Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
01



Ruang keluarga Malfoy Manor terlihat semakin sesak daripada biasanya, banyak mainan berwarna warni dan beberapa balon berwarna hijau bertebaran dimana-mana. Narcissa menatap cucu terakhirnya dengan perasaan bahagia.


Sean kecil sangat mirip dengan Draco ketika masih kecil.


Scorpius pulang dari Hogwarts dijemput oleh beberapa penyihir suruhan keluarga Malfoy. Setibanya di ruang keluarga, laki-laki itu mematung menatap sosok kecil yang tengah duduk di atas karpet bersama ayah dan ibunya.


“Kau sudah pulang, Son?” Draco berseru mendapati Scorpius yang menatap balita itu dengan tatapan berbinar.


Draco tersenyum melihat putra pertamanya yang terpaku. “Kemarilah!” pintanya, “Beri salam pada adikmu.”


Scorpius mendekat, ia mengelus surai Sean dengan tatapan kagum. “Dia- adikku?”


Astoria dan Draco tersenyum. “Tentu saja, ucapkan salam pada Sean Malfoy.”


“Cool!” pujinya. “Aku bisa mengajaknya naik sapu terbang ketika dia sudah besar nanti.”


Narcissa tersenyum bahagia. Ia melewati masa tuanya bersama Lucius dan dikaruniai dua orang cucu yang tampan.


Inilah keluarga Malfoy yang tak diketahui oleh public. Para penyihir menganggap mereka adalah sekelompok penyihir yang kaku dan kolot. Tak ada yang mengetahui jika Malfoy’s juga memiliki cinta dan kasih sayang di


dalamnya. Mereka hidup sama seperti keluarga normal lainnya.


***


Sean mulai tumbuh menjadi pria Malfoy seutuhnya. Daily prophet sering kali memberitakan bagaimana akrabnya Scorpius dan Sean saat mereka tereskpose oleh media. Duo Malfoy yang terkenal tampan.


Sudah beberapa tahun lamanya ketika Sean menginjakan kakinya di Hogwarts. Putra bungsu Malfoy adalah siswa Slytherin yang tak jauh berbeda dengan Scorpius. Kaku, angkuh dan sosok yang arogan. Nampaknya keluarga Malfoy memang terlahir seperti itu.


Setelah lulus dari Hogwarts, Scorpius bekerja di kementrian sihir. Draco bangga kepada dua putranya. Si sulung menjadi anggota penting di kementrian sihir sementara si bungsu menjadi murid berprestasi. Belum lagi ia mendengar bahwa putra bungsunya sangat populer di kalangan wanita.


Namun, akhir-akhir Draco merasa terganggu ketika daily prophet menyebarkan berita mengenai Sean yang harus bersaing dengan salah satu keturunan Potter.


“Persaingan itu memang wajar terjadi, sayang.” Astoria membela pipi suaminya. Ia menahan tawa saat Draco bercerita mengenai salah satu lembar daily prophet, bahkan pria itu tak segan-segan membakarnya dengan mantra sihir.


“Aku benar-benar tak suka dengan Potty dan semua keturunannya.”


Astoria tersenyum ketika suaminya menyebut julukan khusus Potter, ia mungkin sebaiknya memikirkan cara bagaimana suaminya tak memiliki mood yang buruk.


“Mau memberi Scorpius dan Sean adik?”


Mendengar tawaran Astoria membuat Draco menyeringai. “Sure.”


***


Seorang gadis terpaksa menyeret kakinya menuju aula besar karena rengekan kedua sahabatnya. Irene dan Bianca yang mengajaknya. Ia mengambil tempat duduk bersama para singa di meja Gryffindor. Menyaksikan topi seleksi yang menyeleksi siswa tahun pertama dan makan besar.


Semuanya berjalan normal seperti lima tahun sebelumnya. Tak ada yang istimewa, ia hanya datang dan pergi.


Putri terakhir dari pasangan Harry Potter dan Ginny Weasley itu hanya terus mengerang dalam hati. Pasalnya, ia kesal ketika mendapati dirinya yang menjadi bahan berita di salah satu halaman daily prophet.


Evelyn White Potter bersaing dengan Sean Draco Malfoy.


Hal itu membuat ketiga kakaknya, James, Albus dan Lily beserta kedua orang tuanya khawatir.


“Evelyn White Potter, apakah kau mendengarkanku?”


Evelyn membuyarkan lamunannya, mendapati Bianca yang menatapnya dengan kesal. “Ah, sorry Bi. Kau berkata apa tadi?”


Bianca dan Irene saling melirik sebelum menghela napasnya. “Apa kau masih memikirkan pemberitaan bodoh itu?” Tanya Bianca.


Irene menggelengkan kepala menatap kawannya khawatir. “Aku yakin kau pasti bisa mengalahkannya, semua orang di sini tahu bahwa kau adalah putri dari seorang Potter.”


Evelyn menjatuhkan kepalanya di atas meja. “Justru itu yang membuat ku khawatir.Aku bahkan tak berniat untuk bersaing dengan siapapun.”


“Ayo bersemangatlah!” ujar Irene bersemangat.


***


Evelyn menarik diri dari tempat tidurnya dan menatap dirinya di cermin meja rias yang kecil.


‘Hebat’ pikirnya butuh waktu beberapa jam setelah berita itu tersebar luas. Ia paham bagaimana situasi keluarganya ketika mendengar nama Malfoy, terutama pamannya. Ronald Weasley memang terang-terangnya membenci si ferret.


Pamannya bahkan selalu memangil Draco Malfoy si ferret.


Beberapa berita mengenai dirinya dan Sean memenuhi daily prophet. Ia ingin sekali pulang ke Burrow untuk menemui neneknya. Molly Weasley. Lebih baik menghabiskan waktu di Burrow dan mendengarkan celotehan Molly tanpa habis.


Kebingungan tampak jelas di kalangan siswa. Evelyn tetap memasang wajah datarnya dan mengabaikan jantungnya yang berdegup kencang.


Hagrid.


Sosok besar dan tinggi beranjak dari meja guru, menghampiri Evelyn.


 “Oh, selamat pagi, Evelyn.”


“Pagi, Hagrid.” Sapanya berusaha memasang senyum semanis mungkin. Ia telah mendengar banyak dari cerita ayahnya bagaimana Hagrid membantu ayahnya sebelum ia dan kakak-kakaknya lahir.


“Abaikanlah mereka, itu hanya gosip kau tahu itu kan?” perkataan Hagrid adalah ucapan semangat untuknya.


Evelyn tersenyum dan mengangguk. Setelah sepeninggal Hagrid, Evelyn memilih mengambil sebuah apel merah dan semangkuk sereal. Dia memilih mengagumi banyaknya makanan yang terhidang daripada harus memperhatikan tatapan-tatapan orang yang penasaran dengannya.


Ia mengunyah apelnya dan tak sengaja menatap meja Slytherin. Ada sekelompok laki-laki dan satu perempuan yang berkumpul dan terlibat percakapan. Mereka semua meliriknya dan Evelyn memutuskan untuk tidak menghindar dari tatapan mereka.


Ah sial, mata itu berada di sana dan ikut menatapnya.


Seseorang yang sedang dibicarakannya dengannya. Sean Draco Malfoy.


Ia terdiam dan menatap mangkuk cerealnya. “Sial!”


“Evelyn.”


Evelyn tersentak, ia mendongak menatap kedua temannya dan seorang laki-laki yang tiba di meja Gryffindor. Dia


adalah anak laki-laki tampan yang ramah.


Xanders Edmund. Seorang prefek di Gryffindor. “Kuharap kau mengabaikan semua berita-berita bodoh itu, Lyn.” Ucapnya yang membuat Evelyn menyunggingkan senyum.


“Ku harap kalian tak mempercayai berita bodoh yang mengatakan aku harus bersaing dengan Putra Malfoy, seperti ayahku dan ayahnya.” Ungkap Evelyn sembari mengaduk-gaduk cerealnya.


Bianca dan Irene hanya mengangguk.


“Lebih baik kita fokus dengan kelas ramuan, kau tahu bagaimana Profesor Slughorn.” Timpal Xanders membuat Evelyn menyeringai.


“Aku tak takut.” Jawabnya santai.


Bianca melihat interaksi dua penyihir pintar didepannya berdecak malas.


“Ya, kau memang pandai di kelas ramuan. Tapi jangan sombong, ingat!” Bianca menyadarkannya.“Sean juga sama hebatnya denganmu.” Ucapan Bianca mendapat helaan napas dari Irene.


“Perkataanmu hanya membuat mood Evelyn memburuk.” Kata Irene yang mulai mengambil semangkuk sereal.


“Walaupun aku temanmu, Lyn. Ku akui Sean Malfoy adalah laki-laki brillian sejauh ini, anak laki-laki tampan dan cerdas.” Jelas Bianca yang terpaksa membuat Irene mengangguk. “Itu jelas-jelas akan menjadi sainganmu.”


“Tak banyak gadis-gadis yang tak menggilainya.” Kata Bianca yang lagi-lagi diangguki oleh Irene.


“Dia memang menawan, Lyn. Tapi sepertinya dia tak tertarik kepada siapapun.” Ucapan Irene membuat Xanders menaikan alisnya. Laki-laki itu menatap keduanya heran, kenapa pembicaraan ini berubah alurnya.


“Jangan membencinya, Lyn. Atau kau akan secara tiba-tiba menyukainya.” Kata Irene bersemengat, Bianca tertawa. Pembicaraan itu membuat Evelyn tak nyaman.


“Aku tak menyukainya.”


Evelyn merasa buruk ketika ia menghampiri kelas ramuan bersama ketiga temannya. Putri bungsu Harry Potter itu mendesah, ia mengeluarkan buku ramuannya yang sudah usang dari ransel miliknya. Sialnya, kali ini ia terpaksa


duduk sendirian.


Bianca seperti biasa duduk dengan Irene. Xanders entah duduk dengan siapa, yang ia tahu seorang laki-laki yang duduk bersamanya adalah murid laki-laki Ravenclaw.


Hanya bangku itu yang kosong dan juga sebelahnya.


Terdengar suara datar di sampingnya, dehaman tenggorokan yang terdengar seksi dan Evelyn tersentak dari lamunannya ketika mendapati laki-laki itu – Sean Malfoy – berdiri dua kaki darinya. Matanya dingin dan menusuk, tapi bibirnya melengkung dengan senyuman nakal.


Sial! Seringaian Malfoy benar-benar menghinanya.


“Selamat pagi, Potter.” Ucapnya datar. “Sebaiknya kau berbaik hati membiarkanku duduk disebelahmu sebelum seisi kelas terus menatap kita.”


Sean terlebih dahulu mendudukan dirinya sebelum Evelyn memberi jawaban, benar apa yang telah dikatakan oleh Malfoy. Seisi kelas menatapnya, termasuk Bianca dan Irene yang nampaknya memberi tatapan iba sekaligus tatapan cemas dari Xanders.