
Musim gugur seperti datang tiba-tiba tahun ini. Pagi hari di bulan September terasa segar seperti embun pagi di atas daun ketika keluarga kecil menyeberang jalan yang ramai menuju stasiun besar.
Asap knalpot dan hembusan napas para pejalan kaki terlihat seperti kumpulan angsa di udara yang dingin. Satu sangkar tertumpuk di atas kereta dorong yang didorong oleh orang tua mereka.
Para calon penumpang kereta api menatap penasaran ke arah mereka saat sebuah keluarga berambut platina berjalan dengan langkah angkuhnya.
Berjalan menuju tembok antara peron sembilan dan sepuluh, suara Scorpius terdengar oleh Draco. "Aku harus masuk Slytherin. Harus."
Ia mendoktrin dirinya sendiri.
Ada perasaan bangga yang membuncah pada diri Draco ketika melihat Scorpius mendoktrin dirinya agar menjadi siswa Slytherin.
Scorpius Malfoy berdiri di depan pintu Hogwarts Express dengan ekspresi yang tak berbeda jauh dari ayahnya. Syal berwarna hijau membalut lehernya dan berpakaian formal berwarna hitam persis seperti Draco saat pertama kali ia menginjak kakinya di Hogwarts.
Scorpius berdiri mematung memandang ibunya yang terus menerus mencium puncak kepalanya. Wanita itu, Astoria Greengrass.
"Jangan memasang ekspresi seperti itu." Tegur Astoria.
Scorpius tersenyum menatap ibunya yang tiba-tiba memeluknya. Ia juga memeluk ayahnya.
"Apakah aku sudah terlihat tampan?" Tanya Scorpius pada ayahnya.
"As always, Scorp. Malfoy terlahir memiliki wajah yang rupawan." Draco menjawab dengan bangga membuat Astoria tersenyum geli.
"Tolong jaga Mum, Dad. Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dengan Mum." Scorpius memandang ibunya dengan pandangan menelisik. Tubuh Astoria lebih berisi dari yang sebelumnya.
"Sure."
"Jaga dirimu baik-baik, Son." Ujar Astoria.
Tanpa Malfoy's sadari sebuah titik daun muncul dan mulai tumbuh di pohon keluarga Malfoy.
Sembilan bulan berlalu dengan singkat. Malam itu adalah malam yang tak terduga.
Astoria yang semula mengistirahatkan tubuhnya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa dibagian perutnya.
Raungan Astoria menggema. Bunyi puff muncul dengan suara yang keras. Kreacher, peri rumah datang dengan kegugupan yang luar biasa.
Ia tahu bahwa sang misstress akan segera melahirkan.
Waktu terasa begitu lama, setelah Kreacher mondar-mandir kesana kemari akhirnya ia berhasil untuk memanggil Draco. Malam itu penuh dengan jeritan-jeritan.
Draco, Lucius, dan Narcissa menunggu dengan perasaan gugup diluar kamar. Tak lama, terdengar suara tangisan bayi yang membuat mereka dapat bernapas dengan lega.
Draco buru-buru masuk dan melihat istrinya tersenyum seraya menggendong sosok kecil berambut platina yang sangat tampan. Ia berterimakasih kepada Merlin karena istrinya baik-baik saja.
Lucius dan Narcissa menatap dengan perasaan bangga. Anggota Malfoy telah bertambah, seorang darah murni akan memenuhi manor miliknya.
"Sudah kau siapkan nama untuknya, Son?" Lucius bertanya menatap Draco yang telah mengambil alih gendongan sosol mungil tersebut.
Draco mengangguk. "Sean Draco Malfoy."
Narcissa tersenyum lembut memandang cucu keduanya. "Penerus Sytherin lainnya akan segera memenuhi Hogwarts."
"Tentu, aku tak sabar menantikannya." Kata Draco, "Nampaknya Scorpius akan senang, ia memiliki teman bermain."
Astoria tersenyum bahagia. Ia tak menyangka Merlin akan memberinya dua orang putra.