
Menyusuri koridor masih dengan menggenggam jemarinya, Evelyn memperhatikan wajah kekasihnya. “Sean.”
Lelaki itu tak menjawab dan malah membawanya menuju belakang Hogwarts. Berharap Hagrid tak mempergokinya atau buruknya melaporkannya kepada sang ayah. “Sean, jangan-“
Sean tiba-tiba memeluknya, “Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.”
Rasanya seperti ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, Evelyn membalas pelukan Sean dengan sayang. “Yeah,
aku juga merindukanmu.”
Sean tak menyahuti dan memilih untuk berdiam, Evelyn tahu kekasihnya tidak baik-baik saja. Apalagi kematian Lucius begitu menggemparkan dunia sihir. “Sean, are you okay?”
“Ya, aku akan baik-baik saja jika kau tak meninggalkanku.”
“Sean, kau-“
“Berjanjilah kepadaku, Lyn!”, selanya, “Berjanjilah untuk tak meninggalkanku. Apapun yang terjadi.”
Evelyn mengangguk sebelum mengurai pelukannya. Tapi lelaki itu tak mengijinkannya. Bahkan Sean melangkah lebih dekat dan memeluk tubuhnya lagi. Sekarang ia menyadari, bahwa Sean adalah tipekal posesif. Ia bisa merasakan pelukan erat Sean.
Jari-jari Sean membelai pipinya dengan lembut. Sean memegangnya dan mengangkat wajahnya hingga mendongak. Lalu dengan penuh kasih sayang Sean mengecup bibirnya. Kelopak mata Evelyn terpejam saat merasakan bibir itu ******* bibirnya dan melingkarkan kedua lengannya pada leher Sean.
Erangannya teredam saat Sean memperdalam ciuman mereka.
***
Murid-murid Slytherin sedang berada diruang rekreasi. Slytherin common room dipenuhi oleh siswa tahun kelima dan tahun keenam. Mereka tak menanyakan kemana perginya siswa tahun ketujuh, karena mereka lebih mempersiapkan diri untuk OWL.
Levone tiba-tiba mendudukan dirinya disebelah Christian, murid tahun keenam itu menghela napasnya lelah. Krystal yang menyadari helaan napas Levone mendengus, “Kau baru saja berlatih?”
“Ya, aku tak ingin Malfoy membunuhku karena tak meningkatkan kemampuan.” Jawabnya pelan.
“Dude, kau terdengar menggelikan.” Ejek Christian, “apakah kau mendengarkan apa yang Malfoy katakan?”
Levone menaikan alisnya, “Apa aku ketinggalan sesuatu?”
Gadis bersurai platina pendek sebahu berdecak, “Beruntung, Malfoy tak berada disini. Kau tahu, kita akan bersenang-senang.” Lalice menyeringai lebar.
Kelopak mata Levone melebar, “Benarkah?” tanyanya kaget, “Siapa?”
“Siswa tahun kelima, Gryffindor.” Sahut Christian yang membuat Levone terkikik geli.
Laki-laki itu menoleh pada Jason yang sedang memainkan rubric miliknya. “Apa ini perasaan ku atau memang ini keuntungan untuk mu, Elwood?” Levone berseru yang mendapat tatapan senang dari Jason.
“Tentu.” Jawabnya seraya melempar rubriknya pada Levone, “Aku benar-benar menantikan ini. Sebenarnya, aku menginginkan keduanya. Tapi Malfoy hanya memerintah satu orang.”
Krystal merlirik Elwood, “Kau menargetkan Turner?”
Jason mengangguk, “Seperti halnya kau menargetkan Avalee.”
“Avalee.” Suara seorang gadis mengagetkan mereka. Gadis itu adalah si sulung Griffiths. Siswi Slytherin tahun terakhir, ia baru saja keluar dari kamar dan mendengarkan ucapan adiknya.
“Sissy!” seru Krystal riang.
“Whats going on?” tanya Jessica tak terbantahkan, “ada apa lagi dengan Avalee?”
Krystal segera menggeleng, “Tak ada apa-apa.”
Jessica mengangguk, “Aku tak mau mendengar kau berulah dengan mengurangi poin asrama kita. Krystal.” Tegasnya singkat.
“Itu bukan salahku, sissy.” Jawab krystal. Gadis itu berupaya membela dirinya. “lagipula kau tak sepeduli itu dengan nilai asrama kita.”
Tatapan Jessica berubah tajam, “Aku bisa berubah peduli, jika aku mau.” Jawabnya ketus sebelum pergi meninggalkan common room.
Kai melirik gadis yang duduk disebelahnya, “Ada apa dengan Jessica?”
Krystal mengangkat bahunya acuh, “Mungkin dia memiliki masalah dengan Yocelyn.”
Lalice tertarik dengan ucapan Krystal, gadis itu tiba-tiba terkikik geli. “Yocelyn prefek Hufflepuff?”
Krystal mengangguk, Lalice semakin menyeringai. “Kenapa tak membuatnya menjadi target mu selanjutnya?”
***
Keesokan paginya, Evelyn terbangun di ranjang empat tiang gryffindornya. Semalam saat Evelyn kembali ke asramanya, ia merasa agak lega ketika menemukan ruangan itu kosong. Sean benar-benar gila, tak memperbolehkannya kembali sebelum tengah malam.
“Pagi,” kata Irene dengan suara melengkingnya.
“Pagi, Irene.” Jawab Evelyn.
“Ah, bagus. Kau sudah bangun rupanya.” Terdengar suara Bianca yang baru saja menyelesaikan mandinya.
Evelyn mendongak dan mendapati tatapan penasaran sekaligus tatapan menyelidik dari Bianca. “Kami melihatmu di ruang rekreasi kemarin.” Kalimat Patricia memecah keheningan, “Bahkan Malfoy menggandeng tanganmu.”
Irene melebarkan matanya dan tersenyum lebar. “benarkah?” serunya antuasis, “apakah kau berkencan dengannya, Lyn?”
“Kenapa kau bertemu dengannya?” Bianca bertanya dengan nada dingin, seperti biasa. Oh, Bianca selalu begitu jika berhubungan dengan koloni Malfoy.
“Aku pernah mengatakannya bukan, aku tidak berkencan dengannya.” Jawab Evelyn pelan.
‘Bohong, dia bahkan telah menciummu berkali-kali.’ Batin Evelyn mengerang.
Patricia menggeleng, gadis berkepang dua itu berdeham, “Ayolah! Aku tak sebodoh itu, Potter.” Dengusnya, “Dia menyukaimu!”
“Oh cepat sekali!” kata Bianca, terdengar tak percaya. “Dia menyukai Evelyn dan menunggu untuk menjatuhkan Evelyn, begitu maksudmu?”
Irene dan Patricia menatap Bianca kesal, “Berhentilah bersikap jahat pada Malfoy.” Kata Patricia yang membuat Bianca melotot.
Si sulung Avalee menggeleng tak percaya, “Berhenti bersikap jahat katamu?” tanyanya dengan tawa sumbang, “Oh
hell, kalian memang sudah gila.” Ujarnya seraya beranjak meninggalkan ruang kamar.
Evelyn memandang ketiga temannya bingung, kenapa Bianca harus bertengkar dengan Irene dan Patricia. Ah, ia harus menyalahkan dirinya sendiri. Evelyn tahu alasan kenapa Bianca bersikap jahat seperti tadi. Bianca hanya
mengkhawatirkan dirinya.
“Lupakan ucapan Bianca, Potter.” Kata Patricia yang terlihat bangga, “Aku tak sabar melihat wajah-wajah gadis Slytherin yang patah hati karena kau yang mendapatkan Malfoy.”
‘Bagus, sejak kapan ini menjadi ajang perebut hati Sean’, batin Evelyn kesal.
“Kukira kau benar-benar tidak suka kepada Malfoy,” Patricia menambahkan sementara Irene memilih bungkam, kekasih Sandy lebih tertarik mendengar jawaban yang keluar dari mulut Evelyn.
Evelyn mengangguk, ia tak menyangkal jika awalnya ia tak menyukai Sean, bahkan membencinya. Ia mendengus, seharusnya ia mengingat pepatah jika benci dan cinta adalah suatu hal yang memiliki perbedaan tipis.
“Aku memang tidak suka padanya.”
Kelopak mata Patricia melebar, ia menyeringai. “Jadi, Malfoy berusaha mendapatkan hatimu?”
Irene menjentikan jarinya, “Nah, aku sudah pernah memikirkan hal itu sebelumnya.”
Sebelum permbicaraan pergi semakin jauh, Evelyn memilih bangkit dari ranjangnya untuk membersihkan diri.
***
Sean tengah duduk dimeja Slytherin menikmati sarapannya dengan tenang. Matanya mendarat pada meja Gryffindor. Ia mencari-cari sosok gadisnya dan matanya beralih pada Carlton yang bercanda dengan Edmund.
Seringaian terpatri diwajahnya, “Guys, tonight.” Titah Sean yang membuat antek-anteknya membisu.
Krystal mengangguk, “Se-sean, bisakah aku menambah daftar?” tanyanya gugup.
Sean menatap Krystal dengan pandangan menyelidik, “Kenapa?”
Gadis itu menghentikan suapannya, “Aku hanya tak suka seseorang yang mengganggu sissy.”
Sean menerawang, ia tahu siapa yang dimaksud dengan Krystal. Pengikutnya berusaha membantu kakaknya tanpa sepengetahuan Jessica. “Kau akan melakukannya dengan siapa?”
“Mucliber?” tanya Sean yang diangguki oleh Lalice dan Krystal.
Sean tersenyum, “Tentu, jika kalian melakukan hal yang bagus malam ini. Aku akan memberimu ijin.”
Krystal mengangguk bersemangat dan tak sabar untuk mengutuk Yocelyn, siswi Hufflepuff tahun ketujuh.