
Lucius baru menyelesaikan buku bacaannya, tatapannya tertuju pada kotak ramuan pemberiaan Tiara. Pria tua itu
tersenyum, ketika mengingat Tiara memberinya hadiah lain. Ramuan khusus yang dibuat untuknya agar terus bisa menemani istrinya, walaupun tak bersifat abadi tapi setidaknya ia akan memiliki umur yang panjang.
Ia berterimakasih kepada Merlin, telah mendatangkan Tiara ke dalam kehidupan istrinya. Lucius segera membuka kotaknya, hanya ada satu botol kecil. Tanpa ragu-ragu, Lucius membuka tutup botol tersebut dan meneguk ramuan itu hingga tandas. Setelahnya Lucius memilih untuk tidur dan menunggu Narcissa pulang.
***
Tiara duduk dengan santai menatap makhluk kuno milik Sean. Python berwarna putih itu berdesis dan meliuk-liukan
tubuhnya. “Kau tunggu saja, sebentar lagi aku akan memperkenalkan seseorang kepadamu.”
Tak lama kemudian, Sean datang diikuti oleh Kyrstal dan Vernon yang menyeret seorang pria paruh baya.
Tiara tersenyum puas, Krystal dan Vernon membawakan seseorang yang berani menentang dirinya. Tentu saja, Krystal dan Vernon tak melakukannya secara sadar, kalung pemberian Tiara memberi efek yang sangat dashyat kepada si pemakai untuk menuruti semua perintah yang diberikannya.
Mata Krystal dan Vernon berkilat hitam, berbeda dengan Sean, Si bungsu Malfoy. Tiara tak perlu memberikan Sean
pengaruh sihir, karena kemenakan laki-lakinya yang melakukan semua yang direncanakan.
“Jadi, apa yang kalian bawa?”
Sean menyeringai kepada sang korban, pria tua itu menatap Tiara ketakutan. “Aku hanya membawa sarapan untuk
Python milik ku.”
Tiara tertawa dengan anggun, “kenapa kau sekejam ini, Sean?” sindir Tiara, “apa kesalahan yang dilakukannya?”
Sean menoleh. “Ia tak memberiku informasi mengenai Horcrux.”
Tiara bangkit dari singgahsana miliknya. Ia berjalan mendekati sang korban.
“Kumohon, le-lepaskan aku.” Pintanya, “Aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan.”
Tiara melirik Sean, “Bagaimana, Sean?”
Sean menggeleng, “Dia berbohong, aku sudah mengetahui pikirannya.”
Pria paruh baya yang diseret oleh Krystal dan Vernon adalah seorang petugas perpustakaan Sihir. Lelaki yang
bernama Eugene itu memang tak berniat memberitahu apa yang diinginkan oleh Sean. Eugene adalah penjaga perpustakaan yang tinggal di Leaky Cauldron.
Tiara berjalan mendekati Krystal, “Griffiths, lakukan sesuatu. Hiburlah aku!”
“Dengan senang hati, professor.” Krystal tersenyum menatap pria paruh baya yang berusaha membebaskan dirinya
dari ikatan Vernon. “Crucio!”
“Arrghh!”
Pria itu terjatuh dan menggeliat kesakitan setelah Krystal merapalkan mantra kutukan..
Sebelumnya, Kai mendapatkan informasi mengenai Horcrux. Walaupun sudah lama orang-orang tak membahasnya, pria bernama Eugene mengetahui bagaimana cara membuat Horcrux. Dan Sean membutuhkan informasi tersebut, ia merasa tak cukup jika hanya berbekal buku pemberian Tiara.
Krystal menghentikan siksaan, Tiara menatap Eugene penuh minat. “Ada yang ingin kau katakan?”
Eugene tetap menutup mulutnya. Tiara sedikit jengah, “Maafkan aku, tuan. Aku harus menggunakan cara ini.”
Ujarnya pelan, “Legilimens.”
***
Rose Weasley pulang ke Burrow, gadis itu mendudukan dirinya dan menghela napas lelah. Hermione menatap
putrinya dan tersenyum lembut. “Hari berat, sayang?”
Rose mendongak dan mengangguk. “Mom, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi kepada Malfoy.” Katanya pelan.
Ron yang awalnya sedang menikmati kopinya tiba-tiba terhenti, “Ada apa, Rose?” tanyanya heran, “Apakah ini
berhubungan dengan Evelyn?”
Putrinya menggeleng, “Lucius Malfoy meninggal.”
Kopi Ron jatuh, beruntung Hermione segera mengayunkan tongkatnya untuk membersihkan kopi yang tumpah dan pecahan gelas dilantai.
“Saat auror menuju ke Malfoy Manor, Hugo juga pergi kesana dan-“
“Dan apa?” tanya Hermione tak sabaran.
“Demi Merlin.” Ucap Hermione, “Apakah itu benar?”
Rose menggeleng, “Mungkin Hugo bisa memberitahu setelah ia pulang. Aku hanya tahu bagaimana raut wajah
Scorpius ketika salah satu peri rumahnya memberi kabar kematian Lucius Malfoy.”
***
Narcissa menangisi Lucius yang masih terbaring di atas ranjangnya. Draco dan Astoria merasa sedih dengan
perginya Lucius secara tiba-tiba, pria paruh baya itu menyentuh pundak ibunya. “Mom.”
Narcissa menggeleng, “Tidak. Aku tidak akan meninggalkan ayahmu sendirian.”
Astoria menatap Draco yang menganggukan kepalanya, Narcissa tak henti-hentinya menangis dan bersikukuh
tinggal disamping Lucius. Tanpa Narcissa ketahui, Draco mengeluarkan tongkatnya, “Im sorry, mom.”
Mantra non verbal ia lakukan. Setelah mengayunkan tongkatnya, Narcissa jatuh pingsan. Scorpius buru-buru
pulang bersama dengan beberapa auror. Hugo, si bungsu Weasley memilih berdiam diri dan melakukan tugasnya.
Beberapa rekannya memeriksa lokasi kamar Lucius, tak ada jendela yang dibuka paksa, tak ada tanda-tanda adanya sihir, dan tak adanya bekas-bekas perlawanan. “Kau urus saja semuanya, ayah akan membawa nenek mu kekamarnya.”
Scorpius mengangguk dan menatap neneknya, ia bisa melihat bekas airmata yang menuruni pipi Narcissa.
Berita kematian Lucius Malfoy beredar diseluruh daily prophet edisi baru. Pemakaman Lucius akan dilaksanakan pada pagi hari. Suasana aula begitu mencekam bahkan seluruh murid Slytherin tak ada yang berani mengusik Sean.
Christian membaca rentetan kalimat di daily prophet dengan susah payah. Ia menoleh pada Kai, laki-laki yang membawa daily prophet itu. “Apakah Sean mengetahui ini?” bisiknya yang dibalas gelengan.
“Aku tak berani memberitahunya. Kau saja.”
Christian berdecak. Suara derap langkah membuat Christian segera menutup daily prophet yang ia pegang, laki-laki bersurai pirang platina duduk dihadapan dan mengambil semangkuk sereal.
Melihat gelagatnya, Sean terlihat belum mengetahui apapun. Ia hanya merasa asing kepada beberapa siswa atau siswa yang menatapnya prihatin. Apakah baru saja ada yang mengasihaninya?
Sean menghentikan suapannya, ia berdeham. “Sebenarnya ada apa dengan mereka?”
Christian dan Kai saling tatap. Kedua laki-laki itu menatap Sean takut, Dengan tangan bergetar Christian menyerahkan daily prophet kepadanya.
Laki-laki itu menatap gelagat aneh Christian, “Ada apa sebenarnya?”
Christian menggeleng, “Im so sorry, Sean.”
Sean menyahut daily prophet tersebut tanpa mengindahkan ucapan Christian, ia membukanya dengan kasar. Deretan kalimat membuat matanya melebar dan membanting daily prophetnya begitu saja.
Lelaki itu berbalik sebelum menemukan kepala sekolah Mcgonagall. “Mr. Malfoy, ada sesuatu yang perlu kau
temui.”
Sean mengikuti langkah kaki kepala sekolah menuju ruangan wanita tua tersebut, ia mengepalkan tangannya
menahan marah. Siapa yang berani menyebarkan berita bohong mengenai kakeknya. Ia bersumpah akan membunuhnya.
Tapi amarah Sean meluap begitu saja ketika mendapati ibu dan ayahnya diruang kepala sekolah. “Mom?” tanyanya bingung.
Ia mendapati Astoria yang menitikan air mata. Sementara ayahnya menunjukan ekspresi lelah, tak tersenyum seperti biasanya. “Sean.”
“Ada apa ini?”
Kepala sekolah Mcgonagall memilih untuk berdiam diri, wanita tua itu memberi ruang untuk keluarga Malfoy dan
pergi meninggalkan ruangannya sendiri. Menatap perginya kepala sekolah membuat hati Sean berdebar.
Si bungsu Malfoy menggeleng, “Ini pasti bohong kan?” serunya pelan.
Astoria mencoba meredakan tangisannya, sementara Draco menatap putranya bingung. “Apa kau membaca daily prophet pagi ini?”
“Bohong!” serunya menahan amarah, “Jangan bermain denganku, dad.”
Draco menggeleng, “Kami meminta ijin kepada kepala sekolah agar kau bisa menghadiri pemakaman-“
“Tidak ada yang meninggal!” desisnya yang membuat Draco terpukul.
Pria paruh baya itu menahan bulir airmata mendengar penuturan putranya. “Sean, im so sorry.”