Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
31



Satu minggu Evelyn tak mendapati keberadaan Sean, gadis itu merindukan kekasihnya. Benar, Evelyn tak memungkiri jika ia merindukan Sean sekaligus khawatir dengan apa yang menimpa Sean.


Berita kematian Lucius Malfoy memenuhi daily prophet. Ada yang menyebutkan bahwa Lucius dibunuh bahkan konyolnya, ada yang mengatakan jika Lucius bunuh diri. Beberapa murid asramanya masih membicarakan kematian Lucius, bahkan Theo dan Mark juga ikut serta.


Malfoy adalah keluarga terpandang di dunia sihir, kehilangan salah satu anggotanya dengan cara yang tak wajar


membuat daily prophet terus mengeluarkan kabar-kabar konyol lainnya.


“Benar-benar aneh, ia sampai tak memunculkan batang hidungnya di Hogwarts.” Celetuk Mark, “mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh daily prophet.”


“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Bianca memperingatkan murid tahun kelima tersebut, “kematian seseorang bukanlah hal yang aneh. Lagipula tidak semua berita yang diucapkan daily prophet itu benar.”


“Tapi, berita ini ditulis oleh Alma skeeter. Wanita itu datang dipemakaman kakek Malfoy.” Ujarnya memelan.


Pintu aula terbuka lebar, sosok yang mereka bicarakan datang dengan langkah angkuh. Mark menghentikan ucapannya saat Sean menatapnya tajam. Sekali lagi, Sean memperhatikan para siswa mendekatkan kepala untuk berbisik ketika dia lewat, Sean menggertakan gigi dan mencoba bertingkah tak peduli walaupun ia ingin sekali mengutuk siapa saja yang membicarakan kakeknya.


Melihat kedatangan Sean di aula membuat Christian dan yang lainnya berdiam diri. Krystal menatap Sean dengan pandangan sedih, “Aku sudah mendengar semuanya.”


Sean menyeringai, “Tentu, jangan pandang aku dengan tatapan kasihanmu, Griffiths.”


Krystal terperangah dan menggumamkan kata maaf, laki-laki itu menyeringai. “Aku tahu kalian merindukanku?”


Seringaian Sean membuat beberapa antek-anteknya meremang. “Bagaimana jika kita bersenang-senang?”


Kai menelan ludahnya susah, “Siapa, Sean?”


“Mark Carlton, tahun kelima.” Jawabnya tenang.


Mendengar nama Mark disebut, Elwood yang awalnya menikmati kudapannya tersenyum lebar. “Kau tahu, ini yang paling ku tunggu-tunggu.”


Sean mengangguk, “Aku akan memberimu ijin untuk itu.”


Tiara ditempatnya tersenyum puas, rencananya berhasil. Tak sulit menghasut keponakannya yang bodoh itu. Dengan begini memusnahkan Potter dan Malfoy satu persatu akan menjadi hal yang sangat mudah.


“Tunggu saja hingga waktu itu tiba.”


***


Pidato panjang kepala sekolah terdengar begitu membosankan. Tapi Sean tidak menunjukan rasa bosan di wajahnya. Ekspresi perhatian yang sopan tak pernah meninggalkan wajahnya. Pikirnya tak sulit menipu semua orang *****. Sebuah seringai muncul diwajahnya.


Topengnya sebagai murid teladan, terpandang, baik, pekerja keras yang sempurna. Siapa yang mampu menolaknya? Sungguh menyedihkan melihat siapa yang tertipu oleh topengnya. Semua orang terpukau oleh sosok sempurna si bungsu Malfoy, bahkan ia lebih terkenal daripada kakaknya saat masih berada di Hogwarts.


Semuanya pasti akan terkejut, jika Sean menunjukan jati dirinya yang asli. Matanya mendarat pada meja Gryffindor


dan melihat gadis yang ia rindukan.


Evelyn berbeda. Sejak awal gadis itu tampak kebal dengan pesonanya. Dia belum pernah tergoda oleh penampilannya dan memilih untuk menghindar hingga berakhir dengan penolakan. Evelyn mengenalnya dengan baik, gadis itu tak melihat dirinya sebagai murid teladan yang disenangi banyak guru dan para siswa. Setidaknya, Evelyn tak mengetahui rencana besar apa yang disembunyikan Sean dibelakangnya.


Sean masih belum mengerti mengapa Evelyn menerimanya. Tapi entah kenapa, itu sudah tidak penting lagi. Apapun motifnya, sekarang terlihat jelas ketika gadis itu menyukainya. Mungkin Evelyn belum mau mengakuinya secara gamblang, tapi Sean bisa merasakannya saat mencium gadis itu. Ia tak perlu memusingkan hal tersebut. Toh, Evelyn telah menjadi kekasihnya yang tak akan ia lepaskan.


Mata Sean meneliti sosok Evelyn yang duduk dimejanya sambil tertawa riang. Dugaan bahwa Evelyn mulai menyukainya akan membuat segalanya lebih mudah. Ia berkali-kali mengingatkan dirinya bahwa Evelyn masih belum menyakini hubungan yang mereka miliki. Tentu, keduanya telah lama saling bermusuhan bahkan semenjak tahun pertama mereka. Sungguh menggelikan jika mengingat semuanya, batin Sean.


Tapi apapun yang terjadi, Evelyn adalah miliknya. Tak ada satupun yang menghentikannya bahkan Evelyn sendiri.


Sean menyaksikan gadisnya bangkit dari mejanya, diikuti oleh teman-temannya. Mata birunya menyipit marah saat melihat Edmund dan Carlton. Entah kenapa dua pria bodoh itu masih suka berkeliaran disekitar gadisnya.


Hasrat membunuhnya melebar, ia telah mengambil keputusan yang tepat bersama rekan-rekannya untuk bersenang-senang.


***


Malam itu, Evelyn meringkuk di salah satu sofa di ruang rekreasi Gryffindor. Matanya menerawang memikirkan Sean. Laki-laki itu sempat menatapnya dengan seringaian puas. Menjadi kekasihnya tak membuatnya paham dengan tingkah laku prianya. Xanders sedang duduk dimeja sebelahnya memainkan catur sihir bersama Theo. Irene bersiap menemui Sandy ditaman, mengadakan kencan rahasia, huh?


Berkencan, Evelyn membatin geli mengucapkan kata itu. Pikirannya melayang dan bertanya-tanya sedang apa Sean sekarang. Semenjak kematian Lucius, ia belum berbicara padanya lagi. Evelyn kesal dengan dirinya sendiri karena merasa kehilangan Sean entah bagaimana.


perasaannya telah berkembang pada Sean. Benar-benar tindakan konyol yang sangat berani.


Pikirannya melayang, berandai-andai bagaimana ekspresi keluarganya dan sahabat-sahabatnya jika mengetahui ia telah menjadi kekasih Malfoy. Apakah mereka akan membenci dirinya? Haruskah ia mengaku? Atau-


Pikirannya disela saat sekelompok gadis tahun kelima dan keempat terkikik keras mengganggunya. Evelyn mendongak dan tatapannya jatuh pada sekelompok gadis yang duduk di sofa samping pintu masuk. Gadis-gadis itu


memekik seraya merona.


Mata Evelyn melebar tercengang ketika mengetahui penyebab tingkah konyol mereka. Sean Malfoy baru saja memasuki ruang rekreasi. Dia berdiri tepat di pintu dan mengamati seluruh penjuru ruangan dengan mata birunya.


Tatapan Sean jatuh pada dirinya dan dia menyeringai. Sialan, tidak bisakah Sean berhenti bersikap menawan?


Sean berjalan mendekatinya. Evelyn memperhatikan keramaian ruang rekreasi mereda ketika melihat Sean. “Seharusnya aku mengikuti ucapan Mayer untuk memindahkan kekasihnya di asrama Slytherin. Kau tahu warna merah dan emas ini sangat mengganggu.” Kata Sean saat duduk disamping sofa.


Mulut Evelyn hampir terbuka lebar. Oh, tidak. Sean tak bersikap seolah-olah mereka akan menunjukan hubungan mereka bukan?


“Kenapa kau terkejut seperti itu?” Sean tertawa kecil dan terus memperhatikan ruang rekreasi. Murid Slytherin itu


mendapati tatapan memuja dari para gadis dan tatapan bingung dari para siswa termasuk Bianca.


Irene tersenyum, “Oh, malam. Malfoy.” Sapanya.


Sean tersenyum mengangguk, “Malam, Russell.” Lelaki itu meneliti pakaian Irene, gadis itu berdandan. “Bersiap menemui Grissham, huh?”


Semburat merah pada wajah Irene membuat Evelyn terperangah. Sejak kapan Sean ramah dengan teman-temannya?


“Huh, ketahuan ya?” tanya Irene polos, lalu gadis itu berbalik menatap Bianca, “Bi, aku pergi dulu.”


Bianca mengangguk membalas ucapan Irene.


Sepeninggal Irene, Evelyn kembali memusatkan pandangannya pada Sean. “Bagaimana caranya kau bisa masuk?” tanyanya penuh curiga, “kau kan tidak tahu sandinya.”


Sebuah seringaian jahat terukir dibibir Sean, “Bukankah aku pernah mengatakannya kepadamu, aku prefek dan aku memiliki semua kuncinya.”


Evelyn menggeleng, “Kau pasti bohong, meskipun prefek, tak mungkin kau punya semua kuncinya.”


Sean tersenyum, “Ada baiknya kau tak tahu, Lyn.” Mata laki-laki itu mengawasi setiap murid yang menatapnya termasuk mangsanya yang berdiri beberapa meter darinya. Bahkan ia melihat Edmund dan Turner yang tak berniat melanjutkan permainan catur sihir mereka.


Evelyn menghela napasnya. “Jadi, kenapa kau kemari?”


Sean memandang wajahnya serius, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan,” melihat betapa antusiasnya para siswa-siswi Gryffindor mendengar ucapannya, Sean tersenyum, “Kita pergi ke suatu tempat yang lebih pribadi saja.”


Sean bangkit dari sofa dan mengulurkan tangannya pada Evelyn. Evelyn menatapnya sebelum menerima uluran tangan Sean. Kemudian Sean melangkah menuju pintu keluar ruang rekreasi sambil menggandeng tangan Evelyn.


Evelyn mendapati wajah Theo dan Mark yang terkejut tak lupa dengan mulut mereka yang terbuka lebar, Xanders menatapnya dengan wajah masam sementara Bianca. Gadis itu memilih untuk mengalihkan pandangannya.


Jika mereka mengira Bianca cemburu, maka jawabannya salah. Bianca lebih memikirkan apa yang sebenarnya direncanakan oleh si bungsu Malfoy.


Sepeninggal keduanya, para gadis terkikik keras, “Aku yakin pasti Malfoy akan menyatakan cintanya.”


Gadis tahun keempat mengangguk, “Benar, aku tak pernah melihat Malfoy berlaku manis seperti tadi.”


“Potter benar-benar beruntung.”


Mark dan Theo tiba-tiba berdiri dihapadan Bianca. Si sulung Avalee menatap kedua murid tahun kelima dengan heran. “Apa?”


“Apa benar Evelyn berkencan dengan Malfoy?”


“Jadi, yang itu tadi sungguhan?”


Bianca memutar matanya jengah sebelum kembali ke kamarnya, “Sejak kapan mereka sedekat itu?”