Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
10



Evelyn berlari menuju kastilnya. Ia tak percaya apa yang di lakukan Sean terhadapanya. Ia benar-benar harus menghindari Malfoy, jika tidak ia tak tahu harus bagaimana menaruh wajahnya.


Evelyn berlari hingga tanpa sengaja menabrak salah seorang gadis yang membuatnya terkejut.


“Di larang berlarian di koridor seperti itu, Miss Potter.” Evelyn terdiam sesaat menatap wajah cantik gadis berseragam kuning. Gadis itu adalah salah satu prefek yang berasal dari asrama Hufflepuff.


Yocelyn Cromwell. Gadis cantik itu menatap Evelyn tatapan heran. “Apa ada sesuatu yang terjadi, potter?”


Evelyn terkejut dan menggeleng setelahnya. Masih dengan senyum yang sama, Yocelyn menatapnya. “Lain kali jangan berlarian di koridor seperti tadi, aku bisa saja memotong poinmu.”


Evelyn mengangguk. “Ma-maaf, sungguh. Maafkan aku. Aku tak sengaja menabrakmu.” Jawaban Evelyn terdengan begitu terburu-buru membuat Yocelyn menaikan alisnya.


“Kau seperti bertemu dementor, wajahmu pucat sekali.”


Evelyn terdiam.


‘Bahkan aku seperti di cium oleh dementor.’ Batin Evelyn.


“Baiklah, segera kembali ke asramamu.” Evelyn hanya mengangguk dan meninggalkan Yocelyn yang masih menatapinya dengan heran. “Apa itu efek sehabis saling mengutuk dengan Malfoy. Kasihan sekali gadis itu.”


Yocelyn mengangkat bahunya dan pergi.


Ia masuk ke dalam asramanya dan menutup pintunya dengan keras. Beruntung ketiga temannya tak berada di dalam asrama. Setidaknya ia masih menghindari pertanyaan seperti apa yang terjadi dengan dirinya atau bagaimana dan bla bla bla.


Evelyn sesaat terdiam, ia merasakan kejutan yang terasa hangat dan man-


Tidak... tidak... itu tidak baik, ia masih merasakan debaran jantungnya sesaat Sean mencium dirinya. Evelyn merebahkan dirinya di atas kasur dan menggesekan mulutnya dengan tangan.


Entah kenapa ia merasa di khianati oleh tubuhnya sendiri, seandainya saja ia bisa melupakan semua peristiwa itu,


haruskan ia mengoblivate dirinya sendiri?


***


Sean kembali ke asrama dengan perasaan bercampur aduk, seperti ditinggal, marah dan kecewa. Ia marah, sebenarnya apa yang dikecewakan oleh perasaannya.


Sial!


Lagi-lagi perasaan seperti ini mulai menyusup ke dalam dirinya.


Ini sungguh tidak baik.


Ia harus melakukan sesuatu sebelum semua yang ia capai akan berantakan.


“Sean, kau di sini?” sebuah suara mengganggu lamunannya. Tatapan tajam Sean membuat pria tinggi itu takut dan terhenyak “Apa kau baik-baik saja?”


Sean tak menjawab dan mengangguk. Christian terdiam dan tak melirik pria itu lagi. Namun, rasa ke ingin tahuan Christian mendorongnya hingga tanpa sadar mengucapkan pertanyaan yang tak seharusnya ia ucapkan.


“Bagaimana perjalananmu?”


Sean menatapnya tajam. “Apa kau memata-matai ku, Mayer?” terdengar tegas.


Christian menggeleng. “Ti-tidak, Krystal memberitahuku saat berniat mencarimu.”


Sean menaikan alisnya. “Ada apa kau mencariku?”


“Jason menghilang, sepertinya anak itu sedang pergi ke hutan terlarang.” Jawab Christian membuat Sean menghela napasnya.


“Jason? Elwood?”


Christian mengangguk membuat Sean berdecih. “Murid tahun ke lima ya, mau apa dia di sana?”


Christian menggelengkan kepalanya. “itu sebabnya aku berniat mencarimu. Kau seorang prefek dan setidaknya lebih baik kau menghukumnya dari pada prefek lain mengambil poin asrama kita.”


“Kau licik, Chris.” Seru seorang gadis yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam ruang rekreasi Slytherin.


Christian tersenyum. “Aku sungguh tersanjung dengan pujianmu itu, Krystal.” Gadis yang disebutkan namanya hanya memutar matanya dan melangkah mendekati keduanya.


“Elwood sedang berada di hutan terlarang, ia sedang melakukan sesuatu yang aku tak tahu apa itu.” Jelasnya sembari mendudukan diri di salah satu kursi berlengan, “aku benar-benar tak suka jika ada seseorang yang berniat menghilangkan poin asrama kita.”


Christian tersenyum. “Apa kau baru saja membicarakan dirimu?”


Krystal menatapnya tajam. “Shut up, Mayer! Avalee hanya bertindak sebagai tameng untuk Russell. Seharusnya aku sudah berpasangan dengan Russell, gadis ***** itu.”


Sean tak banyak berkomentar dan hanya mengamati kedua temannya. “Kau berniat menghancurkan Russell?”


Krystal menyeringai. “Tentu saja, itu akan sangat menyenangkan untukku.”


“Untuk apa?” Sean bersuara membuat Kyrstal dan Christian sesaat menatapnya.


Christian tersenyum, “Jangan lupakan tahun ketiga kita, Sean. Aku bahkan masih mengingat gadis Slytherin dan Gadis Gryffindor merebutkan pangeran Ravenclaw itu.”


“Grissham?” Tanya Sean menatap keduanya dengan bingung.


“Kau memang pintar, Sean.”


***


Christian Mayer, seorang seeker dari asrama Slytherin tak banyak bicara setelah Sean berkata akan menemui Jason Elwood di hutan terlarang. Pria tampan itu berniat menemui kekasihnya.


Mungkin jika prediksinya tidak salah, ia akan menemukan Wendy di perpustakaan atau tempat yang tak mengundang kebisingan. Lorong demi lorong ia lewati, hingga ia menemukan gadis berseragam biru yang


tersenyum kepada Sandy Grissham.


Christian berdecak menatap kekasihnya yang tersenyum kepada pria lain. Ia tak suka ketika gadisnya menebar senyumnya kepada orang lain selain dirinya. Well, semua Slytherin memang seperti itu.


Christian melangkah mendekati mereka dan berdeham. Wendy mendongak dan terkejut menatap kekasihnya telah berada di sebelahnya. Pria berseragam hijau itu tiba-tiba memeluk pinggang Wendy dengan posesif dan tersenyum manis menatap Sandy.


“Hi, Mayer.” Sapa Sandy yang membuat Christian mengangguk. “Baiklah, Wen. Aku harus menemui Irene dulu.”


Wendy mengangguk dengan hati tak enak melihat sikap Christian. Gadis itu mendorong tubuh Christian dan menatapnya kesal. “Jangan seperti itu, Chris.”


Christian menyeringai. “Seperti apa?”


Wendy memutar matanya. “Aku tahu bagaimana dirimu, sayang.”


Wendy menatap kekasihnya tak percaya. “Seriously?” Wendy menggelengkan kepalanya tak percaya. “Kau sudah berjanji, Chris. Kau tak perlu bersikap seperti itu lagi.”


Christian mendekat membuat Wendy mundur beberapa langkah, ia terperangkap oleh dinding dan tubuh Christian. “Bersikap seperti apa sayang?”


“Chris, please-“


Christian menyeringai. “You’re mine, Wen. Aku tak suka ketika milikku di lihat oleh orang lain.” katanya santai.


Wendy menghela napasnya. “Tapi, itu tak berlaku untuk Sandy. Dia bahkan memiliki Irene.” Gadis itu bersendekap menatap kekasihnya kesal.


“Aku yakin kau tak lupa jika kekasihmu ini seorang Slytherin.”


Wendy mendengus. “Sepertinya aku lupa jika dirimu seorang Slytherin.” Christian tergelak melihat tingkah kekasihnya yang kesal. Jika seperti ini ia hanya perlu membujuk Wendy mati-matian. Putri Cho Cang itu benar-benar gadis yang unik di matanya.


“Ada apa kau mencariku?”


Christian menyeringai. “Tentu saja, aku butuh waktu bersenang-senang denganmu.” Pipi Wendy merona sebelum bibir tipis itu menyapu permukaan bibir Christian.


***


Evelyn memperkuat topeng wajahnya ketika beberapa kali berpapasan dengan Sean. Pipinya tiba-tiba merona membuat Xanders menatapnya heran. Pria itu menyadari jika Sean menatap Evelyn dengan mata tajamnya.


“Apa perjalananmu berjalan berantakan?”


Evelyn menoleh kaku pada Xanders sementara Irene menatapnya dengan antusias. Ia yakin jika Bianca bersamanya, Irene akan mendapat umpatan dari Bianca.


“Bagaimana kencan kalian?” Tanyanya heboh.


Xanders memutar matanya. “Ku rasa itu tak pantas di sebut dengan kencan, lebih tepatnya ancaman.”


Irene mengerucutkan bibirnya. “Ku kira Malfoy itu romantis, ia bahkan bersikeras menginginkan Evelyn.”


Xanders memandang Irene dengan tatapan tak percaya sementara Evelyn memikirkan perkataan Irene yang sebenarnya memang benar. Hanya saja ia tak bisa mengatakan apa yang terjadi kepada mereka.


“Aku-“


“Ya?” Xanders dan Irene berseru dengan pandangan berbeda. Irene menatapnya antusias sementara Xanders menatapnya khawatir.


“Tidak terjadi apa-apa, kami hanya membicarakan masalah daily prophet dan-“


“Dan?”


Keduanya masih menunggu jawaban Evelyn. “Kami membicarakan mengenai masalah kami, hanya itu.” Evelyn


berbohong.


Xanders menatapnya tak yakin. “Hanya itu?”


Evelyn mengangguk.


“Kau yakin?” Evelyn mengigit bibir bawahnya dan akhirnya mengangguk.


Irene benar-benar terlihat kesal. “Ku kira ia akan melakukan sesuatu yang romantis.”


“Irene.” Tegur Xanders yang membuat Irene menatapnya kesal.


Setelah keheningan menyelimut ketiganya, Irene tiba-tiba berkata pelan. “Aku di undang Sandy untuk datang ke pesta profesor Slughorn.”


Xanders menganggukan kepala. “Ah, kau benar. Tentu saja profesor Slughorn mengundang Sandy. Reputasi kekasihmu sungguh cemerlang.” Xanders menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku juga terkejut ketika beliau


mengundangku.”


Evelyn tertawa renyah. “Menurut beliau kau mungkin masuk kategori murid yang terkenal atau menguntungkan.”


Irene menatap Evelyn dengan pandangan menyelidik. “Ayolah, aku tahu minggu lalu beliau mengundangmu juga, hanya saja kau tak datang.”


Evelyn mengangguk kepalanya. “Aku tak memiliki pasangan.”


Irene berdecak. “Kau bisa pergi dengan Malfoy atau Xanders.” Xanders menatap Irene dengan pandangan kesal.


“Kau terlihat membuatku menjadi pilihan kedua,” pria itu menatap Evelyn dengan penuh harap. “Tapi, tidak ada salahnya jika aku datang sebagai pasanganmu atau sebaliknya.”


“Aku akan senang, terima kasih, Xanders.”


Ketiganya memasuki ruang aula dan menatap Bianca yang sedangmenatap tajam ke arah meja Slytherin. Irene, Xanders dan Evelyn mengikuti pandangan Bianca dan menemukan Krystal yang menyeringai.


Ketiganya memilih untuk mengambil tempat duduk sebelum menatap Bianca yang terlihat menggertakan giginya. “Pagi-pagi mood mu sudah seperti singa betina yang siap mengamuk.” Perkataan Xanders membuat Bianca menatapnya tajam.


“Griffiths bodoh itu benar-benar mengajakku berperang.”


Irene menaikan alisnya. “Kali ini apa lagi?”


“Ia baru saja membuatku tersandung dan hebatnya kekasih sialan Wendy itu menginjak salah satu bukuku.” Bianca


menunjukan buku pelajaran transfiguranya yang setengah koyak. “Aku bersumpah jika bertemu Wendy akan ku caci maki dirinya.”


Irene menggelengkan kepalanya. “Kasihan sekali Wendy.”


Evelyn menatap meja Slytherin dan mendapati Sean yang sedang mengamatinya. Tubuh Evelyn menegang, di satu sisi ia masih merasa kesal ketika Sean merengut ciumannya secara paksa.


“Xanders, pukul berapa kita harus siap ke pesta itu?” suara Evelyn menggema. Tentu saja saat ini hanya beberapa murid yang berada di aula. Para Ravenclaw lebih memilih untuk mengunjungi perpustakaan sementara murid Hufflepuff berlatih quiddicth.


“Bagaimana jika pukul tujuh?” Xanders memberi saran. “Pesta itu di mulai pukul enam sore.”


Bianca mendengar percakapan keduanya dengan tatapan datar. “Kalian menghadiri pesta profesor Slughorn?”


Ketiganya mengangguk dan membuat Bianca mendesah. “Aku lupa siapa kalian bertiga.”


Irene tersenyum kecut. “Beliau tak akan mengundang ku jika aku bukan kekasih Sandy, Bi.”


Bianca menganggukan kepala membenarkan perkataan Irene. Profesor Slughorn hanya mengundang murid-murid berprestasi dan terkenal untuk datang ke pestanya. “Mungkin aku akan pergi ke hogsmade saja selama kalian bersenang-senang di pesta profesor Slughorn.”