Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
22



Kepulangan Sean kali ini hanya disambut oleh ibu dan neneknya. Setelah turun dari kereta, Sean


menghamburkan pelukan ke ibu dan neneknya secara bergantian. “Im home.”


Astoria tersenyum menatap rindu kepada putra bungsunya. “Kenapa kau terlihat lebih kurus?”


Sean menaikan alisnya. “Tenang saja, Grandma Cissy akan membuatku gemuk setelah ini.”


Narcissa tertawa mendengar jawaban dari cucunya. Lady Malfoy itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain mencari-cari sesuatu. Narcissa menatap Sean. “Kemana Tiara?”


Sean menggeleng. “Aku tak tahu, ku kira ia sudah kembali terlebih dahulu. Hogwarts express hanya mengantar para murid hari ini.”


Tatapan Narcissa berubah menjadi khawatir. Sean yang menyadari hal itu segera menenangkan neneknya. “Sebaiknya kita kembali dulu ke manor, aku akan mengirim howler ke Tiara.”


Narcissa dan Astoria menggelengkan kepala ketika pria muda dihadapan mereka berkata lucu seperti tadi. Howler adalah surat sihir yang bisa mengamuk sesuai perkataan pengirimnya.


***


Evelyn disambut oleh keluarganya termasuk James dan Lily. Kedua kakaknya itu hanya tersenyum ketika mendengar suara Evelyn dari arah pintu masuk.


“James, Lily!” Seru Evelyn yang langsung mendapat teriakan heboh keduanya. Lily dengan cepat menerjang tubuh adiknya dan memeluknya.


Harry dibelakang menggeleng menatap putri-putri yang nampak begitu histeris. Albus berdiri diambang pintu dengan suara decakan malas. “Apa para gadis selalu melakukan itu?” Tanyanya pada sang ayah.


Harry mengangkat bahunya. “Mungkin kau akan mendapat jawaban dari ibumu.”


Ginny yang mendengar hanya tertawa.


“Oh God, kau harus menceritakan kepadaku apa saja yang terjadi kepada dirimu dan Malfoy.” Suara James membuat senyum Evelyn luntur. Pernyataan James membuat Harry dan Ginny saling melirik.


Harry berdeham. “Sebaiknya nanti saja ceritanya, Evelyn lelah. Ia baru saja sampai.”


“Oh come on.” Suara kecewa James membuat Evelyn tersenyum kaku. “Baiklah, nanti kau harus berjanji menceritakannya kepadaku.”


Evelyn mengangguk sebelum pergi menuju kamarnya.


Makan malam terhidang seperti biasanya, Evelyn tentu bercerita banyak hal. Ginny dan Lily sangat senang mendengarkan apa saja yang terjadi kepada putrinya dan teman-teman putrinya, berbeda dengan Harry yang sangat menikmati masakan istrinya. Ia begitu lapar sebelumnya.


James pun juga ikut berdecak. “Lalu bagaimana tentang bocah-bocah Slytherin itu?”


Mendengar pertanyaan James membuat ucapan Evelyn berhenti sementara yang lain ikut memperhatikan termasuk ayahnya. Harry sendiri mengakui jika ia penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi kepada putrinya.


Ia hanya berharap putra Malfoy tak membuat banyak masalah lagi.


“Yah, mereka masih sangat menganggu.” Evelyn mengigit bibir bawahnya dengan gugup. “Namun, beberapa dari kami bisa mengatasinya.”


“Tentu saja, ular hanyalah makanan bagi para singa.” Albus berseru membuat Ginny melotot kearahnya.


“Sudah berapa kali ibu katakan jangan terlalu membenci mereka.” Terang Ginny pada Albus.


“Oh, ayolah. Slytherin sampai kapan pun tak akan berdamai dengan kami para singa, mom.” Albus berbicara membela dirinya.


Lily tersenyum. “Lupakan hal itu.” Lily beralih menatap adiknya. “Bagaimana dengan kisah cintamu?”


Evelyn hampir saja tersedak makanannya mendengar pertanyaan Lily. Ginny dan Harry pun tiba-tiba ikut menatap Evelyn yang wajahnya kian memerah.


“Oh, looks our little sister.” Kata James menyadari wajah Evelyn yang memerah. “Sepertinya kita sudah memiliki


jawaban dari pertanyaanmu, Lils.” Jelas James.


Ginny tersenyum. “Benarkah itu, dear?”


Evelyn tersenyum kaku dan mengangguk. Buat apa pula ia berbohong, ia memang memiliki kekasih. Asalkan ia tak menyebutkan nama Sean, ia masih tetap aman.


Aman dari amukan Albus.


Harry pun ikut bertanya  “Apakah ia murid hogwarts?”


Evelyn mengangguk dan mengunyah makanannya dengan susah.


Lily dan James berdecak kagum berbeda dengan Albus yang menatap Evelyn tak percaya. “Darimana asrama dia berasal?”


Evelyn tak menjawab. Menatap reaksi Evelyn membuat ekspresi keluarganya terheran-heran.


“Apa dia seorang Gryffindor?”


Evelyn menggeleng.


“Hufflepuff?”


Evelyn masih menggeleng.


Evelyn menggeleng dan membuat keluarganya menatap tak percaya.


Ginny memandang putrinya tak yakin. “Slytherin?”


“Tidak!” Albus berseru. “Evelyn tentu saja tidak akan memacari para ular yang buruk itu.”


Evelyn berdiam diri.


“Lalu apa?” tanya Lily kesal kepada Albus yang terlihat ngotot. Lily merasa kakak keduanya terlalu membenci para ular hijau itu.


“Bagaimanapun Slytherin tak pantas untuk kita.” Albus berseru kesal pada Lily. “Semua pria Slytherin itu buruk dan akan hanya memberi efek buruk.”


“Albus, jangan-“


“Ya, aku berhubungan dengan Slytherin.” Evelyn berusaha menekan perasaan kesalnya ketika Albus berkata buruk mengenai Slytherin.


Ucapan Ginny terhenti dan beberapa anggota keluarganya menatapnya tak percaya. Harry terdiam. Ia tak mempermasalahkan putrinya menjalin hubungan dengan siapapun kecuali Malfoy tentunya.


“APA!” ketiga kakaknya berseru tak percaya.


“Putuskan hubunganmu!” Albus berdesis. “Kau tak seharusnya-“


Evelyn bangkit dari kursinya. “Lalu kenapa jika aku menjalin hubungan dengan Slytherin? Tak semua Slytherin buruk seperti yang kau kira.” Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya dalam satu tarikan napas.


Setelahnya Evelyn berbalik menuju kamarnya meninggalkan makanannya yang belum habis tersentuh. Ginny memandang kepergian salah satu putrinya dengan tatapan sedih.


Lily sedikit terkejut melihat bagaimana Evelyn membentak Albus. Tak seperti biasanya Evelyn melakukan hal itu, terlebih pada Albus.


“Ku kira kau sedikit keterlaluan.” Lily meringis menatap Albus yang sedang menahan marah.


Albus berdecak. “Ya, salahkan saja aku.”


Dan kali ini giliran Albus yang meninggalkan meja makan. Nafsu makan Harry tiba-tiba menghilang, seharusnya bukan ini yang ia dapat dihari kepulangan putrinya.


***


Draco menatap kepulangan putranya dengan senang. Semuanya sedang berkumpul diruang keluarga. Dua hari menjelang natal membuat Kreacher dan beberapa peri lainnya sibuk menghias pohon natal. Lucius sedang menikmati hari bersantainya ditemani oleh secangkir teh dan daily prophet yang tak lepas dari tangannya.


Narcissa harus menekan kembali perasaan kecewanya ketika Tiara mengirimkan surat jika putri dari Bellatrix itu terpaksa harus tinggal di hogwarts untuk membantu beberapa guru yang masih di sana. Tampaknya Tiara


akan merayakan natalnya di Hogwarts.


“Jangan khawatir, mom. Ia akan baik-baik saja.” Draco mencoba menenangkan hati ibunya. Ia tahu jika ibunya tak tenang.


Narcissa sendiri menganggap Tiara sebagai putrinya. Bukan rahasia lagi, jika sebenarnya Narcissa juga menginginkan seorang putri. Tapi keinginan Narcissa tak bisa terwujud ketika keturunan Malfoy selalu terlahir


sebagai pria. “Lalu, bagaimana dengan natalnya jika ia tak pulang?”


Astoria dan Lucius mendongak setelah mendengar pertanyaan Narcissa.


“Dia akan baik-baik saja, Cissy. Kau tak perlu khawatir, aku akan mengirimkan hadiah natal untuknya.” Jelas Lucius pada istrinya.


“Kemana Scorpius?” Astoria mengalihkan perhatiannya pada putra sulungnya yang tak berada di manor. Sean menahan tawanya ketika kakaknya pergi menemui teman kencannya.


“Dia sedang menemui teman kencannya.” Jawaban Sean mengundang seringaian dari Draco.


“Benar-benar kakakmu itu.”


***


Tiara menikmati hari-harinya untuk mempersiapkan kehancuran bagi Malfoy. Ia hanya perlu membunuh satu persatu keluarga Sean dan mendoktrin kemenakan laki-lakinya untuk menguasai hogwarts.


Ia memiliki alasan mengapa ia menggunakan Sean. Tentu saja, Sean bahkan memiliki segala macam akses yang ia inginkan. Banyaknya gadis-gadis bodoh yang membantunya dengan menggunakan nama Sean. Popularitas si bungsu Malfoy memang tak diragukan lagi.


Dengan menggunakan Sean untuk menguasai hogwarts, semakin lama akan semakin membaik karena seluruh pemerintahan sihir terkadang terpengaruh hogwarts.


Sebenarnya beberapa hari yang lalu ia mendapatkan surat dari Narcissa. Wanita senja itu menginginkan dirinya merayakan natal di Malfoy manor. Tentu saja, ia mencari segala macam alasan untuk tidak mengikuti apa keinginan


bibinya.


Sebentar lagi rencananya akan terlaksana.


Tiara bangkit dari kursi kebesarannya menatap burung hantu berwarna hitam yang sedang berhuhu menatapnya.


Tiara menyeringai. “Aku tahu kau juga pasti tidak sabar.”


Tiara mengikat sebuah botol berukuran sangat kecil dan secarik kertas. “Pastikan kau memberikan ini kepadanya, jangan berikan kepada yang lain.”


Burung hantu itu mematuk punggung tangan Tiara sebelum melaksanakan tugasnya.