Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
23



Besok adalah hari natal, seharusnya keluarga Potter sangat bergembira tapi sayangnya tidak. Evelyn hingga saat ini masih tidak mengatakan apapun kecuali sarapan dan makan malam. Ia juga bahkan tak menatap mata Albus begitu pula sebaliknya.


Lily dan James sendiri tak tahu harus berbuat apa, mungkin mereka bisa membujuk salah satunya jika Albus tak bersikeras untuk tidak ingin meminta maaf.


Ginny tahu apa yang terjadi, mungkin Albus hanya terlalu keras kepada adik kecilnya.


Harry tersenyum memandang istrinya. “Jangan khawatir, aku akan berbicara kepada mereka nanti.”


Ginny mengangguk dan memeluk suaminya. “Harry, apa kau marah jika putri kita menjalin hubungan dengan Slytherin?” Ginny mendongak tanpa melepas pelukan suaminya.


Harry menggeleng. “Tidak, aku hanya terkejut. Itu saja.” Ginny mengangguk. “Aku tak menyangka jika Evelyn akan memiliki kekasih seorang Slytherin. Mungkin ia pria yang spesial hingga Evelyn mau menjadi kekasihnya.”


“Lakukan sesuatu agar hubungan Albus dan Evelyn membaik.” Ginny memintanya sebelum mengecup bibir suaminya singkat.


“Aku ada cara tentang hal itu.”


***


Ron dan Hermione tersenyum mendapat kabar jika malam natal nanti keluarga Potter akan menginap dan merayakan natal bersama. Ronald sendiri terkadang bersikap seperti anak kecil jika bertemu dengan kemenakan perempuannya.


“Mione, nanti malam kita siapkan segalanya.” Ronald berseru yang diangguki oleh istrinya.


“Dad, kau tampak senang sekali.” Rose memandang ayahnya dengan geli.


“Tentu saja, Dad akan bertemu Evelyn. Aku yakin dad akan menagih kisah permusuhan Evelyn dan Malfoy.” Hugo ikut menimpali.


Perlu bujukan ekstra agar Evelyn dan Albus mau menyetujui acara mereka, bahkan Harry benar-benar kewalahan saat membujuk Albus daripada Evelyn. Sebenarnya siapa yang bersikap selayaknya gadis di sini?


Albus atau Evelyn?


Sebenarnya Harry tak perlu melakukan ini, tetapi Albus terlanjur menggunakan mantra untuk mengunci pintu kamarnya dan itu membuat Harry terpaksa melakukan hal yang sama. Beruntung kali ini mantra non verbalnya berjalan dengan lancar.


Pintu kamar Albus terbuka lebar menampilkan seorang pria berambut coklat duduk diatas ranjang dengan sebuah buku ditangannya.


Albus menatap ayahnya dengan malas. “Aku tahu kenapa dad kemari?”


Harry meringis mendengarnya. “Well, jika kau telah mengetahuinya. Maka seharusnya menjadi lebih mudah.”


“Jika dad membujuk ku untuk minta maaf, aku tidak akan meminta maaf.” Katanya berterus terang. “Dad, harusnya tahu. Evelyn baru saja memiliki kekasih dan-“ Albus merasa ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.


“Dan ia adalah Slytherin. Apa dad bisa percaya itu?”


Harry mengangguk. “Dad bisa percaya.”


Albus menutup bukunya dan memandang ayahnya dengan tatapan tak percaya. “Dad, aku serius.”


“Dad juga serius.” Jawabnya santai. “Kau tak lupa bukan, darimana namamu berasal?”


Harry menggeleng. “Albus Severus Potter.” Ucapnya lirih. “Dad rasa kau masih ingat kenapa dad memberimu nama itu. Mereka adalah orang terpenting, pahlawan dan mereka-“


“Aku tahu dad, mereka adalah orang yang sangat berjasa.”


Harry mengangguk mantap. “Dan kau tak lupa darimana mereka berasal.”


Albus menghela napasnya. “Gryffindor dan Slytherin.”


“Tak semua Slytherin itu buruk. Kau seharusnya mengetahui itu.” Ayahnya tersenyum lebar saat mengucapkannya. “Maka dari itu pahamilah Evelyn, kau tak lupa bahwa adik mu tak akan rela didekati oleh seseorang jika pria itu tak baik untuk dirinya.”


Albus melenguh dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. “Ugh, seharusnya aku tak bersikap seperti itu semalam.”


***


Tiara segera mempersiapkan segalanya. Hari ini ia bersiap untuk mengunjungi  seseorang, informannya sungguh handal dalam melakukan apapun. Ia benar-benar puas dengan kinerja siswanya.


Dengan langkah penuh keanggunan, Tiara melangkah menuju gerbang hogwarts. Di sana ia melihat salah satu siswa duduk di dalam kereta kuda.


Baru saja ia akan melangkah mendekati kereta kuda tersebut, suara dehaman terdengar. Seorang pria tua yang selalu memeluk kucingnya.


Argus Flich.


Seorang squib yang sampai saat ini masih menjabat sebagai penjaga sekolah.


“Professor Lestrange.” Sapanya yang membuat Tiara berbalik dan tersenyum. “Anda meninggalkan hogwarts hari ini?”


Tiara mengangguk. “Iya, Mr Flich. Saya berencana akan merayakan natal bersama keluarga Malfoy.”


Flich mengangguk mengiyakan ucapan Tiara. “Semoga natal mu menyenangkan.”


Tiara membungkuk sebelum masuk ke dalam kereta. Ia hampir saja mengumpat jika tak ingat di dalam kereta ada seorang siswanya yang sedang menunggu.


“Nona Lestrange.” Sapanya yang mendapat anggukan dari Tiara. “Hari ini kita akan menemuinya.”


“Sure, aku harus menemuinya.” Katanya datar. “Bagaimana pun ia adalah adik ku.”


Vernon menoleh menatap Tiara tak percaya. “Maaf, nona. Saya tak mengerti.”


“Delphi Riddle adalah putri dari dark lord dan ibu ku.”


Jawaban Tiara membuat mata Vernon melebar. “Jadi, alasan nona menyuruh saya-“


“Benar, ada sesuatu yang ingin ku katakan pada adik tiriku.” Putusnya.