Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
39



Sean sedikit mengubah rencananya karena Yocelyn, ia meminta pada keempat pengikutnya untuk bersembunyi di balik semak-semak sebelum melakukan aksi mereka. Laki-laki itu tersenyum begitu mendengar langkah kaki yang mendekat.


Ia berbalik dan mendapati Yocelyn dengan sweater asramanya yang begitu mencolok. Sean bisa saja mendecih


melihat pakaian dengan warna kuning yang ia anggap kumal. Tapi, ia tak ingin kehilangan momen penting saat ini.


“Malam, Miss Cromwell.” Sapa Sean.


Gadis itu mengangguk. “Malam, Malfoy,” Yocelyn terlihat begitu gugup.


Tak seperti biasanya gadis itu nampak begitu gemetaran, bahkan Sean mengernyitkan dahinya. Biasanya


Yocelyn akan berbicara dengan nada tegas, ia adalah seorang prefek. Sudah sepantasnya ia bertindak tegas.


“Maaf, membuatmu menunggu. Sebenarnya ada yang ingin ku katakan dan- dan aku sendiri tak tahu memulainya


darimana.”


Sean mengangguk. “Apa yang ingin kau katakan?”


“Profesor Lestrange.”


Sean mengepalkan tangannya, tatapannya berubah tajam. Benar apa yang diucapkan Tiara, nampaknya Yocelyn


mengetahui tujuannya. Sean menyeringai menatap Yocelyn. Ia tak akan membiarkan gadis di depannya lolos.


“Well, sepertinya kau tahu terlalu banyak, Miss Cromwell.”


Yocelyn menatap Sean dengan wajah bingungnya. “Profesor Lestrange, memiliki maksud tak baik terhadapmu.”


Sean mengangguk berpura-pura mendengarkan ucapan dan maksud Yocelyn. Tanpa gadis itu sadari, Sean


mengeluarkan tongkat dari balik jubahnya dan memillin-milin tongkat tersebut. Sean kemudian mengarahkan tongkatnya ke tanah membuat Yocelyn harus mundur beberapa langkah, gadis itu terkejut.


“Apa yang mau kau lakukan?”


Sean tersenyum. “Kau akan tahu nanti.”


Sean tiba-tiba merapalkan sesuatu kalimat yang tak ia mengerti. Gadis itu sesaat tersadar bahwa Sean telah menggunakan parselmouth miliknya.


Sebuah cahaya muncul dan berganti memunculkan seekor ular besar berwarna putih yang mendesis. Python


terkejut menatap seorang gadis dihadapannya. Ia menoleh pada Sean yang berdiri tegak dibelakangnya.


‘Apa ini untuk ku?”


Sean tersenyum, ‘Nantinya’


Yocelyn merasakan sihir yang kuat menuju ke arahnya. Dia berbalik dengan cepat dan mengangkat perisai. Bersyukur bahwa ia mahir dengan mantra non verbalnya. Dia bisa melihat sinar biru menakutkan menerangi hutan sebelum menabrak perisainya. Sialnya ia sadar bahwa kekuatan yang diserap oleh perisainya adalah kutukan berbahaya.


Dari balik semak-semak muncul Krystal, Lalice, Kai dan juga Christian. Krystal berdecih menatap Lalice dengan kesal.


“Kenapa kau meleset?” tanyanya heran, “bukankah kita sudah latihan?”


Yocelyn mulai merasa takut sekarang, ia menoleh menatap Sean yang sedang tersenyum. “Kau… kau menjebak


ku?”


“Oh, tentu saja tidak. Kau hanya mendatangi maut mu saja.” Sahut Krystal senang.


Dalam hal ini Krystal yang memang diuntungkan. Sean tak akan ikut campur, ia hanya memperbolehkan keempat


pengikutnya untuk menyiksa Yocelyn sebelum menjadi santapan python.


Python berdesis menatap Sean tak sabar. ‘apakah aku harus menunggu?’


Sean mengangguk. ‘bersabarlah’


Yocelyn mengangkat tongkatnya ke arah mereka siap membela diri lagi. Lalu ia merasakan kutukan lain melesat ke arahnya. Kutukan itu datang dari arah belakangnya. Kali ini adalah Christian.


Yocelyn tersudut Lalice, Kai, Krystal dan Christian mengelilinginya. Sean hanya menjadi penonton bersama


dengan Python. Yocelyn memanggil sihir dan mengangkat perisai Scutulatus yang melindungi seluruh tubuhnya. Sambil mengangkat perisai ia melangkah mencari celah. Kutukan itu bertabrakan dengan perisainya. Yocelyn bisa merasakan gejolak perisai saat menghentikan kutukan.


Mereka menyerangnya dengan kutukan-kutukan serius.


“Apa salah ku?” Yocelyn berseru geram menatap Sean yang terlihat puas.


Sean tak berniat untuk menjawab. Krystal berdeham. “Kau tahu terlalu banyak. Ah, benar. Kau mungkin tidak punya


salah apa-apa terhadap kami. Hanya saja…,” Krystal menyeringai, “aku membencimu.”


Lalice tertawa sinting, begitu pula Christian yang sedang tersenyum menikmati ketakutan Yocelyn. Kai ditempatnya memilih untuk diam dan tak mengambil aksi apapun. Ia memang tak ingin melakukan ini, tapi ia juga tak berani membantah Sean.


“Kalian tak bisa melakukan ini. Tunggu sampai kepala sekolah tahu maka-“


“Maka apa?” putus Lalice. “Kau tak akan sempat melaporkan kami.”


Yocelyn hampir saja tak sempat mengangkat perisainya saat rentetan kutukan menyerangnya. Kutukan-kutukan menghantam perisainya dengan kuat. Perisai Scutulatus adalah mantra yang kuat tapi tidak akan menahan mereka selamanya. Yocelyn merasakan perisainya mulai kehilangan kekuatan karena dihantam banyak mantra.


Tiba-tiba Yocelyn melihat kutukan keemasaan melaju ke arahnya. Dia tidak tahu apa itu tapi bisa merasakan


kutukan itu sangat ampuh. Sihir bergerak di udara saat kutukan asing melesat ke arahnya, menabrak perisai dan Yocelyn tak sanggup lagi mempertahankan perlindungannya. Kutukan emas ini terlalu kuat. Perisainya dengan cepat hancur dan menghilang. Saat perisainya hilang, Yocelyn seperti tertabrak mobil. Ia terjatuh keras di tanah dan berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Kepalanya terasa pusing, seluruh tubuhnya mati rasa dan sakit disaat yang bersamaan.tongkatnya terlepas dari mantra Expelliarmus memukulnya.


Ia mendengar suara derap langkah kaki. Yocelyn tak terkejut, Sean datang meninggalkan beberapa pengikutnya.


Yocelyn menatapnya dengan marah.


“Kuharap aku tidak melukaimu.” Kata Sean dengan keprihatinan yang dibuat-buat sebelum akhirnya mengacungkan tongkatnya.


Hal terakhir yang Yocelyn lihat adalah sinar merah mantra bius lalu ia tenggelam dalam kegelapan.


***


“Enervate!”


Yocelyn mengerang kesakitan saat tersadar. Ia membuka matanya, menatap langit-langit hitam diatasnya. Hanya


langit hitam dan ia sedang tak tahu berada dimana. Oh, tidak. Ia tahu berada dimana sekarang. Diruang bawah tanah dengan patung basilik yang menjulang ke atas.


Tidak mungkin, ia benar-benar berada di ruang pipa bawah tanah. Dimana basilisk pernah bersemayam. Seharusnya tempat ini sudah tak bisa dimasuki, apalagi ia tahu kepala sekolah berkata telah menutup akses menuju pipa bawah tanah.


Yocelyn meringis kesakitan. Dadanya sakit terkena kutukan emas tadi dan punggungnya membentur keras pada


batu. Ia berguling kesamping mencoba duduk perlahan.


“Sudah bangun?”


Yocelyn menoleh, ia mendapati Malfoy bersama kawanannya.


Mereka benar-benar yang terburuk.


Yocelyn mengerjapkan mata dan berusaha memfokuskan matanya. Ia melihat Malfoy berdiri beberapa langkah


didepannya bersama ular putih nan besar disebelahnya. Krystal nampak tersenyum puas melihatnya kesakitan. Gadis itu berdiri beberapa langkah dibelakang Sean bersama kawan-kawannya.


Jantung Yocelyn berdegup kencang. Ia tak menyangka akan berakhir seperti ini. Apa salahnya? Ia hanya


berusaha membantu Malfoy yang hampir dicelakakan oleh professor Lestrange. Yocelyn tidak bersenjata dan ia kalah jumlah.


“Cromwell, seharusnya ini tak pernah terjadi. Tapi, kau sudah tahu terlalu jauh. Jadi, kau tidak berpikir untuk lolos begitu saja, kan?” Malfoy bertanya dengan pelan.


Meskipun nada suaranya pelan, Yocelyn merinding. Dia menatap wajah Malfoy yang tidak menunjukan emosi


lain selain seringai jahat yang terselip di bibirnya. Dan matanya? Mata biru dingin itu mematikan.


“Kau tahu,” lanjutnya dalam suara yang terdengar tenang. “Kau telah membuatku jengkel.”


Malfoy berjalan ke arahnya dan mulai mengelilinginya seperti predator mengintai mangsanya. Yocelyn berusaha menangkan napasnya. Tapi sama sekali tak ada gunanya.


Dia bisa mendengar suara lembut langkahnya, kemudian Malfoy berkata, “Ini adalah malam terakhir kita


bertemu.”


Dibelakang Malfoy, Krystal dan Lalice tak sabar menantikan apa yang dimaksud Sean. Sedangkan Christian dan


Kai, kedua pria itu bahkan berusaha menahan kengerian. Apakah mereka akan benar-benar menyaksikan Malfoy membunuh Cromwell? Atau-


Python berdesis.


Malfoy tersenyum seraya mengelus tubuh ular besar itu. Mereka semua tak ada yang tahu apa yang dikatakan oleh Malfoy kepada Python. Hanya desisan yang mereka mengerti. Tiba-tiba Malfoy melangkah menjauhi mereka, Yocelyn merasa takut sekarang, ia bahkan berusaha mundur, memaksakan tubuhnya yang terasa kebas.


Tidak, apakah ia akan mati malam ini?


Python bergerak mendekati Yocelyn sebelum terdengar suara cabikan yang keras. Darah mulai mengenangi


lantai. Malfoy tersenyum melihat Python yang tak menyisakan sedikit pun barang bukti didepannya.


Krystal dan Lalice terkejut, mereka tak menyangka jika Yocelyn akan dibunuh dengan cara dimangsa oleh Python.


***


Keesokan paginya, seperti biasa siswa Hogwarts berada di aula untuk menikmati sarapan pagi mereka. Kali ini meja Gryffindor nampak sepi, tak ada Mark yang biasanya membuat onar maupun Evelyn. Suasana begitu canggung. Saat ini Mark masih berada di hospital wing, sedangkan Evelyn, mereka belum tahu kapan gadis itu akan kembali ke Hogwarts.


Sandy dan Wendy berbaur seperti biasa, kedua murid Ravenclaw ini memang suka sekali bergabung dengan


meja para singa. Sandy menemani Irene dan Wendy memilih fokus pada mangkuk serealnya.


Bianca masih tak berbicara kepadanya semenjak Mark masuk ke dalam hospital wing.


“Ah, benar,” kata Sandy membuka pembicaraan, “aku telah menemukan siapa pelaku yang membocorkan rahasia


Evelyn dan Malfoy.”


Xander menaikan alisnya. “Apa yang kau maksud dengan rahasia?”


“Foto yang menyebar pada Alma skeeter. Salah satu murid Hufflepuff.” Jawab Sandy santai.


Wendy dan Bianca mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu berdeham, sementara Wendy memilih untuk bungkam. “Bagaimana mungkin?”


Sandy mengangguki ucapan Bianca. “Memang terdengar tak masuk akal, jika waktu itu hanya anak Slytherin


dan Gryffindor. Tapi ia kebetulan lewat dan mengambil gambar sebelum menjualnya pada Alma Skeeter.”


Theo mengangguk. “Jadi apa selanjutnya?”


“Aku harus membicarakannya pada Yocelyn terlebih dahulu. Bagaimana pun, ia adalah prefek asrama Hufflepuff.” Jawab Sandy.