Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
37



Sean merasa aneh ketika Tiara memanggil dirinya beserta pengikutnya secara tiba-tiba. Seharusnya mereka


menghadiri kelas yang diajarkan oleh Hagrid hari ini. Tapi beruntungnya, mereka memiliki alasan khusus untuk tak menghadiri kelas konyol Hagrid.


Hagrid menjadi guru yang mengajar satwa liar. Menurutnya, memelihara satwa liar adalah pelajaran yang paling


konyol yang pernah ia temui di Hogwarts. Bahkan, Sean lebih memilih rune kuno daripada mengikuti pelajaran Hagrid.


Tiara duduk dikursi kebesarannya dan menatap Sean dan teman-temannya satu persatu. Di sana Vernon berdiri dibelakang Tiara yang mengundang tatapan aneh dari berbagai pihak.


Sean berdeham, “Ada apa, professor?”


Tiara merasa geli ketika Sean memanggilnya secara formal, gadis itu tersenyum kecil. “Aku tahu, seharusnya


aku tak pantas memerintah kalian. Tapi ini pengecualian.” Katanya singkat, “Seharusnya Sean yang memerintahkan kalian untuk bergerak.”


Sean menaikan alisnya, bingung dengan arah pembicaraan Tiara.


“Aku ingin kalian bersedia menghilangkan tikus kecil.”


Tak ada yang berani menyahut ucapan Tiara kecuali Sean, “Siapa, professor?”


“Murid Hufflepuff, prefek.” Jawabnya tegas, “Aku ingin kalian menghilangkannya.”


Jantung Christian berdebar kencang, ia merasa takut. Professor Lestrange baru saja menyuruh mereka untuk


menghilangkan seorang siswi. Dan ia tahu siapa yang dimaksud oleh Lestrange. Yocelyn Cromwell, siswi tahun ketujuh seorang prefek.


Mereka tentu tak bodoh, menghilangkan berarti membunuh.


Mendengar ciri-ciri seorang yang ia targetkan, Krystal mendongak dan menyeringai. “Ijinkan saya untuk membantu


professor.”


Tiara mengerlingkan matanya, ia tersenyum puas. “Oh, tentu, tentu. Kau berhak melakukannya sayang.” Katanya


puas, “gunakan apa saja yang telah kalian pelajari.”


Sean mengangguk, “Tapi bukankah ini berisiko?”


Tiara tertawa sinting ditempatnya dan memandang Sean dengan pandangan geli, “Tak akan ada yang tahu, Malfoy. Tak ada.” Tegasnya. “Lakukan dengan bersih. Malam ini.”


Krystal nampak begitu senang mendengar perintah yang diberikan professor Lestrange kepada mereka, tapi beda


halnya dengan Kai. Laki-laki itu terlihat begitu kalut dan tak setuju. Seperti ada sesuatu yang salah.


Kai memang tak setuju, tapi ia tak berani menyuarakan pendapatnya. Apalagi di sana Sean tak membantah, yang


artinya laki-laki itu juga menyetujui keinginan Tiara.


“Ada satu hal yang harus kalian tahu, Miss Cromwell mengetahui apa saja yang akan kita lakukan.” Hasutnya yang


membuat Sean menatap Tiara kesal, “maka dari itu, kalian harus membereskannya malam ini sebelum-“


“Cukup!” potong Sean, “aku akan ikut andil.”


Si bungsu Malfoy menatap Krystal. “Griffiths, kau ikut dengan ku. Phyton akan sangat senang mendapatkan makan


malamnya.”


Krystal mengangguk semangat, artinya Yocelyn akan segera lenyap dan Jessica akan sangat berterimakasih kepadanya.


***


Kondisi Mark terlihat sedikit menyedihkan, terlebih luka-luka yang ia dapat. Madam Pomfrey menghela napasnya


setelah mengobati dan memberikan beberapa mantra penyembuh pada Mark. Murid tahun kelima tersebut belum sadarkan diri.


Kepala sekolah nampak terlihat panik, “Bagaimana ini bisa terjadi, Rubeus?”


Hagrid menggeleng, “Maafkan saya, professor. Fang menemukan Mr. Carlton di hutan terlarang dengan beberapa luka ringan.”


“Aku akan menyuruh beberapa guru untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi,” Professor Mcgonagal menghela napas lega, “Setidaknya ia tak terluka parah. Kita bisa bertanya kepada Mr. Carlton ketika ia bangun nanti.” Lalu professor Mcgonagal pergi meninggalkan ruang kesehatan bersama madam Pomfrey.


“Hagrid, apa Mark baik-baik saja?” Xanders bertanya pelan.


“Berharap saja semuanya baik-baik saja,” ujarnya tak yakin, “Madam Pomfrey mengira Carlton baru saja berduel


dengan seseorang. Untuk informasi kalian, Carlton terkena mantra kutukan.”


Kemarahan Theo yang semula diujung tanduk mendadak sirna saat menyadari kemana perginya Mark dan apa yang sebenarnya terjadi.


Hagrid menggeleng, ia menoleh pada Wendy yang mematung disebelah ranjang Mark. “Miss Son, terima kasih atas


bantuannya tadi.”


Wendy mengangguk sedih, putri Cho cang hanya membantu Madam Pomfrey mengobati Mark dengan mantra penyembuh. Nampaknya ada beberapa luka disekujur tubuh Mark yang lama untuk dihilangkannya. Ia juga mengingat ada beberapa mantra hitam yang tak bisa disembuhkan oleh mantra penyembuh, bahkan akan menghambat pemulihan jika mereka berupaya menyembuhkannya.


“Aku kembali dulu,” pamit Hagrid, “Come on, Fang!”


Fang berjalan mengikuti pemiliknya meninggalkan Evelyn dan yang lain. Bianca mendesah, ia mengerutkan keningnya saat menyadari beberapa luka Mark. “Mantra kutukan.” Ujarnya pelan. “Sepertinya kita tahu siapa pelakunya.” Ujarnya dengan nada datar.


Mata Theo membola, “Sejak kapan kau menjadi cenayang?” tanyanya geli, sebenarnya Theo tak memiliki mood untuk bergurau. Namun, perkataan Bianca membuatnya teringat dengan professor Trelawney, guru pada mata pelajaran ramalan.


Bianca memutar matanya, “Tak perlu menjadi cenayang, ini pasti ulah Malfoy dan para ksatrianya.” Sinisnya. “Sorry,


Wendy. Aku tak bermaksud menyinggungmu tapi mungkin kau paham apa maksudku.”


Wendy tak bergeming, ia memilih mengalihkan pandangannya dari Bianca yang menatapnya, “Kau tak bisa menuduh mereka sembarangan.”


Bianca menatap Wendy marah, “Kau berkata seperti itu hanya karena kau kekasih salah satu dari mereka? Sungguh pembelaan yang masuk akal.”


Xanders dan Theo terdiam, mereka tak memungkiri perkataan Bianca. Bahkan Evelyn pun menyadari apa yang dimaksud Bianca, hanya saja ia berusaha menampik realita tersebut dalam pikirannya.


“Terserah saja, Wen.” Kata Bianca putus asa, “Kau bisa tanyakan sendiri pada kekasihmu atau mungkin kau bisa


berharap jika kekasih mu tak ikut andil dalam hal ini.”


Hati Evelyn berkedut, seperti ada yang mencubitnya. Tanpa sadar ucapan Bianca seperti batu besar yang menimpa


dirinya.


Bianca tak banyak berkomentar dan pergi meninggalkan Hospital Wing. Xanders menatap nanar kepergian Bianca dan mengalihkan pandangannya pada Mark. Semua tahu apa yang pernah Malfoy lakukan, selain menjadi sosok yang sempurna, ada rumor yang mengatakan bahwa Malfoy sering melakukan hal buruk kepada beberapa siswa yang berusaha menghalanginya, termasuk mengutuk mereka.


Theo menggeleng, memotong ucapan Wendy. “Jangan sekarang, Wen.” Sela Theo yang kebingungan, “aku butuh waktu untuk berpikir.”


Theo memilih meninggalkan Hospital Wing menyisakan Evelyn dan Xanders. Laki-laki itu tersenyum pedih seraya menatap Wendy, “jangan kau ambil hati ucapan Bianca, ia hanya sedang marah.”


Evelyn ikut mengiyakan ucapan Xanders, “Lagipula kita belum tahu pasti siapa pelakunya, kita bisa bertanya setelah Mark bangun.”


***


Evelyn pergi menyusuri koridor, ia berharap dapat menemukan Sean dan menanyakan kebenaran yang terjadi. Bukannya ia bermaksud menuduh kekasihnya, hanya saja ucapan Bianca sedikit mengoyahkan hatinya.


Evelyn juga tak menampik fakta yang ada ketika ia mengingat masa pada tahun keempat mereka. Seorang siswa


dikabarkan terluka parah setelah berduel dengan Sean. Kabar buruknya, siswa tersebut pindah ke Dumstrangs setelah keluar dari St Mungo.


Tapi entah kenapa para guru selalu membela Sean. Ia tak perlu menanyakan kenapa, karena Evelyn sendiri


menyadarinya. Sean adalah aktor yang sangat baik, kekasihnya tak menyukai apapun atau siapapun yang berusaha menghalangi jalannya.


Kerumuman anak Slytherin nampak di ujung koridor, Evelyn berniat menghampiri mereka sebelum pria tua bertubuh jakung berdeham, “Miss Potter.”


Langkah Evelyn terhenti, ia mendapati Abeforth muncul dari salah satu kelas. “Ya, professor?”


“Oh dear,” ujarnya dengan nada sedih, “ada yang harus kau temui, sayang.”


Evelyn menaikan alisnya tak mengerti, “Ada apa professor?”


“Aku yakin ini bukan hal yang pantas untuk dibicarakan dikoridor.” Ujarnya yang diangguki oleh Evelyn, “ikuti aku.”


Evelyn pergi mengikuti Abeforth dari belakang menuju ruangan pria tua tersebut. Di sisi lain murid-murid Slytherin berbisik, mereka tentu saja membicarakan  Evelyn. Siapa yang tak tahu halaman utama daily prophet pagi ini.


Sean hanya bisa menatap punggung kekasihnya dari kejauhan sebelum tersenyum simpul. Ia menoleh pada Griffiths. “Krys, aku harap kau dapat membantuku nanti malam.”


Krystal mengangguk semangat, “Oh, tentu, Malfoy. Ini adalah kesempatan yang ku nanti-nantikan.”


Evelyn bertanya-tanya apa yang membuat kepala asramanya memanggil dirinya. Tapi pertanyaannya sirna saat


mendapati ayahnya dan James berdiri di dalam kantor Abeforth. Evelyn mendadak linglung, “Silahkan masuk, Miss Potter.”


Abeforth tersenyum sedih, “Mr Potter, mungkin jika anda butuh ruang. Aku akan bersedia-“


“No, sir.” Sahut Harry dengan tenang, “Terima kasih.”


Harry menatap putri kecilnya yang masih kebingungan, “Evelyn, kami datang menjemputmu.”


“Kenapa, dad?” Evelyn menatap wajah ayahnya yang terlihat tak nyaman, bahkan James yang biasanya terlihat sangat konyol dan berisik memilih untuk tak bersuara.


“Dad?”


Abeforth menghela napasnya, “Aku rasa Miss Potter tak membaca daily prophet hari ini.”


Evelyn membeku sebelum mengangguk, “Maaf sir, saya terburu-buru menjenguk Mark.”


Abeforth mengangguk, “Aku telah memberimu ijin untuk pulang selama beberapa hari.”


“Tapi-“


“Lyn, Molly meninggal.” Ucapan Harry mendadak membuat kinerja tubuh Evelyn berhenti bekerja. Gadis itu kehilangan kata-kata, “Ada yang harus kita bicarakan dirumah, sayang.”


***


Ruang rekreasi Gryffindor sangat hening, Irene tak perlu bertanya kenapa Evelyn tak kembali. Abeforth telah mencarinya di asrama, Irene mengira jika salah satu kerabat Potter datang menjemputnya hari ini.


Bianca masuk dan tak menyadari betapa heningnya Gryffindor common room. “Ada apa dengan mereka?” tanyanya saat menyadari beberapa house matenya yang menunjukan wajah terkejut. Beberapa dari mereka bahkan tak meninggalkan daily prophet.


“Ku pikir kau tahu kenapa.”


Bianca memandang temannya dengan bingung, sementara Patricia yang biasanya berisik tak mengeluarkan sepatah katapun. Bianca menoleh, “Ada apa sebenarnya?”


“Molly Weasley meninggal, ada di halaman utama daily prophet.”


“Apakah- apakah Evelyn sudah mengetahuinya?” tanya Bianca pelan, hampir seperti bisikan.


Irene menggeleng, “Entahlah, tapi Professor Abeforth mencari Evelyn.”


Yocelyn berlari menuju ruang rekreasinya, jika biasanya ia menegur para siswa atau siswi yang berlarian di


koridor, maka kali ini ia yang berlarian dan menimbulkan pandangan heran. Jantungnya berdebar keras, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya.


Perkataan professor Lestrange terngiang-ngian di dalam pikirannya.  Apa yang akan ia lakukan pada Malfoy.


Pikirannya berkecamuk.


Tidak, ia harus menyelamatkan Malfoy sebelum terlambat. Ia harus memberi tahu Malfoy mengenai rencana Tiara.


Serin masuk tanpa menimbulkan suara, gadis itu mengerutkan keningnya ketika mendapati Yocely –rekan sekamarnya- bergumam tak jelas. “Yocelyn, ada apa?”


Yocelyn tersentak, gadis itu menggeleng keras. “Ah, ti-tidak.”


“Kau yakin?”


Yocelyn memaksakan senyumannya dan mengangguk, “Te-tentu, aku hanya berusaha menghapalkan beberapa tugasku.”


***


Longbottom, professor Herbiologi mengerutkan keningnya saat membaca halaman utama daily prophet, kesibukannya karena mengajar membuatnya terlupa daily prophet edisi baru.


Pria paruh baya tersebut tak menyangka, jika berita Molly Weasley begitu menghebohkan. Kematian Molly Weasley berjarak beberapa hari dengan kematian Lucius.


“Professor.”


Longbottom berdeham, ia meletakan daily prophetnya pada salah satu meja kayu. Guru herbiologi itu menoleh dan mendapati salah satu mantan muridnya.


“Weasley.”


Hugo weasley tersenyum, “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan professor.”


Longbottom mengerutkan keningnya sebelum mengangguk. “Sebelumnya, aku turut berduka cita atas kepergian Molly.” Neville merasakan kesedihan yang terpancar pada netra coklat Hugo. Neville juga dekat dengan kerabat Weasley, jadi ia bisa merasakan apa yang Hugo rasakan.


Laki-laki bersurai merah itu mengangguk dan memandangnya gugup.


“Jadi, apa yang bisa ku bantu?”