
Theo menatap Evelyn, “Are you okay?”
Mark mengintip Sean takut. “Bilang saja pada kami jika ia melakukan sesuatu kepadamu.”
Theo memutar matanya malas. “Sok berani.”
Sementara itu para gadis Gryffindor masih histeris melihat the most wanted berada di depan asrama mereka. Sean bersandar pada dinding menunggu dirinya,
Evelyn berdeham. “Malfoy.”
Pria itu melirik kanan dan kirinya, memastikan tak ada satu pun yang menguping. “Sudah ku katakan berkali-kali panggil namaku jika kita hanya berdua.”
Evelyn mengangguk pasrah.
“Aku tak akan pernah memahami bagaimana bisa kau hidup dengan tenang di ruangan yang penuh dengan warna merah atau emas,” kata Sean yang tiba-tiba menggandeng tangan Evelyn.
Semua lukisan menatap Evelyn dan Sean dengan bingung. Para lukisan menatap keduanya penasaran. Tak seperti biasanya Malfoy berada di depan asrama Gryffindor.
Evelyn tersenyum kecil. “Tidak semua dari kita betah untuk tinggal di bawah tanah.” Sean tersenyum mendengar sindiran yang diberikan oleh Evelyn, “Omong-omong ada apa mencari ku?”
Sean tak menjawab dan mengajaknya menyusuri koridor hingga mereka sampai di depan sebuah pintu. Evelyn mengenalinya, itu adalah pintu kelas transfigurasi.
Keduanya masuk dan Sean merapalkan mantra kunci.
“Sean, why you-“
“I miss you.” Potong Sean cepat.
Evelyn melihat seringaian dari sudut mulut Sean. Pria itu merapatkan jaraknya dan melingkarkan lengannya dibahu Evelyn.
Sean menariknya mendekat, Evelyn bersandar di dadanya. Seharusnya mereka tak melakukan hal semacam ini, bagaimana jika mereka ketahuan oleh salah satu prefek atau lebih parahnya seorang guru.
“Apa yang kau pikirkan?” bisiknya halus, “setidaknya aku tahu satu alasan mengapa aku harus membawa seorang gadis polos ketempat remang semacam ini.”
Evelyn memutar matanya. Tentu saja, Sean dengan tongkatnya jauh lebih berbahaya daripada predator manapun. Evelyn mengurai rangkulan Sean, ia menyeringai menatap kekasihnya. “Bagaimana jika aku tak sepolos itu?”
“Apa itu artinya kau menantangku?” tanya Sean yang masih tersenyum, “aku tak masalah jika kita melakukannya disini.”
Evelyn melebarkan matanya, “kau memang minta dikutuk, Sean.”
Tawa Sean pecah ketika menyadari ketakutan kekasihnya. Baginya, Evelyn adalah gadis yang polos. Evelyn berbeda dengan gadis-gadis yang pernah tidur dengannya. Sean tersenyum bangga ketika menyadari bahwa Evelyn menggunakan kalung pemberian, begitu cantik dan pas saat melingkari leher Evelyn.
“Berjanjilah kepada ku, bahwa kau tak akan melepas kalung itu.” Tuntut Sean. “Aku ingin semua orang tahu bahwa kau milik ku.”
Senyuman Evelyn luntur, ia menatap Sean dengan tatapan tak yakin. “Sean, aku-“
Sean menggeleng, “Aku tahu apa yang ingin kau katakan.”
“Sean, aku belum siap. Kau tahu kan, bagaimana mengenai status hubungan ini.” Jawabnya ragu. Gadis itu memilin jubah seragamnya.
“You’re mine, Lyn. Sampai kapanpun akan tetap seperti itu.” Putus Sean.
Evelyn menghela napasnya, “Bagaimana dengan keluargamu?”
Sean menyeringai. “itu bisa diatur.”
***
Evelyn terpaksa kembali tengah malam menghindari para prefek yang bertugas. Tentu saja kembali tengah malam adalah hal yang terlintas di dalam pikirannya ketika ia berusaha mengindari teman satu asramanya.
Siapa yang tak tahu bahwa ia pergi dengan Sean semalam, bahkan seluruh murid Gryffindor menatapnya penuh
bingung dan iri.
Merasa situasi aman, Evelyn berlari kecil menuju kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Malam ini adalah malam indah dan cukup menegangkan, bagaimana mungkin Malfoy mengajaknya ke tempat yang begitu sepi dan-
‘Ugh, hentikan pikiran mu, Lyn’- batinnya berkecamuk.
Keesokan paginya, Evelyn terbangun dengan perasaan yang penuh campur aduk. Ia bersembunyi untuk menghindari teman-temannya dan-
“Morning, Evelyn.” Sapa Irene dengan senyum lebarnya.
“Oh, shit.” Gumamnya pelan. “Morning, Irene.”
“Bagus, kau sudah bangun.” Bianca melipat kedua tangannya menatap Evelyn dengan tatapan menyelidik begitu pula dengan Xander, Theo dan Mark.
Evelyn hampir saja memutar matanya sebelum Mark berseru dengan histeris. “Ceritakan kepada kami apa yang terjadi semalam.”
“Kami benar-benar melihat mu dengan Malfoy berjalan berduaan.” Sambung Theo.
Mark mengangguk, “Apa kau berkencan dengannya?”
Hanya satu yang ia pusingkan, sejak kapan Mark dan Theo menjadi suka bergosip seperti Irene. Kekasih Sandy terlihat antusias, “Wow, Lyn. Kau benar-benar mendapatkan umpan yang bagus.”
“Benar, bagus menjadi korbannya.” Sindir Bianca.
Evelyn mengigit bibirnya. “Apa yang membuat kalian berpikir seperti itu?”
Irene mengibaskan tangannya, “Tentu saja, Sean datang mencari dan menunggu mu di depan ruang asrama Gryffindor.” Serunya antuasias. “Bayangkan, Lyn. Malfoy tak pernah bersikap seperti kepada teman-teman tidurnya bahkan mantan kekasihnya.”
Hati Evelyn sedikit menghangat mendengar ucapan Irene.
“Ya, ku pikir Malfoy benar-benar menyukaimu.” Theo mengangguk menyetujui ucapan Irene.
“Oh, cepat sekali.” Sindir Bianca. “Ku pikir itu terlalu cepat, baru beberapa waktu yang lalu mereka saling membenci, mengutuk dan bersitegang.” Ujarnya heran.
Irene menggeleng. “Kau tak akan tahu bagaimana cinta bekerja.”
Xanders sedikit mengernyit geli membayangkan penyihir seperti Malfoy terbuai oleh cinta. “Ku kira Malfoy bukan tipekal pria seperti itu.”
“Jadi jika bukan karena kau berkencan, lalu kenapa ia menemuimu?” Mark kembali membuka suaranya. Berbeda dengan Bianca dan Xanders yang menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Apa kau baik-baik saja?”
Evelyn mengangguki pertanyaan Xanders. “Im fine, guys.”
“Dia tidak mengancammu?”
Lagi-lagi Evelyn harus menggelengkan kepalanya. “Kami hanya berbicara.”
“Ku kira kau benar-benar membencinya?” kata Bianca pelan, “mengingat kau menghancurkan bunga pemberian Malfoy pada saat itu.”
“Memang.” Evelyn merasa jika dirinya sedang berbohong.
“Ah, aku tahu.” Seru Mark pelan, “Kurasa Malfoy berusaha mendapatkan hatimu.”
Irene bertepuk tangan mendengar ucapan Mark. “Aku akan mendukung kalian.”
“Aku tidak.” Sahut Bianca yang membuat Irene mengerucutkan bibirnya. “Kau tak lupa bagaimana sejarah hubungan keduanya bukan?”
Evelyn membeku mendengar ucapan Bianca, fakta yang hampir terlupa dari pikirannya adalah sejarah bagaimana
buruknya hubungan Potter dan Malfoy.
***
Seperti biasa, Sean tengah duduk di meja Slytherin dengan daily prophet ditangannya. Setiap pagi setelah sarapan, ia akan melakukan rutinitas membaca daily prophet seperti yang dilakukan oleh Lucius, sang kakek.
Sean menurunkan daily prophet ketika Christian dan Jason tengah sampai di meja Slytherin. Kekasih Wendy sedikit tersenyum menatap Sean yang memandangnya bingung. “Ada yang ingin kau katakan, Mayer?”
“Kemarin banyak yang melihat kau berjalan dengan Potter di koridor.” Ujarnya santai sembari mengambil semangkuk sereal. “Jadi, apa yang kau rencanakan?”
Sean menatap Christian tajam, “Apapun itu kalian tak perlu tahu.”
Jason menyeringai. “Kami bisa membantumu, Malfoy.”
“Apa kau baru saja meremehkan ku?” tanyanya yang membuat Christian dan Jason terdiam takut. Seperti biasa,
Sean selalu berhasil mengintimidasi para pengikutnya. “Kuharap kalian tak berbuat lancang dengan mengganggu apa yang menjadi urusan ku.”
“Ba-baik, Malfoy.” Jawab keduanya.
Matanya teralihkan ketika sosok yang dapat membuatnya tersenyum memasuki aula. Evelyn nampak begitu cantik hari ini. Rambut yang biasanya diurai, Ia gelung menampilkan leher jenjangnya yang putih dan mulus.
Sean tanpa sengaja meremas daily prophet yang ia pegang membuat Christian dan Jason menatapnya heran. Tak dapat dipungkiri jika si bungsu Potter adalah gadis yang sangat cantik, beberapa penyihir pria lainnya terang-terangan menatap Evelyn dengan minat.
Dibelakang Evelyn, terlihat beberapa singa bodoh yang selalu mengikuti kekasihnya. Sean benar-benar geram
melihatnya. Gadis itu miliknya dan Sean tak bisa menerima bagaimana tatapan beberapa penyihir lain yang menatap minat kea rah Evelyn.
Sean ingin sekali berjalan mendekatinya dan memeluknya. Dia ingin seluruh penghuni Hogwarts tahu bahwa
Evelyn adalah hak miliknya. Evelyn adalah gadisnya dan mereka tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Namun, ia tak bisa melakukannya sekarang, Sean harus bersabar, walaupun Evelyn nantinya akan jatuh ke dalam pelukannya.