Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
03



Sean benar-benar marah saat ia menutup tasnya. Di sana Mayer, Griffiths, dan Rogers terus membicarakan ramuan konyol itu. “Kau benar-benar beruntung, gadismu benar-benar mencintai mu, Mayer.” Puji Roger, Kai


Roger menatap Christian yang tersenyum bangga.


“Tentu saja, aku beruntung. Lagipula aku tak masalah jika ia bukan berasal dari Slytherin. Walaupun Wendy murid Ravenclaw, dia pintar dan juga seorang penyihir berdarah murni.” Jelas Christian yang diangguki oleh Krystal.


“Tapi aneh sekali kan, Sean?” Kai merenung menatap Malfoy.


“Apa yang aneh, Rogers?” Nada pertanyaan Sean terdengar menuntut.


“Hm.” Kai terlihat ragu untuk mengatakannya. “Kau tidak mencium apapun dari Amortentia.”


“Penyihir kuat tak butuh hal itu, Kai.” Tekannya dengan tegas. Di sana Krystal, Christian dan Kai terdiam menatap


tatapan Sean yang begitu mengintimidasi.


“Ah, benar. Apakah berita itu sungguhan, Sean?” Krystal berusaha mengalihkan topiknya. “Maksud ku, kau dan putri bungsu Potter. Tidakah dia terlalu cantik untuk menjadi keluarga Potter dan terlalu bagus untuk menjadi Gryffindor.”


Kai mengangguk bersama Christian yang sedikit menyeringai. “Benar, bagaimana jika kalian menghiburnya?” Krystal menyeringai, Kai dan Christian tersenyum licik. Keduanya mengerti kemana alur pembicaraan si bungsu Griffiths.


Sean mengatupkan mulutnya dan mengeratkan tangannya pada tas yang ia bawa.


Christian mengangguk. “Dia memang bukan gadis tercantik di hogwarts, tapi aku tertarik. Aku berani bertaruh dengan mudah membujuknya untuk bermain di atas ranjangku.” ucapan Christian mengundang tawa ejekan dari Kai dan Krystal.


“Bagaimana jika kita bertaruh saja?” Seringai bodoh Kai keluar. “Yang pertama membawa Potter ke atas kasurnya akan mendapatkan dua puluh lima Galleon.”


Krystal melebarkan mata. “Kalian berdua gila, haha.” Si cantik Griffiths itu tak menyangka jika ucapan kecilnya akan menjadi malapetaka untuk Potter nantinya. “Kau tak takut dengan Wendy, eh?” tanyanya pada Christian.


Christian menggeleng. “Asal kalian bisa menjaga rahasia, tentu saja tidak. Lagipula aku hanya akan tetap mencintai Wendy walaupun aku penasaran bagaimana rasanya tidur dengan Evelyn White Potter.”


“Baiklah! Aku ikut bertaruh.” Seru Kai, laki-laki itu terlihat minat.


Sean tak bisa menahan kemarahannya. Dia menatap ketiga temannya dan memberikan tatapan tajam. “Jauhi gadis itu atau kalian akan menyesal lahir di dunia ini.”


Ketiga penyihir itu menatap Sean dengan tatapan bingung sekaligus ketakutan. Krystal berdeham, sementara Christian dan Kai memilih untuk bungkam.


“Apakah dia milikmu, Sean? Maksudku, semenjak pemberitaan yang baru berjalan sehari, aku tak menyangka kau bersikap seolah-olah dia adalah milikmu.” Kai berucap dan Sean merasa marah dengan ucapan Rogers.


“Aku tak tertarik kepadanya.” Jawabnya tegas.  “Bukan seperti itu, aku hanya penasaran. Entah kenapa dia terlihat berbeda. Aku tidak ingin kalian mendekatinya. Bisa saja ada sesuatu yang akan- kalian mengerti maksud ku


bukan?”


Krystal mengangguk dengan mantap. Berbeda dengan Kai dan Christian yang nampaknya lamban untuk berpikir.


Selama dua jam pelajaran, Sean tak bisa berpikir dengan sebagaimana semestinya. Ia masih terpikir dengan aroma yang baru saja ia hirup. Kenapa bisa terjadi? Bahkan ia saja tak pernah dekat dan mengenal si bungsu Potter.


Aroma itu adalah aroma yang membuatnya mabuk saat menghirupnya dari kuali. Setelah menyelesaikan kelasnya, Sean tanpa sengaja melewati ruangan Profesor Mcgonagall. Ia mendengar pembicaraan manis antara wanita tua itu dan Potter.


Sean mengintip dengan perasaan gugup.


Gugup?


Apa-apaan perasaan ini?


Seharusnya ia tak merasa gugup, membuat Potter menjadi miliknya cukuplah mudah dan setelahnya ia bisa menghancurkan gadis itu bersama perasaan yang menyusup ke dalam hatinya. Hampir setiap gadis di hogwarts selalu menggoda dan bersikap sok manis kepadanya, kecuali Krystal dan Potter. Sean benar-benar memahami karakter pengikutnya yang cantik itu.


Bahkan saat Valentine dan Natal, Sean selalu menerima hadiah-hadiah yang tak diinginkan datang kerumahnya. Membuat ibu dan ayahnya terkejut ketika putra bungsunya membakar semua hadiah-hadiah itu tanpa membukanya.


Ia masih mengingat bagaimana kakeknya menyetujui tindakannya. Kakek Lucius pernah berkata, penyihir kuat tak memerlukan cinta. Mereka hanya membutuhkan partner yang hebat.


Astoria, ibunya tahu jika Sean tak pernah menunjukan minat pada salah satu dari sekian banyak gadis. Namun, pemikiran ibunya kali ini akan salah jika menyadari sikap putra bungsunya yang sekarang.


Sean tak pernah merasakan ini sebelumnya dan tiba-tiba ia merasakannya dari Miss. Potter. Ugh, dia baru saja menyebutnya Miss. Potter.


Sean mengerang dan tiba-tiba sebuah seringaian muncul dihadapannya. Ia tahu bagaimana menghancurkannya bersama dengan perasaan konyol ini.


Cukup membuat Evelyn tersipu dan merasa beruntung hingga beberapa gadis akan menjauhinya karena menuduhnya merebut perhatian Sean dari mereka. Dan tiba-tiba ia akan datang membantu Evelyn seolah-olah membuat gadis itu aman bersamanya.


Namun, tiba-tiba ia mencium bau itu lagi. Sean benar-benar mengerang dan segera kembali asramanya.


Terdengar bunyi puff dengan keras membuat Astoria dan Narcissa terkejut menatap seseorang yang berapparate ke Malfoy manor dengan seragam hijaunya. Kedua wanita kesayangan Sean merasa heran ketika si bungsu Malfoy berada di manor.


“Mum!”


“Grandma!”


Laki-laki itu memeluk ibunya dan memeluk neneknya secara bergantian. “Kenapa kau pulang, Son?” terdengar nada khawatir pada pertanyaan ibunya.


Sean tak menjawab dan hanya tersenyum. “Dimana, Dad?”


Narcissa hanya mengerutkan keningnya dan menyesap tehnya dalam diam. “Ayahmu sedang berada di ruang kerjanya.”


Sean hanya mengangguk dan bergegas menemui ayahnya. Draco Malfoy. Astoria merasa heran, bagaimana cara putranya pulang dari Hogwarts dengan waktu sesingkat itu.


Suara pintu terbuka, Draco hampir saja memarahi seseorang yang membuka pintu ruang kerjanya tanpa ijin. Namun, ia mengurungkan niatnya saat putra kebanggaanya datang. “Son, kau pulang?”


“Dad, kurasa aku terkena Amortentia.”


Sean tak menjawab pertanyaan ayahnya. Draco menaikan alisnya tak paham dengan ucapan anaknya. Dilihat dari sisi mana pun, putra bungsunya tak menunjukan tanda-tanda bahwa dirinya terkena ramuan konyol itu. “Kau yakin?”


“Ya.”


Draco tak menjawab dan membuka rak ramuan yang berada di sebelah meja kerjanya. Pria itu mengambil sebuah ramuanya yang berwarna merah muda. Ramuan penangkal Amortentia.


Tanpa butuh waktu yang lama, ia memberikannya kepada Sean, dengan cepat si bungsu Malfoy menegak ramuan itu. Draco memandang putranya dengan aneh, jika benar Sean terkena ramuan konyol itu harusnya ia bersikap seperti Scorpius beberapa tahun yang lalu.


Namun, Sean terlihat bahwa ia baik-baik saja. Bahkan tak ada reaksi apapun setelah meminum ramuannya. “Kenapa kau di sini? Sebaiknya kau segera kembali ke hogwarts.”


Laki-laki itu hanya mengangguk. “Thanks, Dad.”


“Anytime, Son.”


Tak butuh lama Sean pergi meninggalkan ayahnya dengan perasaan heran. Tunggu! Bagaimana putranya dapat kembali dalam waktu sesingkat ini.