
Evelyn mengabaikan keinginan Sean, ia memandang Mayer atau Rogers. Mungkin tak ada salahnya jika ia mencoba berlatih dengan Rogers.
“Mr. Rogers, maukah kau berpasangan denganku?”
Kai dan Christian melebarkan matanya. Mereka cukup terkejut mendengar permintaan Evelyn. Kai sendiri terlalu takut untuk melirik Sean yang berada disebelahnya.
Sean yang mendengar penolakan secara halus itu langsung memilih Xanders untuk menjadi pasangannya. Christian menghela napas dan berbisik kepada Kai. “Setidaknya bukan aku yang akan mati di tangan Sean nanti.”
Kai melotot kesal, Christian menakutinya. Christian sendiri memilih Irene sebagai pasangan duelnya.
Sean merasakan kecemburuan yang ia sendiri tak tahu berasal dari mana datangnya. Evelyn menyadari tatapan tajam itu sebelum tersenyum kepada Xanders yang hanya bisa meringis, Evelyn kembali mengalihkan pandangannya kepada Kai.
“Kenapa kau memilihku, Miss Potter?” terdengar sedikit ketakutan yang tertangkap di mata Evelyn.
“Aku berpikir ini akan menarik. Aku mendengar kau pintar berduel selain teman-temanmu.” Evelyn tersenyum
mengabaikan helaan napas Kai.
Mereka berdiri dan saling mengarahkan tongkatnya. Keduanya membungkuk sebelum memulai duel. Kai merapalkan mantranya dan tak terjadi apa-apa.
“Mr. Rogers, kurasa kau perlu mengucapkannya sekali lagi.”
Kai tersenyum. “Terima kasih. Aku tahu.”
Kai dan Evelyn terfokus dengan sihir mereka. Rogers mengeluarkan sebuah mantra yang mengeluarkan sebuah kilatan cahaya yang menuju ke arah Evelyn. Mantra Kai ditangkis dengan tembok mantra yang dikeluarkan Evelyn. Saling mengeluarkan cahaya, Evelyn berniat menyudahi duelnya untuk kembali duduk.
“Expeliarmus!”
Cahaya besar keluar dari tongkatnya dan menabrak Kai yang terjatuh ke atas lantai. Ruang kelas tiba-tiba menjadi sepi ketika ada sebuah suara yang terdengar menyakitkan. Profesor Alba tersenyum menyeringai.
“Well done, Miss Potter.” Puji profesor Alba sambil membantu Kai untuk berdiri.
Para siswa kembali melanjutkan duel mereka termasuk Sean dan Xanders yang menyelesaikannya hanya dalam setengah menit. Entah menggunakan mantra apa, Xanders terpental menabrak dinding di belakangnya. Xanders
menyadari jika Sean meluapkan amarahnya melalui duel dengannya.
Langkah profesor Alba terhenti setelah memperhatikan seluruh duel siswanya, ia menangkap dua siswanya dalam pandangan khusus. Professor Alba penasaran mengingat daily prophet yang membuat Miss Potter dan Mr. Malfoy menjadi topic utama. Apa mungkin mereka-
“Mr. Malfoy dan Miss Potter,” serunya dengan suara lantang. Evelyn berprasangka buruk saat professor Alba memanggil namanya, “kurasa kalian akan menjadi partner yang baik. Mantra kalian memiliki getaran yang kuat, sebaiknya kalian bekerja sama kali ini.”
Mulut Evelyn menganga saat Miss Alba meninggalkannya bersama Kai. Kai hanya tersenyum dan dapat bernapas dengan lega, Sean telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sean menyeringai. Ia berdiri dihadapannya setelah mengiyakan ucapan professor Alba. “Ah, benar.” Katanya menatap Evelyn. “Evelyn, aku siap menjadi partnermu.”
Xander dan Kai beranjak kembali ke bangku mereka. Kedua laki-laki berbeda asrama itu menghela napasnya bersamaan.
Xanders menatap Evelyn dan Sean. “Kurasa ini buruk.”
Kai mengangguk. “Kau benar, Edmund. Kau benar.”
Xanders mengalihkan pandangannya pada Krystal dan juga Bianca yang saling mengutuk. Sepertinya kedua gadis itu mendapatkan detensi ketika profesor Alba berseru. “sepuluh poin dari Slytherin dan Gryffindor.”
***
Hermione tengah bersantai di rumahnya bersama Rose dan juga Hugo. Kebetulan sekali kedua anaknya sedang mendapatkan cuti tugas sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Rose, putri sulung Hermione menggelengkan kepala setelah mendapat beberapa surat kabar mengenai adik sepupunya dan Malfoy.
“Mum, ku pikir berita ini terlalu berlebihan.”
Hermione mendongak menatap anaknya dan mengangguk. “Kau benar, penulisnya adalah Alma Skeeter, putri dari Rita Skeeter. Ku rasa keahlian ibunya menurun pada putrinya.” Sindirnya yang membuat Hugo menahan tawanya.
“Mum, sepertinya berpengalaman dengan wanita itu.” Sahut Hugo yang membuat Hermione mengangguk. “Di mana dad?”
Hermione memutar matanya ketika Hugo menanyakan di mana Ron, tentu saja suaminya berada di rumah Harry dan Ginny dengan maksud menanyakan berita omong kosong tersebut. Suaminya benar-benar kesal dan marah.
Hermione menyadari kelakuan Ron yang masih kekanak-kanakan. “Ayahmu berada di rumah Harry.”
Hugo menatap ibunya heran. “Tadi pagi aku mendengar si sulung Malfoy meminta pihak ke mentrian untuk mencabut berita mengenai Malfoy dan Evelyn.”
Hermione terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Malfoy selalu seperti itu. Tapi ku rasa ini bagus. Aku berharap Malfoy benar-benar memberi pelajaran untuk Skeeter.”
Rose menaikan alisnya ketika mendengar ucapan ibunya. “Ku rasa mum memiliki dendam kepada mereka.”
Hermione tersenyum. “Tidak,” ia menggeleng. “Tapi aku hanya kesal. Aku juga pernah mendapat pemberitaan bodoh seperti itu. Wanita itu hanya tukang gosip yang bekerja di penerbitan dailyprophet.”
“Benarkah?” Rose memperbaiki duduknya dan menghadap ibunya. “berita apa yang mum dapat?”
Hermione menggaruk pelipisnya. “Well, mereka mengatakan jika saat itu aku adalah gadis yang menyukai pria-pria terkenal seperti Harry dan Victor Krum. Itu terjadi saat tahun ke empat kami.”
Hugo mendengarkan sembari memeriksa beberapa barang-barangnya. “Ah, aku pernah mendengar dad tak menyukai pria itu.”
Hermione tersenyum. “ku pikir begitu, karena pada tahun ke empat Victor mengajakku sebagai pasangannya di pesta dansa.”
Rose menganggukan kepala. “Pria itu dari sekolah Dumstrang bukan?”
Hugo melebarkan matanya kagum. “Really? Dia dulunya murid Dumstrang?” Hugo menggelengkan kepalanya takjub. “Pantas saja mereka membicarakanmu, Mum.”
Hermione menghela napasnya. “Seandainya kalian tahu bagaimana tahun ke empat kami yang begitu mengerikan.”
Rose mengangguk. “Aku mendengar ada seorang pria yang meninggal pada saat itu. Paman Harry bercerita kepadaku bagaimana Mr. Cedric Diggory meninggal.”
“Tapi mengingat bagaimana kalian berjuang sungguh mengerikan, Mum. Kalian memperjuangan kebebasan Muggle born.” Rose terdiam sesaat menatap ibunya yang tak memberi komentar.
“Mum juga seorang Muggle Born.” Sahut Hugo. “Tapi aku bangga dengannya.”
***
Sean tersenyum puas dan berjalan menuju matras kosong. Evelyn terpaksa mengikutinya ketika pasangan lain telah menyelesaikan duelnya. Xanders dan Kai menjadi penonton setia mereka.
“Siap?” Ia bertanya dengan sopan membuat Evelyn mengangguk tak yakin. “Tenang saja, aku tak mengigit.”
Evelyn mengumpat dalam hati.
“Mari kita buat kesepakatan,” Evelyn menaikan alisnya. “jika kau berhasil mengalahkanku, maka aku akan menjauhimu selamanya. Tapi, jika kau kalah. Kau harus menemaniku berjalan-jalan.”
Evelyn yakin jika laki-laki di hadapannya baru saja mengalami gegar otak ringan sehingga Sean lupa siapa yang ia ajak untuk pergi.
Sean memegang tongkatnya dan membungkuk. Keduanya mulai menggunakan mantra Stupefy dan Expeliarmus. Sean mulai melemparkan mantra lain. Evelyn menatapnya kesal, ia butuh benteng.
“Protego.”
Sean menyeringai menantang dan menunggu serangan balik dari Evelyn. Gadis itu mengarahkan tongkatnya dan, “Stupefy!”
Sinar cantik meluncur menuju ke arah Sean. Laki-laki itu membelokan mantra dengan tak berminat. Ia tahu jika Sean sedang bermain-main dengannya.
Evelyn geram dan membalas dengan beberapa mantra yang lebih berat. Sean menangkis. Sebuah ledakan kecil meleset mengenai dinding. Mantra-mantra yang mereka keluarkan sungguh mengejutkan hingga saling mengeluarkan seluruh kutukan yang ada.
Sebuah perisai muncul di hadapannya. Kutukan Sean terpental hingga suara memekakan telinga. Malfoy terlihat mulai kesal, ia mulai melayangkan mantra bius. Evelyn terus menangkisnya hingga ia menembakan mantra yang hampir melukai dirinya.
Sinar itu hanya membuat jubah bagian kiri Sean berlubang.
Xanders dan Kai hanya bisa menganga menatap keduanya. Bahkan sebagai penonton, mereka bergidik ngeri ketika mantra Evelyn yang Sean tangkis mengenai kaca jendela dan pecah.
Sean menggeram. “Kau benar-benar-“
Evelyn menyeringai. “Bukankah ini yang kau mau?” potongnya.
Sean dan Evelyn saling melempar mantra kutukan. Tiba-tiba sebuah perisai berwarna kuning membentang di antara mereka berdua. Kedua kutukan menabrak perisai dan meleset mengenai tembok di belakang Sean dan
juga Evelyn.
“Kalian pikir sedang apa?” Bentak profesor Alba menatap keduanya dengan tajam.
Keduanya menoleh menemukan profesor Alba yang sedang mengacungkan tongkatnya. Keduanya melihat suasana kelas yang menjadi sunyi, jendela kaca pecah, dan beberapa murid menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Ada yang kagum, heran, terkejut dan takut.
“Malfoy! Potter! Ikuti saya!” profesor Alba berdesis. Mereka mengikuti profesor Alba menuju ruangannya. Sesampainya diruangan professor Alba, wanita itu menatap Evelyn dan Sean dengan sorot mata yang tajam.
“Kalian pikir apa yang sedang kalian lakukan?” desisnya. “Apa kalian berniat saling membunuh, kalian menggunakan beberapa mantra kutukan yang berbahaya.” Jelasnya.
Wanita itu menghela napasnya. “Ku mohon, jika ini ada kaitannya dengan berita kalian di daily prophet tolong kesampingkan dahulu. Aku harap kalian dapat bersikap dengan profesional.”
Profesor Alba memandang keduanya dengan pandangan menyesal. “Tapi, aku tetap tak bisa mengabaikan ini. Aku terpaksa harus memanggil wali kalian.”
***
Harry dan Draco saling menghela napasnya sesaat setelah mendapatkan surat dari hogwarts. Kedua pria paruh baya itu bergegas menuju hogwarts dan menemui kepala sekolah Mcgonagall.
Sesampainya di sana, Harry dan Draco saling bertemu dan menyapa.
“Potter.”
“Malfoy.”
Harry menatap Draco dengan mengerutkan keningnya begitu pula sebaliknya. “ku rasa kita mendapat panggilan dengan alasan yang sama.”
Draco memutar matanya. “Tentu saja, dengan saling mengutuk sama lain.” desisnya. “Aku tak percaya putrimu telah kau ajarkan cara mengutuk orang dengan baik.”
Harry memandang Draco dengan kesal. “Harusnya aku yang bertanya kepadamu, bagaimana bisa kau mengajari putramu cara mengutuk seorang gadis?”
“Aku-“
Terdengar suara dehaman. Profesor Mcgonagall memandang kedua pria yang pernah menjadi muridnya dengan pandangan heran. “Ku pikir kalian berdua bisa melanjutkannya di lain tempat,” Katanya, “Sebelum itu, aku rasa kalian mengerti kenapa kalian dipanggil kemari.”
Kedua ayah itu saling mengangguk. “Begini, Mr. Malfoy dan Miss Potter saling melemparkan beberapa kutukan pada kelas pertahanan ilmu hitam. Memang jelas, jika profesor Alba yang mengajar saat itu menyuruh seluruh murid untuk berduel.”
Profesor Mcgonagall bisa melihat ekspresi khawatir kedua ayah itu. “Tapi yang mereka lakukan adalah melempar kutukan yang tidak termaafkan.” Wanita memijat pelipisnya. “Kami bersyukur keduanya tidak terluka sedikit pun.”
Wajah Harry dan Draco di penuhi tatapan penuh kelegaan. “Untuk itu kepala asrama mereka memberi detensi kepada yang bersangkutan.”
Draco menatap profesor Mcgonagall dengan tatapan tak percaya. “Detensi?” pria itu menggeleng. “Aku yakin putraku tak bersalah dalam hal ini, profesor. Bagaimana anda bisa memberinya detensi?”
Harry melirik pria di sebelahnya dengan garang. “Jadi kau mau mengatakan putriku yang bersalah? Putriku hanya ingin membela diri dari kutukan putramu.”
Harry tak bisa menahan kekesalannya. Awalnya ia berusaha memahami situasi mereka, namun sikap Draco membuatnya tak rela.
“Maaf, Mr Malfoy. Bagaimana pun juga kami akan tetap memberi mereka detensi. Mereka akan mendapat hukuman untuk tak pulang selama liburan natal.”