Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
15



Sean tak bisa tidur, ia terus-terusan memikirkan Evelyn. Sean benar-benar menginginkannya.


Sial!


Seandainya saja ia tak menghadiri kelas ramuan Slughorn, mungkin hal ini tak terjadi.


Sudah tiga jam lebih ia berguling di atas tempat tidurnya hanya untuk mencari posisi nyaman agar bisa tertidur. Sean hampir saja memejamkan mata sebelum sebuah burung hantu tiba-tiba datang ke dalam kamarnya. Pria itu bangkit dan menatap seekor burung hantu berwarna abu-abu yang ia yakini milik ibunya.


Sean segera menghampiri burung hantu itu dan memberi potongan daging di piringnya sebelum mengambil surat dari ibunya.


Dia membuka sebuah surat dan sebuah foto yang dapat bergerak-gerak. Foto itu menunjukan gambar berisikan kakek, nenek, ayah, ibu, Scorpius dan seorang wanita yang tak ia kenal. “Apakah itu kekasih Scorpius?”


Burung hantunya mengepak sayapnya dan meninggalkan ruang kamar Sean.


Hi, Son.


Aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu?


Jangan khawatir, kami di sini semua baik-baik saja kecuali kakakmu yang semakin lama semakin gila bekerja. Mom khawatir jika Scorpius akan menjadi bujang lapuk.


Mom mengirimkan sebuah foto jika kau merindukan kami. Mom yakin, jika saat ini kau bertanya-tanya mengenai siapa gadis yang berada di dalam foto itu.


Ia adalah keponakan Cissy, yang artinya adalah bibimu.


Namanya Tiara. Tiara Lestrange, putri dari Bellatrix Lestrange.


Aku yakin jika ayahmu pernah menceritakan siapa dia kecuali Scorpius yang malas mendengarkan sejarah keluarga kita.


Bibimu akan tinggal bersama kita mulai sekarang.


Ku harap kau tak terkejut dan jaga dirimu baik-baik, Son.


With Love


Astoria.


Sean terdiam dan tak percaya menatap foto itu.


Apakah benar gadis itu bibinya? Gadis itu terlalu muda untuk di panggil sebagai bibi.


***


Kabar duka tiba-tiba menggema di seluruh bangunan Hogwarts. Kepala sekolah Mcgonagall sendiri tak tahu apa yang terjadi ketika mengetahui profesor Alba dinyatakan meninggal pagi ini. Beberapa guru hogwarts berkabung dan menghentikan aktifitas pembelajaran selama dua hari, hingga mereka menemukan guru pengganti yang tepat.


Bersamaan itu pula daily prophet membuat tajuk yang sangat mengejutkan ‘Salah satu mantan pelahap maut


menyembunyikan keberadaan putrinya’, Hermione menggeleng membaca tajuk itu dan terkejut mendapat siapa yang di bahas kali ini, ingatannya berputar bagikan sebuah rol film saat mengingat siapa yang pernah mengutuknya di Malfoy manor saat itu.


Cengkeramanya semakin erat pada daily prophet membuat Ron menatapnya heran. “Ada apa, Mione?”


Hermione menggeleng gelisah. “Aku tak tahu, Ron. Hanya saja ini tak bisa di percaya.”


Ronald menaikan alisnya tak paham dengan maksud ucapan sang istri.


“Malfoy menemukan kerabat mereka yang hilang.” Kata Hermione.


“Lalu?”


“Kerabat mereka adalah seorang putri dari- dari Bellatrix Lestrange.” Ron melebarkan matanya menatap istrinya tak percaya. “Malfoy membuat pengumuman mengenai putri Bellatrix yang baru saja mereka temukan.”


Ronald menggeleng kepalanya tak percaya. “Cukup mengejutkan.”


Hermione mengangguk.


“Lalu apa yang membuatmu gelisah, Mione?”


Hermione menatap suaminya bingung. “Bagaimana jika ia seperti- seperti Bellatrix?”


Ronald tersenyum. “Ku rasa tidak. Itu sudah berlangsung lama, sebenarnya aku sendiri tak cukup terkejut ketika tiba-tiba ada seorang gadis yang mengaku sebagai putri Bellatix.”


Hermione menatapnya heran. “Apakah itu artinya kau mengetahui sesuatu?”


Ronald menggeleng. “Bukan, hanya saja selama ini kita cukup tahu jika Bellatix memiliki suami tanpa seorang anak. Mungkin saja gadis itu telah disembunyikan atau ada alasan lainnya.”


Ronald merebut daily prophet itu dan menggenggam tangan istrinya. “Percayalah tak akan ada hal buruk yang terjadi, setidaknya gadis itu bukan mengaku sebagai putri dari Voldemort, si pesek itu.” Jelasnya membuat Hermione tersenyum lucu ketika suaminya mengejek dark lord.


“Kau menggelikan, Ron.”


Ronald mengerlingkan matanya. “Ayolah, jika itu benar-benar terjadi maka akan ada perang selanjutnya.”


Berita mengenai putri Bellatrix telah meluas di seluruh penjuru dunia sihir. Lucius sempat tak setuju dengan usulan Draco atau Narcissa yang memberitahu kabar mengenai Tiara ke seluruh publik.


“Apa kau yakin ini akan baik-baik saja?” Lucius memandang istrinya dengan tatapan tak yakin. “Bagaimana jika beberapa penyihir masih memiliki dendam pada Bella dan berdampak pada Tiara?”


Narcissa tersenyum. “Luce,” panggilnya. “Sudah beberapa belas tahun setelah peperangan terjadi. Ku pikir tidak ada dampak buruk yang terjadi kepada Tiara.” Jelasnya.


Lucius menghela napasnya.


“Tak akan ada yang menyakiti Tiara, terlebih ia telah menjadi salah satu keluarga Malfoy walau ia menyandang marga ayah dan ibunya.”


Suara langkah kaki menggema, Narcissa menoleh dan mendapati kemenakan perempuannya yang sangat cantik melangkah mendekati keduanya.


“Bi, ada surat dari hogwarts.”


Tiara menyerahkan sebuah surat yang membuat Narcissa memandangnya heran. Wanita itu membuka dan membaca isi suratnya dengan wajah yang tak bisa dipercaya.


Narcissa menutup mulutnya dengan tangan.


“Ada apa, Cissy?”


“Profesor Alba meninggal tadi pagi.” Lucius melebarkan matanya membuat Tiara mengerutkan kening.


“Siapa itu profesor Alba?”


“Salah satu guru di hogwarts, guru pertahanan terhadap ilmu hitam.” Jawab Lucius.


***


Evelyn dapat menemukan ibu dan ayahnya setelah selesai menghadiri pemakaman. “Hi mom, dad.” Sapanya yang membuat Ginny memeluk putrinya.


“Apa kau baik-baik saja, sayang?” Evelyn mengangguk mendengar pertanyaan ibunya.


“Im okay, mom.”


“Syukurlah, berita mengenai kematian profesor Alba membuatku cukup khawatir tentang keadaanmu.”


“Ibumu benar-benar panik hingga menyeretku tadi.” Evelyn tersenyum ketika Harry melontarkan kalimat ringan yang membuat Ginny menatapnya tak suka.


Ginny mengurai pelukannya. “Aku membawakan beberapa barang untukmu. Ku dengar natal nanti kau tak akan pulang.”


Evelyn menggeleng. “Entahlah, mom. Sebenarnya detensiku berada di bawah naungan mendiang profesor Alba,” Evelyn menatap kedua orangtuanya. “Tapi dengan adanya kejadian ini mungkin kepala sekolah Mcgonagall akan mengganti hukumanku.”


Ginny mengangguk mengerti. “Ku harap natal nanti kau tetap bisa pulang.”


“Ginny, Harry.” Sebuah suara membuat pasangan Potter itu menoleh dan menemukan wanita asia yang tersenyum ke arahnya.


Di belakang wanita itu ada Wendy yang tersenyum kepada Evelyn.


Ginny tersenyum. “Hi, Cho. Bagaimana kabarmu?”


Cho tersenyum. “Seperti yang kau lihat. Sudah lama aku tak bertemu dengan kalian.”


Harry dan Ginny mengangguk. “Jadi, ia adalah putrimu?” Harry menatap Wendy mengenakan jubah berwarna biru membuatnya menggeleng tak percaya. “Benar-benar sepertimu, Ravenclaw.”


Cho cang tersenyum dan mengangguk. “Begitu pula dengan putrimu.” Cho menoleh pada Wendy. “Ibu akan menemuimu nanti.”


Wendy mengangguk.


“Sepertinya aku juga harus pergi, mom.” Ginny mengangguk saat Evelyn mengikuti Wendy untuk kembali ke hogwarts.


Cho tersenyum. “Tak terasa sudah berlalu lama dan rasanya seperti baru kemarin kita kehilangannya dan peperangan di mulai.”


“Kita telah kehilangan banyak orang termasuk Lupin dan Nhympadora.” Harry tersenyum pedih.


Ginny menatap Cho yang melihat ke arah pemakaman. “Apa kau merindukan Cedric?”


Cho tersenyum nakal. “Jangan bilang pada suamiku, nanti ia bisa salah paham.”


Harry tersenyum dan menggeleng. “Ku pikir kau tak bisa melupakannya hingga kau menikah dengan pria bermarga Son itu.”


“Tadinya seperti itu.” Cho menatap mereka serius. “Apa kalian sudah membaca daily prophet hari ini?”


Ginny dan Harry menggeleng. “Kebetulan kami begitu terkejut dengan berita mengenai profesor Alba hingga Ginny berkicau mengenai Evelyn yang tidak-tidak.”


“Apa kau baru saja mengataiku, Harry?” Harry meringis melihat tatapan istrinya.


“Bisa ku asumsikan kalian belum membacanya pagi ini.”


Ginny menatapnya heran. “Sebenarnya ada apa, Cho?”


“Daily prophet mengatakan bahwa kemunculan seorang gadis di keluarga Malfoy adalah putri dari Bellatrix.” Cho bisa melihat tatapan tak percaya dari pasangan Potter tersebut. “aku tak akan mempercayainya jika suamiku tak mengatakannya tadi pagi.”


“Begitu pula kami.” Jawab Harry. “Ku kira wanita itu tak memiliki penerus seperti Malfoy.”


***


Kematian profesor Alba membuat kepala sekolah Mcgonagall menyelidiki hal tersebut menggunakan beberapa auror sebelum benar-benar di asumsikan jika profesor Alba mengidap penyakit muggle.


Serangan jantung tidak pernah terjadi kepada para penyihir. Mereka mengatakan jika itu adalah salah satu penyakit muggle terlebih para penyihir memiliki anti body yang lebih kuat dari muggle.


Hari ini adalah hari kedua setelah kematian profesor Alba. Evelyn benar-benar menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang tak pantas kepada Sean, tentu saja si bungsu Potter tak melupakan bagaimana Xanders menjelaskan jika dirinya di imperius oleh Malfoy.


Irene dan Bianca lega setidaknya ke salah pahaman itu tak berlangsung lama, dan hubungan Xander dan Evelyn mulai membaik.


Di meja para singa, Mark dan Theo membicarakan guru mereka yang baru saja meninggalkan hogwarts dan itu mengundang tatapan aneh dari Bianca.


“Ayolah, Mark. Kita semua tahu jika mendiang professor Alba itu sungguh kejam.” Katanya. “Kau tak lupa kan, bagaimana hancurnya tahun ketiga kita.”


Mark meringis mendengar perkataan Theo. “Itu jika kau tak berkelahi dengan Elwood, professor Alba tak akan memberi detensi.”


Theo mengangguk. “Kau memang benar. Tapi, kepala sekolah Mcgonagall mengumumkan jika kelas pertahanan terhadap ilmu sihir di tutup sementara sebelum menemukan pengganti yang cocok.”


“Apa?” Bianca berseru membuat Theo dan Mark ikut menoleh. “Bisa kau jelaskan lagi?’


Theo menggaruk kepalanya yang tak gatal.  “Professor Mcgonagall mengatakan kelas pertahan terhadap ilmu hitam di tutup untuk sementara.” Katanya yang membuat Irene riuh bertepuk tangan.


“Akhirnya aku bisa beristirahat setelah sekian lama.” kata Irene dengan senang. “Jadi, mulai kapan pencarian guru baru dimulai?”


“Hari ini.” Theo dan Mark serempak menjawab, Irene hanya tersedak jus labunya. Sepertinya Merlin tak mengijinkan penyihir itu untuk tenang.


***


Para professor hogwarts mengadakan sebuah rapat, membahas mengenai pergantian guru baru. Hagrid duduk di sana dan mengatakan pendapatnya bahwa ia tak setuju dengan pergantian guru dengan cepat.


Professor Slughorn tak berkomentar.


“Kenapa kau tidak setuju, Hagrid?” kepala sekolah Mcgonagall membuka mulutnya setelah beberapa guru selesai berdebat.


“Bukankah ini terlalu cepat?” tanyanya. “Professor Alba baru saja meninggal dua hari yang lalu.”


Kepala sekolah Mcgonagall sedikit mengangguk, bibirnya berkedut seakan ingin membantah walaupun yang dikatakan oleh Hagrid memang benar.


Professor Sprout yang tadinya hanya diam, tiba-tiba membuka suara. “Tapi, anak-anak tetap membutuhkan professor dalam mata pelajaran sihir itu.”


Kali ini Hagrid yang terdiam. “Walaupun terdengar tidak sopan kita mengganti guru dalam waktu cepat, tetapi seluruh murid tetap membutuhkan pengajar baru dalam hal ini.” beberapa guru mengangguk membenarkan ucapan professor Sprout.


“Terlebih anak tahun ke tujuh yang sebentar lagi akan menghadapi N.E.W.T. kita butuh seorang guru yang menyalin data-data nilai mereka pada berkas-berkas mendiang professor Alba.” Jelasnya.


Kepala sekolah Mcgonagall menatap Hagrid yang nampaknya menyerah. “Jadi, bagaimana pendapatmu kali ini, Hagrid?”


Hagrid menghela napas dan mengangguk. “Sepertinya aku juga tidak punya pilihan lain.”


Kepala sekolah bangkit dari kursinya. “Baiklah, aku akan mengumumkan lowongan guru baru di Hogwarts.”