Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
06



Evelyn hanya bisa tertawa ketika Xanders menjadikan Irene sebagai bahan lelucon. Ia tak menyangka jika laki-laki itu memiliki selera humor yang lucu. Bianca tersenyum sesekali memperhatikan wajah Irene yang memerah.


“Sudah kukatakan jika kau perlu mengganti gaya rambutmu.” Bianca menegur Irene yang memanyunkan bibirnya.


“Kau memang perlu, Irene.” Xanders menambahkan dan itu semakin membuat Irene berdecak.


“Apa yang salah?” tanyanya tak terima, “aku lebih suka jika rambutku dikepang. Terkesan rapi.”


“Or nerdy?” tanya Bianca yang mengundang gelak tawa.


Kegembiraan itu cepat menghilang ketika mendapati sosok tinggi berambut planita menghampiri meja mereka.


“Bloody hell.” Erangnya pelan.


“Ada apa, Lyn?” Irene bertanya ketika menyadari perubahan sikap Evelyn. Lalu ia tak sengaja menatap Sean Malfoy berada di hadapan mereka. “Pagi, Malfoy.” Sapanya ramah.


“Boleh aku duduk disini?” tanya Sean dengan nada menunjuk di sebelah Evelyn. Bianca dan Irene mematung sementara Xanders hanya tersenyum mengangguk.


Bianca berdecak menatap Xanders yang tak peka dalam hal ini.


“Tentu saja, lagi pula di sini tak ada aturan harus duduk di meja asrama.” Xanders mengangkat bahu dan kembali menikmati sandwichnya. Tatapan Sean tertuju pada Bianca dan Irene yang tiba-tiba bangkit dari kursi mereka.


“Lyn, kami permisi dahulu.” Pamit Irene membuat Evelyn menatap mereka bingung. Sementara ia sendiri tak tahu jika Xanders telah menyelesaikan sandwichnya dan menghampiri anak-anak prefek lain.


Evelyn benar-benar merengut menatap Sean yang berada di sebelahnya. “Hi, Evelyn.” Laki-laki itu mengambil


sepotong sandwich dan memakannya.


“Kau tidak kemari hanya untuk makan kan? Ada sesuatu yang kau butuhkan, Sean?” Evelyn hampir saja menghela napasnya. Beberapa jarak darinya, ia bisa menemukan Irene dan Bianca yang memperhatikannya dengan sungguh.


Tatapan khawatir dari Bianca dan tatapan penasaran dari Irene membuatnya berkecamuk. Ia sendiri hampir tak percaya ketika Irene terlihat mendukungnya memiliki hubungan dengan Sean setelah pria Slytherin itu memberinya bunga.


Ia tak membayangkan bagaimana jika ia benar-benar memiliki rasa terhadap Sean dan keluarganya menjadi gempar. Tidak, terima kasih. Ia bahkan tak ingin memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.


Sean menyeringai menatapnya. “Ku kira kau semalam tersesat.”


“Benar, semalam aku tersesat dan aku tidur di kelas karena ada seorang prefek yang tiba-tiba menghadangku dan mengarahkan tongkatnya ke leherku.”


Sean menghentikan kunyahannya, menatap Evelyn dengan tatapan heran. “Sarkas sekali.”


“Aku bahkan tak peduli.” Potter mendesis. “Kenapa kau di sini, jika kau mengidap amnesia. Aku akan dengan senang hati mengantarmu kembali ke meja hijau.”


Rahang Sean mengeras dan ia dengan cepat menetralkan emosinya. Ia menyeringai menatap Evelyn. “Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat dan menunjukan bahwa daily prophet itu salah.”


“Kenapa?” Evelyn menyipitkan matanya.


“Karena itu tidak benar, lagipula kau menarik.” Sean benar-benar melancarkan serangan kepada Evelyn. “Aku akan dengan senang hati jika kau bergabung denganku ke danau hitam nanti sore.”


Evelyn terdiam. Ia memikirkan tawaran Sean, rasanya akan sangat tak baik jika pergi bersama salah satu Malfoy. “Err... tidak.”


Irene dan Bianca terkejut. Kedua gadis Gryffindor itu takut, ketika Evelyn dengan gamblangnya mengatakan tidak. Evelyn mendengus, bagus bahkan kalian menggunakan mantra untuk menguping, batin Evelyn.


“Ku harap pria itu tidak mengutuknya.” Ungkap Bianca yang membuat Irene mengangguk.


Sean menaikan alisnya. “Why not?”


Evelyn menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk. “Aku hanya tidak percaya saja.” Gadis itu tiba-tiba berdeham dan menatap Sean dengan bersalah. “Hmm, Mr Malfoy. Aku permisi karena harus menghadiri kelas astronomi.”


Evelyn dengan gugup dan takut mengemasi tasnya dan berjalan cepat meninggalkan aula besar saat Sean yang masih menatapi dirinya.


Sean benar-benar tidak tahu jika Evelyn akan memberinya respon sebaliknya. Seharusnya ia tak pernah melangkah ke meja milik para singa merah. Dengan setengah kesal, ia bangkit dari meja Gryffindor dan bangkit menuju kelas selanjutnya tanpa menunggu para pengikutnya.


Sean cukup terkejut jika Evelyn tak tertarik padanya. Ia ingat jika little potter sedang takut kepadanya. Ia benar-benar kesal sekarang, Evelyn telah menolaknya.


Dua kali.


Laki-laki itu mendengus. Ia tahu jika Evelyn juga pintar, lucu bahkan cantik. Ia tetap tak peduli walau pada akhirnya ia mengakui bahwa dirinya menginginkan Evelyn.


Dan perasaan itu yang membuat Sean marah.


***


Kelas mereka telah usai, Evelyn buru-buru merapikan bukunya sebelum ia-


Tidak.


Bianca, Irene dan Xanders sudah berdiri di depan mejanya, menatapnya dengan pandangan menuntut. Nampaknya ketiga temannya menuntut penjelasan.


Evelyn memutar matanya. “What?”


“Apanya yang apa?” Bianca menatap Evelyn dengan heran. “Seorang Sean Malfoy menghampiri mu.”


“Lalu?”


Irene mendengus. “Itu tidak biasa, Lyn. Kau tahu itu kan?”


Kini giliran Xanders yang memandangnya dengan wajah khawatir. “Apa dia mengancammu?”


Irene dan Bianca menatap Xanders dengan pandangan tak setuju. “Hey, kurasa itu berlebihan.” Sahut Irene.


Xanders hanya mengangkat bahunya. “Siapa yang tahu, aku tidak melupakan fakta bahwa Malfoy dan Potter terlihat tak akur. “


Evelyn mengigit bibir bawahnya. Gadis itu cukup terkejut jika mengingat apa maksud Malfoy mendekatinya. “Tidak,” Evelyn menggeleng. “Dia tidak mengancamku.”


Bianca menaikan alisnya. “Jadi?”


“Dia hanya ingin mengajakku pergi ke danau hitam.”


Bianca dan Xanders hanya melebarkan matanya sementara Irene tersenyum penuh arti. “Apakah itu seperti ajakan kencan?”


Bianca melirik Irene dengan garang. “Tak mungkin jika Malfoy mengajak Evelyn berkencan.”


Irene menatap Bianca dengan alis mengkerut. “Kenapa tidak, bisa saja kan Malfoy berusaha memperbaiki keadaan.”


Xanders menggelengkan kepala mendengarkan kalimat Irene. “Tapi itu bukan ciri-ciri seorang Malfoy, Irene.”


Irene kembali mendengus. “Dia cukup tampan.”


Bianca benar-benar tak paham dengan ucapan Irene yang cenderung telat perpikir. “Apakah kau baru saja menyuruh Evelyn mempertimbangkan ucapan Malfoy, Irene?”


Irene terdiam nampak berpikir dan setelahnya mengangguk.


Bianca tak terkejut dengan jawaban Irene. “Aku tidak terkejut jika kau masuk Gryffindor, Irene. Kau terlalu berani mengambil risiko.” Desisnya yang membuat Irene cemberut.


Evelyn terdiam, ia memikirkan ucapan ketiga temannya. Ini cukup aneh jika Malfoy benar-benar mengajaknya kencan. Atau Malfoy ingin mengutuknya di sana.


Evelyn menggelengkan kepalanya, ia yakin Malfoy tak mungkin berbuat seperti itu walaupun keluarga mereka tak akur.


***


Evelyn melanjutkan harinya dengan sibuk. Sebentar lagi ia akan mengikuti kelas pertahanan terhadap ilmu hitam.


Langkahnya terhenti membuat ketiga temannya menoleh.


“Ada apa, Lyn?” Xanders bersuara menatap ekspresi Evelyn yang seakan-akan melupakan tugasnya.


“Kurasa aku tidak akan mengikuti kelas pertahanan ilmu hitam.” Jawabnya yang membuat Bianca menaikan alisnya.


Irene tersenyum. “Ah, kelas kita akan berdampingan dengan Slytherin.” Gadis itu terkikik geli.


Bianca memutar matanya. “Apa kau berniat menghindari anak Slytherin, Lyn?”


Evelyn mematung dan setelahnya menggeleng. “Lalu?”


“Sudah, lupakan saja Malfoy. Kau tak akan berpasangan dengannya saat berduel nanti.” Bujuk Xanders. “Bagaimana jika kau berpasangan denganku?” tawar Xanders yang membuat senyum Evelyn merekah.


“Sure.”


Vanessia Alba, profesor pertahanan ilmu hitam. Seorang wanita yang berparas cantik dan berumur tiga puluh enam tahun. Wanita itu menatap para muridnya dengan senyum tulus walau terlihat mengerikan.


Christian dan Kai yang awalnya bercanda mulai terdiam ketika profesor Alba menatapnya. “Ku ambil lima poin dari Slytherin.”


Xanders merinding menatap profesor Alba. Nilai Slytherin sudah terpotong lima poin akibat ulah Mayer dan Rogers.


“Ok, selamat siang,” wanita itu kembali tersenyum menyapa para siswa, “Hari ini kita akan melanjutkan pekerjaan kita dengan penggunaan mantra seperti minggu lalu. Aku berharap kalian bekerja berpasangan dan mencoba melucuti tongkat lawan. Ingat! Aku ingin kalian berpasangan dengan masing-masing asrama.”


Evelyn mengerang kecil di samping Xanders. “Oh, aku sial hari ini.”


Xanders menoleh dengan tatapan bersalah. “Sorry, Lyn.”


“Jadi mulailah memilih pasangan kalian.” Perintah profesor Alba.


Beberapa murid Gryffindor mulai menggerutu ketika beberapa anak Slytherin menyeringai dan memilih


pasangan mereka termasuk Evelyn. Tatapan Evelyn tertuju pada gerombolan Slytherin dan dia di sana beserta


pengikut-pengikutnya.


Di sana Krystal telah berpasangan dengan Bianca. Evelyn melebarkan matanya saat melihat Bianca dan Krystal saling berpasangan. Ia yakin sebentar lagi seluruh kaca di kelas mereka akan pecah.


Ia sendiri tak lupa insiden pada tahun ketiga mereka, dimana Bianca dan Kyrstal saling melemparkan mantra kutukan hanya karena seorang pria yang kini telah menjadi kekasih Irene. Evelyn hampir saja tertawa mengingat pria yang mereka rebutkan memilih Irene yang bodohnya ia tak tahu jika murid Ravenclaw tersebut menyukai Irene sejak lama.


Irene melebarkan matanya saat Bianca tersenyum mengejek kepada Krystal yang sudah menyeringai. “Aku tak tahu jika kalian berdua sungguh antusias dalam hal ini.”


Krystal tersenyum manis pada Irene. “Russell, sebenarnya aku ingin sekali berpasangan denganmu. Tapi, aku sungguh sangat menyayangkan kesempatan kita ketika Avalee terlebih dahulu memilihku.”


Irene terdiam dan menoleh pada Xanders. “Apa sebenarnya mereka ingin mengutukku?” Irene berbisik membuat Xanders memandangnya geli.


“Tentu saja tidak,” Xanders mengerlingkan mata. “Percayalah jika Bianca melakukan ini untukmu.”


Irene memiringkan kepalanya tak mengerti. “Apa ini ada hubungannya dengan Sandy?”


Sandy Grissham adalah pria Ravenclaw yang tak lain teman dekat Wendy.


Xanders tersenyum dan mengangguk. Sean mendekat bersama para pengikutnya dan mengabaikan Bianca dan Krystal yang sudah memilih dunia mereka sendiri.


Evelyn menarik napas panjang dan gemetar. Ia mengumpulkan sedikit keberaniannya dan mengarahkan pandangannya pada anak para pengikut Sean.


“Aku berharap aku bisa bekerja sama dengan mu, Miss Potter.” Baik pengikut Sean dan kedua teman Evelyn menatap gadis itu menanti jawaban yang akan keluar dari mulut kecilnya.