Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
13



Evelyn tak tahu kenapa ia menjatuhkan air matanya saat menatap Sean. Dia menggeleng tak tahu  harus menjawab apa, tubuhnya bergerak untuk mengambil tongkatnya dan menggengamnya dengan erat.


Sean menatapnya kecewa. “Jika kau tidak tidak percaya, kau bisa membalaskan dendammu. Kutuk aku! Agar kau puas, agar kau percaya denganku.” Serunya yang membuat Evelyn tak berhenti menangis.


“Ayo kutuk aku! Biar kita saling membenci.”


Evelyn terisak sebelum menatap Sean. “Kau ingin membenciku, Sean Draco Malfoy?”


Sean cukup tersentak ketika nama tengahnya di sebutkan. “Ya, aku akan membencimu jika aku tak bisa memilikimu.”


“Baiklah, aku keturunan mud blood. Ibu dari ayahku adalah muggle born dan-“


“Itu tidak cukup.” Sean menggeleng.


“Aku keturunan Weasley.”


Sean tetap menggeleng. “Aku tak peduli.”


Evelyn marah. “Kau gila ya?” Bentaknya, “Keluarga kita sungguh berbeda.”


Sean menatapnya lelah. “Aku tak peduli tentang hal itu, aku lelah. Bahkan jika kau keturunan Weasley sekali pun aku tidak peduli.” Jelasnya. “Aku menyukaimu, tubuhmu, senyumanmu dan semuanya.”


“Bahkan aku-“


Sean mendekat dan membungkam bibir Evelyn dengan miliknya. Ia kembali menyesap bibir manis yang ia dambakan.


***


Jarum jam dinding terus berdetak, malam ini Narcissa tak bisa tidur. Ia membaca buku dan di temani oleh secangkir teh hangat.


Terdengar bunyi puff dengan lembut, seorang peri rumah milik Malfoy manor datang dan membungkuk. “Misstres.”


Narcissa menutup bukunya. “Ada apa, Kreacher?”


“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”


Narcissa menaikan alisnya dan menatap jam dinding yang telah menunjukan pukul sebelas malam. “Aku mendapatkan tamu semalam ini?” Tanyanya tak percaya.


Sang peri rumah hanya menunduk tak berani menjawab. Narcissa mendengus. “Dimana orangnya?”


“Aku di sini, Aunty.” Seorang gadis melangkahkan kakinya menatap Narcissa dengan pandangan teduh.


Narcissa menyipitkan matanya tak mengerti. “Siapa kau?”


Gadis itu tersenyum. “Maafkan kelancanganku.” Bungkuknya. “Perkenalkan, aku Tiara. Tiara Lestrange.”


Mata Narcissa melebar saat mendengar nama belakang gadis itu. Gadis itu mulai tersenyum sinis saat bibinya menyadari siapa dirinya. “Kre-Kreacher, panggilkan Lucius kemari.”


“Siap, Misstres.”


Narcissa melangkah mendekat dan menatap gadis itu dengan saksama. “Ka-kau- kau adalah putri dari saudariku?”


Tiara mengangguk dan menunjukan pergelangan tangannya. Di sana ada bekas tato yang sama seperti milik suami dan putranya. Tato yang pernah di berikan oleh Lord Voldemort dulu, melihat itu membuat Narcissa tersenyum pedih dan menghamburkan pelukan pada Tiara.


“Kau benar-benar keponakanku.” Narcissa melepaskan pelukannya dan menatap Tiara khawatir. “Bagaimana kau


mendapatkannya?”


Tiara menatap tatonya dan tersenyum. “Aku tidak tahu. Ini telah ada semenjak aku masih kecil.”


Dengan setengah mengantuk, Draco, Astoria, Lucius dan Scorpius tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Seorang gadis yang di lahirkan oleh Bellatrix Lestrange.


Gadis itu hanya tersenyum kikuk menatap keluarga saudari ibunya. Lucius benar-benar tak menyangka jika selama ini Bellatrix memiliki seorang putri.


Draco menatap sepupunya dengan wajah heran, bahkan sepupunya terlihat seumuran dengan putranya. “Berapa umurmu?”


Tiara menatap Draco mengedipkan matanya beberapa kali. “Aku berumur dua puluh tujuh tahun.”


Lucius memijat keningnya tak percaya. “Setidaknya kau lebih tua dari cucu pertamaku.”


Narcissa merapatkan tubuhnya pada Tiara. “Selama ini kau tinggal di mana?”


Tiara menunjukan wajah sedihnya. “Aku tinggal dengan sekelompok penyihir kecil di Albania. Mereka mengatakan jika ibu menitipkanku di sana. Mereka mengatakan, saat itu ibu tak ingin aku membebaninya karena aku masih bayi.”


Narcissa menatap Tiara kasihan. “Maafkan saudariku sayang, dia memang seperti itu.” Tiara tersenyum. “Lalu, bagaimana kau kemari?”


“Mereka mengatakan aku akan menemukan ibu ku jika aku mengunjungi keluarga Malfoy.” Semua orang hanya menatap Tiara dengan tatapan sendu.


Tiara tak mengerti. Ia berusaha mencari-cari sosok yang ingin ia temui. “Di mana ibuku?”


“Ada apa?”


Draco menelan ludahnya. “Bibi Bella, ia-“


“Bella sudah meninggal.” Tiara melebarkan matanya saat Lucius menjawab pertanyaannya. Gadis itu dengan mata berkaca-kaca berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. “Tiara, aku tahu jika ini sungguh mengecewakan untukmu.” Jelasnya. “Tapi, Bella sudah meninggal saat perang itu berlangsung.”


Tiara menahan napas berusaha agar tidak menangis. “Lalu, ayahku?”


Draco menggeleng. “Ayahmu juga.” Tiara tak bisa lagi membendung air matanya membuat Narcissa memeluknya. Astoria yang menatapnya hanya merasa kasihan, walaupun Bellatrix membuat banyak kesalahan tapi ia yakin


jika Tiara tak memiliki andil dalam apapun.


Lucius menatap Tiara dengan saksama. “Apa kau benar-benar putri Bella?”


“Lucius!” tegur Narcissa.


Tiara menggangguk dan tersenyum. “Tak apa, aku sering mendapatkan respon seperti itu. Aku juga tidak bisa membuktikan diriku ketika pohon keluarga milik keluarga Black telah hangus.”


Mendengar penjelasan Tiara membuat Narcissa yakin jika gadis itu benar-benar keponakannya. Tiara menghapus air matanya. “Kedatanganku kemari hanya ingin mencari ibuku, sepertinya aku harus pamit.”


Tiara bangkit membuat Astoria menggeleng. Draco menatap ibunya yang terlihat sedih. “Tunggu!”


Draco berseru. “Ini sudah larut, sebaiknya kau tinggal saja bersama kami.”


Tiara tersenyum dan menggeleng.  “Aku tidak bisa, ini bukan rumahku.”


“Ini memang bukan rumahmu, tapi kami adalah keluargamu.” Kata Narcissa yang membuat Tiara terkejut. “Peri rumah kami akan mengantarkanmu ke kamar kosong. Beristirahatlah, besok pagi jelaskan semuanya kepada kami.”


Tiara mengangguk setelah Kreacher muncul. Peri rumah itu mengantarkan Tiara ke salah satu kosong membuat Scorpius menatapnya bingung. “Sebenarnya siapa dia? Dan siapa itu Bella?”


Draco menatap putra pertamanya. “Bellatrix adalah bibiku, saudari Grandmamu.” Jelasnya singkat. “Dan gadis tadi adalah-“


Narcissa menatap cucunya dengan lembut. “Gadis itu adalah keponakanku, ia adalah bibimu.”


Scorpius melebarkan matanya. “Wow, dia terlalu muda untuk ku panggil bibi.”


Lucius tersenyum mendengar ucapan cucu pertamanya. “Aku juga sama terkejutnya denganmu. Aku tak menyangka jika Bella menyembunyikan hal ini dari kita semua.”


***


Sean melepaskan diri dari ciuman mereka, dia segera menyeret Evelyn menyusuri koridor hingga ia menemukan sebuah kelas kosong dan sepi. Sean dengan buru-buru mendorong pintu itu dan menutupnya.


“Incendio.” Gumamnya. Semua lampion pada dinding menyala sendiri. Sean membalikan tubuhnya dan merapalkan mantra untuk mengunci ruang kelas itu.


Evelyn masih berusaha menjernihkan pikirannya dari apa yang dilakukan pria itu kepadanya. Sean benar-benar kehilangan kewarasannya saat menatap betapa cantiknya Evelyn malam ini.


Sean mengulurkan tangannya pada jemari Evelyn dan mendaratkan kembali bibirnya pada benda kenyal yang manis itu. Evelyn berusaha melepaskan ciuman itu dengan paksa, namun Sean mencegahnya dengan


mencengkeram pinggang Evelyn kuat.


Kehabisan napas, Sean melepaskan ciumannya dan menatap bagaimana wajah Evelyn yang merona. Gadis itu terengah-engah mengambil napas. Ia menatap Sean dengan bingung. “Kenapa?”


“Apanya yang kenapa?”


Evelyn baru saja akan memundurkan langkahnya. Namun Sean menarik tubuh Evelyn lagi. Kali ini Sean tak akan melepaskan Evelyn sebelum ia puas.


“Kenapa kau menyiksa Xanders seperti itu?”


“Karena aku tak suka milikku di sentuh.” Tegasnya membuat Evelyn menggeleng. “Aku tak suka bagaimana ia memegangmu, aku tak suka melihatmu tersenyum dengan pria lain. Demi merlin Evelyn, aku benar-benar tak menyukainya.”


Evelyn menatap Sean sendu. “Aku bukan siapa-siapa, Sean.” Kata Evelyn pelan. “Aku bukan milikmu.”


Sean berdecak. “Aku tahu itu.”


“Kau tak bisa melakukan ini, Sean. Kau tak bisa menyakiti orang hanya karena kau tak menyukainya.” Evelyn menatapnya sedih. “Terlebih karena diriku.”


Sean menggeram. “Aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan,” pria itu menatap Evelyn dengan intens. “Aku benar-benar tak suka, ia hampir saja menyakitimu. Harusnya kau tahu itu.” Bentaknya yang membuat Evelyn takut.


“Apa kau mau menunggu hingga Edmund memperkosamu?” pria itu marah, Sean sangat marah ketika Evelyn masih membela Xanders.


Evelyn menunduk, ia tahu jika Xanders hampir saja melakukannya. Bahkan ia hampir menangis lagi. Gadis itu tak menyangka jika temannya akan bertindak seperti itu. “Lyn, aku hanya ingin melindungimu. Apa aku salah?”


Evelyn menggeleng dan setelahnya gadis itu menangis. Suaranya bergetar, “Ka-kau seharusnya tak melindungiku, Sean.” Ia menghela napasnya berusaha agar tak menangis. “Kita bahkan tidak begitu dekat.”


Sean benar-benar kesal, ia memilih membungkam mulut Evelyn sekali lagi. Ia ingin sekali menyentuh Evelyn malam ini tapi situasi gadisnya sekarang benar-benar kacau. Setelahnya, ia menatap Evelyn dengan puas.


“Ayo, aku akan mengantarmu kembali ke asrama.”