
Evelyn melirik lagi sekeliling kelas ramuan dan melihat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Bisa ia lihat para gadis menatapnya iri sementara para pria menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Aku tak menyangka berita kita akan menyebar secepat ini.”
Evelyn mengangguk dan gemetar. Ia sedikit memiliki rasa takut sekaligus perasaan tak suka. Terlebih ia selalu mendengar cerita dari pamannya ketika ia bermain ke rumah paman dan bibinya -Hermione Weasley-
“Sebaiknya kita bersaing secara sehat.” Sean berucap dengan nada mencemooh.
“Apa kau baru saja menuduhku melakukan hal curang?” Evelyn mengerutkan keningnya, ia tak menyangka akan
mengalami sendiri bagaimana sifat buruk laki-laki yang duduk disebelahnya. “Seharusnya aku yang mengatakan itu Malfoy, Slytherin memang terlahir licik dan aku tak yakin jika kau benar-benar pintar.”
Sean menatapnya dengan tajam.
Ucapan keduanya walau sangat pelan tapi membuat seisi kelas tegang menatapnya.
“Kau-“
Seisi kelas tersentak saat pintu dibelakang mereka terbuka, Profeso Slughorn berjalan ke dalam kelas. Pria itu nampak tua dan tetap ramah, walau terkadang menjengkelkan.
“Good morning, everyone! Hari ini kita akan melanjutkan pemeriksaan ramuan Amortentia yang selalu disalah gunakan. Segera ambil kuali dan bahan-bahannya, jika selesai kalian diharapkan untuk menghirup uapnya, sehingga kalian dapat memahami kekuatan Amortentia.”
Profesor Slughorn menyuruh para muridnya agar berbaris, terdengar beberapa siswa menggeser kursi mereka dan bergerak untuk berbaris. Evelyn pernah mencium bau ini, ia pernah belajar ini dari ayahnya.
Amortentia adalah ramuan cinta yang selalu disalah gunakan oleh beberapa penyihir, bahkan ibunya pernah mengatakan jika paman dan ayahnya pernah menjadi korban dari ramuan tersebut.
Terlalu berdesak-desakan membuat Evelyn malas memasuki antrean, gadis itu memilih bagian belakang. Ia menyadari jika Sean terlihat sangat tidak nyaman saat ia memilih antrean dibelakang.
“Jangan salah paham, aku sudah pernah menciumnya. Itu alasan mengapa aku mengambil antrean di belakang.”
“Terserah.” Kata Sean. Laki-laki itu berada di belakang Evelyn.
Evelyn mengerutkan keningnya ketika melihat seorang gadis berseragam biru yang maju dan mencoba menghirup uap tersebut.
Gadis itu adalah Wendy Son. Gadis pintar yang selalu mendapatkan poin tertinggi di Ravenclaw. Wendy mendekati kuali.
“Aku mencium bau rumput basah, wiski dan hmm... bunga mawar.” Ujarnya dengan pipi merona. Ucapan Wendy membuat beberapa murid Slytherin bersorak. Di sana ada laki-laki jakung bertubuh tegap yang tersenyum menatap Wendy.
Evelyn tahu, laki-laki itu adalah Christian Mayer. Murid Slytherin yang tengah berkencan dengan Wendy saat ini. terkadang ia berpikir bagaimana gadis baik sepertinya mau menjalin hubungan dengan laki-laki licik semacam Mayer.
“Itu bau Christian.” Seru seorang gadis yang membuat Profesor Slughorn menahan tawanya.
“Ah, masa muda memang menyenangkan.” Profesor Slughorn mengangguk.
“Ini konyol.” Kata Sean yang masih bisa Evelyn dengar.
Evelyn berbalik dan menatapnya dengan tatapan mengejek. “Tak ada yang konyol jika kau mencium baunya dari salah satu fansmu maka kau akan-“ Sean mengernyit membuat Evelyn menyeringai. “Maka kau akan berubah menyukainya.”
Evelyn terdiam, seharusnya ia tak perlu memberitahu Sean perihal tersebut. Pria Malfoy itu hanya mendengus. “Konyol tetaplah konyol, Potter.”
Evelyn tak menjawabnya, akhirnya gilirannya untuk melangkah mendekati kuali dan menghirup uapnya. Gadis Potter itu menarik napas, Evelyn mengerutkan kening dan mundur dua langkah saat uap memasuki indera penciumannya.
“Apa yang kau cium, Miss Potter?” Profesor Slughorn bertanya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Bianca dan Irene juga ikut menatapnya, kedua gadis itu nampaknya menunggu jawaban dari temannya yang tak kunjung membuka mulut.
Mereka hanya penasaran, selama ini keduanya tak pernah mendengar bahwa Evelyn menyukai seseorang.
Dia mencium bau yang berbeda. Dia mencium bau apel, daun mint dan bunga lavender.
Shit! Dia.
Evelyn buru-buru memundurkan langkahnya hingga menatap Sean yang menyeringai kearahnya. Kini giliran Sean yang maju mendekati kuali itu dan siap-siap menghirup uapnya.
“Miss Potter?” Profesor Slughorn mengulang pertanyaannya sekali lagi.
Evelyn dengan gugup berusaha bersikap seperti biasa. “Madu, lemon dan kayu.” Ia memalsukan jawabannya.
Seluruh kelas sangat menanti-nantikan hal ini. Mereka menatap Sean Malfoy yang sedang menghirup uap ramuan Amortentia. Beberapa gadis berbisik menunggu apa yang diucapkan oleh Sean.
Menunggu bau apa yang dicium oleh Sean, Evelyn yakin para gadis yang menyukai Malfoy akan mengunakan informasi itu untuk menggoda Sean Malfoy.
“Bagaimana, Mr. Malfoy?”
Sean melangkah mundur dari kuali dan mengangkat wajahnya. dia hanya memberikan ekspresi datar dan menggeleng. “Aku tak mencium bau apapun.”
Terdengar suara kekecewaan dari para gadis yang membuat Mayer dan Griffiths terkikik. Christian Mayer dan Kystal Griffiths adalah sahabat dari Sean Malfoy.
Profesor Slughorn menaikan alisnya. “Hmm, tapi-“
“Saya tidak mencium apapun, profesor.” Ucapnya dengan nada penekanan di setiap kata. Malfoy as always.
Walaupun Profesor Slughorn memberi tatapan aneh, pria tua itu akhirnya memberi anggukan. “Baiklah, ini adalah yang terakhir. Jangan lupakan minggu depan kita akan belajar menggunakan ramuan mandrake.”
Evelyn kembali ke mejanya dan mulai diam-diam memasukan barang-barangnya. Ia tak ingin terlibat pembicaraan dengan Malfoy. Gadis itu yakin jika Malfoy telah berbohong kepada Profesor Slughorn, dan ia yakin gurunya itu juga tahu.
Auntie Mione -Hermione- pernah berkata bahwa semua orang akan mencium sesuatu dari Amortentia, bahkan pria yang tak mengenal cinta sekalipun. Evelyn tiba-tiba menyipitkan matanya pada Malfoy. Dia melanjutkan aktifitasnya sementara Sean berbalik tanpa mengucapkan sepatah katapun dan menyerbu keluar kelas bersama para pengikutnya.
***
Sean Draco Malfoy lebih memilih untuk mengendalikan semua yang ada di sekitarnya, walaupun dalam keluarganya memiliki sebuah cinta tapi putra bungsu Draco itu memilih untuk tidak mengenal cinta sebelum ia meraih apa yang ia dapat.
Sean tak tahu apa yang dirasakannya, terbilang cukup rumit. Dia sendiri sebenarnya tahu apa efek dari ramuan cinta yang bisa mendorong orang untuk melakukan apa saja termasuk hubungan intim. Tidak, tidak boleh. Dia tidak menunjukan kelemahan atau dia tidak ingin tahu apa kelemahannya.
Dia benar-benar tak suka dengan bau yang sebenarnya ia cium.
Bau hujan, kayu manis dan apel.
Bau yang sangat menyegarkan dan juga manis. Ia hampir saja kehilangan kendalinya dan itu tak bisa diterima karena akan mempermalukannya. Ia masih mengingat ketika Scorpius mendapatkan ramuan itu dari salah satu fansnya, bahkan ibu dan neneknya harus mengawasi kakaknya untuk tidak berbuat nekat.
Bersyukurlah mereka terlahir menjadi keluarga Malfoy, ayahnya dengan suka rela mendatangi hogwarts dan menuntut gadis yang hampir membuat Scorpius gila.
Sean khawatir dengan bau yang ia hirup, terkesan segar, feminim dan sedikit seksi. Shit!
Ia harus menemukan bau gadis yang memiliki aroma seperti itu.
Sean dan para pengikutnya berjalan berpapasan dengan beberapa murid Gryffindor. Ia membeku selama beberapa detik menajamkan penglihatannya. Gadis yang berpapasan dan tepat berada disebelahnya.
Evelyn White Potter memiliki bau yang ia cium dari ramuan sialan itu.