Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
27



Evelyn bersandar di kursinya dan mendengarkan keramaian di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya menatap aula besar, professor Mcgonagall baru saja menyelesaikan pidato kecilnya.


“Jadi, bagaimana liburan kalian?” Bianca berseru pelan.


Irene tersenyum malu-malu, “Menyenangkan, aku menghabiskan waktu yang panjang dengan keluarga Sandy.”


Bianca mengangguk, “setidaknya liburanmu tak membosankan seperti liburanku.”


Xanders menatap Bianca dengan minat, “Apa ada sesuatu yang terjadi?”


Bianca menggeleng, “Tak banyak, hanya saja paman ku tiba-tiba mabuk dan mengaku bahwa ia seorang penyihir kepada tetangga muggle-nya.”


Mata Irene dan Xanders melebar. Evelyn mulai menaruh minat pada cerita liburan Bianca. “Wow, Bi. Aku tak tahu jika kau memiliki paman yang begitu berani.”


“Aku bersyukur, para muggle itu hanya menganggap ocehan paman ku sebagai angin lalu.” Bianca menatap Evelyn


bergantian, “lalu bagaimana dengan liburan mu?”


Evelyn tersenyum, “Seperti biasa, nothing special. Hanya berkumpul dengan keluarga besar ibuku.”


Bias cahaya lampu menabrak liontin kalung milik Evelyn, Irene yang baru ingin meminum jus labunya menatapnya dengan minat.


“Hijau?” Irene bertanya pelan.


Bianca, Xanders dan Evelyn menatap Irene dengan bingung.


“Kalungmu.” Tunjuk Irene, Evelyn yang baru menyadari perkataan Irene segera menyembunyikan liontin ke dalam pakaiannya.


Bianca dan Xanders sempat melihat warna kalung itu dan memang benar, kalung Evelyn berwarna hijau.


“Sejak kapan kau menyukai warna hijau?” tanya Bianca bingung. “bukankah kau menyukai warna putih?”


Evelyn memegang erat sendok makannya, “I-ini hanya hadiah kecil, jadi suka tak suka aku tetap memakainya.” Bohongnya.


Dari seberang meja, Sean menyeringai menatap kekasihnya. Ia tahu apa yang terjadi pada Evelyn saat ini, nampaknya kekasihnya sedikit kesusahan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bianca.


Sean dengan tenang tetap memperhatikan Evelyn, ia memiliki rencana sendiri dibalik rencana Tiara. Sean ingin membuat seluruh penyihir tahu bahwa Evelyn adalah miliknya.


Vernon tersenyum, tepatnya menyeringai tanpa mereka sadari. Ia selalu memata-matai kegiatan Sean tanpa sepengetahuan anggota pengikut yang lain. Ia mencoba menatap kemana mata Sean tertuju.


Great!


Matanya mendarat ke arah meja Gryffindor dan melihat Evelyn duduk di sana.


***


Sean menikmati hari-harinya di Hogwarts, ia sedikit merasa kosong saat liburan natal. Itu semua karena ia tak bisa


melihat wajah Evelyn.


Evelyn berbeda. Benar-benar berbeda.


Sejak awal gadis itu tampak kebal dengan pesonanya dan itu juga yang membuatnya kesal. Selama ini tak ada berani menolak pesona seorang Malfoy, kecuali Evelyn. Setidaknya gadis itu telah menjadi miliknya, tanpa perlu


melakukan hal licik.


Evelyn mengenalnya sangat baik, ia tahu seharusnya gadis itu benar-benar menjauhi dirinya. Sean mengakui bahwa dirinya yang sekarang bagaikan seorang aktor yang sedang bersandiwara menjadi murid teladan dan disukai banyak gadis.


Ia sendiri yakin jika Evelyn mengetahui hal buruk mengenai dirinya, termasuk saling mengutuk di kelas pertahanan terhadap ilmu hitam.


Mulai saat ini Sean harus bermain dengan rapi, ia tak ingin kehilangan Evelyn. Tentu saja, mendapatkan gadis yang diinginkan beserta kepintaran dan kemahirannya dalam sihir akan menjadi bonus yang besar.


Evelyn akan segera menjadi ratunya, seperti yang Tiara katakan.


Mata Sean menjelajahi sosok Evelyn yang tertawa riang bersama sekumpulan singa bodoh. Ini akan menjadi lebih mudah jika Evelyn ditempatkan di Slytherin dan sekarang ia sedikit mendengus ketika ia mengerti apa yang Christian rasakan mengenai Wendy.


Sean menatap Evelyn dan teman-temannya bangkit dari mejanya, diikuti oleh dua pria tahun ke lima. Siapa yang tak mengenal Mark dan Theo yang menjadi musuh Jason. Jujur, Sean tak menyukai Evelyn ketika bersama teman-temannya.


Hasrat membunuhnya muncul ketika melihat Xanders merangkul bahu Evelyn, seharusnya Evelyn menolaknya bukan mendiamkannya dan tertawa bersama.


“Brengsek.”


Umpatan kecil Sean membuat Krystal dan Kai yang disebelahnya menoleh. Kedua pengikut Sean menatapnya heran. Apa yang membuat sang pemimpin mengumpat ketika mereka sedang menikmati hidangan dengan tenang.


Krystal menatap arah tatapan Sean. Adik perempuan dari Jessica Griffhits memutar matanya ketika mengetahui apa yang menjadi sumber kemarahan Sean.


“Malfoy, kau baik-baik saja?” Kai berseru pelan. Sean menatap pengikutnya sebelum beranjak meninggalkan aula besar. “Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Kai pada Krystal.


“Tidak, bodoh. Sean marah karena menatap sekumpulan singa yang menyedihkan itu.”


***


Saat ini Evelyn sedang duduk di salah satu sofa diruangan rekreasi Gryffindor. Ia hanya memperhatikan Bianca dan Irene yang sedang sibuk menghias kuku-kuku mereka. Sedangkan Xanders memilih berkumpul bersama Theo dan Mark. Tentu saja ketiganya sedang asyik membicarakan quidditch atau yang lainnya.


Kedua penyihir tahun ke lima itu tiba-tiba berargumen mengenai pelajaran tranfigurasi. Evelyn bertanya-tanya dalam hati apa yang dilakukan Sean saat ini. Jujur saja, ia sedikit merindukan eksistensi Sean. Terakhir kali ia


menatap wajah Sean saat diperpustakaan sebelum liburan natal dimulai.


Evelyn juga tak dapat menemukan keberadaan Sean saat berada di aula. Tapi, seharusnya ia tak perlu merasakan hal seperti ini.


‘sadarlah, Lyn.’ Batinnya.


Ia terus menerus memikirkan hubungannya dengan Sean. Evelyn tahu jika ini salah, bagaimanapun ia sadar jika keluarganya dan keluarga Sean tak akan bisa bersatu. Terlebih pamannya, tentu saja Ron tak akan membuka kedua tangannya dengan lebar untuk menyambut kehadiran Malfoy.


Jangankan untuk Malfoy, mendengar nama Slytherin saja seperti mendengar kutukan baginya. Tapi, ia juga tak


berbohong jika ada sesuatu yang merambat dalam hatinya. Ia berpikir dengan ragu jika perasaan yang ia miliki adalah kesalahan. Tapi memang itu adalah kesalahan.


Ia menghela napasnya.


Pikirannya terganggu ketika para gadis-gadis Gyrffindor memekik histeris. Theo berdecak berbeda dengan Mark yang melongo.


“Ada apa?”


Bianca menatap Evelyn dengan heran, seharusnya gadis itu yang bertanya. “Apa kau tak mendengarkan perkataan seseorang, Lyn?”


Evelyn menatap Bianca dengan raut wajah kebingungan.


Irene ikut memekik senang, “Oh Hell, ia mencari mu.”


Mata Evelyn melebar ketika murid tahun keempat berkata bahwa Sean menunggunya diluar asrama. Oh, tentu saja Sean tak akan mau masuk ke dalam asrama Gyrffindor. Ia sedikit alergi dengan warna merah dan emas diseluruh penjuru ruangan.


“Lyn, dia menunggu mu.” Mark kembali berseru.


Evelyn dengan jantung yang berdetak tak karuan bangkit dari sofa sebelum. “Lyn, we need to talk.” Bianca berseru pelan. “Nanti setelah urusan mu selesai.”