
Evelyn mendadak tak bisa berpikir, ia hanya duduk manis dengan pikiran berkecamuk. Terakhir kali ia bertemu dengan Molly saat malam natal di Burrow. Dengan mata berkaca-kaca gadis itu berusaha menahan isakannya.
Harry mendapati bahu Evelyn yang bergetar, pria paruh baya itu hanya memeluk putri kecilnya seraya mengecup puncak kepalanya beberapa kali.
Pemakaman Molly akan diadakan begitu Evelyn, Harry dan James tiba ditempat. Dari penjelasan yang James berikan, Molly terserang penyakit muggle.
Rose bahkan rela ijin dari pekerjaannya yang sangat sibuk dan Hugo berkata, jika ia akan melewatkan pemakaman Molly karena ada yang harus ia urus.
Evelyn tak mempedulikan apa yang akan Hugo lakukan, yang ada dipikirannya sekarang ia ingin cepat tiba di
Burrow.
Setibanya di Burrow, ia telah mendapati beberapa penyihir yang datang untuk menghadiri pemakamannya. Bahkan disana ia mendapati salah satu Malfoy, Scorpius Malfoy.
Evelyn tak ingin bertanya apapun, ia hanya menghamburkan pelukannya ketika melihat Ginny yang datang menyambutnya. “Mom.”
Ibunya tersenyum, walau terpancar kesedihan pada matanya. “Masuklah, ada yang harus kami bicarakan.” Ujarnya seraya mengurai pelukan Evelyn.
Scorpius menghadiri pemakaman Molly Weasley, karena semua dewan menteri Sihir menghadirinya. Lagipula, tidak etis jika ia tidak menghadiri pemakaman Weasley. Ia hanya berterimakasih saat Rose Weasley mendatangi pemakaman Lucius.
Tepatnya membalas budi.
“Aku turut berduka cita.” Katanya pelan pada Rose.
Gadis bersurai merah keriting itu mengangguk. Ia tak tahu harus bagaimana bersikap, bahkan ayahnya yang membenci keluarga Malfoy nampak kehilangan tenaganya untuk sekedar menyindir.
“Terima kasih telah datang.” Jawab Rose sekenanya.
Di satu sisi Albus kesal, tapi ia berusaha menahan perasaan kesalnya saat melihat Evelyn yang masuk ke dalam Burrow. Albus bangkit dari kursi berlengan dan memeluk tubuh adiknya.
Evelyn tak tersenyum, ia mengurai pelukan Albus. “Bagaimana ini bisa terjadi?”
Albus menoleh pada Rose, gadis itu baru menyadari kehadiran Evelyn yang masih mengenakan seragam
Gryffindornya. “Evelyn,”
Evelyn menoleh, “Rose. Maaf, aku baru saja tiba.”
Mata Evelyn menyapu ruang tengah Burrow, ia melihat Ron yang masih berdiam diri. Tak perlu ia tanyakan, Ron adalah satu-satunya Weasley yang sangat menyayangi Molly. Evelyn yakin, pamannya merasa kehilangan.
Ia tak ingin mengganggu dan mengikuti pemakaman ini dalam diam.
***
Kai dan Christian tak berani mengeluarkan sepatah kata pun malam ini, kedua murid Slytherin tersebut masih mencerna apa yang akan mereka lakukan nanti malam. Di sudut ruangan, Krystal nampak begitu bersemangat. Ia dan Lalice begitu antusias menunggu Sean yang masih berada di dalam ruangannya.
Sean berencana mengambil tongkat peraknya. Si bungsu Malfoy mempunyai rencana tersendiri itu menghilangkan Yocelyn dengan menggunakan Phyton.
“Apa ini akan baik-baik saja?” Kai berbisik menatap Christian yang masih tak bergeming. “Kau tahu ini terlihat begitu-“
“Sstt, kecilkan suara mu.” Tatap Christian dengan tajam, “jika Malfoy mendengar, tamat riwayat kita.” Selanya menahan asa.
Pikiran Christian terputus begitu mendengar suara Sean yang menggema, laki-laki itu memerintahkan Levone, Jason dan Vernon untuk berjaga di common room. Langkahnya mendekat, “Aku ingin kalian berdua ikut bersama ku.” Tegasnya.
“Baik, Malfoy.” Jawab Christian.
Kai mengangguk, laki-laki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dibelakang Sean, Krystal dan Lalice tersenyum. Ia tak perlu tahu alasan apa yang membuat kedua gadis itu tersenyum cerah, selain Krystal membenci Yocelyn karena kakaknya. Lalice tak menyukai Yocelyn karena pernah memberinya detensi.
Baru saja Sean ingin meninggalkan ruangan, gadis Slytherin tahun pertama memanggil nama Malfoy. Gadis berwajah imut dan bersurai hitam legam menghampirinya. “Malfoy, ada seorang gadis yang mencari mu.”
Demi sopan santunnya, Malfoy tersenyum. “Siapa sweety?”
Eliana, murid Slytherin tahun pertama, seorang darah murni tersenyum, “Murid Hufflepuff.”
Mendengar kata Hufflepuff mendadak Sean dan kawan-kawannya membisu. Laki-laki itu mengangguk dan mengusap puncak kepala Eliana. Sean selalu bersikap berbeda pada murid tahun pertama dan kedua, baginya murid tahun pertama dan kedua adalah bibit dari penyihir hitam yang kuat.
bergabung dengannya untuk memimpin dunia sihir.
“Terimakasih, Eliana.” Balasnya pelan, “Sebaiknya kau tidur. Tak seharusnya murid pertama masih terbangun.”
Eliana menganggukan kepalanya cepat dan berlari menuju ruang kamarnya. Sepeninggal Eliana, Sean
menampakan wajah seriusnya dan menghadap teman-temannya. “Kalian tunggu disini.”
“Siap, Malfoy.”
Sean berjalan melewati pintu asrama Slytherin, ia mengernyitkan dahinya bingung mendapati sosok gadis
Hufflepuff berdiri bersandar pada dinding. Tiba-tiba ia menyunggingkan senyuman, Yocelyn Cromwell menghampiri kematiannya sendiri.
Sean berdeham, “Miss Cromwell.”
Yocelyn terkejut, ia menatap Sean dengan gugup. “Malfoy,” sapanya pelan, “ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Sean mengangguk, “Tentu, kebetulan sekali aku memiliki urusan denganmu.”
Yocelyn terlihat kebingungan sebelum menganggukan kepala, Sean tersenyum, “Nampaknya permbicaraan penting ini tak pantas jika dibicarakan di koridor.” Katanya tersenyum jenaka, “bagaimana jika kita bertemu di hutan.”
Yocelyn tanpa sadar mengangguki ucapan Sean, gadis itu tanpa menyadari bahaya yang mengancamnya memilih untuk mengiyakan ajakan Sean.
“Baiklah, aku akan menemui disana. Pukul sebelas.”
“Tentu, Miss Cromwell.”
Sepeninggal Yocelyn, senyum Sean merekah. Laki-laki itu kembali ke asramanya dan tertawa sinting seraya mengusap pipinya. Kai, Krystal bahkan Christian heran melihat perubahan sikap Sean. Tak seperti biasanya Sean tertawa senang. Sangat senang.
“Malfoy?” Krystal memangilnya.
Sean menghela napas berusaha menyudahi kesenangannya. “Maaf, maaf,” katanya yang membuat teman-temannya heran, Sean tak pernah mengucapkan kata maaf sebelumnya.“Cromwell baru saja menemuiku.”
Mata Krystal melebar. “Kenapa?”
Sean mengangkat kedua bahunya acuh. “Dia hanya mendatangi kematiannya. Nanti jam sebelas malam dihutan.”
***
Prosesi pemakaman berjalan dengan tenang. Di burrow, semua keluarga Weasley dan Potter berkumpul.
Mereka masih bersedih, bahkan tak banyak melakukan aktifitas kecuali Percy yang berpamitan untuk kembali mengurusi pekerjaannya.
Hugo tiba di burrow dengan mengundang tatapan aneh, termasuk ibunya yang menyadari bahwa putranya
tak menghadiri proses pemakaman Molly.
Putra Ron memilih bungkam dan meletakan mantelnya pada tiang penyangga mantel. Walaupun ia tak hadir, Hugo tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Tanpa sepatah kata, Hugo memilih kembali ke kamarnya. Pikirannya terpecah semenjak menemui professor Longbottom.
Hugo baru saja meminta bantuan teman ayahnya untuk mencari tahu ramuan apa yang terkandung dalam botol
tersebut. Botol yang ditemukannya pada kamar Molly tak berbeda jauh dengan botol yang ia temukan pada kamar Lucius Malfoy.
Haruskah ia memberitahu keluarganya? Tidak, Hugo tidak ingin memperparah keadaan. Ia akan menunggu
sampai suasana tenang. Maka, ia akan memberitahu ibunya.
Evelyn hanya memperhatikan keadaan sekitarnya. Mereka masih bersedih karena kepergian Molly yang begitu mendadak. Ia bahkan memilih untuk bersikap tenang setelah puas menangis dipemakaman.
Harry duduk disebelahnya seraya mengelus puncak kepala putrinya. Pria senja itu bahkan memaksakan senyumannya dan berkata akan baik-baik saja. Evelyn mengangguk, menatap ayahnya.
“Dad, aku ingin kembali ke Hogwarts.”