Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
34



Evelyn agak tertekan selama makan malam di aula besar. Gadis itu tak pernah merasa tenang, semenjak Patricia dan Irene tanpa sengaja menyebar gossip jika Malfoy menyukai dirinya.


Tidak!


Jangan sekarang, ia bahkan tidak siap mengambil risikonya. Kejadian dikelas professor Lestrange membuatnya semakin dibenci oleh murid-murid Slytherin, khususnya gadis-gadis ular tersebut.


Evelyn tidak merasa lapar, Xander dan Bianca menatapnya prihatin. “Kali ini apa lagi?” tanya Bianca, “saling mengutuk?”


Xanders menggeleng, “Gosip-gosip aneh mulai menyebar.”


Bianca tak mengerti, gadis itu bahkan tak mengetahui apapun yang sebenarnya terjadi dikelas pertahanan terhadap ilmu hitam. “Ada apa?”


“Potter.” Seru Mark yang tiba-tiba duduk dihadapannya, “Kau- kau benar-benar menjalin hubungan dengan Malfoy?”


Bianca tanpa sadar menyemburkan jus labunya pada Mark yang ditatap jijik oleh Xanders. “Kau bilang apa?”


Mark mengambil kain lap diatas meja dengan menahan kesal, “Lain kali bilang dulu jika kau ingin menyemburku dengan jus labu.” Laki-laki itu membersihkan mukanya sebelum menatap Evelyn, “Apa itu benar?”


Evelyn menggeleng keras, “Ti-tidak!” elaknya, “Bagaimana mungkin aku menyukai Malfoy, seharusnya kau tahu apa yang baru saja terjadi dikelas professor Lestrange.”


Mark menganggukan kepalanya, “Benar juga.”


Xanders menatap murid tahun ke lima itu dengan pandangan bingung, “Tunggu, bagaimana kau tahu dengan apa yang terjadi dengan Evelyn?”


Laki-laki itu tertawa dengan ekspresi bodohnya, “Beritanya menyebar.”


“Kau ini laki-laki tapi suka menggosip.” Kata Bianca heran, “benar-benar penyihir yang tak punya harapan.” Ejeknya.


Tak menghiraukan gurauan temannya, pandangan Evelyn mengarah pada meja Slytherin. Matanya mendapati Sean duduk manis dan menatapnya dengan lembut. Anehnya ia merasa lega, menyadari bahwa Sean tengah mengawasinya. Evelyn memberikan senyuman kecil sebelum pergi meninggalkan aula.


Ia tak ingin teman-temannya bertanya lebih jauh atau parahnya Sean mendatangi mejanya.


“Kau mau kemana?” Bianca bertanya.


Evelyn tersenyum, “Aku mengantuk dan kembali ke ruang rekreasi.”


Kemudian ia berjalan ke pintu aula. Saat meninggalkan aula, Evelyn sekilas mendengar perkataan gadis-gadis Ravenclaw tahun kelima yang berbisik-bisik menatapnya. Ia juga mendapati tatapan bingung Wendy.


Evelyn menghela napasnya. Ia menyusuri koridor yang masih kosong karena semua orang sedang makan malam di aula. Pikirannya berputar-putar sebelum ia merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya.


Si bungsu Potter berbalik, ia terkejut mendapati Sean dibelakangnya. “Kenapa kau kembali begitu cepat?” Sean bertanya dengan nada lembut.


Evelyn tersenyum, “Aku tidak ingin makan.”


“Apa ada yang salah?”


Senyuman Evelyn menggembang, ia terkejut mendapati Sean yang sedang memberikan perhatiannya. Gadis itu sesaat tersadar dan tersenyum lemah. Tapi ia tak mengatakan apapun, entah perasaan apa yang mendorongnya untuk memeluk Sean.


Evelyn memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya pada dada Sean. Laki-laki iru membalas pelukannya dan mengelus surai coklat milik Evelyn, seakan-akan Sean sedang menyemangatinya.


Membiarkan apa yang diinginkan Evelyn selama beberapa menit, Sean mencium puncak kepala kekasihnya. “Lebih baik?”


Evelyn mengangguk, “Terimakasih.”


Sean tak membalas, ia mengantar gadisnya kembali ke asrama yang paling ia benci. “Jika ada apa-apa beritahu aku.”


Gadis itu mengangguk, walaupun ia tak berniat melakukannya. Tentu saja, ia tak ingin membuat semua murid menaruh curiga pada hubungan keduanya. “Hmm, Sean.”


“Ya?”


“Bagaimana jika semua orang tahu mengenai hubungan kita?”


Lelaki itu menyeringai dan tersenyum, “Itu terdengar bagus, dengan begitu tak akan ada yang berani mendekatimu termasuk Edmund.” Ujarnya tegas.


Evelyn menggeleng, “Bukan itu maksudku.”


Sean menatap kekasihnya angkuh, “Aku tak peduli, lagipula tak ada yang bisa melarangku.”


***


Sebelum meninggalkan aula, ia telah memperingatkan pengikutnya untuk melakukan tugas mereka malam ini. Ia tak perlu khawatir lagi, jika ketahuan. Karena tak ada yang tahu siapa sesosok penyihir dibalik topeng dan tudungnya yang akan menyerang Carlton malam ini.


Seringaian puas terbentang dibibirnya, Sean baru saja tiba diruang rekreasinya. Ekspresi muram pada wajah kekasihnya tak membuatnya lupa. Perasaan marah dan kesal tiba-tiba membuncah, Evelyn memikirkan status hubungan mereka.


Laki-laki itu tahu, Evelyn bukannya takut jika seluruh kastil tahu hubungan mereka, melainkan gadis itu takut bagaimana reaksi keluarga Potter mendapati hubungannya bersama putra dari Malfoy.


“Benar, aku harus menghabiskan mereka satu persatu.”


Langkah kaki Sean terhenti, ia mendapati sesosok gadis tengah duduk di Slytherin common room yang sepi, “Ada apa?”


Gadis itu melirik dan tersenyum, “Kau mengingatkanmu tentang Horcrux,


Sean.”


Sean tersenyum, “Jangan khawatir, aku tak akan lupa.”


Tiara tersenyum simpul, “Jadi, apa kau butuh bantuan ku untuk mendapatkan cincin ayahmu?”


Laki-laki itu menggeleng, “Tak perlu, dad akan mengirimkannya kepadaku.” Sean mendudukan dirinya disalah


satu kursi berlengan, “jadi, bagaimana rencana mu?”


Si bungsu Malfoy tak bergeming.


“Aku mengirimkan racun kepada Molly Weasley.”


Sebuah seringaian terbit pada wajah Sean, laki-laki itu tersenyum senang. “Aku tak sabar menantinya.”


***


Jason Elwood, Krystal Griffiths, Vernon Dolohov, dan Lalice Mucliber sedang menjalankan tugas yang mereka dapatkan. Tengah malam adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencana mereka. Lalice berdecih dan mendengus tak suka ketika Jason menjelaskan keinginannya.


“Awas saja jika rencana ini gagal, aku merasa jijik merendahkan diri dengan mengirim surat pada Carlton.” Gerutu Lalice kesal.


Ketiga penyihir itu menyeringai senang walau Lalice tak mengetahuinya. Jason, Vernon dan Krystal tengah menggunakan jubah sekaligus topeng untuk menutupi identitas mereka.


Lalice dengan langkah beratnya menunggu Mark Carlton dibelakang Hogwarts. Suatu keberuntungan baginya


saat mendapati gubuk reot Hagrid yang telah memadamkan lampunya.


Tentu saja sebelum menjalankan aksinya, Jason terlebih dahulu merapalkan mantra muffliato, agar tak ada yang


mendengar apa yang mereka lakukan.


Mark dengan langkah mengendap-endap pergi menuju belakang Hogwarts, ia mendapati Lalice yang tersenyum manis dihadapannya. Laki-laki itu gugup, ini adalah kali pertama baginya mendapatkan surat cinta dari salah satu siswi.


Mark berdeham, memasang gaya paling keren yang ia punya, “Mucliber.” Sapanya singkat.


Lalice menatapnya senang, “Kau datang?” tanyanya riang, “Ku kira kau tak akan datang.”


Mark berdiri seraya memegang surat yang dberikan Lalice sebelumnya, “tak sopan jika aku tak datang.”


Lalice mengernyit jijik sebelum tersenyum kaku pada Mark, “Eh, be-benar.”


“Jadi?” Mark menunggu pernyataan cinta Lalice, “Apa benar kau yang menuliskan surat itu untuk ku?”


Lalice merapatkan jaraknya pada Mark, “tentu, kenapa kau bertanya?”


Murid Gryffindor tersebut menahan napas sesaat Lalice menggengam tangan kirinya, “apa kau tak percaya


kepada ku?”


“Aku-“


“Jadi, kau mempercayaiku?” Lalice tersenyum manis. “Aku sungguh mengharapkanmu untuk menjadi kekasihku, Carlton.”


Dibalik dinding, Krystal berusaha menahan tawa dan jijik secara bersamaan, “Jika itu aku, aku akan langsung merendam diri selama dua hari. Oh benar-benar menjijikan, siapa yang mau menjalin hubungan dengan Gryffindor.”


“Mucliber, aku-“


“Panggil aku Lalice mulai sekarang.” Pinta Lalice dengan suara merdunya.


Entah mengapa hati Mark merasa berdebar. Ia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. “Mucliber, ehm.. Lalice apa kau sungguh serius?”


“Tentu, Mark.” Jawabnya pelan, “aku sungguh serius.”


Mark menatapnya ragu, ia mengusap tengkuknya pelan. “Tapi kau Slytherin dan aku-“


“Gryffindor?” potong Lalice yang segera diangguki Mark, “memangnya kenapa jika aku Slytherin dan kau Gryffindor?” pancingnya.


Mark mengigit bibirnya tanda bahwa ia merasa ragu, “Seperti yang kita tahu jika Slytherin dan Gryffindor bermusuhan.”


Lalice tak menyangkal, gadis itu terdiam sesaat sebelum tersenyum lebar. Ia mendapati ketiga temannya berjalan dengan sangat pelan. “Seharusnya kau tak mempercayaiku.” Perkataan Lalice mengundang tatapan bingung.


“Lalice?”


Gadis itu menyeringai, “Menjijikan sekali mendengarmu menyebut namaku.”


Suara dehaman dibelakang tubuhnya membuat Mark segera menoleh dan mendapati tiga orang yang mengenakan jubah hitam. “Si-siapa kalian?”


“Expelliarmus.”


Mark terpental dan mendarat diatas tanah. Laki-laki itu terkejut mendapati Lalice yang memegang tongkatnya, “A-apa yang kau lakukan?”


Mark menyentuh dadanya yang terasa sakit, laki-laki itu tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seharusnya ia tahu


jika para Slytherin adalah ular yang licik.


Lalice tertawa, “Mari bersenang-senang.”


Mark mengambil tongkat dari balik jubahnya, “Lacesso.” Bisiknya.


Kutukan hitam keluar dari tongkatnya dan menabrak dada Lalice. Laki-laki itu mencoba bangkit, sementara Lalice


terpelanting dan menghantam tanah.


Krystal menggertakan giginya, ia menatap Mark dengan tatapan tak percaya, “Darimana kau mengetahui mantra itu?”


“Aku-“


“Crucio.” Seru Jason senang.