
Berita mengenai pencarian guru baru menyebar luas, banyak beberapa penyihir yang mengantri untuk mendaftar dan pulang dengan tangan kosong. Mereka tak diterima karena adanya kurang kecakapan dalam menggunakan sihir.
Pagi-pagi sekali Astoria menemani ibu mertuanya minum teh, sementara Tiara sedang duduk membaca salah satu koleksi buku yang bersemayam di perpustakan Malfoy manor. Gadis itu sesekali berdecak kagum membuat Narcissa menggeleng.
Astoria yang membaca daily prophet sedikit tersenyum mengenai salah satu berita pendaftaran guru baru di hogwarts. Ia teringat jika Draco menyuruh sepupu mudanya itu untuk mengajar, “Tiara, apa kau sudah memasukan beberapa lamaran kerjamu pada beberapa sekolah sihir?”
Tiara mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pegang dan mengangguk.
“Lalu, bagaimana hasilnya?”
“Sebenarnya aku masih menunggu hasilnya, aku kemarin baru saja memasukan lamaran pada Dumstrang dan Livermony.”
Astoria menaikan alisnya tak percaya. “Kenapa kau tak mencoba di Hogwarts, sepertinya mereka sedang mencari guru baru.” Jelasnya yang membuat Narcissa ikut membaca daily prophet.
Wanita tua itu berdeham. “Kenapa kau harus menunggu jika ada yang sedang mencari?”
Tiara tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, aku akan mencobanya di sana hari ini.”
Astoria mengangguk. “Lagipula itu bagus, kau juga akan bertemu dengan keponakanmu yang lain.”
Tiara tersenyum. “Apakah putramu yang lain berada di Hogwarts?” Astoria mengangguk. “Ku harap aku masuk di sana dan bertemu dengan keponakanku.”
***
Rasa penasaran itu selalu merangsuk dalam hati Evelyn, ia bahkan telah berkali-kali untuk melupakan rasa penasarannya kenapa Sean mengimperius Xanders. Sahabatnya.
Tatapannya kini beralih pada meja para ular hijau yang asyik mencibir atau merencakan sebuah rencana gelap lainnya. Sean memang terkenal memiliki sebuah kelompok misterius dan merencanakan sesuatu.
Tapi, sayang. Mereka tak pernah menemukan siapa anggota kelompok-kelompok itu dan di mana mereka berkumpul.
Menghela napas berat, mencoba memberanikan diri. Gadis itu meletakan sendoknya dan bangkit mendekati meja para ular. Bianca, Irene dan murid Gryffindor lainnya terkejut melihat kemana si bungsu Potter itu melangkahkan kakinya.
“Malfoy, bisa kita bicara?”
Dia mendongak dan menemukan Evelyn berdiri diseberang meja. Para pengikutnya, Kai, Krystal, Jason, Christian atau siapa saja cukup terkejut dengan hal ini. Hanya ada satu yang ada dipikiran Kai, keduanya tak akan saling menghancurkan aula bukan?
“Silahkan.”
“Ini pribadi, aku tak ingin pengikut bodohmu mendengarnya.” Christian menyeringai geli berbeda dengan Krystal yang berdecak tak suka.
“Lancang sekali singa kecil ini menghampiri tempat makan para ular.” Krystal berdesis.
“Tapi, sepertinya aku sedang menikmati kudapanku, Miss Potter.”
Evelyn benar-benar marah, seakan-seakan sikap Sean kepadanya seperti bunglon. “How dare you!” serunya yang membuat Irene tercekat di mejanya.
Meja Gryffindor dan Slytherin memang berdekatan. Murid-murid tahun kelima Gryffindor itu hanya menelan ludahnya dengan susah, melihat putri dari pahlawan perang yang tiba-tiba mengamuk.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Why?” bentaknya benci. “Kenapa kau mengimperiusnya?” Evelyn terang-terangan menuduh Sean. Membuat Krystal, Christian dan Kai menatap Sean dengan bingung.
“Kau mengutuk Xanders Edmund untuk melakukan hal buruk agar kau bisa merencanakan rencana sesuatu kepadaku, bukan?”
Rahang Sean menggeras, ia tak terima di tuduh seperti itu. “Aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang kau katakan Miss Potter.”
Evelyn tersenyum remeh. “Kau benar-benar pria mengecewakan.” Gadis itu melenggang pergi ke meja Gryffindor untuk mengambil tas dan meninggalkan aula.
Irene dan Bianca yang melihat itu hanya bisa mengikuti kemana Evelyn pergi. Mark dan Theo, murid tahun kelima menatap Xanders dengan pandangan terkejut. Siapa saja disana tak tuli mendengar bagaimana teriakan Evelyn kepada Sean.
“Is that true, Edmund?” Mark bersuara membuat Xanders mengangguk malu.
Jason di sana hanya menyeringai.
Christian terkejut menatap kawannya, “Kau melakukannya, Sean?” Tanyanya terdengar ragu. “Sungguh benar-benar mengimperiusnya? Edmund?”
Sean tak menjawab dan hanya diam. Krystal tersenyum. “Ku pikir memang Sean melakukannya, mereka harus tahu siapa pangeran Slytherin itu sebenarnya.”
Jason menggeleng. “Ku pikir kalian salah, pangeran Slytherin yang sesungguhnya adalah Voldemort. Sedangkan Malfoy’s adalah ****** setia mereka.” Pria tahun kelima itu mendapat tatapan kebencian dari Sean.
Christian tak suka mendengarnya. “Elwood, kau lancang sekali.”
Jason tersenyum. “Itu adalah teori lamanya. Teori barunya, hanya Malfoy yang tahu bukan?”
Sean membanting garpunya dan bangkit dari meja meninggalkan aula. Krystal berdecak, “Seharusnya kalian mengingatkanku jika kutukan crucio milikku masih berguna mengutuk Jason.”
Sean melangkah menuju asramanya dengan emosi yang menggebu, gagal mendapatkan Evelyn dan tentu saja mulut besar Elwood yang sudah lancang menghina keluarga besarnya. Tidak akan ada lagi Voldemort, karena
setelah ini yang menggantikan posisinya adalah dirinya, Sean malfoy.
***
Di koridor tak ada sepatah kata pun yang terucap, yang ada hanya suara langkah kaki mereka dan hantu-hantu hogwarts yang berlalu lalang. “Good evening, Miss.”
“Good evening, Sir Baron.” Sapa ketiganya kepada hantu asrama Slytherin yang menyapa mereka. Bianca yang melihat itu hanya berdecak kagum.
“Lihat!” tuding Bianca. “Bahkan sir Baron saja masih memiliki sopan santun.”
Irene tersenyum. “Sir Baron dulunya juga bagian dari Slytherin, Bi.”
Bianca menggeleng tak percaya. Ia mengalihkan pandangannya, menatap Evelyn yang masih bungkam. “Are you okay, Lyn?”
Gadis itu tersenyum, terlihat lelah. “Im okay.” Ia mendongak. “Aku akan pergi keperpustakaan setelahnya akan langsung pergi ke asrama. Kalian duluan saja.”
Irene mengangguk. “Baik, sampai bertemu lagi.”
Evelyn memilih tinggal diperpustakan karena tugas-tugas yang harus ia kerjakan. Terkadang, sifat rajin Evelyn membuat Ginny tak yakin, apa benar Evelyn adalah putrinya. Ron pernah mengatakan sebuah lelucon, jika sikap Evelyn yang kelewat rajin lebih cocok menjadi putrinya dan Hermione.
Evelyn membuka beberapa buku dan menyalin satu atau dua kalimat pada perkamen yang ia bawa sebelumnya.
“Evelyn?”
Suara itu lagi.
Evelyn tak menatapnya dan masih fokus pada perkamennya. “Apa yang kau inginkan?”
Ia tahu jika Evelyn masih marah terhadapanya. Wait, sebenarnya hubungan apa yang mereka miliki saat ini? Ia sendiri bahkan tak tahu tentang hal itu.
“Dengar! Aku tidak melempar kutukan itu kepada Edmund. Jika bisa, aku memang berniat melakukannya, tapi bukan aku yang melakukannya.”
Evelyn meninggalkan tugasnya dan menatap Sean dengan tatapan jijik. “Kau pikir aku percaya, Sean?” Memang benar bukan ia yang melakukannya. Mata Evelyn menatapnya marah. “How dare you!” desisnya.
Evelyn masih menjaga kesopanan tak membentak Sean diperpustakan, terlebih di sana banyak beberapa murid Ravenclaw, terlebih di sudut ruangan ada kekasih Irene yang nampaknya mencemaskan Evelyn.
“Apa kau baru saja menuduh Xanders berbohong?”
Sean menjilat bibirnya. “Aku tidak mengatakan hal seperti itu, kau saja yang berpikir-.”
Evelyn kesal dan mencoba menahan emosinya. “Jika kau tak malu dengan tuduhanku, kau tak perlu repot-repot menjelaskannya kepadaku siapa pelaku sesungguhnya jika kau tidak melakukannya.”
Tatapan lembut Sean berubah menjadi tatapan kesal. “Aku tak peduli dengan sindiran halusmu itu, Lyn. Yang jelas apa yang terjadi pada kita malam itu adalah hal murni.”
Tatapan kesal Evelyn berubah. “Jika bukan kau yang mengutuknya, lalu kenapa kau-“
Sean tersenyum. “Seharusnya kau tahu kenapa aku repot-repot melakukan hal ini?” dan setelahnya pria Slytherin itu bangkit dan meninggalkannya sendirian.
Perkataan terakhir Sean membuatnya berpikir. Berpikir ulang tentang semuanya.
“Kau baik-baik saja, Lyn?” suara Sandy mengejutkannya. Pria itu menatapnya cemas. “Aku cukup terkejut ketika Malfoy tiba-tiba mendatangi mu.”
“Ba-bagaimana kau tahu?”
“Aku sedang mengerjakan tugas herbiologiku di ujung sana dan melihat Malfoy yang mendatangi mu.” Jelasnya. “Dia tak melakukan apapun kepadamu, bukan?”
Evelyn menggeleng.
“kau yakin?”
Evelyn mengangguk yakin. “Kenapa kau khawatir?”
Sandy memutar matanya. “Siapa yang tak khawatir, apa kau tak pernah mendengar bahwa Malfoy pernah melempar kutukan crucio di tahun ke empat pada salah satu murid, hingga murid itu masuk St. Mungo.”
Evelyn bungkam, ia hampir saja melupakan bagaimana mengerikannya peristiwa itu.
“Lyn, dia dan teman-temannya berbahaya. Sebaiknya kau memang menjauhi dia.” Perkataan Sandy membuat Evelyn kesal.
“Kenapa kau bersikap seperti aku yang selalu mendekati pria itu?” gadis itu merapikan buku-bukunya. Ia telah kehilangan mood untuk mengerjakan seluruh tugas-tugasnya. “Sebelum kau mengatakannya kepadaku, bicaralah kepada Wendy untuk menjauhi kekasihnya itu.”
Sandy terdiam.
“Bukankah Mayer dan Malfoy sama?”
Sandy tercenung melihat kekesalan Evelyn. Gadis singa itu telah pergi meninggalkan perpustakaan. Evelyn mengumpat di dalam hati. Kenapa ia bersikap seakan-akan membela Sean dari ucapan Sandy.
Ah, sial!
Apa-apaan ini.
***
Wendy masih berada di aula saat melihat betapa marahnya Evelyn mendatangi Malfoy. Gadis Ravenclaw itu cukup terkejut mendengar perkataan bahwa Malfoy menggunakan kutukan imperius pada Xanders.
“Sayang.” Suara bass favoritnya terdengar. Wendy mendongak dan tersenyum.
“Hi, Chris.”
Pria itu tak malu duduk di antara para elang, selama ia tak duduk di jajaran para singa. Sudah menjadi hal yang wajar jika Gryffindor dan Slytherin saling membenci, sepertinya memang sudah turun termurun.
“Kau tak pergi ke kelasmu?”
Wendy mengangguk. “Sebentar lagi, bagaimana denganmu?”
Christian tersenyum. “Sure, bukankah kelas kita sama hari ini?”
Rona merah muncul di pipi Wendy, Christian tertawa kecil. Pria itu tahu jika Wendy nampaknya melupakan jadwal kelas mereka hari ini. “Kau lupa jika kita memiliki kelas yang sama?”
Wendy mengangguk membuat Christian mengacak rambut kekasihnya. Tatapan gadis itu tertuju kepada Krystal dan yang lainnya. “Chris, can i ask something?”
“Sure, love.”
“Apa benar dengan hal yang kudengar tadi?” Christian terdiam. “Apa benar Malfoy memberi kutukan imperius pada Xanders?”
Christian mengangguk tak yakin. “Entahlah, Sean tak mau menjelaskannya pada kami. Pria itu terlebih dulu marah karena omong kosong dari Elwood.”
Tatapan Wendy berubah murung, Christian menyadarinya. “Ada apa?”
“Kau tak ada sangkut pautnya dalam hal ini bukan?”
Christian menggeleng. “Tentu saja tidak, aku tidak akan melakukan hal yang tidak penting.” Jelasnya tersenyum. “Sebaiknya, kau pergi ke kelas terlebih dahulu. Aku akan menyusul nanti.”
Wendy tersenyum dan mengangguk.
Sepeninggal Wendy, Christian dapat melihat gerombolannya datang mendekat. “Wow, apa itu tadi?” Kai berseru.
Krystal menyeringai. “Apakah itu benar, Chris? Kau tak akan melakukan hal yang tidak penting?”
Christian menyeringai menatap mereka remeh. “ Oh, Hell. Im a Slytherin. Sudah sewajarnya aku berbohong bukan?”
Kai menggeleng tak percaya. “Jadi, kau yang mengimperius Edmund?”
Christian menggeleng. “Not me. Elwood.”
Kai menatapnya heran. “Darimana kau tahu?”
Christian tersenyum miring. “Elwood sendiri yang mengatakannya.”
Krystal berdecak. “Jika Sean tahu, tamatlah dia.”