Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
14



Christian tersenyum menatap Wendy yang tertidur pulas di sebelahnya. Kekasihnya tertidur setelah melewati malam yang panas. Sesekali ia mencium puncak kepala Wendy membuat sang gadis bergumam tak jelas.


“Kau benar-benar menggemaskan.”


Christian memainkan rambut Wendy hingga gadis itu terusik, ia merapatkan jubah milik Christian ke tubuh polosnya. “Maaf, aku membangunkanmu ya?”


Wendy mengangguk dan tersenyum. “Pukul berapa sekarang?” tanya dengan suara yang serak.


Christian menyeringai. “Pukul satu pagi.”


Wendy melebarkan matanya. Gadis itu segera mencari pakaiannya yang sempat Christian buang ke lantai. “Kau seharusnya membangunkanku tadi.” Katanya kesal.


“Kau terlihat lelah, aku tak tega membangunkanmu.” Katanya menahan tawa. “Ayo, aku antar kembali ke asrama setelah selesai berpakaian.”


***


Sean telah mengantarkan Evelyn ke asrama sebelum memeluknya sebentar. “Mengenai yang tadi maafkan aku.”


Evelyn mengangguk membuat Sean tersenyum. Pria Slytherin itu mengecup singkat pipi Evelyn sebelum pergi meninggalkannya. Pintu kamar tidur terbuka, Evelyn mendongak menatap Irene dan Bianca yang masih menunggunya.


“Evelyn.” Irene berseru. Gadis itu membawa Evelyn masuk ke dalam kamarnya. “Apa yang terjadi kepadamu? Kau sungguh berantakan.”


Bianca mengangguk. “Kemana saja kau, kami terkejut ketika Xanders kembali sendirian.”


Evelyn tak menjawab dan hanya menangis membuat kedua temannya panik. “Siapa?” tanya Bianca. “Siapa yang menyakitimu?”


Tangisan Evelyn lebih keras dari yang sebelumnya membuat Irene menatapnya iba. “Bi, biarkan Evelyn menenangkan dirinya terlebih dahulu. Lagipula, ini sudah larut malam.”


Bianca mengangguk. “Kau beristirahatlah dan jelaskan pada kami semuanya besok pagi.”


***


Ruang makan yang biasanya selalu terisi lima orang tanpa Sean, pagi ini mulai terisi enam orang yang akan menyantap sarapan dengan tenang. Kreacher, peri rumah Malfoy manor merasa takut ketika Tiara membantu menyiapkan sarapan.


Narcissa cukup terkejut ketika kemenakannya datang dan meletakan sebuah hidangan sebelum  bergabung.


Draco dan Astoria hanya saling melirik sebelum menatap ayahnya dengan tatapan bingung. Narcissa berdeham. “Kau tak perlu repot-repot membantu para peri rumah, ketika Kreacher dan yang lainnya masih bisa bekerja.”


Tiara tersenyum. “Tak apa, Bi. Aku terbiasa membuat sarapan sendiri.”


Scorpius hanya terdiam menikmati hidangan buatan Tiara, ia melebarkan matanya sesaat setelah menikmati sesuap sup kentang milik Tiara. “Ini enak sekali.”


Draco mengangguk. “Kau terbiasa memasak?”


Tiara mengangguk. Narcissa tak banyak berkomentar dan segera menikmati sup buatan Tiara, Lucius pun mengikuti apa yang keluarganya lakukan, mencicipi masakan Tiara. Putra Axbrahas hanya mengangguk sebelum menatap Tiara.


“Setelah makan, kami ingin berbicara denganmu.”


Tiara mengangguk.


***


Evelyn benar-benar tak berinteraksi dengan Xanders setelah kejadian semalam. Irene dan Bianca cukup terkejut melihat bagaimana Evelyn menghindar dari Xander maupun Sean. Irene memang tidak mendesak Evelyn untuk berbicara tapi tidak dengan Bianca yang benar-benar menatap si bungsu Potter dengan tajam.


Evelyn menghela napas, menceritakan apa yang terjadi dengan sedih. Ia takut jika Irene dan Bianca tak mempercayai apa yang akan di ceritakan.


Irene menepuk pundaknya. “Kami akan berusaha memahamimu.”


Penjelasan Evelyn mengalir begitu saja termasuk tatapan tak percaya dari Bianca dan juga Irene. Kedua gadis itu masih bungkam tak tahu harus berkomentar bagaimana.


“Kau yakin jika Xanders benar-benar melakukan itu kepadamu?”


Evelyn mengangguk mendengar pertanyaan Bianca.


“Dan Malfoy menyelamatkanmu?” Bianca bertanya dengan tatapan tak percaya.


Evelyn mengangguk lagi membuat Bianca bangkit dari bangkunya meninggalkan kedua temannya.


“Bi, mau pergi ke mana?”


Bianca tetap tak merespon dan meninggalkan aula besar. Si sulung Avalee itu pergi mencari Xanders dan beruntung. Ia menemukan Xanders bersama kedua siswa tahun ke lima, Mark dan Theo di lapangan quidditch.


Xanders nampak mengajari kedua penyihir itu.


“Xanders!”


“Hey, Bi-“


Bugh!


Mark Carlton dan Theo Turner hanya bisa mendelik melihat Bianca yang tanpa sepatah kata pun meninju tulang rahang Xanders. Pria itu mengaduh kesakitan di hadapan mereka.


“Apa-apaan kau?” Xanders berseru terkejut.


“Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” Bianca menatapnya tajam. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian bertiga semalam?”


Xanders menelan ludahnya dengan gugup. Ia tak bodoh untuk menyadari jenis pertanyaan yang dilontarkan oleh Bianca.


“Edmund, ka-kami permisi dulu.” Theo membuka suara dan mendapat tatapan tajam dari Bianca.


“Tidak perlu!”


Kedua murid tahun ke lima itu hampir saja melangkahkan kakinya sebelum Bianca berseru. Gadis itu mendesah. “Kalian tetap di sini.”


Xanders memegangi tulang pipinya yang nampak memar.


“Jelaskan!”


Xanders meringis. “Ini hanya kesalahpahaman, Bi. Nampaknya ada seseorang yang mengimperius ku.”


***


Narcissa menatap Tiara dengan lembut. “Aku dan Lucius semalam sudah mempertimbangkannya,” Tiara mendongak menatap bibinya. “kami semua ingin kau tinggal di sini.”


Tiara menggeleng. “Tidak perlu, bibi. Aku kemari hanya ingin menemui ibu ku walaupun-“ ia menghela napasnya dengan berat. “walaupun ibu sudah tiada. Aku tidak ingin merepotkan kalian.”


Narcissa menggeleng. “Kau tak merepotkan kami sama sekali, dear. Ku mohon pertimbangkanlah lagi.”


Tiara tersenyum. “Bolehkah aku tahu di mana ibu ku di makamkan?”


Lucius dan Narcissa saling melirik sebelum Narciss mengangguk menyetujui permintaan keponakannya. “Kami akan mengantarkanmu nanti.”


“Terima kasih banyak, aku telah merepotkan kalian.”


Draco berdeham. “Kau tak merepotkan kami sama sekali. Sepupu.” Pria itu tersenyum. “Aku benar-benar tak menyangka memiliki sepupu yang umurnya tak berbeda jauh dari umur anakku.”


Tiara mengangguk sedih. “Itu karena aku anak yang tak di inginkan, mungkin.” Matanya berkaca-kaca. “Itulah sebabnya ibu meninggalkanku di Albania.”


Astoria yang duduknya paling dekat dengan Tiara memeluknya. Istri Draco itu tersenyum pedih. “Tinggalah di sini, karena kami semua menginginkanmu.”


Lucius benar-benar tak habis pikir. Bagaimana mungkin Bellatrix, adik iparnya yang super gila itu memiliki putri sebaik Tiara. “Jadi, bagaimana?” Lucius menyakinkan. “Apa kau setuju?”


Tiara menatap seluruh keluarga Malfoy yang menatapnya dengan penuh harap. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. “Aku berjanji tak akan menyusahkan kalian.”


Narcissa tersenyum senang. “Baiklah, mulai sekarang kau resmi menjadi keluarga Malfoy.” Tiara terkejut. “Kami akan mengangkat mu sebagai anak.”


Air mata Tiara benar-benar lolos begitu saja ketika Narcissa mengatakan bahwa ia dan Lucius mengangkat dirinya sebagai anak. Setelah ini ia akan merasakan kasih sayang kedua orang tua yang sesungguhnya.


“Sebelumnya apa kau mengikuti pendidikan sihir?” Draco berseru membuat Tiara mengangguk. “Di mana?”


“Beauxbatons.”


Draco mengangguk. “Bagaimana dengan pekerjaan?”


Tiara tersenyum. “Sebenarnya aku hanya mengajar di sebuah sekolah kecil di Albania.”


Narcissa dan Lucius tersenyum puas. “Apa kau mengajari mereka sihir?”


Tiara mengangguk mendengar pertanyaan Lucius.


“Bagus! Bagaimana jika kau bekerja menjadi guru di salah satu sekolah sihir?” tawar Draco yang membuat mata Tiara melebar.


***


Makan malam telah tiba, Evelyn bergerak dengan malas. Akhir-akhir ini ia ingin sekali menghindar dari Xanders maupun Sean. Namun, nampaknya si bungsu Malfoy mengerti situasinya dan pria itu tidak mendekati Evelyn terlebih dahulu.


Evelyn dan Irene telah sampai di aula. Di sana ada Bianca yang nampak mengomeli Wendy dengan puas. “Benar-benar ya pria itu. Jika saja ia bukan kekasihmu, aku tak akan segan-segan mengutuknya.”


Wendy menghela napas mendengar omelan panjang mengenai Christian yang ikut mengganggu Bianca bersama Krystal. “Sungguh aku tidak tahu, Bi. Aku akan menegurnya nanti.”


Bianca menggeleng. “Tak perlu, aku hanya ingin kau tahu jika dia tak cocok menjadi kekasihmu mengingat kelakuan buruknya.”


Evelyn dan Irene mendekat. “Hey, ada apa?” Irene bertanya.


Wendy tersenyum malu. “Hanya sedikit penjelasan bagaimana kelakuan kekasihku?” katanya tak yakin.


“Evelyn.”


Evelyn menoleh ke asal suara. Ia melihat Xanders berdiri di belakangnya. Wajahnya tampak sedih dan nampak sedikit ada memar baru di pipi kirinya.


Evelyn berdeham. “Ya?”


Xanders masih menatapnya sedih. “Ku mohon, Lyn.” Katanya pelan. “Kita benar-benar perlu berbicara.”


Bianca tersenyum. “Bicaralah Lyn, ada sesuatu yang perlu kalian luruskan.” Ucapan Bianca di tatap heran oleh Wendy.


“Secara pribadi.” Kata Xanders yang membuat Evelyn mengangguk tak yakin.


Evelyn mengikuti Xanders ke koridor luar aula besar. Sebelumnya Evelyn menatap ke arah meja Slytherin dan menemukan Sean menatapnya tajam.


“Wait, apa aku ketinggalan sesuatu?” Wendy bertanya membuat Irene mengangguk. “Ada apa?”


Bianca mendengus. “Hanya para ular yang berusaha merusak persahabatan.”


Evelyn berdeham. “Jadi?”


Xanders memejamkan matanya sesaat sebelum menatap Evelyn takut-takut. “Aku merasa harus menjelaskan ini.” Evelyn menatapnya bimbang. “Ini tentang malam itu.”


“Tak perlu repot-repot, Xanders.” Kata Evelyn ketus. “Semalam aku yang mengalaminya, jadi aku tahu itu benar-benar kau.”


“Lyn, saat itu aku tak paham apa yang terjadi kepadaku.” Katanya gelisah. “Aku memang menyukaimu, tapi aku tak berniat melakukan hal itu.”


Evelyn menatapnya tak percaya. “Hingga kau terpaksa melucuti tongkatku.” Ujarnya sarkas.


Xanders menggeleng kuat. “Tidak, Lyn. Trust me!” mohonnya. “Sepertinya seseorang sedang mengimperius ku.”


Evelyn mendelik. “Aku ingat apa yang terjadi. Namun, aku tidak ingat apa yang ku lakukan hingga Malfoy datang dan mengutukku.” Pria itu mendesah. “Aku tak akan tahu kenapa kau menghindariku jika Bianca tak datang dan meninjuku saat itu.”


Evely terkejut. “Bianca meninjumu?”


Xanders mengangguk. “Ia berkata aku pria brengsek yang akan memaksamu dan melucuti tongkatmu.”


“Aku yakin jika kau sedang berbohong, dan-“ Ucapan Evelyn terhenti ketika ia sadar jika ada yang tak beres dengannya dan Sean semalam.


“Shit.” Umpatnya.