Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
20



Liburan natal hampir tiba, kematian professor Alba membuat Sean dan Evelyn lepas dari masa detensi mereka, yang artinya mereka bisa merayakan natal bersama keluarganya. Tentu saja, Evelyn merindukan paman-pamannya dan juga orang tuanya. Ia tak sabar akan bercerita banyak tentang apa yang ia alami kecuali-


Kecuali hubungannya dengan Sean.


Tidak, ia tak akan merusak natalnya dengan berita semacam itu. Ia dan Sean telah berjanji untuk menyembunyikan hubungan mereka hingga saatnya tiba.


Irene mendongak dari perkamen yang ia kerjakan. Rasa letih telah menghampirinya termasuk seluruh siswa-siswi Gryffindor lainnya. Saat ini mereka sedang mengerjakan tugas dari professor Slughorn mengenai ramuan pendeteksi tanggal kelahiran.


“Demi Merlin, apa tidak ada tugas yang lebih ringan lagi?” Irene berdecak menatap tugas Bianca yang belum selesai.


“Kau benar, aku tidak menyukai tugas si tua itu kali ini.”


Evelyn tersenyum menatap keduanya. “Ini tidak sulit kok.”


Xanders berdeham disebelahnya. “Aku tak yakin mendapatkan Outstanding kali ini.”


Evelyn tertawa melihat reaksi ketiga temannya.


Tatapan letih Irene berubah menjadi ceria. “Ah, apa rencana kalian saat liburan nanti?”


Xanders berpikir. “Ku rasa aku akan merayakannya di rumah nenek ku.”


Bianca tersenyum. “Aku berlibur ke London, ayahku memiliki teman di sana dan kami berencana menginap.”


Irene mengangguk semangat. “Sandy akan merayakan natal bersama kedua orang tuanya dirumah ku.”


Bianca tersenyum. “Terdengar menyenangkan.” Lalu ia menatap Evelyn. “Bagaimana denganmu, Lyn?”


Evelyn mendongak dari perkamen miliknya. “Tentu saja merayakan natal di rumah paman Ron.”


Xanders menatapnya kagum. “Kau beruntung lahir ditengah-tengah keluarga mereka, bahkan ibuku sangat mengagumi pamanmu.”


Irene ikut mengangguk. “Siapa yang menyangka jika kau adalah putri dan keponakan dari trio golden.”


Membicarakan liburan natal membuatnya berpikir apa yang dilakukan Sean nantinya. Apakah ia harus mengiriminya sebuah surat atau- entahlah, ia sendiri tak tahu harus melakukan apa.


***


Sean sudah menentukan benda-benda apa yang akan dijadikannya sebagai Horcrux nanti. Saat ini ia pergi mengunjungi ruangan Tiara dan akan membicarakan sedikit mengenai buku yang baru diberikan oleh gadis itu.


Tiara tersenyum menatap Sean yang sudah berdiri dihadapannya. Sean berdiri dengan penuh percaya diri.


“Muffliato.”


Sean menyeringai melihat bagaimana cara Tiara menjaga rahasia kecil mereka. “Aku benar-benar senang dengan cara kerjamu, Tiara.”


Tiara tersenyum. “Sudah menjadi tugasku membantumu meraih kekuasaan bukan?” Sean mengangguk. “Well, apa yang membuatmu kemari?”


“Aku ingin membicarakan Horcrux.”


Tiara merasakan kedutan pada sudut bibirnya. Ia berusaha menahan senyum lebarnya saat Sean memberikan jawaban yang sangat memuaskan. “Ah, ada apa?”


“Aku membutuhkanmu untuk mencari beberapa benda yang berguna sebagai media penyimpan jiwaku.” Jelasnya yang membuat Tiara mengangguk. “Dan, aku ingin kau membantuku dalam pemanggilan mahkluk kuno.”


“Sure.”


Sean tersenyum tipis. “Jika Voldemort memiliki Nagini, maka aku harus punya satu dan berbeda dengan yang itu.”


“Jadi makhluk apa yang akan kau pilih?” Tiara tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Sean menatapnya penuh seringai. “Pithon.” Tiara menaikan alisnya tak mengerti. “Ada alasan mengapa aku memilih Phiton. Makhluk itu adalah makhluk kuno naga berbentuk ular yang di utus oleh Hera untuk membunuh Leto.”


“Leto? Ibu dari dewa Apollo?”


Sean mengangguk. “Nagini adalah nama dari Naga betina yang dimiliki oleh Voldemort, sebenarnya aku sendiri cukup bingung kenapa dark lord harus memelihara makhluk betina daripada jantan.”


Tiara mengangkat bahunya. “Sayang sekali, aku tak bisa memberi komentar apapun. Jika saja dark lord tak dibunuh mungkin kau bisa menanyakannya sendiri.”


“Bisa, kita mulai sekarang?”


Tiara mengangguk. “Sebaiknya kita mencari tempat yang aman.”


Sean tersenyum. “Aku sudah menemukannya. Kita akan pergi ke hutan terlarang.”


***


Krystal dan Christian sedang berjalan menuju rekreasi, kedua penyihir Slytherin itu sedang membahas masalah pertemuan rahasia yang diinginkan oleh Sean.


“Jadi, bagaimana jika kita memulainya besok?”


Christian mengangguk. “Sudah lama kita tak mengadakan pertemuan ini. Yah, semenjak kita mengutuk seseorang saat itu.”


Krystal menyeringai. “Sebenarnya aku mengharapkan lebih, aku ingin sekali mengutuk Avalee. ******* kecil itu benar-benar merebut semuanya dariku.”


Christian menaikan alisnya dan kemudian tertawa. “Apa ini masih tentang Grissham?”


Krystal menggeleng. “Ku akui, aku memang menyukai Sandy. Tapi, setelah ia menjalin hubungan dengan Russell aku kehilangan minat.”


Christian mengangguk. “Lalu, apa yang membuatmu terus saling beramah tamah dengan Avalee seperti itu?”


Christian tersenyum. “Aku bisa membantu jika kau mau.”


Krystal berhigh five dengan kekasih Wendy.


Tak lama setelahnya, terdengar suara langkah kaki disepanjang koridor. Krystal dan Christian menghentikan percakapannya dan menatap siapa yang sedang lewat. Nampaknya Merlin sedang memihak Krystal, ketika mereka mendapati Bianca yang berjalan sendirian.


Christian sedikit bersiul melihat bagaimana bagusnya tubuh Bianca. Krystal menyeringai menatap temannya. “Chris, bagaimana jika kita bersenang-senang sekarang?”


Christian terkekeh. “Dengan senang hati.”


Christian dan Krystal tiba-tiba berhenti didepan Bianca. “Wah-wah, kenapa berjalan sendirian?” Christian berseru.


Bianca menyeringai. “Kenapa dua ular kotor seperti kalian berani mengajakku berbicara.”


“Jaga mulutmu, ******* kecil.” Krystal berdesis. Ia mengeluarkan tongkat dari jubahnya.


“Ah, kau mau menantangku?” Bianca tersenyum melirik Christian. “Dan kau, kurasa ini tak adil dua lawan satu. Jadi, seperti ini cara kerja Slytherin. Pengecut sekali.”


Christian dan Krystal geram mendengar ucapan Bianca.


“Tutup mulut mu, Avalee.” Krystal berdesis. “Berani sekali kau menghina kami seperti itu.”


Bianca tertawa mengeluarkan tongkat dari balik seragamnya. “Ow, aku takut sekarang.” Ejeknya. “Aku hanya tak menyangka gadis sombong sepertimu begitu lemah hingga memerlukan bantuan Mayer untuk menghadapiku.”


Gigi Christian bergemelatuk menahan amarah. “Aku tak menyangka kau memiliki bakat provokasi yang sangat tinggi, aku heran kenapa kau tidak masuk Slytherin saja.”


“Dalam mimpimu.”


***


Sean dan Tiara tiba ditengah hutan terlarang, putra Draco mengambil sebuah ranting dan menggambarkan sebuah pentagram di atas tanah. Sementara Tiara mengayunkan tongkatnya, gadis itu mencoba membuat dinding penghalang agar tak ada yang mengganggu ritual Sean. Dinding sihir berwarna jingga telah mengelilingi keduanya. Sean mengangguk pada Tiara dan mengeluarkan buku pemberian gadis itu.


RITUAL PEMANGGILAN MAKHLUK KUNO


“Sean, sebelum kita memulainya. Aku ingin bertanya?” Sean mengangguk. “Bisakah kau menggunakan parselmouth?”


Sean menyeringai. “Sure.”


Tiara melebarkan matanya dan tersenyum seperti gadis sinting. Seandainya Hermione berdiri di sana, wanita itu akan berseru bagaimana miripnya Tiara dengan ibunya.


Sean segera membuka halaman yang ia cari. Penyihir itu terfokus hingga ia membaca sebuah beberapa kalimat yang diketahui oleh Tiara. Siapa sangka jika Tiara juga seorang parselmouth.


Sebuah sinar muncul kepermukaan membuat Tiara dan Sean keluar dari garis pentagram tersebut, tak lama setelahnya terjadi sebuah getaran pada tanah yang dipijak oleh keduanya. Tanah yang diatasnya digambarkan sebuah pentagram membelah menjadi dua.


Sosok yang Sean dambakan telah tiba. Ular besar berwarna putih, Phiton itu berdesis ketika melihat siapa yang memanggilnya.


‘Kau yang memanggilku?’


Sean mengangguk. “Ya, aku yang memanggilmu.”


'Apa yang kau inginkan dariku?'


“Kesetiaanmu dan kekuatan, aku bisa memberimu kekuasaan.”


Phiton itu berdesis. ‘Dengan senang hati.’


Bianca merapalkan mantra dan memuncul dinding penghalang membuat Krystal semakin menembakinya dengan berbagai macam mantra. Christian di sana tak melakukan apapun, hanya melihat. Ia tak bisa ikut walaupun ingin, beruntung koridor itu jarang dilewati oleh para murid.


“Kau benar-benar gadis tak tahu diri.” Krystal membentak. “Reducto!”


Bianca menyeringai. “Stupefy.”


Mereka menyerang satu sama lain. “Expelliarmus!”


Sebuah sinar berwarna putih menghamtan tubuh Bianca. Gadis itu terpental menubruk dinding koridor.


Tawa Krystal menggema. “Akui saja kekalahanmu.”


Bianca menyeringai. “Protego!”


Sebuah mantra pelindung menjulang tinggi mengelilingi tubuh Bianca. Gadis singa itu mulai mengayunkan tongkatnya. Sebuah sinar cantik hampir menyentuh tubuh Krystal jika ia tak sadar bahwa Bianca begitu mahir menggunakan mantra non-verbalnya.


Bianca bangkit dari lantai. “Ah, mari kita selesaikan sekarang. Jadi, apa yang kau gunakan nantinya?” Bianca menatapnya tajam. “Apakah kau akan menggunakan mantra cruciatus atau kutukan yang lain? aku pasti sangat senang melaporkan hal ini kepada kepala asramamu.”


“Dasar *******.”


“Language please!”


Ketiganya menegang menatap siapa yang membentak mereka. Seorang guru menatap ketiganya dengan tajam. “Aku tak merasa memperbolehkan murid-muridku untuk melakukan duel di koridor.” Kepala sekolah Mcgonagall menatap mereka dengan tajam. “Aku benar-benar kecewa denganmu. Mr. Mayer, seharusnya kau bisa menghentikan hal ini terlebih dihadapan anak-anak tahun pertama.”


Benar.


Dibelakang kepala sekolah ada tiga murid tahun pertama yang menatap mereka ketakutan. Dua murid Ravenclaw dan satu murid Gryffindor bersembunyi dibelakang tubuh kepala sekolah.


Christian memasang topeng bersalahnya. “Lain kali tidak akan terjadi, kepala sekolah.”