
Evelyn terbangun dari tidurnya ketika suara ketukan pintu terdengar. Pintu kamarnya terbuka dan munculah Harry yang sedang memasang senyum terbaiknya. Sebenarnya, membujuk anak-anaknya memerlukan banyak tenaga.
“Tidur nyenyak?”
Evelyn memberi gumaman singkat. “Ada apa, dad?”
“Kita harus segera bersiap karena akan merayakan natal di rumah Ron. Semua keluarga Weasley akan berkumpul di sana.” Jelasnya pelan.
Evelyn yang mendengarkan ucapan ayahnya segera bangkitdari tempat tidur.
Harry tahu jika putrinya sangat menyukai keluarga ibunya. Yah, seandainya Mr dan Mrs Potter masih hidup, ia akan senang sekali jika Evelyn mengenal kedua orang tuanya.
“Lyn.” Evelyn yang baru saja ingin pergi ke kamar mandi mengurungkan niatnya saat Harry duduk di tepi kasurnya. “Mengenai Albus-“
“Aku tidak ingin membahasnya, dad. Albus berhak berkata apapun mengenai Slytherin, tapi ia tak berhak menghina kekasihku.” Jawabnya pelan.
Harry mengangguk dan tersenyum menatap putri kecilnya. Pria paruh baya itu berusaha mati-matian menahan rasa bangganya menatap Evelyn yang mulai beranjak dewasa. “Kenapa kau menjadi dewasa secepat ini.”
Evelyn mendongak menatap ayahnya cemberut. “Dad, im seventeen years old.”
Harry mengangguk, ia beranjak dan mengecup kening putrinya dengan sayang. “Yah, itu sudah cukup membuktikan jika kau telah memiliki kekasih.”
Evelyn mengurai pelukannya. “Ya, dad dan mom juga saling menyukai saat berada di usia ku bukan.”
“Kau tahu, Lyn. Bagi kami, kau adalah putri kecil kami, bagi kakak-kakak mu kau adalah adik kecil mereka yang masih perlu mereka jaga.” Jelasnya membuat Evelyn memandang ayahnya enggan. Ia tahu jika ayahnya akan membahas Albus. “Sikap Albus terjadi karena ia mengkhawatirkanmu.”
Evelyn mengangguk lemah. “I know, dad. Tapi Albus keterlaluan, ia tak akan menjadi kekasih ku jika ia menyakitiku,
bahkan jika ia Slytherin sekalipun.”
Harry tersenyum. “Maka dari itu maafkan kakak mu, ia hanya terlalu mengkhawatirkanmu.”
Evelyn terdiam sesaat menatap ayahnya yang menunggu jawabannya.
“Kau dan Albus tak mungkin menunjukan sikap saling bermusuhan di rumah Ron, bukan?” Evelyn mengangguk. “Maka dari itu maafkan Albus dan kita bisa merayakan natal dengan senang.”
“Tapi, bagaimana jika Albus masih marah denganku?”
“Im not.”
Evelyn dan Harry memandang ke arah pintu. Di sana Albus berdiri menatap Evelyn dan ayahnya dengan malu, ia ketahuan tengah menguping.
“Apa kau baru saja menguping, brother?” Sindir Evelyn, Harry di sana berusaha menahan untuk tidak tertawa dihadapan kedua anaknya.
Albus memutar kedua matanya. “Oh, maaf untuk yang itu.” Katanya sedikit kesal. “Tapi, untuk pembicaraan ku mengenai kekasihmu. Aku sungguh menyesal.”
Evelyn tak memberi komentar saat menatap kakaknya yang terlihat salah tingkah.
“Jadi, kau memaafkanku?”
Evelyn menatapnya yang mengangguk. “Ya.” Evelyn tersenyum lebar.
***
Sebuah surat datang ke meja Narcissa, isi surat itu menyebutkan jika Tiara terpaksa tidak bisa merayakan natal bersama keluarga Malfoy. Maka dari itu, surat itu datang bersamaan dengan bingkisan-bingkisan hadiah natal pada seluruh anggota keluarga Malfoy.
Draco mendapat sebuah dasi baru yang akan ia gunakan untuk pergi bekerja. Astoria melihat sebuah mantel bulu berwarna biru muda dengan hiasan perak yang mengukir namanya di sana. Lucius mendapatkan sebuah tongkat baru berkilat perak dengan logo Malfoy pada ujungnya.
Narcissa juga mendapatkan sesuatu di sana, sebuah liontin yang terdapat foto dirinya dan Bellatrix di dalamnya. Melihat itu membuat Narcissa merasa menyesal, seharusnya ia mencari tahu mengenai Bellatirx dengan sebaik-baiknya, tapi nyatanya ia tak mengetahui apapun mengenai kakaknya itu.
Tiara adalah putri Bellatrix Black dan Rudolphus Lestrange. Keluarga Lestrange menghilang semenjak peperangan, bahkan diantara mereka ada yang meninggal. Satu-satunya keluarga yang Tiara miliki hanyalah dirinya.
“Wow, cool!” Scorpius berseru menatap sebuah kotak berwarna biru tua dengan pita perak diatasnya. Beberapa botol ramuan yang membuatnya tertawa kecil. “Aku benar-benar menyukaimu, sepupu.” Gumamnya.
Draco menggeleng pelan melihat tingkah putra sulungnya. Ia kemudian beralih menatap putra bungsunya yang menatap hadiah miliknya dengan tatapan kagum. “Apa yang kau dapat, son?”
Sean mendongak dan tersenyum. “Beberapa buku sihir hitam, dad.”
Draco hanya mengangguk singkat dan kembali menatap Scorpius dengan geli. “Ramuan-ramuan apa itu?”
“Lihat!” Scorpius menunjukan hadiahnya kepada seluruh anggota keluarga. “Aku mendapatkan ramuan khusus, Tiara bilang aku cukup meminum ini seminggu sekali sebelum banyak amortentia yang mengenaiku.”
Astoria memandang putra sulungnya dengan geli. “Kau masih diganggu para gadis?”
Scorpius mengangguk membuat Sean terkekeh geli di sana. “Ya, Tiara pernah mengatakan bahwa Scorp mengaku jika Tiara adalah tunangannya.”
Narcissa mendelik terkejut. “Dan mereka percaya?”
Sean dan Scorpius mengangguk bersamaan.
Draco dan Lucius menahan tawa melihat wanita senja Malfoy mendengus.
***
Di tempat yang berbeda, Irene dan Sandy menikmati malam natal mereka dengan bahagia. Sama halnya dengan apa yang dilakukan Christian dan Wendy, pria Slytherin itu juga mengunjungi rumah keluarga Son bersama Mr dan Mrs Mayer.
Keluarga Avalee juga berlibur dengan tenang tanpa gangguan dari Griffiths bersaudara. Xanders, Theo dan Mark mereka juga sempat bertemu sebelum merayakan natal bersama. Bertukar hadiah dan masih banyak lainnya.
Setidaknya Tiara masih membiarkan mereka semua untuk bergembira sebelum saatnya tiba.
Putri Rudolphus itu menatap seorang gadis yang duduk tak nyaman di atas sofanya. Tiara ingin sekali merengkuhnya. Namun, melihat kebiasaan Delphi yang tak terbiasa dengan orang asing membuatnya menahan diri untuk melakukan hal-hal semacam itu.
Delphi di sana masih menatap Tiara tak percaya. Gadis bersurai hitam dan berkulit putih dihadapannya baru saja mengatakan bahwa dirinya adalah kakak tirinya, mereka memliki ibu yang sama dan ayah yang berbeda.
“Jadi, aku-“
Tiara mengangguk menatapnya sendu. “Aku adalah kakak mu, bertahun-tahun aku telah mencarimu hingga aku berhasil menemukanmu.”
Tiara tak berbohong jika ia ingin menangis dan merengkuh tubuh adiknya. Tapi ia tak bisa melakukannya, tak bisa melakukannya di depan Vernon yang masih berada di sana.
Tiara memandang tempat tinggal Delphi, rumahnya kumuh dan banyak beberapa lubang di bagian atapnya. Beberapa perabotan terlihat tak bisa dipakai dan rusak. Sepertinya Delphi hidup jauh terisolasi dari penduduk yang lain. Dilihat dari perawakannya, Delphi memiliki umur yang tak berbeda jauh dengan Scorpius.
Seandainya mereka semua tahu jika Delphi adalah putri dari dark lord, orang-orang akan semakin menjauhinya. Tiara mengepalkan tangannya. Ia bertekad akan membawa Delphi pergi dari sini.
“Aku ingin menjemputmu, Delphi.” Senyum simpul Tiara mengembang. “Aku akan mengurusmu mulai saat ini. Maafkan aku, yang terlalu lama mencarimu.”
Mata Delphi berkaca-kaca, gadis bersurai hitam sebahu itu bangkit dari sofanya dan memeluk Tiara. “Kenapa lama sekali?” tanyanya dengan suara serak. “Kenapa aku harus sendiri jika aku masih memiliki keluarga?”
Benteng pertahanan Tiara runtuh, air matanya jatuh begitu saja. Tiara bersumpah akan membuat hidup Potter dan Malfoy hancur.
Pasti.
Tiara mengusap air matanya dan mengurai pelukannya. “Ayo, kita pergi.”
Delphi menggeleng pelan, gadis itu tak bisa meninggalkan tempat tinggalnya sendiri.
Tiara memandangnya bingung. “Kenapa?”
“Aku masih menunggu Rascal.”
Tiara melirik Vernon yang menggeleng tidak mengerti. Dari awal Tiara telah memberi Vernon peringatan agar tak ada satu pun orang atau penyihir yang mendekati adiknya selain dirinya. Lalu siapa yang adiknya maksud dengan Rascal?
Apakah ia penyihir? Atau muggle?
Atau jangan-jangan kekasih Delphi?
Pikiran-pikiran liar Tiara berkecamuk dalam otaknya. “Bolehkah aku bertemu dengannya?”
Delphi mengangguk. “Ia, sedang menuju kemari.”
Sesuatu yang melata berhenti di depan kakinya. Tiara menengok ke bawah dan menemukan seekor ular berwarna hitam legam. Tiara kembali menatap adiknya meminta penjelasan.
“Ini Rascal.”
Senyuman Tiara semakin berubah menjadi seringaian. Ia seharusnya tak bodoh melupakan fakta lain selain Delphi adalah putri dari dark lord. Dark lord bisa menggunakan parselmouth yang itu artinya-
“Delphi, apakah kau bisa berbicara dengan ular?”
Delphi mendongak menatap Tiara terkejut. Ia mengangguk takut. “Orang-orang menjauhiku karena aku bisa berbicara dengan mereka.”
Tiara menyeringai. “Aku juga bisa menggunakan parselmouth.”
Mata Delphi berbinar menatap sang kakak. “Benarkah?”
Tiara tak menjawab dan kembali menatap ular yang kini seolah-olah menatapnya.
“Sejak kapan kau berada disamping adik ku?” desisnya.
‘Kira-kira lima tahun yang lalu, ia menyelamatkan ku dari beberapa anak kecil yang hendak membunuh ku.’
Delphi yang bisa parselmouth memandang kakak tirinya dengan takjub.
“Apakah kau percaya sekarang?”
Delphi mengangguk. “Apakah aku bisa membawa Rascal?”
Tiara menatap Rascal dan kemudian mengangguk, ia akan menggunakan ular itu untuk melindungi adiknya. Tentu saja, dengan menggunakan rencana-rencana baru yang baru ia pikirkan.