
Tiara tak mempedulikan apa yang akan direncanakan oleh Sean bersama teman-temannya. Ia hanya tahu, jika kemenakan laki-lakinya akan bersenang-senang. Seringaiannya berkembang, sebelumnya ia mendapat informasi dari Vernon jika Sean suka mendisiplinkan beberapa siswa yang mengusiknya dengan caranya sendiri.
Gadis itu melirik sebuah kotak yang berada disebelah nakasnya. Kotak berwarna biru muda dengan sebotol ramuan kecil didalamnya. Ia hanya perlu mengantarkan botol tersebut kepada calon korban selanjutnya.
Ia tak akan membiarkan Potter dan Malfoy bahagia. Tak ada yang boleh bahagia diatas penderitaannya. Tak boleh!
Tiara semakin senang mengingat rencana Sean yang akan memisahkan Evelyn dengan keluarganya, akan lebih baik jika gadis bodoh itu masuk ke dalam aliansinya dan semakin mudah untuk menjebak Potter, mungkin ia akan
memperhitungkan Weasley ke dalam daftar hitamnya.
Bebannya berkurang, kini ia hanya menunggu Sean mendapatkan cincin keturunan Malfoy.
***
Evelyn memasuki aula besar, ia berusaha menghindar dari Irene dan Patricia yang terus memberinya berbagai macam pertanyaan. Bianca sendiri tak memilih pergi ke aula besar, gadis itu sedang menemui Hagrid karena hukumannya.
Tatapan Evelyn mendarat pada meja Slytherin, ia menemukan Sean duduk santai dikursinya dan memperhatikannya. Lelaki itu menyeringai dan menatapnya angkuh. Evelyn memutar bola matanya, ia bisa melihat
sudut bibir Sean yang melengkung karenanya.
Sesaat ia memalingkan pandangannya pada Xanders, Theo dan Mark. “Pagi, Evelyn.” Theo menyambutnya santai.
“Pagi, Lyn. Duduk.. duduk…” pinta Mark riang.
Gadis itu menaikan alisnya dan buru-buru duduk disebelah Theo. Evelyn meraih teko jus labu. “Lyn, kenapa kau bertemu dengan Malfoy semalam?”
Evelyn mendapati wajah heran dari Xanders. Ia tak menyangka jika Xanders akan menanyakan hal tersebut. Padahal ia baru saja terlepas dari Irene dan Patricia, tapi kini Xanders menanyakannya. Lalu, apa yang harus ia katakan sekarang?
“Ah, itu,” Evelyn berdeham, “Malfoy hanya mengatakan suatu hal penting.” Jawabnya gugup.
Theo menyipitkan matanya. “Penting?”
“Apa dia menyatakan cintanya?” pertanyaan Mark mengundang tatapan terkejut dari Xanders dan juga Theo.
Theo menatap Mark heran, “Kau mempercayai gosip murahan itu?”
Mark mengangkat bahunya acuh, “Mungkin, lagipula semalam Malfoy menggandeng tangan Evelyn kan?”
Evelyn mendadak linglung, “Tidak,” ia menatap teman-temannya dengan yakin, “Itu tidak benar.” Memang Evelyn tidak sepenuhnya berbohong, Sean tak menyatakan cintanya. Bahkan disaat Sean memintanya menjadi kekasihnya, laki-laki itu tak menyatakan cintanya.
“Jadi, dia mengancammu?” tanya Xanders, “atau dia-“
Evelyn menggeleng kuat, “Tidak ada yang terjadi. Kami hanya berdamai.”
Theo merasa lega dan kembali melanjutkan sarapannya, berbeda dengan Mark yang kali ini memandangnya tak yakin. “Malfoy mengajakmu berdamai?”
“Ehm, ya.”
***
Mereka berjalan menuju kelas ilmu pertahanan sihir hitam. Kelas Tiara. Irene dan Patricia bercanda bersama Xanders, Evelyn hanya mendengarkan dan terkadang menggeleng. Ketika memasuki kelas, barulah Evelyn menyadari bahwa kelas mereka berdampingan dengan kelas Slytherin.
Sean duduk dengan santai dikursinya, tak lupa dengan seringaian kecil saat menyadari bahwa Evelyn menatapnya. Mata birunya yang mengerling membuatnya berusaha menahan senyum. Sean terlihat tampan, tak heran seluruh gadis di kastil tergila-gila padanya.
“Morning class!” sapa Tiara tersenyum ramah, “hari ini kita akan mempelajari mantra lain yang akan kita gunakan untuk praktik minggu depan.”
“Tapi aku berharap kalian berdua tak menghancurkan kelas ku, Mr Malfoy dan Mrs. Potter.” Gadis itu tersenyum, walaupun Sean yakin wanita itu menyeringai jahil.
Mendengar namanya disebut, Evelyn berusaha menekan rasa malunya. Terlebih beberapa murid lainnya memandang dirinya dan Sean bergantian. Tak ada yang melupakan kejadian saling mengutuk dikelas mendiang professor Alba.
“Maka dari itu, aku akan memberi kalian mantra mudah.” Kata Tiara yang menlanjutkan penjelasannya. “Kalian bisa mengelabui musuh dengan mantra pengubah objek.”
Tiara berjalan berkeliling kelas, “Apakah salah satu di antara kalian ada yang tahu?” putri Lestrange melirik Sean, “Bagaimana dengan mu, Mr. Malfoy?”
Evelyn sedikit mengernyit ketika Sean mengarahkan tongkat kepadanya, beberapa siswa menahan napas, takut jika Sean mengutuk Evelyn berbeda dengan Tiara yang sedang menyeringai.
Bukankah itu terlihat seru?
“Infus.” Bisik Sean pelan.
Tiara menggeleng dan tersenyum geli melihat hasil ciptaan Sean, “Lima belas poin untuk Slytherin.”
Evelyn yang semula memejamkan matanya segera membuka matanya ketika para Slytherin tertawa. Irene memekik terkejut, Evelyn tak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya. seragam merah pada jubahnya berubah menjadi warna hijau dan perak.
Evelyn memutar matanya dan bersendekap menatap kekasihnya. Tiara tak mempedulikannya, “Aku beri kalian waktu untuk mencoba mantra yang dilakukan oleh Mr. Malfoy.” Jelasnya, “Ucapkan kata infus pada sesuatu yang ingin kalian ubah bentuknya.”
Sepeninggal Tiara menuju rak buku, Evelyn berdecak dan berjalan ke arah kekasihnya. Patricia terkikik geli berbeda dengan Xanders yang tak menyukai aksi Sean. Laki-laki itu menahan kesalnya, terlebih Sean terlihat mencari perhatian Evelyn.
“Baik Malfoy, tolong kembalikan seperti semula.” Pinta Evelyn dengan nada kesal.
Sean menyeringai, “Kenapa?” tanyanya jahil, “Aku lebih menyukaimu menggunakan pakaian itu.”
Christian terkekeh bersama Kai, keduanya menyetujui ucapan Sean. Tak ada warna yang lebih baik selain warna hijau dan perak.
Evelyn tak bergeming dan mengangkat tongkatnya, gadis itu menyeringai. Tak butuh waktu lama seragam hijau Sean berubah menjadi merah. Kali ini tawa berasal dari murid Gryffindor. Krystal menatap Evelyn dengan benci.
Sean yang menyadari perubahan warna pada seragam dan logonya berusaha menahan kesal. Tentu, ia tak mungkin kesal pada kekasihnya. “Itu sungguh tidak sopan, Potter.”
Evelyn mengangkat kedua bahunya, “Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan,” jawabnya santai, “Lagipula, aku tak masalah jika harus bertukar asrama denganmu.” Ujarnya seraya mengedipkan mata kirinya sebelum pergi
meninggalkan kerumunan Slytherin.
Levone menoleh, “Wow, aku tak menyangka jika dia benar-benar membalasmu.”
Krystal memutar matanya, “Cepat lakukan sesuatu, aku benci warna merah yang menempel pada tubuhmu.”
Sean menahan kekesalannya, ia menghela napasnya sebelum melakukan mantra non verbal.
***
Seekor burung hantu mengetuk-ngetuk jendela kamar Molly. Wanita tua itu bangkit dengan langkah lemahnya dan tersenyum saat mendapati seekor burung hantu berwarna putih dengan sekotak bingkisan di depan jendela kamarnya. “Oh, siapa yang memberi wanita tua ini bingkisan?”
Molly Weasley memberi sepotong kecil roti pada burung hantu itu sebelum mengambil kotak tersebut. Tak ada satupun kartu nama atau mantra sihir yang mengelilingi kotaknya. Molly kembali ke ranjang tidurnya. “Apa mungkin ini bingkisan dari Ginny?”
Tanpa Molly sadari, burung hantu yang menyelesaikan tugasnya menghilang bagai debu.
“Pasti ini bingkisan yang dimaksud oleh Ginny.”