Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
30



“Evelyn!”


Gadis itu tersentak pelan saat menikmati buburnya. Ia menghentikan suapannya dan mendongak mendapati tatapan Irene yang terlihat gugup. “Lyn, apakah kau telah membaca daily prophet hari ini?”


Evelyn menaikan alisnya dan menggeleng, “Belum, aku belum membacanya. Ada apa?”


“Itu-“


“Potter!”


Evelyn mendapati Mark yang berlarian menghampiri mejanya. Teriakan Mark mengundang tatapan heran dari


beberapa murid yang duduk tak jauh dari bangkunya. “Kau- apakah kau tahu sesuatu?”


Evelyn memandang keduanya dengan bingung. “Sebenarnya ada apa dengan kalian?”


Mark berhenti sejenak, ia berusaha mengambil napas. “Lucius Malfoy… ditemukan meninggal kemarin malam.”


Sendok bubur Evelyn terjatuh begitu saja, ia terlalu terkejut mendengarnya. Matanya tertuju pada meja Slytherin, ia mencari-cari dimana keberadaan Sean.


Melihat arah pandangan Evelyn membuat Irene kebingungan, “Jika kau mencarinya, ia meninggalkan Hogwarts tadi pagi. Mr. dan Mrs Malfoy menjemputnya.”


***


Sean mendapati Tiara sedang menemani Narcissa yang terpuruk diruangan tengah. Sebentar lagi mereka akan melakukan upacara pemakaman untuk Lucius. Narcissa tak bisa menghentikan tangisannya dan memilih untuk memeluk Tiara.


Scorpius menatap kepulangan Sean dengan senyum sedih, ia menepuk bahu Sean. “Maaf, jika kau pulang dengan


keadaan seperti ini.”


Sean memang tak menunjukan tanda-tanda ingin menangis, ia bukan tipe laki-laki yang mudah untuk menangis.


Hanya saja perasaan emosi yang luar biasa meledak-ledak dihatinya.


Beberapa auror masih berada dirumahnya dan bercakap-cakap dengan ayahnya. Sean menatap kakaknya, “Kenapa ada auror disini?”


“Ibu memanggil auror untuk memeriksa keadaan kakek sebelumnya.” Jelasnya pelan, “Mereka mengatakan bahwa


kakek dibunuh.”


“Siapa?”


Scorpius menggeleng, “Kami belum menemukan pelakunya. Auror hanya menemukan sebuah botol ramuan kosong, healer memprediksi jika ramuan yang diminum kakek mengandung racun.”


Seusai pemakaman Lucius dilakukan, keadaan Malfoy Manor begitu berbeda. Tak ada keceriaan yang tercetak


pada wajah Narcissa.


Prediksi auror jika Lucius dibunuh dikarenakan salah satu dari auror tersebut menemukan sekotak ramuan


yang terletak dinakas kamar Lucius.


Hugo baru saja melangkah masuk, tubuhnya terlalu lelah seharian berada ditempat Malfoy. Menjadi auror adalah


tugas yang berat, sebenarnya ia sendiri tak menyangka jika salah satu Malfoy akan tewas dibunuh.


“Kau pulang?”


Hugo mengangguki ucapan ibunya. Hermione mendapati wajah letih putranya. “Apa semuanya baik-baik saja, son?”


Hugo tidak memberi respon, ia tak tahu harus mengangguk atau menggeleng. “Apakah mom telah membaca daily


prophet hari ini?”


Hermione mengangguk.


“Itu benar, mom.” Jawab putranya.


Mendengar suara putranya, Ron bergegas menghampiri sang putra. “Son.”


Hugo mengangguk. “Lucius ditemukan meninggal karena sebuah ramuan. Dugaan sementara ada penyihir yang


meracuni pria tua itu dengan ramuan tertentu. Kami tak bisa mendeteksi ramuan tersebut dan menunggu keputusan para healer.”


Ron dan Hermione terdiam, jika biasanya Ron senang dengan hal-hal buruk yang menimpa Malfoy, maka kali ini ia


tidak begitu senang. Tiba-tiba Ron turut prihatin, terlebih penyebab kematian Malfoy terdengar tak baik.


“Tapi, siapa?”


Hugo menggeleng, “Kami masih berusaha mencarinya.”


Entah mengapa perasaan Hermione tiba-tiba merasa sesak. “Berharap ini bukan suatu pertanda yang buruk.”


***


“Draco, aku harus kembali ke Hogwarts.” Ujarnya pelan.


Draco mengangguk. “Kau baik-baik saja jika kembali sendiri?”


Tiara tersenyum, “Tentu, lagipula aku tidak bisa mengabaikan para siswaku dan-“ ia melirik Sean yang masih


berdiam diri di salah satu sofa, “sepertinya sean masih membutuhkan waktu sebelum kembali ke Hogwarts.”


Astoria mengangguki ucapan Tiara.


“Kabari aku jika ada apa-apa, aku pasti segera datang.” Ujarnya seraya memeluk Astoria dan Draco bergantian.


“Hati-hati dijalan, kabari kami begitu tiba Hogwarts.” Sahut Draco.


Tiara mengangguk dan bergegas meninggalkan Malfoy Manor.


Berita kematian Lucius membuat Sean sedikit terpuruk, Lucius adalah panutannya. Tak ada satupun yang boleh


menyentuh keluarganya. Siapapun. Tangannya mengepal menahan emosi yang meluap-luap.


Hingga saat ini Narcissa tak mau keluar dari kamarnya, untuk sekedar makan para peri harus membujuknya dengan ekstra. Kreacher, si peri rumah bahkan ikut menunduk merasakan kesedihan sang mistress.


Ucapan Tiara terngiang-ngiang dalam otaknya.


Sean menatap Tiara yang baru keluar dari kamar Narcissa. Gadis itu menggeleng dengan


wajah sedihnya. “Sean, kita harus bicara.”


Sean tak menjawab dan hanya mengikutinya dari belakang.


Keduanya berhenti dihalaman belakang manor. Gadis itu berbalik seraya menitikan air mata, “Lucius dibunuh dan seseorang mengirimkan racun.”


Sean tak memberi respon, ia tahu hal tersebut dari beberapa auror.


“Ini pasti ulah seseorang yang membenci keluarga kita.” Ucapan Tiara membuatnya heran.


“Apa maksudmu?” tentu saja, ia tak bisa berburuk sangka jika tak ada bukti.


“Sean, Lucius dibunuh. Seseorang pasti melakukannya dengan sengaja.” Seru Tiara dengan wajah memerah, Sean mendapati Tiara yang berseru menahan emosi.


“Aku-“


“Aku merasa seseorang melakukannya dengan sengaja karena membenci kita, Sean. Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus segera melakukan sesuatu.” Tiara mengusap wajahnya, terlihat lelah.


“Bagaimana kau bisa menyimpulkan jika yang melakukannya memiliki alasan semacam itu?” Sean menatap Tiara dengan pandangan menyelidik.


“Sean, kita semua tahu bagaimana sejarah yang terjadi antara Malfoy dan Dark lord.” Jawabnya, “Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan hal tersebut.”


Tiara tersenyum ketika melihat Sean mengepalkan tangannya.


“Tak perlu, aku tahu siapa pelakunya.”


Mata Tiara melebar. “Si-siapa?”


“Potter.”


Tanpa disadari Tiara menyeringai seraya menghapus airmatanya. “A-apa yang kau bicarakan Sean?”


“Aku bersumpah akan membuat mereka berantakan.”


“Sean, bagaimana dengan Evelyn?”


“Ia pengecualian.” Jawabnya angkuh, “aku akan memisahkannya dari mereka.”


Tiara mengangguk patuh. “Aku akan membantumu.”


“Sean!”


Si bungsu Malfoy membuyarkan lamunannya, ia mendapati Astoria menatapnya penuh khawatir. “Kau baik-baik


saja, son?”


Sean tersenyum, “Mom tak perlu mencemaskan aku, bagaimana dengan Cissy?”


Mendengar pertanyaan Sean, wanita itu menghela napasnya. “Masih sama. Ayah mu akan membujuk Cissy nanti.”


Sean mengangguk, “Besok pagi aku akan kembali ke Hogwarts. Mom.” Laki-laki bangkit menuju ruang kamarnya. Sean telah memikirkan segala macam cara untuk membalas dendam.