. Di sana Ron, Hermione dan Weasley lainnya sedang berkumpul menunggu kedatangan mereka. Kematian Arthur satu tahun yang lalu cukup membuat Molly terpukul, namun ia masih memiliki cucu-cucunya yang selalu menghibur.


“Uncle.” Evelyn berseru memeluk Ron.


Pria itu membalas pelukan Evelyn membuat beberapa Weasley lainnya menggeleng. Molly di sana dengan senang menyambut kedatangan Ginny dan memberinya pelukan singkat.


“Bagaimana hari-hari kalian?” pertanyaan kecil Molly dibalas senyuman oleh Harry dan Ginny.


“Banyak hal yang terjadi, Molly.” Jawab Harry setelah dipersilahkan masuk.


Hugo dan Rose menatap ayahnya tak percaya. “Aku benar-benar merasa dianak tirikan oleh dad ketika Eve datang.”


Hermione tersenyum geli ketika mendengar pengakuan putranya.


Evelyn dan Ron pun masuk ke dalam. Di sana ia melihat paman Charlie, Paman Percy, Paman Bill dan bibi Fleur, bahkan di umurnya yang menua bibi Fleur tidak berkeriput sama sekali. Oh, jangan lupakan bahwa Fluer adalah keturunan seorang Veela.


“Kau tahu, aku sudah tak sabar mendengarkan cerita mu di Hogwarts.” Kata Ron yang sedikit membuat Evelyn gugup. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban sopan.


Bill menatap adiknya tak percaya. “Biarkan dia duduk terlebih dahulu.”


Molly benar-benar tak percaya melihat tingkah Ron, apakah pria itu tak malu dengan anak-anaknya. Semua orang tahu alasan Ron suka sekali berbicara dengan Evelyn karena keponakannya itu sedikit tidak akur dengan putra Malfoy.


“Jadi, apa lagi yang terjadi kali ini?”


Ginny mendaratkan tamparan pada bahu Ron. “Apa kau mengharapkan putriku melakukan sesuatu yang berbahaya dengan Malfoy, Ron?”


Ron mengusap bahunya, sakit. “Aww, aku hanya penasaran.” Jawabnya tak terima.


Merayakan natal di Burrow membuatnya senang. Tapi ia juga tak mengingkari bahwa ia merindukan Sean. Kenapa sampai saat ini Sean belum mengirimkan sebuah surat, apakah ia harus mengirimkan surat terlebih dahulu?


***


Delphi menatap sebuah rumah kosong itu dengan pandangan tak percaya. Tiara mengatakan bahwa rumah yang ada dihadapannya adalah rumah milik ayahnya.


Ya benar, itu adalah rumah milik ayah Tom, yang artinya kakek Delphi. “Ini Riddle manor.” Katanya singkat. “Dan mulai sekarang kau akan tinggal di sini.”


Tiara mengajaknya masuk ke dalam Riddle manor. Memang rumah itu benar-benar tak terawat terlihat betapa tebalnya debu dan sarang laba-laba yang bertebaran dimana-mana.


“Kau dan aku akan tinggal di sini, tapi aku akan sering meninggalkan mu karena aku harus mengurus sesuatu.” Jelasnya yang membuat Delphi mengangguk.


“Jangan khawatir, kau tak perlu membersihkannya.” Delphi menaikan alisnya ketika mendengar perkataan Tiara. “Karena ada dua peri rumah yang aku tugaskan untuk menjaga dan merawatmu sementara aku tak berada di manor.”


Tiara menjentikan jarinya, terdengar dua bunyi puff halus yang muncul secara bersamaan. “Yes, Mistress.”


Dua peri rumah itu membungkuk menunggu perintah yang akan diucapkan oleh Tiara. Peri yang satu menggunakan rok usang dan yang satunya nampak menggunakan sarung bantal dengan noda kotor.


“Selama aku tak ada, kalian harus menjaga Delphi.” Katanya yang mendapat anggukan. “Delphi adalah seorang pure blood. Putri dari dark lord, kalian harus melayaninya dengan baik.”


“Siap, mistress.”


“Dan satu hal lagi, aku ingin seluruh manor bersih.”


***


Kembali ke Malfoy manor, semua bergembira termasuk Sean. Tapi, ia tak bisa melupakan bahwa ia juga merindukan seseorang. Sean tiba-tiba bangkit meminta salah satu peri rumah untuk mencarikannya seekor


burung hantu untuk mengirimkan surat.


Astoria yang melihat itu sedikit penasaran, karena putra bungsunya tak pernah mengirimkan surat atau apapun bahkan pada teman-temannya.


“Mau mengirim surat, mate?” Scorpius merangkul adiknya yang mendapat tatapan datar dari Sean. “Aku tahu siapa


yang akan mendapatkan surat darimu. Pasti gadis itu kan.” Suara Scorpius menggema membuat Astoria dan Draco mendengarnya.


Astoria tersenyum.


Seorang gadis?


Putranya memiliki perhatian kepada seorang gadis.


Demi merlin, ini adalah kado natal terbaik untuknya. “Benarkah itu, Son?” tanya Astoria kepada Sean.


“Tentu saja, mom.” Sahut Scorpius yang menyeringai. “Sean telah memiliki seorang kekasih di Hogwarts. Aku tak sengaja menemukan Sean saat mencium kekasihnya dengan mesra.” Penjelasan Scorpius membuat Draco menyeringai.


“Well, yeah. Aku tak marah. Memang pesona Malfoy seperti itu.” Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Draco ketika Astoria melotot menatap suaminya.


Narcissa di sana benar-benar senang mendengarnya. Lucius pun juga tak mempersalahkannya, tapi berbeda dengan Sean. Mereka tak akan mempersalahkannya jika kekasihnya adalah seorang pureblood.


“Ayolah mate, ceritakan gadis gryffindor itu kepada kami.”


Sean benar-benar kesal menatap kakaknya. Ia melepaskan tangan Scorpius dari bahunya. Astoria dan Narcissa hanya tersenyum melihat kegugupan yang tercetak jelas pada wajah Sean.


“Gryffindor?” Draco sedikit menaikan alisnya. Namun, ia kemudian tersenyum. “Pureblood kan, dad tak akan ragu dengan pilihanmu.”


Sean merasa dihantam oleh palu besar ketika ayahnya mengatakan hal itu. Tentu saja bukan, Evelyn bukanlah seorang pureblood seperti keluarganya. Jika saja kakeknya tahu, tamatlah sudah riwayatnya.


“Kalian tak marah jika aku menjalin hubungan dengan gryffindor?” Sean menaikan alisnya menatap ekspresi keluarganya satu persatu.


“Kenapa aku harus marah, son. Ayahmu bahkan jauh lebih dari itu.” Kata Astoria menahan kesal. “Ayah mu bahkan sempat menjalin hubungan diam-diam dengan gadis gryffindor dibelakang ku waktu itu.”


Narcissa melirik putranya tak percaya. “Apa itu benar, Draco?”


Sementara Scorpius menahan tawanya melihat bagaimana ayahnya disudutkan oleh dua wanita penting dihidupnya. Lucius menggelengkan kepala. Seingatnya, ia dulu tak pernah melakukan hal yang dilakukan oleh putranya dan Sean sekarang mengikuti jejak ayahnya.


Malfoy’s merayakan natal dengan bahagia, Sean tak lupa mengirimkan sebuah surat beserta kotak kecil berwarna merah kepada Evelyn. Ia yakin Evelyn akan menyukai hadiah darinya.


“Antarkan bingkisan ini kepadanya.”


Burung hantu itu berhuhu sebagai jawaban.


***


Keluarga Weasley dan Potter menikmati makan malan mereka dengan tenang. Terkadang paman-pamannya bersikap layaknya anak-anak ketika berkumpul bersama membuat mereka malu bahkan tertawa.


Suara ketukan jendela membuat Rose terdiam dan bangkit dari kursi. Ia membuka jendela dan mendapati seekor burung hantu berwarna abu-abu muncul dengan sebuah surat dan kotak kecil. Rose memberi burung hantu itu sepotong daging kecil setelah menerima surat tersebut.


Ia melirik suratnya dan membaca nama Evelyn tertera diatasnya. “Lyn, this is for you.”


Ginny ikut melirik dan tersenyum. “Mungkin dari kekasihmu.”


Evelyn langsung menerimanya dengan wajah memerah.


“Evelyn memiliki kekasih?” Rose berseru saking terkejutnya dan itu membuat seluruh keluarga Weasley menatapnya penasaran.


Ron pun menatap kemenakannya dengan penasaraan. “Wow, Lyn. Siapa pria yang berhasil memenangkan hatimu.”


Hermione terkekeh mendengar ucapan suaminya. “Setidaknya aku yakin ia adalah pria yang pintar.” Ron berdecak mendengar jawaban istrinya.


“Kau bahkan mencintai ku walaupun aku bodoh.” Serunya tak terima.


Bersyukurlah Evelyn, keluarganya tak mengharapkan jawaban darinya ketika Ron dan Hermione melakukan perdebatan kecil.


Evelyn memilih untuk pergi ke ruangannya untuk membuka sebuah kotak berwarna merah, di dalamnya ada


sebuah surat yang membuat tersipu malu. Bukan hanya Sean yang merindu tapi keduanya.


Setelah membaca suratnya, ia menutup kotak itu dan melirik sebuah kalung cantik dengan permata hijau sebagai liontinnya. Evelyn merasa geli, ia tentu tahu jika Sean tak menyukai warna apapun selain hijau.


“Kau suka hadiahnya?”


Evelyn terjengit kaget mendapati ayahnya dibelakangnya, Harry menatap takjub dengan hadiah yang diterima putrinya, sepertinya sangat mahal.


Dengan wajah memerah Evelyn mengangguk.


“Apa yang paling kau sukai, surat atau kalungnya?”


“Suratnya, dad.” Harry mengangguk mendengar jawaban putrinya.


“Aku tak menyangka kekasih mu sekaya itu, melihat hadiah yang dikirimkannya kepadamu.” Kata Harry pelan. “Kau benar-benar menjalin hubungan dengan pria Slytherin?”


Harry terkekeh melihat warna liontin kalung tersebut, Evelyn di sana tersenyum malu.