
Hugo baru pulang dari pekerjaannya. Pria itu sedang mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah, mengawasi keadaan melihat kanan dan kirinya. Rumahnya sepi, ia merasa aman. Dengan langkah pelan sembari
membawa daily prophet edisi baru, ia berniat menemui ibunya untuk memberitahukan hal ini, kecuali ayahnya.
Hugo benar-benar merasa tenang ketika ia melihat Hermione sedang merajut di depan televisi. “Mum, dimana dad?”
Hermione menatapnya dengan heran. “Ayahmu baru saja keluar, nanti akan kembali.”
Hugo memberikan daily prophet itu kepada Hermione. “Mum, jangan beri tahu hal ini kepada dad.”
Hermione mengangguk dan mulai membacanya. Mata Hermione yang menyipit tiba-tiba melebar sembari membaca tulisan-tulisan itu dengan pelan.
Hermione berbisik. “Apa ini sungguhan?”
Hugo mengangguk. “Aku dan Rose sepakat untuk tak menunjukan ini kepada dad.” Si bungsu Weasley menghela napasnya. “Evelyn telah mengirimkan surat balasan mengenai hal ini Jika yang dilakukannya bersama Malfoy karena unsur ke tidak sengajaan.”
“Saling mengutuk disebut tidak sengaja?” Hermione merasa tak heran jika Malfoy yang mengakui hal tersebut adalah hal yang tak mereka sengaja lakukan. Tapi, Evelyn?
“Siapa yang saling mengutuk?”
Ronald berdiri sembari menatap istri dan si bungsu Weasley dengan padangan heran, padahal Rose dan Hugo sepakat tidak memberitahu ayahnya karena permintaan Evelyn, selain membuat Ronald khawatir, pria berambut
merah itu akan mengamuk dan tentu saja jika mereka bertemu.
Lagipula, sejak kapan ayahnya tiba-tiba muncul seperti itu?
Ronald berjalan mendekati Hermione dan putranya. “Ada apa?”
“Itu kami-“
Ronald melirik daily prophet yang dipegang oleh Hermione dan mengambilnya. Pria itu membaca halaman depan dan menyipitkan matanya.
Terdengar suara geraman dari mulut Ronald sebelum ia meremas kertas daily prophetnya. “Ferret sialan itu.” Desisnya.
***
Langkah wanita itu terdengar buru-buru mencari suaminya. Ia tanpa permisi dan tanpa mengetuk pintu langsung memasuki ruangan Draco.
Bersyukur Draco hanya memeriksa beberapa berkas penting miliknya. “Draco, apa-apan ini?” serunya sembari melempar sebuah kertas daily prophet.
Astoria menatap suaminya dengan tatapan tajam. “Kenapa kau tak memberitahuku?”
Draco menghela napasnya. “Aku dan Scorpius sengaja tak memberitahukan hal ini kepadamu, sayang.”
Ia menatap suaminya dengan tatapan tajam. Rasa khawatir membuncah dalam dirinya. “Kenapa?”
Draco menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk. “Ya, tentu saja. Reaksi mu akan seperti ini.”
“Ini keterlaluan, Draco. Bagaimana mungkin murid tahun ke enam saling melempar mantra kutukan.” Desisnya tak suka.
Draco mengangguk. “Aku tahu itu.” Draco tersenyum. “Mereka tak berbeda dengan kita bukan, bahkan kita dulu juga seperti mereka saling melempar mantra dan berperang.”
Astoria menggertakan giginya. “Draco!” teriaknya. “Ini berbeda. Jaman kita dan mereka sungguh berbeda. Kau tahu itu kan.”
Draco bangkit dari kursi kebesarannya dan mendekati Astoria. “Dengar, kau tak perlu khawatir. Sean baik-baik saja,” Ujarnya menenangkan Astoria, “Kemarin aku sudah menemui mereka di hogwarts dan mereka baik-baik saja.”
Draco memeluk istrinya dan mencium pelipisnya. “Kita tak perlu khawatir bahwa ia bisa menjaga diri. Tapi, Sean tak akan pulang saat liburan natal nanti.”
Astoria mengurai pelukannya menatap Draco dengan pandangan heran. “Kenapa?”
“Well, sepertinya mereka mendapatkan detensi untuk itu.”
***
Seperti kesepakatan yang ia buat bersama Sean. Evelyn harus menemani pria itu berjalan-jalan dekat danau hitam, setidaknya area tersebut bukan area jauh dari kastil hogwarts. Bianca dan Xanders beberapa kali mengatakan untuk tak pergi berbeda dengan Irene yang nampak mendukungnya seratus persen untuk pergi bersama Malfoy.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Sean?” Evelyn berseru dengan nada kesal. Tidak ada rasa ketakutannya seperti berbicara dengannya saat berada di koridor waktu itu.
“Jujur saja... aku tidak tahu, Evelyn.”
Evelyn menatap pria di hadapannya dengan pandangan menyelidik. “Kau bukan pria yang melakukan sesuatu tanpa alasan.”
Sean mengangguk. “Biasanya... Ya biasanya.” Sean menatap balik pada Evelyn. Rahang pria itu mengeras berusaha menahan marah. Sean marah karena ia sendiri tak tahu melakukan apa. “Aku sedikit terpesona oleh mu, Evelyn.”
“Apa karena bau tubuhku?” Evelyn mengerjapkan matanya. “Ramuan amortentia?”
Sean menggeleng dan mengucapkan dengan tegas. “Tidak, maksudku aku tertarik pada bau tubuh mu, tapi aku sendiri tak bahu bagaimana menjelaskannya. Aku bahkan telah meminum ramuan penangkalnya dan tak terjadi apa-apa pun. Dan ketika kau menunjukan perhatian mupada orang lain, entah dari mana datangnya perasaan tak suka itu muncul.”
Evelyn mengangkat alisnya. “Aku tak tahu harus memberimu jawaban apa, Sean. Nampaknya kau bukan pria yang suka berbagi.” Evelyn menghela napasnya. “Baiklah, mari kita luruskan. Kita saling mencium aroma kita pada ramuan Amortentia dan ku akui, aku memang sedikit kasar dengan melenyapkan bunga lavender pemberianmu. Tapi, dari situ harusnya kau tahu jika aku tidak tertarik dengan perlakuan romantismu.”
Sean terdiam meresapi perkataan Evelyn. “Jadi, kau merasa di tolak dan di campakan olehku. Dan kau mau mengatakan bahwa tidak ada yang berkata tidak kepadamu, begitu?”
Tatapan Sean berubah tajam ketika gadis itu berkata dengan lancangnya. “Tidak ada satu pun, Evelyn. Tidak ada yang boleh mengatakan tidak kepadaku.” Jelasnya mengalihkan pandangannya. “Malfoy selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan itu berlaku untukku.”
“Jadi kau menginginkanku?” Evelyn bertanya lagi. Entah mengapa Sean merasa kesal ketika gadis di hadapannya tak kunjung mengerti walau ia telah menjelaskan semuanya.
“Aku... tak tahu,” ulangnya dengan tegas. “Aku hanya tahu jika aku tak mampu menghadapimu di sekitarku.”
Evelyn memiringkan kepalanya. “Apa kita sedang membahas kekuatan?”
Sean menggeram menahan sesuatu, pria itu menoleh dan menatap mata Evelyn begitu dalam. “Seharusnya kau mengerti apa yang kita bahas, Lyn.”
Evelyn terdiam saat Sean mulai memanggil namanya dengan begitu akrab. Si bungsu Potter hanya mengangguk. “Lalu, apakah kau menuduh ku menyihirmu, Sean?” Gadis itu tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sean. Aku tidak pernah melakukan hal rendah seperti itu.”
Sean menatapnya dan memperhatikan wajah Evelyn. Ia merasa sedikit frustasi ketika ia tanpa sadar mengakui bahwa betapa cantiknya Evelyn di hadapannya. Dia juga menyadari bahwa tubuh Evelyn juga terasa pas di dalam jubah maupun seragam gryffindornya.
Seandainya ia bisa memilih dan menyuruh, alangkah bagusnya jika Evelyn mengenakan seragam berwarna hijau seperti dirinya. Sean melangkah mendekat, “Siapa kau sebenarnya?” ia melangkah lagi, “Sebenarnya apa yang membuatku seperti ini?”
Evelyn mengerjapkan matanya dengan bingung. “A-aku... tak paham maksudmu, Sean. Sungguh.”
Sean kesal dan sepertinya ia sedang kehilangan kendali. Ia mendorong tubuh Evelyn dengan kasar sampai menabrak dinding dibelakangnya. Sean mencengkram bahunya dan menatapnya dalam-dalam.
Evelyn benar-benar ketakutan ketika Sean memajukan wajahnya. “Ka-kau mau menakutiku?” tanyanya dengan suara bergetar. Namun, Sean memilih diam menatap ekspresi gadis yang berada di hadapannya. Sungguh cantik
dan bergetar karena takut kepadanya. Ia mulai menyentuh pipi dan rahang Evelyn, membelainya dan merasakan bagaimana lembutnya kulit Evelyn.
“Apa yang kau mau dariku, Sean?” Evelyn berniat meronta. Tenaganya tak cukup kuat membuat tubuhnya terlepas dari tubuh Sean. Seharusnya ia tak meninggalkan tongkatnya di dalam kamar.
“Aku tak tahu apa yang ku inginkan darimu, tapi aku tahu apa yang ku butuhkan. Mungkin aku akan menciummu.”
Dan benar, Sean menurunkan wajahnya perlahan-lahan hingga kedua bibir mereka bersentuhan.
Ia mengerang.
Evelyn mengerang.
Ia bisa merasakan apel pada bibir Evelyn dan itu membuat Sean berusaha menahan sesuatu. Tapi, sialnya ia benar-benar membutuhkannya.
Sekarang.
Pinggul Sean menekannya dengan kasar ke dinding dan pria itu tidak merasa malu. Sean bisa merasakannya. Ya, Sean mengeratkan pinggulnya pada tubuh Evelyn, membiarkan ereksinya mendekat.
Evelyn mengerang lagi, kali ini lebih keras. Ia mulai merasakan ketika Sean mulai menyentuh pinggulnya. ‘Ini tidak benar.’ Batinnya.
Segera tersadar, ia mendorong jauh Sean sembari mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya. Sean hanya menggeram marah saat Evelyn menghentikannya.
Keduanya terengah-engah dan setelahnya Evelyn berlari meninggalkan dirinya yang masih menahan marah. Sean merasa marah karena ia tak dapat mengontrol dirinya sendiri.
Sebelum gadis itu pergi, ia masih bisa melihat bagaimana kondisi Evelyn. Bibirnya bengkak dan memerah akibat ciuman darinya.