
Jason dan Vernon mengangkat tubuh Mark. Laki-laki itu pingsan dengan beberapa luka ringan. Sebenarnya Jason tak puas, tapi Krystal mengingatkannya. Mereka hanya cukup memberi pelajaran kepada Mark Carlton.
Saat keempat penyihir itu membawa Mark ke dalam hutan terlarang, “Aku berharap laki-laki sialan ini hilang
dibunuh Troll.” Lalice tak bisa menahan kekesalannya, dadanya masih terasa nyeri ketika Mark menghantamnya dengan kutukan hitam.
Beruntung, ia menggunakan kalung yang diberikan oleh professor Lestrange, walaupun efeknya berkurang tapi tidak menghilangkan rasa sakitnya.
Suara ranting patah mengagetkan keempatnya, membuat Krystal bersiaga dan mengarahkan tongkat pada seseorang yang berdiri dibelakang mereka.
“Pro-professor.”
“Tahan tongkatmu, Miss. Griffiths.” Tekan Tiara.
Krystal menurunkan tongkatnya dan menggumamkan kata maaf.
Tiara menyeringai, ia mendekat. “Ah, jadi ini?” tanyanya seraya memperhatikan bagaimana kondisi Mark. Murid Gryffindor itu memiliki beberapa luka ringan, sudut bibirnya yang robek, pelipisnya berdarah dan ada ruam kebiruan
pada rahang Mark.
Gadis itu mengira jika Sean akan menyuruh mereka membunuh Carlton, nampaknya perkiraannya meleset.
“Professor, kami-“
Tiara mengangkat tangannya sebelum Vernon melanjutkan kalimatnya. Gadis itu tersenyum anggun. “Tenang saja, aku bisa menjaga rahasia.” Tiara mengerutkan keningnya saat mendapati Lalice yang tak dapat berdiri dengan tegak, Lalice nampak melenguh menahan rasa sakit, “Apa yang terjadi?”
“Carlton menyerangnya dengan mantra hitam.”
Tiara menganggukan kepalanya, “Aku ingin kalian bersih dari ini.” Ujarnya yang mendapat tatapan terkejut dari
keempat muridnya, “Kalian segeralah kembali, biar aku yang mengurusnya.”
“Tapi, professor. Itu-“
Tiara menatap Jason tajam, “Jangan membantahku, Mr. Elwood. Jika kalian takut, katakan pada Malfoy bahwa aku yang menyuruh kalian.”
“Ba-baik, professor.”
Tiara mengangguk, “Sekarang pergilah!”
Jason dan Vernon meletakan tubuh Mark diatas tanah sebelum pergi meninggalkan Tiara. Tiara menatap remeh pada siswa Gryffindor yang tergeletak tak berdaya diatas tanah. “Akan lebih baik jika kau melupakan apa yang terjadi, Mr. Carlton.” Bisiknya, “Obliviate.”
***
“Hermione.”
Ron memanggil istrinya yang tengah menyiapkan sarapan. “Apa mom sudah bangun?” tanyanya seraya memeriksa beberapa surat yang ia terima dari seekor burung hantu.
Hermione terhenti dan menggeleng, “Sepertinya belum. Aku tak mendapati Molly turun, seharusnya ia sudah bangun.”
Ron mengangguk, “Biar aku saja yang membangunkannya, kebetulan ada surat dari Ginny.” Katanya singkat sebelum pergi menuju lantai dua.
Rose turun dengan setelan kerjanya, ia seperti duplikat Ron hanya saja rambut merahnya yang keriting menurun dari ibunya. “Pagi, mom.” Sapa Rose seraya mendudukan dirinya disalah satu kursi.
“Pagi, sweety,” sapa Hermione pada putrinya, “Kemana Hugo?”
“Ia masih mandi.”
“Baiklah-“
“Hermione!” teriak Ron dengan suara kerasnya.
Hermione menghela napasnya, “Jangan bilang jika kau lupa menaruh kaus kaki mu, Ron.” Balas Hermione.
“Hermione!” Teriaknya lagi.
Rose menatap ibunya yang mengerutkan keningnya. “Biar aku saja, mom.”
Rose beranjak dari kursinya dan pergi menemui ayahnya. Gadis itu melihat pintu kamar neneknya yang terbuka, ia
mendapati ayahnya yang duduk disebelah ranjang neneknya. “Dad.”
Rose terkejut mendapati mata ayahnya yang berkaca-kaca. “Dad, apa yang terjadi?”
Gadis itu berjalan mendekat sebelum memekik, ia melihat tubuhnya neneknya yang membiru. Wajah pucat Molly membuat kelopak matanya terbuka lebar.
“Segera panggil Healer kemari.” Kata Ron pelan.
***
Percy, Billy, Ron dan Ginny duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Harry hanya bisa memeluk istrinya yang
menangis dalam diam. Kepergian Molly yang begitu mendadak membuat siapa saja yang mendengarnya tak percaya.
Walaupun Molly terlihat sangat tua, tapi wanita itu selalu menjaga pola makannya. Fleur, istri Billy keluar dari
kamar Molly bersama beberapa Healar. Salah satu Healer menggeleng yang mengundang tangisan dari Ginny dan juga Hermione.
“Kita harus mengurus pemakamannya.” Bisik Percy menelan nada getir.
Rose tahu jika paman Percy adalah paman yang begitu tak disukai dikeluarga mereka karena sifat kakunya. Tapi,
tetap tak menghilangkan kesedihan yang nampak pada matanya yang memerah. Rose menilai jika pamannya menahan tangis.
Harry bangkit dari kursi berlengan, “Sebenarnya, apa yang terjadi kepada Molly?”
Salah satu healer menghela napas, “Apakah Mrs. Weasley memiliki riwayat sakit jantung?”
Kelopak mata Ron melebar, “Penyakit muggle?” pria itu menggeleng, “Tentu saja tidak.”
Lelaki bertubuh jakung tersebut menggaruk pelipisnya, “Tapi, maaf. Hanya itu yang kami temukan. Apa sebelumnya
Kali ini Hugo yang berdiri, “Ramuan?” tanyanya bingung, ia menoleh pada Hermione, “Apa grandma suka meminum ramuan?”
Hermione menggeleng seraya menghapus air matanya, “Tidak, bahkan aku selalu memantau makanan Molly.” Jawabnya pelan.
“Itu sedikit aneh.” Sahut salah satu Healer.
Mendadak teringat sesuatu, Hugo mendekat. “Aku akan pergi ke kamar grandma.” Laki-laki tersebut merasa janggal. Ia sudah cukup merasa aneh dengan kasus Lucius yang meninggal dengan penyakit yang sama seperti professor Alba.
Tak mungkin penyakit muggle seperti penyakit jantung menular. Jika menular sekalipun, professor Alba, Lucius dan neneknya tak pernah saling berdekatan. Kecuali, jika pelakunya adalah orang yang sama.
Si bungsu Weasley meneliti seluruh barang yang berada di kamar neneknya, termasuk meja dan juga nakas yang
terletak di samping ranjang Molly. Matanya memicing pada sebuah kotak dan sebuah botol ramuan kecil.
Botol yang sama saat berada di dalam Malfoy Manor. Tangan Hugo mengepal, tidak salah lagi jika ada seseorang yang berusaha membunuh keluarganya. Tapi siapa dan mengapa.
Hugo mengayunkan tongkatnya, “Accio.” Botol kecil itu melayang masuk ke dalam sebuah plastik yang sudah ia siapkan. Putra Ron berniat membawa kasus ini untuk disambungkan dengan kasus Lucius Malfoy.
***
Sean menyelinap keluar ruangan Slytherin. Ia tak sabar menunggu para pengikutnya untuk menerima laporan yang bagus. Saat ini Sean menuju ruang bawah tanah, dimana Basilisk pernah bersemanyam.
Sembari menunggu kedatangan para pengikutnya, ia berdesis. Muncul seekor ular besar putih yang berdesis
menatapnya.
‘Ada apa memanggilku master?’
Sean tersenyum, “Aku bosan dan menunggu seseorang.”
‘Apakah seseorang itu bisa ku makan?’
Si bungsu Malfoy menyeringai, “Tentu, jika ia melakukan kesalahan.”
‘Ku harap ia melakukan kesalahan.’
Sean terkekeh mendengar jawaban dari Pyhton. Bukankah ia adalah binatang yang menggemaskan, pikir Sean geli.
Tak selang beberapa lama, Sean mendapati para pengikutnya berkumpul. Christian melangkah masuk da membiarkan tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Siang, Malfoy.”
Sean mengangguk.
Sebenarnya Christian sedikit bergidik ketika mendapati Python yang menatap dirinya dan yang lain secara bergantian. Seandainya saja ia bisa membuka mulutnya, ia pasti akan mencurahkan segala isi pikirannya kepada Wendy.
“Semuanya,” kata Sean seraya menatap seluruh pengikut didepannya. “Aku sedang menunggu kabar bagaimana hasil kerja kalian semalam.”
Christian dan Kai menoleh pada keempat murid yang menahan gugup. Jason berdeham, “Ma-malfoy, kami sudah
melakukan seperti yang kau minta. Kami juga meninggalkannya di hutan terlarang.”
Sean mengangguk puas, “Bagus,” sahutnya senang.
“Tapi-“
“Tapi apa?” Potong Sean dengan nada tidak sukanya, “Aku sudah bilang tak ada satu kesalahan bukan?”
Mendengar nada marah Sean, Phyton berdesis. Ular besar itu nampak menanti-nanti sesuatu. Phyton meliuk-liukan
tubuhnya mendekati Sean.
Sean menyeringai seraya memegang tubuh bersisik Phyton, “Kau tahu, Phyton menginginkan sesuatu.” Jelasnya seraya menatap Jason.
Keenam pengikut Sean mendadak takut, termasuk Kai yang tak bisa berkedip menatap Phyton.
“Jadi, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” Sean berkata dengan nada menuntut.
“Sa-saat kami ingin membawa tubuh Carlton ke dalam hutan yang lebih jauh. Professor Lestrange menghentikan kami. Pro-professor yang melanjutkan pekerjaan kami.” Jelas Jason yang diangguki oleh krystal.
“Pro-professor Lestrange melakukannya agar kami terbukti bersih.” Jawab Krystal seraya meremas jubah seragam miliknya.
Sean berdecih sebelum kembali ketempatnya, Phyton berdesis menatap Sean. Laki-laki itu tahu jika sebagian
dari hidupnya sedang lapar. Ia melirik ular besar itu sebelum menatap keenam pengikutnya, “Saat ini kalian ku maafkan. Tapi tidak lain kali.” Ujarnya tenang.
Pyhton nampak kecewa dengan jawaban Sean sebelum merubah tubuhnya kembali menjadi tongkat. “Aku akan pergi ke hutan terlarang memastikan sesuatu dan mencari asupan untuk Python.”
“Ba-baik, Malfoy.”
***
Telah menjadi aktifitas rutin bagi Hagrid mengajak Fang berjalan-jalan di siang hari. Lagipula, Hagrid mendapat perintah untuk memeriksa wilayah sekitarnya termasuk hutan terlarang. Masuk ke dalam hutan terlarang mengingatkannya pada sosok Harry dan teman-temannya yang suka pertualang.
Kini tak ada lagi kekacauan ataupun masalah seperti dulu. Hanya masalah kecil seperti putra Draco dan putri Harry
yang akhir-akhir ini muncul pada daily prophet. Umur Hagrid sudah tidak muda lagi, sudah tak sepantasnya ia
mengharapkan petualang atau pertanyaan-pertanyaan aneh seperti yang dilontarkan oleh Harry sewaktu muda. Entah mengapa ia merindukan masa-masa dimana mereka menghadapi berbagai macam bahaya.
Fang tua berjalan seraya mengendus-endus tanah. Semakin lama, Fang berjalan semakin meninggalkannya. “Jangan pergi terlalu jauh, Fang. Jangan menambah masalah lagi.” Seru Hagrid.
Hagrid menggeleng mengingat masalah yang pernah dibuat oleh Fang, terlebih anjingnya bukan anjing pemberani. Dulu Ron berkali-kali menghina Fang, bahwa Fang adalah anjing pengecut.
Hagrid menghela napasnya, Fang telah jauh meninggalkannya. Hagrid menyusuri hutan lebih dalam hingga ia mendapati Fang yang terduduk seperti menatap sesuatu. “Fang, ayo kembali!” serunya.
Tak menanggapi, Hagrid ikut menatap sesuatu yang berada dihadapan Fang. “Apa yang sedang kau lakukan?”
Fang menggoyangkan ekornya dan menyingkir. Mata Hagrid melebar menatap sesosok tubuh yang tergeletak di atas tanah. Sesosok siswa dengan seragam serta jubah merahnya yang masih lengkap, Hagrid mendekat, ia lebih terkejut ketika siswa itu adalah Mark Carlton beserta beberapa luka yang menghiasi wajah. “Demi Merlin!”