Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
12



Evelyn memandangnya tak percaya. “Lalu, apa kau bermaksud mendapatkan apa yang kau inginkan?”


“Tentu.” Sean menyeringai ketika permukaan bibirnya menyentuh kulit lembut rahang Evelyn. Beberapa orang sempat terhenyak menatap perlakuan Sean. Irene kegirangan menatapnya berbeda dengan Sandy yang menatap keduanya tak percaya.


Profesor Slughorn tersenyum senang. “I feel love in the air.”


Mata Evelyn melebar dan menatap sendu pada Sean. “Aku tidak bisa, Sean.” Lirihnya. “Ku mohon tinggalkan aku setelah ini.”


Sean menatap Evelyn dengan tatapan tak suka, ia kecewa.


“Masih banyak gadis di luar sana yang menginginkan mu-“


“Aku tidak menginginkan mereka.” Potong Sean. “Aku tidak perlu memiliki siapa pun jika yang aku pilih berada dihadapanku.”


Evelyn mengigit bibirnya dengan gugup. “Kita hanya orang asing, Malfoy.” Sean mengerutkan keningnya mendengar nama panggilannya yang berubah. “Terlebih mengenai hubungan keluarga kita yang-“


Sean memutar matanya kesal. “Terserah kau saja.” Sean menatapnya lurus. “Mari kita buat ini menjadi mudah.”


Evelyn terdiam.


“Mari kita mulai dari awal, bukan menjadi orang asing.”


“Aku-“


“Jelaskan apa saja yang biasanya kau lakukan.”


Entah kenapa permintaan Sean membuat hati Evelyn tercubit. Gadis itu benar-benar ingin menangis karena kesal.


Kesal.


Ia kesal karena Sean tak menjauhinya dan membuat hatinya tak baik-baik saja. “Aku- aku rasa kau tak peduli dengan semua itu, Sean.”


Sean menyeringai. “Memang tidak,” ia mengakui. “Tapi, aku ingin tahu.”


Evelyn tersenyum. “Ada banyak hal yang biasanya ku lakukan, jika aku menjelaskannya kau tak akan tidur semalaman.”


Sean tergelak berusaha menahan tawa. “Kenapa?”


Evelyn lagi-lagi tersenyum. “Butuh beberapa puluh perkamen untuk di tulis dan aku malas menjelaskannya satu persatu.”


Mereka menghentikan tariannya dan saling tersenyum. “Ayo, aku antar kau ke asramamu.”


Senyuman Evelyn menghilang. “Maaf, tapi aku kemari bersama Xanders. Terima kasih, Sean.”


***


Wendy memutuskan mengikuti Christian ke ruang rekreasi ketua umum milik Sean. “Conexu.” Christian mengucapkan kata sandi yang ditatap heran oleh kekasihnya.


“Jangan terkejut seperti itu. Aku mengatakan pada Sean untuk meminjam ruangannya.”


Wendy merona.


“Kita akan di sini untuk beberapa saat sebelum aku mengantarmu ke asrama Ravenclaw.” Wendy mengangguk tanpa sadar dan mengamati ruangan khas milik Sean.


Christian duduk di sebuah sofa tepat di depan perapian besar. Ruangan ini cukup nyaman dan membuat Wendy mengikuti Christian.


“Kau tahu aku benar-benar merindukanmu.” Ujarnya saat Wendy telah duduk di sebelahnya. Wendy tersenyum dan hampir memekik ketika Christian memindahkan tubuhnya duduk di pangkuan pria itu agar menghadapnya.


“Chris, kita-“


“Tak ada yang tahu, Wen.” Christian menyeringai. “Kau berhutang kepadaku.”


Wendy menaikan alisnya. “Apa?”


“Kau berhutang kepadaku karena membuatku sangat merindukanmu.” Wendy benar-benar menyukai kalimat Christian.


Menjalin hubungan dengan Mayer sempat di tentang oleh ibunya karena kekasihnya adalah seorang Slytherin. Tapi, melihat sikap keras kepala Christian membuat ibunya, Cho Cang menerima Christian.


Cho Cang sendiri tak menyukai penyihir yang berasal dari Slytherin, ada alasan tersendiri kenapa ibu beranak satu itu tak menyukai pria Slytherin termasuk kekasih putrinya.


Wendy memejamkan mata dan mencium dahi Christian. Pria itu terkejut dan tersenyum menatap bagaimana manisnya tingkah Wendy. “Aku tahu, terima kasih untuk tetap mempertahankan aku waktu itu.”


Christian mengangguk. “Mengambil hati calon mertua memang sulit.” Dengusnya yang membuat Wendy tertawa.


Wendy turun dari pangkuannya dan melingkarkan lengannya ke tubuh Christian. “Aku sempat menyerah ketika mum benar-benar tidak menyukaimu dulu.”


Christian menghela napas lega. “Itu telah berakhir, sekarang ibumu menyukaiku.”


Wendy mengangguk. “Aku tahu kau licik, Chris. Tapi, pandanganku berubah ketika kau melakukan semua itu karena aku.” Christian menatap kekasihnya lekat-lekat. “Maaf, telah membuatmu susah selama ini.”


Nada bicara Wendy berubah membuat Christian menaikan alisnya. “Kenapa menjadi seperti ini, aku kemari bukan untuk melihatmu bersedih.”


Wendy tersenyum. “Yah, ku akui aku rela mempermalukan diriku karena ibumu.” Christian tersenyum mengingat bagaimana ia dulu berusaha mendapatkan hati ibu Wendy. “Aku bahkan tidak tahu ibumu seperti itu karena masa lalunya.”


Wendy tersenyum pedih. “Tahun ke empat mum di hogwarts benar-benar berat. Kekasihnya meninggal saat- saat ayah Evelyn membawanya kembali.”


Christian menaikan alisnya. “Aku benar-benar tak menyangka jika Cedric adalah kekasih ibumu dulu. Pria hufflepuff itu-“


“Jangan sembarang berbicara, ibuku hampir saja melanjutkan hubungannya jika saja pria itu tak meninggal karena-“ suaranya mengecil. “Voldemort.”


Christian menyeringai. “Tapi aku bersyukur, ibumu malah menikah dengan ayahmu dan memiliki dirimu.” Christian mendekatkan wajahnya dan bibir pria itu menyapu permukaan bibir Wendy. Ciuman itu berubah menjadi ciuman menuntut hingga Wendy tak sadar telah mendesah.


Christian menyeringai dan melepaskan ciumannya. Wajah Wendy memerah akibat perlakuan sederhana Christian. “Kau masih saja seperti ini, padahal kita sudah pernah melakukannya berkali-kali.”


Wendy merona dan mengangguk. “I love you.”


“i love you as well.”


***


Irene dan Sandy terlebih dahulu kembali meninggalkan Xanders dan Evelyn yang berjalan di sepanjang koridor. Awalnya Irene nampak bersemangat ingin mengintrogasi Evelyn, namun itu semua terhalang ketika Sandy lebih dulu menarik kekasihnya ke arah yang berbeda.


Xanders terdiam begitu lama, hingga ia berusaha memecah keheningan. “Aku tak tahu jika Malfoy akan menciummu.”


Evelyn sedikit tercekat. Ia tak menyangka topic pertama mereka adalah Sean.


“Apa ia menyakiti mu?”


Evelyn menggeleng dan menghela napasnya menahan udara malam yang begitu mengganggunya. Xanders yang menyadari Evelyn kedinginan melepaskan jasnya dan meletakannya secara hati-hati pada bahu Evelyn.


“Terima kasih, Xanders.” Ujarnya tersenyum. “Aku menikmati pesta tadi.”


Xanders tersenyum. “Sama-sama, aku juga menikmatinya dan kau terlihat cantik malam ini.”


Evelyn menghentikan langkahnya ketika Xanders mengulurkan tangannya dan mengeratkan jemari mereka. Namun, ia tiba-tiba melepaskan pegangan Xanders dan menatap wajah kecewa pria itu.


“Xanders, maafkan aku- aku bukan bermaksud... aku senang jika kita berteman. Tapi-“


Xanders mendekat dan menyeringai. Evelyn cukup terkejut menatap diri Xanders yang tak seperti biasanya. Xanders tiba-tiba mengeluarkan tongkatnya dengan sebuah seringaian mengerikan.


Evelyn mundur beberapa langkah dan mengeluarkan tongkatnya. Sebuah cahaya putih muncul membuat tongkatnya terpental beberapa meter darinya.


Sial!


Xanders baru saja melucuti dirinya dengan mantra non-verbal. “Xanders, ada apa denganmu?”


Evelyn merasakan perubahan pada diri Xanders. Ia tahu jika pria itu menyukainya, namun selama ini Xanders tak pernah bersikap sekurang ajar ini, terlebih melucuti tongkatnya.


Mata Xanders menatapnya tajam. “Seharusnya kita tak lebih dari sekedar teman. Kau tak membutuhkan Malfoy.”


Evelyn melebarkan matanya mendengar ucapan Xanders yang tak seperti biasanya. “Xanders apa yang terjadi padamu?” Evelyn ketakutan.


Evelyn mencoba berlari sebelum Xanders mengayunkan tongkatnya. Tubuhnya tiba-tiba berubah kaku dan pria itu


menyeringai.


Xanders mendekati Evelyn, ia menatap Evelyn dengan tatapan minat.


“Benar-benar memalukan.”


Keduanya tercekat mendengar sebuah suara yang mereka hafal milik siapa. Sean mengeluarkan tongkat sihirnya dan melucuti tongkat Xanders.


Sean terlihat sangat marah saat mendapati Evelyn yang terdiam kaku, Sean lagi-lagi merapalkan sebuah mantra yang membuat Xanders terhempas menabrak dinding batu di belakangnya. “Kau menggunakan cara rendah hanya untuk mendapatkannya.”


Suara Sean terdengar menusuk. Evelyn merasa jika Sean benar-benar marah saat ini. “Kau benar-benar pria bodoh. Apa kau tak mendengar suaranya yang terlihat ketakutan?”


Xanders menggeram marah dan mengambil lagi tongkatnya. “Crucio.”


Evelyn tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan keduanya. Xanders pun menyeringai, namun Sean tak beraksi apa pun ketika ia hanya menangkis mantra Xanders dengan malas.


Seringain Sean yang sekarang muncul. “Crucio.” Pria itu nampak tersenyum lebar ketika tubuh Xanders meringkuk, Evelyn menangis menatap temannya yang kesakitan. Walaupun Xanders bersalah, tak seharusnya Sean merapalkan kutukan itu kepadanya.


“Sean, please.” Mohon Evelyn. “Ku mohon, lepaskan dia.”


Tubuh Evelyn memang terdiam kaku, tapi tidak dengan mata dan mulutnya. Sean berbalik menatap Evelyn tak percaya ketika air mata gadis itu terbuang sia-sia untuk seseorang seperti Xanders.


“Sean, ku mohon.”


Sean tetap tak rela, walau ia telah menghentikan kutukan itu, Sean membuat Xanders terpental beberapa meter sebelum menghampiri Evelyn.


Putri Potter itu cukup terkejut ketika melihat darah yang mengalir dari hidung Xanders. Terlihat pucat dan nampak gemetar karena kutukan Sean.


“Katakan apa yang harus kau katakan!”


“Ma-maaf.”


Xanders bangkit menahan sakit, pria itu merapalkan sebuah mantra untuk mengembalikan Evelyn seperti semula sebelum meninggalkan mereka.


“Kau baik-baik saja?”


Evelyn merasa marah dan hampir saja menampar Sean sebelum pria itu menangkap pergelangan tangannya dan


menatap khawatir pada Evelyn.


‘Kau tak seharusnya seperti ini.’ batin Evelyn berteriak.


Sean tak kunjung melepaskan pergelangan tangan Evelyn dan mengikis jarak keduanya. “Apakah kau baik-baik saja? Apakah dia menyakitimu atau-“ Sean menelan ludah dengan gugup. “Menyentuhmu?”


Evelyn menggeleng. “No.” Jawabnya lemah. “Dia tidak menyakitiku dan kau menyiksanya dengan mantra kutukan.”


Evelyn menarik pergelangan tangannya dan nampak ketakutan. “Kau puas, Sean?”


Mata Sean menunjukan tatapan marah, bagaimana bisa gadis di hadapannya tak tahu berterima kasih. Ia merasa putus asa ketika Evelyn tak mempercayainya.


“Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya kepadaku?”