Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
26



Masih dalam nuansa liburan natal, tapi tidak untuk anggota kelompok Sean dan Tiara yang harus berlatih menggunakan sihir hitam. Sean mempunyai sebuah rumah khusus yang jauh dari manor. Saat ini, Tiara mengajarkan beberapa sihir hitam kepada para pengikut Sean.


Tiara benar-benar puas, bocah-bocah Slytherin itu cepat mempelajarinya. Semakin cepat mereka mempelajari sihir hitam, semakin cepat Tiara melebarkan sayapnya. Hanya perlu beberapa waktu membujuk Sean untuk memiliki pengikut-pengikut baru.


Tiara menyeringai sebelum membawa beberapa kotak kecil. “Waktunya istirahat,” ujarnya yang membuat mereka mengangguk patuh, “ini hadiah natal dari ku.” Lanjutnya.


Tiara merapalkan sebuah mantra pada masing-masing kotak agar sampai pada pemiliknya yang baru. Seluruh murid menatapnya takjub, mereka tak menyangka jika professor Lestrange akan memberi mereka hadiah natal.


“Berjanjilah padaku, bahwa kalian akan mengenakan hadiah yang ku berikan.” Pinta Tiara.


“Terima kasih, professor.” Jawab mereka serempak.


Tiara bersorak dalam hati. Jika mereka mengenakan kalung yang diberikan oleh Tiara, semakin mudah mengontrol mereka semua. Kalung yang diberikan Tiara telah dimasukan sihir khusus yang dapat mengontrol tindakan si pemakai.


“Hadiah yang kuberikan telah ku campur dengan sihir khusus, siapapun tak akan mencelakai kalian kecuali-“


“Aku.” Sean memotong ucapan Tiara.


Tiara terkekeh geli.


***


Hari ini adalah hari pertama Evelyn mengenakan kalung pemberian Sean. Tanpa gadis itu sadari, putra Malfoy telah memberinya sebuah kalung yang telah diberi mantra khusus agar tak ada satu pun pria yang berani memiliki perasaan pada Evelyn. Jangankan memiliki perasaan, mendekati Evelyn saja mereka tak akan mampu.


Evelyn telah menjadi hak milik Sean. Artinya tak satupun yang boleh melihatnya bahkan menyentuh dirinya.


Harry  menemukan Evelyn yang tersenyum, gadis itu menatap pantulan dirinya dari balik cermin. Kalung pemberian Sean begitu terasa pas dilehernya.


“Morning.”


“Morning, dad.” Sapa Evelyn dengan halus. “where’s mom?”


“Ibu sedang membantu Hermione di dapur,” jawab Harry seadanya, matanya menyipit ketika menatap kalung yang Evelyn kenakan, “kau menggunakannya?”


Pipi Evelyn merona, ia mengangguk. “Aku menyukainya.”


Gadis itu segera duduk untuk menemani ayahnya sarapan.


“Lain kali kenalkan dia padaku.”


Ucapan Harry mendadak membuatnya menjadi kaku, Evelyn mengedipkan matanya berkali-kali. Otaknya terlalu lama untuk merespon ucapan ayahnya.


“Dad, ingin bertemu dengannya?” tanyanya tak yakin.


“Tentu saja, aku penasaran dengan kekasih mu-”


“Kekasih?”  Ron menyela perkataan Harry, “Evelyn sudah memiliki kekasih?”


Harry tersenyum tanpa mengetahui putrinya yang merasa gugup, “Putriku sudah besar, Ron.”


Ron mengangguk, “Aku berharap Rose juga akan memperkenalkan kekasihnya kepada ku.” Ujarnya sembari


duduk disebelah Harry, “jadi apa kekasih Evelyn juga berada di Hogwarts?”


Harry mengangguk, “Iya. Bagaimana dengan kekasih Rose?”


Ron melipat kedua tangannya, “Ia bahkan tak memberitahu ku kecuali Hermione.” Ron kembali menatap Evelyn, “jadi di asrama mana kekasih mu ditempatkan?”


Evelyn melirik ayahnya yang tersenyum. Harry menoleh menatap sahabat sekaligus kakak iparnya, “Dia-“


“Slytherin, uncle.” Sela James yang baru saja mendudukan dirinya disebelah Evelyn.


Putra sulung Harry tanpa tahu situasi menjawab dan setelahnya memilih untuk memakan sarapannya. Harry dan Evelyn menatap reaksi kaku dari Ron.


“Seriously?” tanya Ron kepada Evelyn. “Kenapa Slytherin?”


“Uncle, sebenarnya-“


Ron menggelengkan kepalanya, “dia tak memberimu amortentia kan?” tanyanya memastikan.


“Ron, sebaiknya jangan campuri urusan Evelyn.” Ucap Ginny yang tiba-tiba datang dengan membawa semangkuk


***


Wendy menunggu kedatangan Christian dengan sabar, seharusnya pria Slytherin itu datang satu jam sebelumnya. Namun, hingga saat ini Christian masih belum menunjukan batang hidungnya.


Ia melirik jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Wendy menghela napasnya, jika Christian benar-benar tak datang maka ia bersumpah tak akan memberi apa yang Christian inginkan.


“Hey.” Bisik seseorang yang membuat Wendy terkejut. Gadis itu menoleh dan mendapati Christian tersenyum disebelahnya. “do you miss me?”


“You’re late.”


Christian tersenyum. “I know, im sorry.” Ujarnya seraya mengacak pelan rambut Wendy.


Wendy menepis tangan Christian dan menatapnya kesal, “jangan buat penampilan ku berantakan, Chris.”


“Why?” tanya heran, “bahkan aku sering melihatmu berantakan lebih dari ini diranjang-“


Wendy segera membekap mulut Christian. “Sstt, jangan keras-keras. Bagaimana jika ibuku tahu?”


Pandangan Wendy tertuju pada sesuatu yang digunakan oleh Christian. Semenjak menjalin hubungan dengan Christian, ia tak pernah melihat kekasihnya menggunakan perhiasan terlebih sebuah kalung.


Sebuah kalung dengan liontin yang berwarna hijau. Dihiasi perak yang melilit bagian liontinnya.


Christian yang menyadari tatapan Wendy segera memasukan liontin kalung tersebut kedalam pakaiannya. “Kalung ku bagus tidak?”


Wendy menatap Christian bingung, “tak biasanya kau menggunakan kalung.”


Christian tersenyum dengan bangga, “Professor Lestrange yang memberikannya kepada kami sebagai hadiah natal.”


Raut curiga Wendy menghilang, “Menyenangkan sekali mendapat professor semacam itu.”


Christian menggandeng tangan Wendy, “aku sudah mengatakannya berkali-kali agar kau pindah saja ke asrama Slytherin.”


Wendy mendengus, pasalnya ini bukan kali pertama baginya mendengar bujukan Christian. “Tak semudah yang kau kira, Chris. Lagipula jika aku pindah ke asrama Slytherin, akan mengurangi nilai poin kami.”


“Mari pergi.”


Wendy mengangguk mengikuti Christian, tanpa ia sadari mata Christian berkilat hitam dan kembali seperti semula.


***


Lagi-lagi Ginny menemukan putrinya dengan wajah memerah, ia hanya tersenyum mengetahui kenyataan bahwa putrinya baru saja mengalami jatuh cinta. Ginny teringat bahwa ia pernah mengalami masa-masa itu saat bersama Harry, walaupun keadaan mereka begitu kacau terlebih karena adanya Voldemort.


“Apa ada yang membuatmu senang, Lyn?” Tanya Ginny yang memasuki kamar putrinya. Evelyn yang awalnya terkejut dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi malu-malu kucing. “Jadi, hal apa itu?”


“Bukan hal besar, mom.”


Ginny tersenyum, “benarkah?” ia sedikit melirik kertas surat yang dipegang putrinya, “apakah ini mengenai kekasihmu?”


Evelyn mengigit bibirnya.


“Ceritakan bagaimana kekasihmu itu?”


***


Liburan hampir usai, Tiara selalu memprioritaskan kebutuhan Delphi. Ia tak akan menyia-nyiakan keberadaan keluarga terakhirnya. Bahkan, Tiara harus mengancam Vernon untuk menyembunyikan keberadaan Delphi.


Hanya tinggal menunggu waktu untuk menunggu Sean melakukan rencananya. Tiara duduk termenung menatap


Delphi yang sedang membaca bukunya dengan tenang. Di bawah kakinya terdapat seekor ular yang bernama Rascal melilit kakinya.


“Delphi?”


Gadis itu mendongak dari bukunya menatap Tiara. “Ada apa?”


“Untuk beberapa hari ke depan aku tak akan kemari, karena aku harus mengajar.” Ucapnya. “jangan lakukan hal-hal yang membuat para muggle curiga.”


Delphi mengangguk patuh, tatapan Tiara beralih menatap Rascal. “Kau harus menjaganya dan bunuh siapa saja yang berusaha mendekati Delphi.”


Rascal hanya berdesis patuh, berbeda dengan Delphi yang sedang kebingungan. Gadis itu sedikit tak mengerti kenapa Tiara begitu protektif kepadanya. Setidaknya ia tak sendirian, ia masih memiliki keluarga.